Fase Panen

Pernahkah hidupmu terasa berputar dalam siklus yang persis seperti transisi masa kecil? Perasaan mendebarkan, perut yang mulas karena gugup, sekaligus rasa penasaran yang membuncah. Persis seperti hari pertama masuk TK, lulus SD, SMP, SMA, melangkah ke bangku kuliah, pertama kali bekerja, menikah, memulai hidup dari 0 di negri antah berantah hingga momen pertama kali menggendong anak.

Saat ini, di usia yang menginjak 38 tahun, perasaan magis sekaligus menegangkan itu hadir kembali.

Sebuah keputusan besar diambil untuk imigrasi balik ke Indonesia.

Langkah ini berarti menjual rumah yang sudah dibangun dengan kerja keras dan cinta selama 10 tahun di Belanda, meninggalkan karier stabil belasan tahun di bawah sistem produksi Eropa, dan memboyong suami Belanda serta dua anak yang masih kecil menyeberangi benua.

Komitmen Jarak Jauh (LDR)

Jika menengok ke belakang, perjalanan cinta ini memang selalu akrab dengan kata “adaptasi”. Hubungan dimulai dengan ujian komitmen jarak jauh antarbenua saat pacaran. Ketika menikah, akulah yang mengalah. Aku melipat impian di Indonesia, mengemas koper, dan ikut suami ke Belanda—meninggalkan kehidupanku di Indonesia, orang-orang yang kusayangi.

Di Belanda, aku bekerja belasan tahun di departemen yang sama di mana suamiku yang jadi afdeling leider-nya. Di sana, profesionalitas dan loyalitasku bertubi-tubi diuji, karena bekerja satu atap dengan pasangan lebih berat ujiannya. Berkali-kali ego ini ingin berontak dan mencari tantangan di tempat lain, namun demi mendukung perannya serta menjaga keharmonisan, aku memilih bertahan menjadi jangkar bagi kariernya.

Dan momen yang hanya berani kumimpikan, kompas kehidupan yang berputar balik. Suami minta untuk pulang ke Indonesia.

Bertukar Peran

Awalnya, ada rasa cemas yang menyelusup. Apakah aku harus memulai semuanya dari nol lagi? Namun, ketika duduk bersama dan mendiskusikan isi kepala berulang-ulang kali, kesimpulannya tetap sama:

Ini bukan lagi tentang ujian kesetiaan yang melelahkan, melainkan fase panen dari apa yang telah ditanam.

Keputusan pulang ini bukan karena keegoisan. Suami ingin “melambat” dari rutinitas korporat Eropa demi menikmati masa-masa emas bersama anak-anak yang masih kecil. Lebih dari itu, kami membawa modal cukup agar kehidupan di Indonesia tidak perlu merangkak dari bawah seperti saat aku pertama kali tiba di Belanda dulu.

Dan hadiah paling indah untukku dari keputusan ini? kebebasan penuh. Sebuah lampu hijau untuk melanjutkan impianku yang sempat tertunda, meskipun usiaku kini sudah hampir masuk kepala empat.

Ujian Pernikahan

Rasa gugupku sangat nyata. Menghadapi reverse culture shock, beradaptasi dengan ritme Indonesia yang dinamis, serta mendampingi anak-anak transisi bahasa bukanlah perkara mudah. Otak rasanya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mempersiapkan segalanya.

Namun di balik rasa gugup itu, ada api semangat yang menyala terang.

Dulu, aku pergi ke Belanda demi cinta dan komitmen pernikahanku. Sekarang, perjalanan pulang ke Indonesia membawa cinta yang sama, namun kali ini ditambah dengan ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dan mengaktualisasikan diri tanpa tekanan tuntutan.

Aku tahu perjalanan baru ini akan menempa hubungan kami lagi layaknya emas ke next level. Yang pasti, tempaan itu tidak menghancurkan, melainkan membuat kilau ikatan pernikahan menjadi jauh lebih murni dan bernilai.

Selamat datang babak baru. Hari pertama “sekolah hidup” akan segera dimulai!

2 Under 3: “Chase” Kecilku

Anak 3 tahun sengaja cari gara-gara agar adiknya bangun? Ternyata ini masalah sejuta umat fase 2 Under 3. Tentang tangisan ruam popok, dan pelukan hangat di ujung malam.

Hari ini terasa luar biasa berat. Menjelang tengah malam, aku terbangun setelah tidak sengaja tertidur karena kelelahan menemani anak-anak. Leher dan kepalaku sakit sekali. Otot-otot di area tengkuk menegang setelah seharian penuh dipaksa menahan sabar.

Ya, hari ini si Kakak yang berusia 3 tahun benar-benar menguji batas kemampuanku bersabar.

Sepanjang hari, ada saja kelakuannya yang memancing emosi. Mulai dari sengaja berteriak dan mengeluarkan bunyi bising tepat saat aku dan suami sedang mengobrol, hingga menghentakkan kaki ke lantai atau kemanapun yang buat bising. Yang paling membuat dada ini sesak adalah ketika dia sengaja membuat kegaduhan dengan satu misi:

Misi membangunkan adiknya yang baru berusia 7 bulan.

Sebenarnya mencari perhatian seperti ini adalah masalah sejuta umat dalam dunia parenting, terutama pada anak sulung yang belum lama memiliki adik : negative attention seeking. Bagi anak usia 3 tahun, kemarahan atau reaksi kesal orang tua tetaplah sebuah bentuk perhatian yang berhasil mereka rebut kembali.

Si Adik hari ini juga sangat menguras energi, hari ini dia sedang sangat manja dan rewel. Dia sedang lucu-lucunya—suka mengangguk-anggukkan kepala dengan heboh seolah menikmati musik, dan mulutnya komat-kamit ikut bernyanyi setiap kali aku melantunkan lagu favoritnya. Bolak-balik tiap 3 jam minta menyusu, minta digendong terus, dan mendadak susah sekali disuapi makan.

Sepertinya dia sedang tidak nyaman. Sejak dia mulai masuk fase MPASI dan lebih banyak minum susu formula, popoknya menjadi jauh lebih cepat penuh dari biasanya. Kulitnya sedang mengalami ruam popok yang memicu rasa tidak nyamannya. Ditambah gejala tumbuh gigi dan groeispurt, belum lagi istirahat yang singkat karena bolak balik terbangun oleh kakaknya.

Di tengah kepungan rasa lelah mengurus adik yang menempel tanpa henti, kapasitas kesabaranku menghadapi anak berada di titik nol.

Puncaknya terjadi sore tadi. Si Kakak tiba-tiba menarik-narik foam matras tempat bermain di lantai. Dia sedang asyik masuk ke dunia imajinasinya, meniru karakter Chase, si anjing polisi pemimpin dari serial Paw Patrol. Jika tidak dilarang, dia bisa melakukan aksi penyelamatan itu seharian penuh. Namun bagi aku yang sudah kehabisan daya, tindakan tersebut menjadi sebuah kehebohan yang tidak bisa ditoleransi lagi.

Refleks, aku mengusirnya dari atas foam. Tangisnya pun pecah.

Rasanya benar-benar jadi tidak enak setelah kejadian itu. Malam harinya sebelum tidur, oleh papanya dia dihukum untuk tidur lebih cepat. Momen tersebut langsung kupakai untuk menikmati beberapa menit berdua saja dengan bayiku, sambil melanjutkan mengemas stok MPASI-nya yang sudah dingin dan siap dibekukan.

Saat selesai kemas-kemas, kami naik ke atas kamar. Ternyata, si Kakak masih saja aktif bereksperimen dengan kegaduhan. Setelah aku meletakkan adiknya, aku dan Papa berbagi tugas. Papa memberikan susu ke adik—untungnya saat ini aku berada di fase pengalihan ASI yang hampir selesai.

Gantian, aku kini bisa memeluk dan bercerita dengan si Kakak. Menemani anak tidur sebenarnya adalah salah satu cara yang selalu kupakai untuk bercengkerama dengan anak, sekaligus mengevaluasi semua perasaan mereka sepanjang hari. Lewat nasihat, pelukan, obrolan santai, atau dongeng sebelum tidur, aku bisa menyelami apa yang mereka rasakan.

Awalnya memang ada sedikit penolakan dari dia, mungkin karena seharian ini terus-menerus dilarang oleh Mama. Namun, aku tetap memeluk dan mengajaknya bercanda tawa. Di momen intim menjelang terlelap itu, dia tahu betul jika aku sangat menyayanginya. Setelah kedekatan singkat yang hangat itu, aku pun tertidur bersamanya.

Saat rumah sudah tenang malam ini sambil memijat leher yang kaku, aku menyadari bahwa menjalani fase 2 under 3 terkadang membuat diri lupa bahwa manusia memiliki batas. Seorang ibu bukanlah robot. Lelah, sakit kepala, dan habis kesabaran adalah respons tubuh yang manusiawi.

Hari yang panjang ini akhirnya berlalu. Untuk para mama yang mungkin sedang mengalami keletihan yang sama malam ini: peluk jauh untuk sesama pejuang balita. Hari ini sudah terlewati dengan baik. Besok, aku sambut lagi petualangan baru bersama “Chase” kecil dengan energi dan kesabaran yang baru.

Diam-diam

Menikmati hidup secara diam-diam, seperti belasan tahun bekerja dengan fokus dan ketelitian tinggi yang justru memaksa imajinasi untuk membebaskan diri

Pagi ini aku terbangun cukup awal. Mungkin karena sekarang sudah tidak bekerja, tidak ada lagi kebutuhan akan alarm, dan tubuh mulai menemukan ritmenya sendiri. Anak-anak ikut terbangun, alhasil kami turun ke bawah lebih pagi dari biasanya. Setelah mereka selesai makan, aku pergi ke atas untuk bersiap-siap.

Dari balik kaca jendela, aku mengintip ke luar. Pagi seperti ini di Belanda terasa sangat syahdu; jalanan basah diguyur hujan dan warna daun-daun kecoklatan yang berguguran persis seperti bayangan imajinasiku dulu, saat membaca buku pinjaman perpustakaan di SD Pekanbaru. Seandainya saja hidup selama 12 tahun terakhir di Belanda selalu bisa dinikmati seperti ini—tanpa terburu-buru, tanpa kesibukan yang mengular. Sayangnya, kenyataannya tidak begitu.

Di luar sana, semua orang tampaknya sedang berlomba-lomba untuk berada di puncak. Mengejar karir setinggi mungkin dan memastikan eksistensi mereka terdengar di tengah riuh rendahnya dunia.

Namun, ada kedamaian berbeda yang kucari. Sebuah keinginan untuk meresapi ketenangan tanpa riak. Aku merasa paling hidup justru saat menjadi invisible—tidak dikenal dan tidak dipedulikan di dalam keramaian. Ada kenikmatan tersendiri saat bisa duduk diam dan memandang air dalam kesunyian, tanpa harus memenuhi ekspektasi siapa pun.

Selama belasan tahun terakhir, Belanda menjadi tempatku bernaung. Tak kusangka di sini aku belajar dewasa, menghadapi dinamika kehidupan,  menikah dengan pria WN Belanda dan melahirkan dua anak yang kini berusia 3 tahun dan 7 bulan. Namun, di balik keindahan negara ini, ada realitas pekerjaan yang sekian lama mengurungku.

Tuntutan pekerjaanku melibatkan ketelitian yang luar biasa tinggi. Setiap hari dihabiskan terisolasi di dalam ruangan, berperang dengan produk-produk yang harus dibuat secara presisi dan tanpa cela. Karena nyatanya tidak banyak orang yang memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran seperti ini, posisiku menjadi sangat sulit digantikan. Aku pun tidak punya pilihan untuk pindah ke bidang lain karena susahnya mencari orang yang sanggup bertahan di posisi tersebut.

Hari-hariku berjalan sangat monoton. Namun, di balik dinding-dinding ruangan yang kaku itu, pikiranku justru bisa berpikir dengan sangat jernih. Ketika tangan dan fokus terpaku pada detail produk, imajinasiku terbang bebas ke mana-mana. Dari kecil aku memang sudah pemimpi dan melamun itu asyik. Dengar-dengar ternyata melamun bukan berarti kosong, melainkan cara otak menciptakan ruang bebasnya sendiri. Ini caraku coping saat fisik sedang terkurung rutinitas kaku Belanda yang serba cepat.

Keinginan untuk pulang ke Indonesia justru datang dari suamiku, pencetus ide awal. Dialah yang ingin melambat. Kemudian saat punya anak ia juga mendambakan waktu yang berkualitas untuk anak-anak, sebelumnya hanya ingin menikmati hidup mumpung usia masih muda. Aku sendiri tentu tidak keberatan, meskipun pasti ada sedikit kecemasan bagaimana nanti disana.

Keputusan bersama ini akhirnya membawa kami memilih Yogyakarta sebagai pelabuhan baru untuk memenangkan kembali kendali atas waktu, nafas yang lebih panjang untuk bisa hadir bagi anak-anak kami.

Di Jogja nanti, rutinitas baru perlu dirancang agar hari-hari tetap memiliki jangkar dan pikiran tetap tajam (op peil), tetapi tanpa tekanan ritme kerja yang mengurung. Pagi hari akan sepenuhnya menjadi milik keluarga—bersama suami mengurus dan bermain dengan anak-anak tanpa terburu-buru. Waktu khusus untuk proyek-proyek personal yang menuntut kreativitas juga harus disengaja, serta menyediakan ruang untuk terus belajar secara mandiri. Aktivitas-aktivitas inilah yang akan menjaga ritme berpikir tetap hidup.

Kesyahduan transisi musim gugur dan dingin di Belanda, seperti pagi ini, mungkin akan kurindukan. Namun, ada kebutuhan yang lebih besar akan kehangatan ritme hidup yang melambat. Di Jogja, seni hidup yang sudah kupelajari di ruang kerja selama belasan tahun akan terus berlanjut:

Menikmati hidupku diam-diam, membiarkan imajinasi terbang bebas, dan meresapi setiap detiknya dalam kesunyian yang nikmat.

Ketenangan Mahal

Kami dihadapkan pada dilema besar. Situasi antarbenua sedang gonjang-ganjing, dan kami harus merogoh kocek hampir ratusan juta hanya untuk membawa barang-barang ikatan emosional. Padahal, rumah kami nanti 3 kali lipat lebih kecil, ditambah lagi pusing memikirkan urusan pajak bea cukai (grey area).

Malam itu, suasananya tampak seperti malam-malam biasa. Kami duduk di depan TV. Suamiku asyik dengan game-nya, sementara aku seperti biasa, sibuk menelusuri layar ponsel, mengobrol dengan chat AI untuk mencari jawaban atas banyak hal yang berputar di kepalaku. Namun, entah bagaimana awalnya, obrolan santai itu perlahan bergeser ke serius. Ujung-ujungnya, kami berdua sampai di pembahasan visa.

Malam itu kami semakin menyadari tentang mahalnya sebuah ketenangan.

Saat anak-anak akhirnya tertidur lelah, layar ponsel kami berganti menjadi tumpukan informasi birokrasi. Di tengah keheningan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, kami justru harus memeras otak, mencari tahu visa apa yang paling aman untuk dia pakai ke Indonesia nanti.

Perjalanan kami tertahan oleh sebuah kendala klasik: urusan Kartu Keluarga (KK). Masalah administrasi ini membuatku tidak punya pilihan selain harus datang langsung ke kantor Capil di Indonesia. Membayangkan proses birokrasi yang berbelit saja sudah membuatku lelah duluan. Sangat melelahkan. Mungkin karena kondisi fisik dan mental kami memang sudah berada di titik nadir, terkuras habis setiap harinya untuk bekerja juga urusan domestik mengurus kedua anak kami yang masih kecil.

Di tengah kemelut urusan visa dan KITAS itu, kami tetiba saling melihat ke arah sudut ruangan. Di sana ada tumpukan kardus hasil mencicil packing. Sialnya, dari target awal yang cuma 15 dos, barang-barang kami malah membludak jadi 33 dos plus barang-barang besar lainnya.

Melihat tumpukan kardus sebanyak itu, kami pun langsung terpikir masalah kargo. Di sinilah kami secara sadar mulai membuka email, memeriksa pesan-pesan balasan, dan menelusuri dokumen offerte (penawaran harga) dari perusahaan kargo lewat hape.

Namun, saat membaca detailnya, tiba-tiba kami terdiam. Mata kami tertuju pada baris tulisan kecil—syarat dan ketentuan tersembunyi—di dalam dokumen tersebut. Begitu membacanya, seketika ada rasa khawatir yang menyergap. Penjelasan dalam huruf kecil itu terasa sangat abu-abu, tidak ada kepastian hukum yang bisa kami pegang pasti sifatnya. Hati kami pun mendadak ragu.

Di satu sisi, waktu terus mengejar. Kami harus segera kembali ke Indonesia dalam waktu satu bulan demi membereskan urusan KITAS. Namun di sisi lain, barang-barang ini seperti bongkahan batu berantai yang menahan kami di dalam laut ketidakpastian.

Saat itu juga, kami mulai menimbang-nimbang risiko dari setiap keputusan yang bisa kami ambil. Berada di situasi perbatasan antarbenua yang secara geopolitik sedang gonjang-ganjing saat ini, rasanya seperti sebuah kenekatan jika kami tetap melanjutkan proses kargo ini.

Ketika kami hitung kembali dari sisi nilai materi, logika kami langsung terpukul telak. Kami harus merogoh kocek hingga hampir ratusan juta rupiah hanya demi membawa barang-barang yang sebenarnya hanya punya ikatan emosional. Ironisnya, rumah yang akan kami tempati di Indonesia nanti ukurannya tiga kali lipat lebih kecil dari rumah kami sekarang.

Belum lagi jika membayangkan urusan pajak, aturan bea cukai, dan kerumitan administrasi lainnya—deretan huruf kecil nan rapat di lembar regulasi yang menciptakan begitu banyak jalan buntu (grey area).

Saat itu, kami sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tapi waktu rupanya sudah menunjukkan jam 2 pagi. Pikiran sudah terlalu lelah untuk dipaksa mengambil keputusan besar malam ini. Kami memutuskan untuk menyudahinya. Besok, we will see and decide.

Pindahan antar negara, mengurus birokrasi, mengemas rumah, dan menjaga dua balita di saat yang bersamaan… ternyata seberat ini. Malam itu, di antara tumpukan kardus, keraguan dokumen kargo di email, dan lembaran aplikasi visa di hape, aku menyadari satu hal: di dunia yang serbacepat dan penuh tuntutan ini, ketenangan pikiran adalah kemewahan yang paling mahal.

ASI = Kualitas Hubungan?

Sebuah catatan hangat bagi setiap ibu yang sedang berada di persimpangan jalan antara mempertahankan ASI atau memilih pulih demi kesehatan jiwanya sendiri.

Dunia ibu baru sering kali dipenuhi oleh angka dan target. Berapa mililiter ASI yang berhasil diperah, berapa gram kenaikan berat badan bayi bulan ini, dan berapa bulan kita mampu bertahan memberikan ASI eksklusif. Kita dikepung oleh narasi bahwa kasih sayang seorang ibu linier dengan kemampuannya memproduksi air susu.

Namun, mari kita sejenak menarik napas dalam-dalam dan merenungkan satu pertanyaan mendasar: Apakah arti menyusui sebenarnya hanya sebatas memindahkan cairan nutrisi dari tubuh ibu ke tubuh bayi? Atau jangan-jangan, yang selama ini dicari oleh bayi kita—dan yang paling kita rindukan sebagai ibu—adalah kualitas hubungannya?

Ketika Angka Mulai Merenggut Kebahagiaan

Banyak dari kita yang memulai perjalanan menjadi ibu dengan ekspektasi tinggi. Kita ingin memberikan yang terbaik. Namun, realitas hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya operasi besar harus dilalui, meninggalkan nyeri fisik yang menjalar di punggung dan pinggul. Ada kalanya kita harus bertarung dengan kelelahan mental yang bertumpuk-tumpuk, entah karena adaptasi lingkungan, minimnya bantuan, atau tubuh yang sudah terlalu lama dipaksa bertahan dalam mode siaga.

Di tengah kelelahan fisik dan mental itu, bayangkan ketika bayi mulai menangis dan tidak sabar menunggu ASI keluar karena alirannya yang melambat. Payudara kita menegang, tubuh kita menahan sakit, dan pikiran kita dipenuhi rasa bersalah.

Saat momen menyusui langsung (direct breastfeeding) berubah menjadi arena pertempuran yang dipenuhi air mata bayi dan stres sang ibu, kita perlu berhenti sejenak. Jika proses tersebut justru memicu jarak emosional karena ibu merasa tertekan dan bayi merasa frustrasi, di mana letak keindahan “ikatan batin” yang selama ini diagungkan?

Hubungan yang Melampaui Air Susu

Bayi berusia beberapa bulan belum mengerti konsep ego atau pengorbanan martir seorang ibu. Yang mereka butuhkan dan pahami adalah rasa aman. Rasa aman itu hadir dari detak jantung ibu yang tenang, pelukan yang hangat, tatapan mata yang penuh cinta, dan suara lembut yang menenangkan saat mereka menyusu.

Kabar baiknya: semua bentuk rasa aman itu sama sekali tidak mengandalkan apakah cairan di dalam botol tersebut berwarna putih karena ASI atau karena susu formula.

Ketika seorang ibu memilih untuk beralih ke botol demi menyembuhkan luka fisiknya, demi menstabilkan hormonnya, dan demi mengembalikan kewarasannya, ia tidak sedang mengurangi kasih sayangnya. Sebaliknya, ia sedang mengambil keputusan sadar untuk menjadi ibu yang lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih hadir secara utuh untuk anaknya.

Memberikan botol susu dengan tubuh yang rileks, tanpa rasa sakit, sambil mendekap bayi erat-erat dan menatap matanya dengan senyuman, memberikan kualitas hubungan yang jauh lebih tinggi daripada memaksakan menyusu langsung dalam keadaan menahan nyeri hebat dan air mata stres.

Menyusui dengan Jiwa, Bukan Hanya Raga

Slogan “ASI adalah yang terbaik” sering kali lupa mencantumkan syarat utamanya: ASI terbaik keluar dari ibu yang bahagia dan sehat. Jika raga kita sudah mengirimkan sinyal darurat berupa nyeri kronis dan kelelahan mental yang menahun, mendengarkan tubuh adalah bentuk pertanggungjawaban tertinggi kita sebagai orang tua.

Menjadi ibu adalah perjalanan maraton, bukan lari cepat. Anak kita tidak hanya membutuhkan nutrisi untuk beberapa bulan ini, mereka membutuhkan kehadiran kita hingga mereka dewasa nanti. Mereka membutuhkan ibu yang utuh secara fisik dan mental.

Selesai atau berlanjutnya proses menyusui tidak akan pernah mengurangi validitas status kit sebagai ibu yang hebat. Karena pada akhirnya, yang akan diingat oleh anak saat mereka tumbuh besar bukanlah apa merek susunya atau seberapa deras aliran ASI ibunya. Yang tertanam dalam alam bawah sadar mereka adalah rasa hangat, aman, dan damai setiap kali mereka berada di dekat ibunya.

Sebab, ASI sejati dalam pengasuhan bukanlah tentang cairannya, melainkan tentang kualitas hubungan dan kedamaian yang tercipta di antara ibu dan anak.

Belajar Fungsi: ik leer wat werkt

Tentang pergeseran pola pikirku dari seorang pemburu nilai di Indonesia hingga mengenal budaya Zesjescultuur di Belanda. Ini adalah kisah jujurku tentang arti belajar sejati yang berfokus pada fungsionalitas nyata dan efisiensi hidup, di mana aku memilih melepaskan ambisi akademis dan ijazah demi sebuah prinsip: ik leer wat werkt.

Selama aku di Belanda, aku belum punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku. Aku harus bekerja, tapi justru di situ aku menemukan arti belajar yang sesungguhnya: bukan gelar atau titel hanya fungsi, doel.

Pada saat aku wajib untuk lulus inburgering, agar tidak perlu bayar sekolah bahasa yang mahal, aku memilih belajar online secara mandiri. Hasilnya, nilai ujianku sangat memuaskan.

Tapi, saat ada yang bertanya aku menolak menyebut angka. Waktu itu adalah AHA momenku paham bahwa pencapaian yang kuraih itu untuk kusimpan sendiri. Orang lain tidak perlu tahu berapa, karena bagiku lulus ujian inburgering jauh lebih penting.

Di Belanda, aku mulai sadar bahwa ada yang tidak beres dari didikan masa kecilku dulu. Saat masih sekolah di Indonesia, aku baru bisa merasa agak puas kalau melihat angka 8 di rapor.

Aku jadi ingat masa SMP, saking takutnya dimarahi karena rapor jelek, aku sampai nekat mengedit nilainya sendiri memakai pensil. Rapor itu kemudian kumintakan tanda tangan Papa saat suasana rumah sedang remang-remang agar tidak ketahuan. Setelah bertahun-tahun berlalu dan aku sudah bekerja, baru aku berani mengakui dosa masa kecil itu ke Papa, haha.

Dulu saat masih sekolah di Indonesia, aku baru bisa merasa puas kalau melihat angka 8 di rapor. Sampai nekat mengedit nilainya sendiri memakai pensil.

Beda halnya di Belanda. Di awal aku masih agak aneh dan percaya ga percaya, hihi it’s too good to be true tapi aku suka budaya nilai enam mereka! Rasanya lebih manusiawi dan keren.

Masyarakat Belanda mengenal fenomena sosiologis yang disebut Zesjescultuur (budaya nilai enam), sebuah mentalitas di mana pelajar atau mahasiswa sudah merasa cukup dengan nilai 6—batas paling rendah untuk lulus—tanpa perlu menunjukkan usaha ekstra yang berlebihan.

Alih-alih berkompetisi secara agresif demi meraih nilai 8 atau 10, mereka memilih jalur pragmatis: meraih diploma dengan efisiensi waktu dan energi seminimal mungkin agar keseimbangan hidup (work-life balance) tetap terjaga. Tapi tetap terlihat cara berpikir dan bekerja kebanyakan orangnya efektif juga efisien.

Pola pikir ini berakar dari prinsip kesetaraan dan sikap nuchtere (bersahaja) masyarakat Belanda yang memegang teguh filosofi ‘doe maar gewoon‘—bahwa bersikap biasa saja itu sudah baik, dan cukup berarti sudah cukup.

Makanya, dari beberapa ujian yang pernah aku tempuh di sini, aku tidak pernah menemukan sistem ranking. Hasilnya hanya voldoende (cukup/lulus) atau onvoldoende (tidak cukup/gagal). Padahal, soal ujiannya sangat tricky dan menjebak, sehingga perlu pemikiran logika yang matang—seperti pada teori ujian mengemudi ataupun NT2 B2.

Orang di sini jarang, dan bahkan hampir tidak ada, yang peduli berapa nilaimu. Mereka hanya peduli kamu lulus atau tidak, apakah kamu paham atau perlu waktu belajar ekstra.

Juga saat pelatihan dari tempat kerja, meski materi yang disampaikan bersifat teknis, tapi dari awal kursus sampai akhir, ilmu berhasil ditransfer tanpa pemaksaan, mengalir dan tepat sasaran.

Sejak hidup di Belanda, pandanganku tentang pendidikan berubah cukup drastis. Mungkin juga karena pada saat itu aku mulai mengubur ambisi akademisku, entahlah. Aku mulai ekstrem menganut bahwa ijazah itu tidak begitu penting, asal kita benar-benar paham apa yang kita pelajari dan bisa mengaplikasikannya untuk kepentingan riil.

Saat aku membuka usaha kecil katering atau sekadar mengambil kursus untuk aktualisasi diri, aku hanya mengikutinya untuk pemahamanku dan target yang ingin kucapai, sisanya n.v.t (niet van toepassing /tidak relevan. Aku mulai belajar untuk bekerja, ik leer wat werkt.

Hamil Pertama

Sembilan bulan hamil anak pertama dilalui dengan santai, bahagia; penuh optimisme. Begitu melahirkan lewat operasi caesar di Belanda, rasa itu langsung bias. Realita kurang tidur, badan yang kesakitan dan drama menyusui. Sebuah cerita tentang teori vs lapangan, juga kenyataan bahwa menjadi orang tua baru memang membuat kita surprisingly clueless.

Clued yet Clueless

Malam ini, kedua anak sudah tidur ditemani suami yang ikut ketiduran saat membacakan buku cerita. Aku baru selesai mandi setelah membereskan ruang bawah yang berantakan seperti kapal pecah. Saat duduk santai seperti ini, aku mendadak ingat masa-masa hamil anak pertama dulu.

Waktu hamil anak pertama, rasanya bisa menikmati tiap fase dengan santai. Sembilan bulan penuh dengan rasa antusias, bahagia, dan optimis meski tentu ada catatan medis yang kadang buat kami khawatir.

Tapi aku masih bisa istirahat cantik, me-time, maraton Netflix, dan menikmati waktu santai berdua bersama suami. Pokoknya berbeda jauh dengan apa yang aku alami saat hamil anak kedua kemarin.

Di bulan pertama sampai ke tujuh belum ada ketakutan. Masuk bulan ke delapan sembilan ada kecemasan tapi itupun masih wajar. Bayanganku lebih ke hal-hal indah seperti menggendong bayi yang harum, menyusui dengan damai, dan keyakinan kalau semuanya akan mudah dan alami.

Barusan saja kepikiran kalau dulu ternyata aku bisa seoptimis itu karena belum tahu apa-apa tentang apa yang akan kuhadapi saat hari H tiba dan bayi lahir.

Teori vs Realita Lapangan

Proses melahirkan yang jujur super lama (tiga hari) dan dengan berbagai teknik. Karena lahiran di Belanda anak pertama, harus diusahakan normal dulu. Mulai dari induksi balon katheter, minum obat perangsang, oksitosin dan pembukaan buatan dan sampai ujung di meja operasi.

Ketika bayiku terlahir dan tubuh mungilnya diletakkan di dadaku, ada detik-detik di mana dunia seolah melambat. Rasa lega yang luar biasa membuncah, tubuhku yang tadinya menggigil kedinginan terasa hangat dan rasa mual diganti luapan haru.

‘Ah, akhirnya kami berhasil,’ bisik hati kecilku terharu. Namun, romantisasi itu hanya bertahan beberapa jam. Begitu efek bius perlahan habis dan menyisakan rasa nyeri yang menyengat di perut, aku seperti di tampar bangun dari mimpi indah. Tubuhku yang masih lemas pasca-operasi dipaksa langsung terjaga, bersiap menghadapi babak baru yang sama sekali belum pernah tertulis di buku panduan mana pun.

Romantisasi masa kehamilan buyar ambyar. Realita menjadi orang tua baru datang seperti ombak besar yang langsung menggulung tanpa permisi. Malam-malam setelah operasi saat itu adalah saksi perjuangan nyata yang aku lewati berdua dengan suami.

Kombinasi yang kami hadapi waktu itu benar-benar menguras energi:

Fisik belum pulih pasca-lahiran, kurang tidur karena harus bergadang semalaman, dan belum ada pengalaman sama sekali.

Bukan cuma aku, tapi aku saksikan bagaimana suami juga benar-benar dengan muka yang sangat capek, meski bukan dia yang lahiran.

Perawat di Rumah Sakit gantian masuk ke kamar inap kami, untuk kontrol dan mendampingi proses mengASIhi, sangat menolong, walaupun ada tekanan tersendiri bagiku, tidak bisa benar-benar istirahat dan suasana rumah sakit pasti beda dengan kamar di rumah sendiri. Di rumah pun beda lagi tantangannya, tetap penuh perjuangan dan bingung berdua!

Proses menyusui yang aku kira alami dan mudah, ternyata aslinya sangat menyakitkan dan butuh perjuangan (bukan hanya lecet, bahkan sampai daging lepas). Bergadang pun bukan lagi untuk hal seru, tapi menahan kantuk luar biasa sambil mencoba menenangkan bayi yang menangis tanpa aku tahu apa maunya.

Rasa optimis saat hamil langsung berubah jadi rasa takut ini-itu. Takut salah mengurus bayi, takut ASI kurang, dan merasa serba salah. Akar dari semua rasa takut itu sebenarnya cuma satu: ketidaktahuan. Karena memang setelah pernah melahirkan, kelahiran kedua akan terasa berbeda lelahnya 😅.

Surprisingly Clueless

Sebagai kaum yang terbiasa terencana, punya kontrol, atau minimal bisa cari solusi instan lewat Google, fase ini sukses memukul egoku dengan keras. Aku mendadak kehilangan kendali atas waktu dan tubuh sendiri dalam semalam. Kewalahan, kaget dan merasa cemas bukan berarti aku menjadi ibu yang buruk (sempat terbersit sih). Tapi itu adalah reaksi manusiawi karena tubuh menghadapi kelelahan fisik yang luar biasa.

Saat hamil anak pertama, pandangan hanya tertuju pada satu sisi karena aku belum tahu apa-apa, belum pernah mengalami. Sekarang, baru paham lelahnya, bingungnya, tapi juga rasa sayang dan bahagia yang luar biasa dikaruniai anak.

Ternyata, dulu aku tidak sadar kalau adalah hal yang wajar terjebak di antara rasa lelah dan cinta pada anak bersamaan.

Wajar kalau kaget, takut dan belum tahu segalanya. Bahkan sampai punya anak kedua aku masih tidak tahu segalanya. Begitulah ternyata, jadi orang tua adalah fase belajar panjang bahkan mungkin sampai kita kakek nenek.

Ini aku tulis untuk semua ibu yang melahirkan anak pertama mereka, kalian tidak sendirian. Tetap semangat ya mama hebat <love>.

Rasa Onzeker

Belasan tahun terbiasa dengan rutinitas kerja fisik yang kaku, begitu akan repatriasi aku mulai ada gejala cemas. Ini cerita jujur tentang perjuangan melawan rasa onzeker, ketakutan kalau otakku sudah tumpul untuk mulai dari awal lagi, dan keputusan logis untuk melangkah ke babak baru secara step by step.

Saat seseorang menghabiskan waktu belasan tahun melakukan rutinitas yang serba diatur oleh sistem dan lingkungan kerja yang kaku, tanpa sadar mental kita ikut terbatas/dibatasi.

Aku terbiasa merasa nyaman dalam ruang yang sempit. Aku terbiasa menganggap bahwa keputusan-keputusan besar, kebebasan waktu, atau dunia pemikiran yang dinamis adalah hak milik teman-teman yang melewati karier akademis, tidak sepertiku yang bekerja didominasi fisik.

Tanpa sadar, kita jadi merasa selalu berada di level rookie (padahal siapa bilang pekerjaan produksi itu rendah), terlebih karena selama aku bekerja di posisi ini sering kali secara gak langsung merasa direndahkan.

Ketika situasi itu akhirnya berubah dan aku memegang kendali penuh atas hidupku sendiri, otakku seperti mengalami kejutan.

Menjadi manusia yang merdeka atas pilihannya ternyata membutuhkan proses adaptasi mental yang tidak mudah.Rasa ragu ini membuatku terus mempertanyakan kapasitas diri sendiri.

Ada ketakutan akan kalah start, ketakutan bahwa kemampuan berpikirku sudah tumpul, atau ketakutan bahwa rutinitasku yang dulu akan terbawa ke yang baru nanti.

Meskipun ragu tapi aku terus coba kuatkan hati dan menyadari bahwa logikaku harus ambil alih.

Faktanya, keputusan ini diambil bukan karena nekat, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang dipikirkan dengan matang dan berulang.

Keinginan untuk belajar lagi murni karena dorongan internal untuk berkembang, bukan karena mencari penilaian orang lain.

Aku tidak sedang bermimpi. Aku hanya sedang berpindah ruang dan peran.

Mungkin rasa onzeker ini adalah sisa-sisa dari masa lalu yang butuh waktu untuk diubah, dan itu wajar.

Langkah pulang ini bukan sekadar perpindahan lokasi benua, melainkan proses berdamai dengan pikiran sendiri.

Babak baru ini tidak menjanjikan semuanya akan langsung mudah, tetapi setidaknya, kali ini aku melangkah sebagai manusia yang bebas menentukan pilihan sendiri.

Waktu repatriasiku semakin dekat, rumah sudah mendekati proses fix, dan kontrak pekerjaan akan kusudahi 2 minggu lagi. Step by step, dan semuanya pasti akan menemukan bentuknya yang baru.

Kebebasan Gila

Bagi orang lain, menjual rumah di Belanda dan melepas karier mapan demi pulang ke rumah kecil di Jogja adalah kenekatan yang gila. Namun di usia menjelang kepala empat, kami sadar bahwa terus bertahan dalam rutinitas tanpa mengejar impian adalah kegilaan yang sesungguhnya. Inilah cerita kami tentang memilih kebebasan.

Keinginan suamiku untuk pindah ke Jogja sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, saat keputusan itu benar-benar kami bulatkan sekarang, hal itu justru menimbulkan pertanyaan buatku: apakah ada kaitannya dengan umurnya yang 2 tahun lagi hampir menginjak 40 tahun? Apakah transisi usia menuju kepala empat ini yang akhirnya mematangkan keberanian kami untuk benar-benar berhenti menunda?

Di luar sana, fase ini sering dicap sebagai puncak kemapanan standar. Kamu seharusnya sudah punya karier stabil di luar negeri, posisi nyaman, dan rencana masa tua yang rapi.

Suamiku dan aku memiliki semua stabilitas itu di Belanda. Dia bekerja sebagai Productie Leider dengan tanggung jawab manajemen yang cukup besar, dan aku sebagai Productie Medewerker Lijm en Buig Specialist—staf ahli teknis.  Untuk hidup di Belanda kami cukup. Namun, tekanan target harian dan rutinitas jam pabrik perlahan mulai menguras fisik serta pikiran.

Memasuki akhir usia 30-an ini serta kehadiran kedua anak kami, aku dan suamiku mulai terbuka mata. Selama ini kami memang tidak pernah hidup dari ekspektasi orang lain. Namun, kami tau kami sedang menjalani rutinitas yang monoton, bukan hidup yang seharusnya; mengejar impian dan sekarang yang terlebih penting fase golden age anak-anak. Kami tidak ingin menghabiskan sisa umur hanya untuk sebuah rutinitas.

Itulah mengapa kami akhirnya mantap mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia. Sebuah langkah yang membuat orang-orang di sekitar kami ada yang berdecak kagum, optimis, ke trigger dan banyak juga yang pesimis kuatir. Ada sebutan nekat, preman bahkan juga dikatai lef hebben (keberanian yang kelewat batas). Sebutan ini aku hargai sebagai pujian tentunya.

Karena bagi kami, ini bukan kenekatan tanpa arah, melainkan enam langkah sadar demi mengejar kebebasan:

Keluar dari pekerjaan yang membesarkan kami. Suamiku meninggalkan posisi leider yang cukup dihormati, dan aku melepas keahlian spesialis yang dibangun bertahun-tahun. Orang luar hanya melihat kenyamanan finansial yang hilang, tanpa tahu harga kesehatan fisik dan mental yang harus kami bayar jika terus bertahan.

Menjual rumah di Belanda. Mempunyai dua rumah di dua tempat (negara berbeda) sangat melelahkan secara emosional. Ada dilema konstan antara ingin menyewakan tapi takut rusak, ditambah urusan perawatan jarak jauh yang menyita energi. Kami memilih menjualnya untuk melepas beban mental itu.

Memilih hidup tanpa beban. Melalui keputusan menjual rumah, kami memilih untuk tidak lagi terikat pada aset fisik. Kami belajar bahwa kenyamanan sejati bukanlah seberapa banyak properti atas nama kita, melainkan tentang fleksibilitas hidup yang ringan dan mandiri dan hal yang paling berharga : menjadi orangtua yang hadir, waktu dengan anak-anak.

Menemukan jawaban dari “beban” sejak 2021. Tahun 2021 lalu, kami membeli sebuah rumah kecil di Jogja. Selama beberapa tahun, rumah kosong ini sempat terasa membebani karena urusan perawatannya dari jauh. Namun, di sinilah plot twist-nya. Rumah ini justru berbalik menjadi jangkar, solusi, dan pemberi keberanian utama bagi kami untuk pindah dari Belanda.

Berhenti menunggu saat pensiun. Dulu kami berpikir baru akan pulang dan menikmati hidup saat tua nanti. Sampai akhirnya kami tahu bahwa hari esok tidak pernah digaransi. Waktu yang sempurna itu mitos. Jika terus menunggu, kita hanya akan menghabiskan masa muda di ruang pabrik.

Menemukan arti kebebasan hakiki. Keluar dari zona nyaman di Eropa membawa kami pada esensi hidup yang sesungguhnya: bebas memilih apa yang ingin kami lakukan karena kami menyukainya. Kami tidak lagi bergerak karena tuntutan, keharusan, atau beban kewajiban yang dikerjakan tanpa ada feel. Segala hal yang kami kerjakan ke depan adalah murni karena kami mau dan antusias.

Meninggalkan kenyamanan Eropa untuk pulang ke Jogja mungkin terdengar ekstrem dan “gila” bagi orang lain. Namun bagi kami, ini adalah sebuah kemenangan. Kami memilih berhenti sekadar bertahan dalam rutinitas, dan mulai benar-benar hidup untuk impian kami sendiri. Kami pulang ke Jogja, membawa bekal pengalaman, dan siap menulis babak baru dengan penuh kedamaian.

Sebulan Tanpa Lotion: I’m fine!

Eksperimen sebulan hidup minimalis tanpa lotion dan skincare berlapis. Sebuah refleksi tentang pergeseran makna dari sekadar beauty routine menjadi self-care yang sejati.

Sudah sekitar satu bulan aku mencoba hidup dengan lebih sedikit produk kecantikan. Awalnya cuma ingin bereksperimen. Setelah beberapa bulan hampir tidak punya waktu untuk merawat diri seperti dulu, aku penasaran: sebenarnya apa yang benar-benar kubutuhkan?

Aku memulainya dari langkah yang paling sederhana. Aku berhenti memakai lotion setiap hari. Penggunaan makeup juga kuminimalisir. Untuk wajah, pagi dan malam aku lebih sering hanya membilasnya dengan air. Kalaupun sedang memakai makeup, aku akan membersihkannya dengan lembut tanpa rutinitas panjang berlapis-lapis seperti dulu.

Dan ternyata… aku baik-baik saja.

Kulitku tidak tiba-tiba rusak. Aku juga tidak merasa menjadi kurang cantik hanya karena tidak memakai banyak produk. Malah ada sesuatu yang jauh lebih terasa di dalam sini: aku merasa lebih ringan.

Dulu, merawat diri kadang terasa seperti daftar pekerjaan (to-do list) yang melelahkan dan harus dicentang. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan hanya kalau memang aku sedang membutuhkannya.

Kalau kulit terasa kering, ya pakai pelembap. Kalau sedang ingin memakai makeup, ya berdandan. Namun, kalau mau keluar rumah hanya dengan wajah polos dan rambut diikat, ya sudah. Aku tidak lagi merasa harus selalu “siap tampil” di depan semua orang.

Lucunya, setelah sebulan menjalani ini, aku malah merasa rutinitasku yang sekarang pun masih terlalu ribet. Aku mulai berpikir, mungkin aku bisa menyederhanakannya lagi.

Menggeser Konsep: Dari Beauty Routine Menjadi Self-Care

Perjalanan satu bulan ini membuatku melihat perbedaan besar antara merawat penampilan dan merawat diri. Dulu, aku menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengurus penampilan luar. Sekarang, fokusku bergeser total. Aku ingin memberikan perhatian lebih pada esensi merawat diri yang sesungguhnya.

Apalagi sebentar lagi kami akan kembali ke Yogya. Aku mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana dan memiliki lebih banyak waktu luang bersama anak-anak.

Di sana nanti, aku tidak harus setiap hari bertemu banyak orang seperti saat masih aktif bekerja. Tidak harus selalu berdandan sebelum melangkah keluar rumah. Aku tidak perlu lagi merasa tertekan untuk terlihat sempurna setiap kali berada di ruang publik. Rasanya sangat membebaskan saat menyadari bahwa keluar dengan wajah polos tanpa riasan itu sepenuhnya sah-sah saja.

Justru uang dan waktu yang dulu habis untuk berbagai produk kecantikan, kini ingin kualihkan ke hal-hal lain. Sesuatu yang menurutku benar-benar membuatku merasa “dirawat” lahir dan batin:

  • Menikmati pijat refleksi sebulan sekali.
  • Pergi ke salon untuk merapikan rambut dengan tenang.
  • Menyempatkan diri untuk healing sesekali.
  • Memiliki me time berkualitas untuk berjalan-jalan sendiri.
  • Makan dengan tenang atau cuma duduk minum kopi tanpa harus terburu-buru.

Memilih Merasa Lebih Baik

Pada akhirnya, aku sadar bahwa yang kucari selama ini bukan sekadar ingin terlihat lebih cantik di mata orang lain. Aku hanya ingin merasa lebih baik dengan diriku sendiri.

Dan mungkin, itulah yang sekarang ingin kusebut sebagai self-care yang nyata. Bukan tentang seberapa banyak produk yang kita miliki atau seberapa rumit rutinitas yang kita jalani. Melainkan tentang seberapa tahu kita pada apa yang benar-benar membuat kita merasa bahagia dan tenang.

Sebulan ini aku belajar satu hal penting: ternyata aku tidak membutuhkan produk sebanyak yang selama ini kupikirkan.

Semakin sedikit hal yang perlu kupikirkan tentang penampilan fisik, semakin banyak ruang yang tersisa di kepala dan hatiku untuk hal-hal lain yang jauh lebih berharga. Anak-anak, keluarga, kesehatan, waktu, dan sebuah kehidupan yang ingin kujalani dengan lebih banyak napas panjang.