Mengemas 10 Tahun Dalam 2 Minggu

Semuanya bermula saat kami menghubungi makelar rumah. Rencana awalku adalah mulai mencicil di bulan Agustus tanpa beban. Namun, antusiasme suami mengubah segalanya—tiba-tiba kami hanya punya waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah demi mengejar jadwal foto dan penilaian label energi. Di tengah fisikku yang sangat lelah pascamelahirkan, ritme ini sungguh memacu adrenalin.

Sebelum memilah isi rumah, langkah pertama kami adalah memastikan birokrasi kargo pindahan internasional, mulai dari harga per meter kubik hingga dokumen yang diperlukan. Baru setelah itu, perang melawan isi rumah dimulai.

Ternyata, mengemas sepuluh tahun kehidupan di Belanda tidaklah mudah. Aku terkesima melihat betapa banyak barang bernilai tinggi yang dulu dibeli namun jarang dipakai. Mau dibuang pun terasa seperti cut loss yang terlalu kelewat batas.

Akhirnya, sekitar 20-an dos pindahan siap kami bawa pulang ke Indonesia—termasuk peralatan catering, buku-buku untuk modal usaha, serta dekorasi dan mainan kesayangan agar transisi anak-anak nanti terasa lebih bersahabat.

Namun, jujur saja terselip kecemasan. Rumah kami di Yogya nanti hanya tipe 36, sepertiga dari ukuran hunian kami di Belanda. Tantangan terbesarku nanti adalah menahan diri untuk tidak menambah barang baru dan berkomitmen memaksimalkan apa yang sudah ada. Meski, sebenarnya masih jauh lebih banyak barang yang akhirnya berhasil disingkirkan, dijual, atau didonasikan.

Anak pertamaku dengan polosnya sangat antusias ikut menyortir mainan yang mau dia bagikan ke anak-anak lain. Sedangkan si bayi tentu tidak perduli hal-hal selain tidur dan minum susu!

Melihat gunungan ini, buat aku berpikir kalau saja dari awal tempat tinggal kami lebih kosong, hidup pasti terasa lebih nyaman. Setiap benda ternyata menuntut energi untuk dirawat dan dipikirkan. Di usiaku yang menjelang 38 tahun ini, aku tersadar bahwa pilihan hidup paling sehat adalah—melambat dan hidup dengan lebih sedikit beban bagage (apapun bentuknya).

Pindah ke ruang yang jauh lebih kecil di Yogya itu bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan cara semesta memaksaku menyederhanakan hidup. Lebih sedikit ruang berarti lebih sedikit benda yang menimbun ego, dan lebih banyak area untuk fokus pada apa yang benar-benar esensial: kedekatan bersama keluarga.