Semua serba dipikir. Overthinking, kata orang jaman sekarang.
Istilah ini belakangan sering banget kedengaran dan hampir selalu punya konotasi yang negatif. Begitu kita mulai mikirin sesuatu agak lama atau agak dalam, label overthinker langsung nempel. Kita dianggap ribet, cemas, atau buang-buang waktu.
Tapi sadar enggak, sih? Sebenarnya di balik setiap kelemahan kita, selalu ada kekuatan yang tersembunyi. Termasuk si overthinking ini.
Kalau kita coba geser sudut pandangnya sedikit saja, kebiasaan berpikir dalam ini ternyata punya sisi yang indah. Semakin dalam kita berpikir, kita sebenarnya jadi lebih bisa hidup slow, lho. Kok bisa?
Ketika dunia luar bergerak serba cepat, menuntut kita buat instan dalam segala hal, pikiran kita justru mengajak kita untuk melambat. Kita enggak langsung menelan mentah-mentah apa yang ada di depan mata. Kita menimbang, merasakan, dan menganalisis. Proses berpikir yang panjang ini secara enggak langsung melatih kita untuk lebih sadar mindful dengan apa yang sedang kita jalani.
Hasilnya? Kita jadi jarang mengambil keputusan secara impulsif. Langkah hidup kita jadi lebih teratur, penuh kesadaran, dan bermakna. Kita enggak cuma sekadar “berjalan”, tapi benar-benar menikmati setiap prosesnya.
Jadi, buat kita yang sering dibilang terlalu banyak mikir: it’s okay. Selama pikiran itu enggak berubah jadi kecemasan yang melumpuhkan, nikmati saja prosesnya.
Semua serba dipikir, which is nice. Karena dari sanalah kita belajar untuk hidup dengan ritme yang lebih tenang di dunia yang super bising ini.
Tag: #hidupsehat #mentalhealth #selfcare #healthylifestyle #healthresilience #polahidupsehat
Mengemas 10 Tahun Dalam 2 Minggu
Semuanya bermula saat kami menghubungi makelar rumah. Rencana awalku adalah mulai mencicil di bulan Agustus tanpa beban. Namun, antusiasme suami mengubah segalanya—tiba-tiba kami hanya punya waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah demi mengejar jadwal foto dan penilaian label energi. Di tengah fisikku yang sangat lelah pascamelahirkan, ritme ini sungguh memacu adrenalin.
Sebelum memilah isi rumah, langkah pertama kami adalah memastikan birokrasi kargo pindahan internasional, mulai dari harga per meter kubik hingga dokumen yang diperlukan. Baru setelah itu, perang melawan isi rumah dimulai.
Ternyata, mengemas sepuluh tahun kehidupan di Belanda tidaklah mudah. Aku terkesima melihat betapa banyak barang bernilai tinggi yang dulu dibeli namun jarang dipakai. Mau dibuang pun terasa seperti cut loss yang terlalu kelewat batas.
Akhirnya, sekitar 20-an dos pindahan siap kami bawa pulang ke Indonesia—termasuk peralatan catering, buku-buku untuk modal usaha, serta dekorasi dan mainan kesayangan agar transisi anak-anak nanti terasa lebih bersahabat.
Namun, jujur saja terselip kecemasan. Rumah kami di Yogya nanti hanya tipe 36, sepertiga dari ukuran hunian kami di Belanda. Tantangan terbesarku nanti adalah menahan diri untuk tidak menambah barang baru dan berkomitmen memaksimalkan apa yang sudah ada. Meski, sebenarnya masih jauh lebih banyak barang yang akhirnya berhasil disingkirkan, dijual, atau didonasikan.
Anak pertamaku dengan polosnya sangat antusias ikut menyortir mainan yang mau dia bagikan ke anak-anak lain. Sedangkan si bayi tentu tidak perduli hal-hal selain tidur dan minum susu!
Melihat gunungan ini, buat aku berpikir kalau saja dari awal tempat tinggal kami lebih kosong, hidup pasti terasa lebih nyaman. Setiap benda ternyata menuntut energi untuk dirawat dan dipikirkan. Di usiaku yang menjelang 38 tahun ini, aku tersadar bahwa pilihan hidup paling sehat adalah—melambat dan hidup dengan lebih sedikit beban bagage (apapun bentuknya).
Pindah ke ruang yang jauh lebih kecil di Yogya itu bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan cara semesta memaksaku menyederhanakan hidup. Lebih sedikit ruang berarti lebih sedikit benda yang menimbun ego, dan lebih banyak area untuk fokus pada apa yang benar-benar esensial: kedekatan bersama keluarga.
Ketika Tubuh Mulai Protes
#04 Hidup Tenang & Sehat
Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.
Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.
Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.
Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.
Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019 itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.