Cinta yang ngga egois

Liburan di bulan Juni 2022 ini ngajarin aku cinta yang ngga egois, yang memberi apapun bentuknya.

Menikah, ninggalin semuanya, hidup baru jauh dari orang-orang yang aku kasihi, punya orang-orang baru lagi yang juga dikasihi sama.

Tapi aku ga pernah merasa puas, karena aku tau ga akan pernah bisa physically dekat mereka secara bersamaan, terpisah 6 minggu dari suami, bahkan sedetik aja hal buruk bisa terjadi, jadi parno sendiri. And i feel loved, the way he let me go for it.

Setelah 8 tahun ga pulang ke Indonesia. Banyak yang berubah, banyak cerita, bangunan, sistem, hubungan, emosi, orang-orang berubah dan menua. Papa pernah bilang 1 tahun itu sebentar dan banyak yang bakal berubah, saat dia telpon suruh aku pulang ke rumah dari merantau ke tanah bugis. And once again you’re right dad. Sedih but no regret, bisa lebih lama habisin waktu bareng papa.

Semakin aku gede, semakin sadar kita ga bisa kontrol takdir, keadaan. Tapi kita punya pilihan.

Then, dari situ aku sadar. Cinta itu bukan untuk digenggam tapi dilepas, memberi tanpa pamrih, and let them feel they are truly loved. Kita hanya bisa memilih untuk memberi cinta yang tulus, kata mama maksimal en kita ga akan takut kehilangan or ga dibalas. Karena itu murni en ikhlas, ga dibuat-buat.

Plaats een reactie