Hari ini, ingatan itu kembali mengetuk pintu hati dengan sangat keras. Melihat perjuangan adik sepupuku yang sedang berhadapan dengan luka operasi dan baby blues-nya, seketika melempar diriku kembali ke masa lalu. Ke sebuah ruang gelap en dingin di tanah rantau ini, tempat di mana seluruh luka dan air mataku membeku tanpa pernah sempat dicairkan.
Sejak awal menginjakkan kaki di Belanda, rasa sepi sudah menjadi teman akrab yang tak pernah pergi. Sendirian. Kalimat itu bukan sekadar status fisik, melainkan sebuah hantaman emosional yang nyata. Rasa sepi itu memuncak, bergulir dari masa kehamilan, hingga puncaknya ketika perutku harus dibelah melalui operasi caesar. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.
Dua kali mengalami operasi besar di negeri orang tanpa dekapan seorang mama. Tanpa kehadiran keluarga besar yang menenangkan. Tanpa sahabat yang bisa mendengarkan tangisan tanpa perlu dihakimi.
Namun, bagian paling menyakitkan dari semua perjuangan ini bukanlah rasa nyeri di bekas jahitan yang ditarik paksa saat harus mengurus bayi. Bagian paling menyiksa adalah sebuah kalimat yang terus berdengung dari orang-orang sekitar: “Kamu beruntung.”
Kata “beruntung” itu perlahan menjelma menjadi penjara emosional yang sangat rapat. Karena dianggap beruntung hidup di luar negeri, karena dianggap beruntung bisa memiliki anak sementara kakak kandungku sendiri di sini harus tertatih-tatih menghadapi kegagalan program hamil (IVF) yang tiada habisnya. Lingkungan dan keadaan seolah secara sepihak mencabut hakku untuk mengeluh.
Aku dipaksa memakai topeng “wanita tangguh yang beruntung”. Aku harus menahan diri, menelan semua rasa hancur, kelelahan yang luar biasa, dan kehampaan pascamelahirkan, hanya agar tidak dicap sebagai orang yang kurang bersyukur. Aku harus menjaga perasaan semua orang, melindungi emosi kakakku yang selalu dalam posisi dikasihani, sampai aku lupa bahwa jiwaku sendiri sedang menjerit kehabisan napas.
Aku merasa tidak berhak mengeluh. Seolah-olah rasa perih fisik dan hancurnya mental setelah dua kali SC ini adalah harga murah yang harus kubayar diam-diam tanpa boleh bersuara. Setiap kali air mata ingin menetes, rasa bersalah langsung menyergap, mengingatkanku bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung.
Hari ini, melalui cerita adikku, aku akhirnya berani mengakui pada diriku sendiri: Aku hancur. Perjalananku di sini sangat sepi, sangat berat, dan aku berhak untuk merasa terluka. Menjadi seorang ibu dan memiliki anak tidak serta-merta menghapus trauma dari pengabaian emosional yang kualami. Aku bersyukur atas anak-anakku, tetapi aku juga berhak menangisi malam-malam sepi yang harus kulewati sendirian tanpa sandaran.
Kepada diriku di masa lalu yang selalu dipaksa kuat: Maafkan aku karena baru berani menyuarakan rasa sakitmu hari ini. Kamu hebat, kamu sudah bertahan melewati badai tersunyi di negeri kincir angin ini. Dan kini, perlahan, aku ingin melepaskan topeng itu en memberikan ruang bagi hatiku yang hancur untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Categorie: Dagboek
De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen
We staan op het punt om te verhuizen en realiseren ons hoeveel we gaan missen: de kleine dagelijkse dingen, de wandelingen, de rust en het leven in Nederland.
Baca juga versi Bahasa Indonesia dari cerita ini:
Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah
Vanochtend had ik een afspraak bij de fysio. Omdat papa van de kinderen aan het werk is, moest ik alleen gaan met de kinderen. Eén van de dingen die ik het meest ga missen van ons huis hier, is hoe makkelijk alles dichtbij is. De fysio, huisarts, tandarts, supermarkt, scholen van peuterspeelzaal tot middelbare school, bushaltes en het treinstation… alles is gewoon op loopafstand.
Maar eigenlijk is dat niet het enige wat ik ga missen. Het zijn juist de kleine, gewone momenten. De wandelingen over de rustige paadjes, de frisse koude wind op je gezicht, de schone lucht, en overal kleine speeltuintjes langs de weg. Dingen die nu zo normaal voelen, maar eigenlijk best bijzonder zijn.
In Indonesië zal dat anders zijn. Misschien niet meer even snel even lopen naar een afspraak of boodschap. Misschien geen rustige wandelpaden meer waar je zomaar even kunt genieten van de ochtend. En misschien ook niet overal speeltuintjes in de buurt zoals hier.
Maar de laatste tijd zie ik ook iets anders. Via social media van andere ouders in Indonesië zie ik hoe blij kinderen daar zijn. Ze rennen door mooie natuur, spelen op het strand, ontdekken bergen, spelen in de regen, voeren dieren, of brengen hun tijd door in parken en buitenruimtes. En ook binnen is er veel: grote speeltuinen, interactieve musea, science centers en allerlei creatieve plekken waar kinderen zich helemaal kunnen uitleven.
Misschien ziet geluk er gewoon anders uit, afhankelijk van waar je bent.
Kinderen tellen niet hoeveel speeltuinen er binnen een straal van 500 meter zijn. Ze vragen zich niet af of ze er lopend naartoe kunnen of dat ze gebracht moeten worden. Ze vinden plezier in het spelen zelf, in samen zijn, in ontdekken.
En misschien leer ik daar zelf ook van. Ja, er zijn dingen die we gaan missen. Dingen die heel vanzelfsprekend voelen nu, maar straks niet meer. Maar tegelijk komen er ook nieuwe dingen voor terug, dingen die we nu nog niet eens kunnen voorstellen.
Terwijl ik vanochtend met de kinderen naar de fysio liep, besefte ik weer dat het meestal niet de grote dingen zijn die je het meest bijblijven. Het zijn juist die kleine dagelijkse routines: overal naartoe kunnen lopen, frisse ochtendlucht, kinderen die rennen naar een speeltuintje onderweg… dat soort momenten die je dag vullen zonder dat je het doorhebt.
Maar ik geloof ook dat ons nieuwe huis straks weer andere verhalen zal brengen. Verhalen die nu nog onbekend zijn, maar die later misschien net zo dierbaar zullen worden.
Want uiteindelijk leren kinderen ons iets heel belangrijks: niet te veel stilstaan bij wat was of wat komt, maar gewoon leven in het moment. Ze willen spelen, lachen en zich veilig en geliefd voelen.
En misschien is dat eigenlijk alles wat echt nodig is.
Want zolang er ruimte is om te spelen, mensen die van je houden, en nieuwe dingen om te ontdekken, vindt geluk altijd wel zijn weg. ❤️
Lees ook
- Waarom we terugverhuizen naar Indonesië
- Wat we gaan missen aan ons leven in Nederland
- Opvoeden tussen twee culturen
- Ons leven als gezin in Nederland
- De kleine dingen die je pas waardeert als je ze achterlaat
Categorie: Gezin, Emigratie, Ouderschap, Leven in Nederland, Reflectie
Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah
Menjelang kepindahan ke Indonesia, saya menyadari bahwa yang paling akan dirindukan bukan hanya fasilitas yang dekat dan mudah dijangkau, tetapi juga rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa. Tentang perpisahan, adaptasi, dan kebahagiaan anak-anak yang selalu menemukan jalannya.
Lees ook de Nederlandse versie van dit verhaal:
De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen
Pagi ini aku ada jadwal ke fysio. Karena papa anak-anak sedang bekerja, aku harus pergi sendiri ditemani anak-anak. Salah satu hal yang akan paling kurindukan dari rumah kami yang sekarang adalah kemudahan akses ke mana-mana. Ke fysio, dokter, dokter gigi, supermarket, sekolah dari TK sampai SMA, halte bus, stasiun kereta api, dan banyak fasilitas lainnya, semuanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Tapi ternyata bukan hanya itu yang akan dirindukan. Ada juga momen-momen sederhana yang selama ini terasa biasa saja: JJS melewati jalan setapak yang tenang, merasakan angin sejuk yang dingin menyentuh wajah, menghirup udara segar, dan menemukan taman bermain di hampir setiap sudut perjalanan. Hal-hal kecil yang menjadi bagian dari keseharian kami tanpa pernah benar-benar disadari betapa berharganya.
Tapi di Indonesia, semuanya akan berbeda. Mungkin tidak lagi semudah keluar rumah lalu berjalan kaki beberapa menit ke tempat tujuan. Mungkin tidak ada lagi jalan setapak yang nyaman untuk berjalan santai sambil menikmati udara pagi. Mungkin taman bermain tidak lagi hadir di setiap lingkungan yang kami lewati.
Namun belakangan ini aku juga menyadari sesuatu. Dari status dan cerita teman-teman yang memiliki anak kecil di Indonesia, aku melihat anak-anak mereka tumbuh dengan bahagia. Mereka berlarian di alam yang indah, bermain pasir di pantai, menjelajah pegunungan, bermain hujan-hujanan, memberi makan hewan, atau sekadar menghabiskan sore di taman dan ruang terbuka. Di sisi lain, pilihan tempat bermain dalam ruangan juga tidak kalah seru dan semakin beragam. Playground yang besar, museum interaktif, pusat sains, hingga berbagai aktivitas kreatif yang membuat anak-anak betah bereksplorasi.
Mungkin bentuk kebahagiaannya saja yang berbeda.
Anak-anak tidak menghitung berapa banyak taman bermain yang ada dalam radius beberapa ratus meter dari rumah. Mereka tidak membandingkan apakah bisa berjalan kaki ke sana atau harus naik kendaraan terlebih dahulu. Mereka menemukan kegembiraan dari pengalaman, dari kebersamaan, dan dari kesempatan untuk bermain serta mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.
Di situlah aku belajar melihat perpindahan ini dari sudut pandang yang lain. Ya, ada banyak hal yang akan kami rindukan. Ada kenyamanan yang harus kami tinggalkan. Ada rutinitas yang tidak akan sama lagi. Namun pada saat yang sama, ada banyak hal baru yang menunggu untuk ditemukan.
Saat berjalan menuju fysio pagi ini bersama anak-anak, aku kembali diingatkan bahwa yang paling sulit ditinggalkan sering kali bukanlah hal-hal besar. Justru rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa: berjalan kaki ke mana-mana, menikmati udara pagi yang segar, melihat anak-anak berlari menuju taman bermain, dan perjalanan-perjalanan kecil yang membentuk keseharian kami.
Namun aku juga percaya, rumah yang baru nantinya akan menghadirkan cerita-cerita kecil yang lain. Cerita yang saat ini belum bisa kubayangkan, tetapi suatu hari mungkin akan kami kenang dan rindukan dengan cara yang sama.
Karena pada akhirnya, anak-anak punya kemampuan luar biasa untuk mengajarkan orang tuanya tentang beradaptasi. Mereka tidak terlalu sibuk membandingkan masa lalu dengan masa depan. Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan merasa dicintai.
Dan mungkin itulah yang terpenting.
Sebab selama ada ruang untuk bermain, kesempatan untuk bertumbuh, dan orang-orang yang mencintai mereka, kebahagiaan akan selalu menemukan jalannya. ❤️
Baca juga
- Mengapa Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia
- Hal-Hal yang Akan Kami Rindukan dari Kehidupan di Belanda
- Membesarkan Anak di Antara Dua Budaya
- Ketika Rumah Bukan Lagi Sekadar Sebuah Tempat
- Pelajaran Berharga Selama Tinggal di Belanda
Kategori: Keluarga, Migrasi, Parenting, Kehidupan di Belanda, Refleksi
Untuk Diriku di Usia 25 Tahun:
Usia 25 adalah tentang belajar percaya pada diri sendiri, bekerja keras, menikmati hidup, dan tetap melangkah meski belum semuanya jelas. Sepi adalah fokus, ramai adalah dukungan — nikmati setiap prosesnya.
Untuk Diriku di Usia 25 Tahun:
“Sepi itu fokus, ramai itu dukungan.”
Di umur ini, mungkin hidup belum sepenuhnya jelas. Masih banyak bingungnya,
masih sering membandingkan diri dengan orang lain, dan masih merasa tertinggal
ketika melihat teman-teman sudah lebih dulu berhasil. Tapi percayalah, setiap
orang punya waktunya masing-masing.
Jalani dan kejarlah semua yang kamu inginkan dalam hidup. Di usia 25, kamu
masih punya banyak waktu untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit lagi.
Jangan takut memulai hanya karena merasa belum cukup hebat atau keadaan ekonomi
belum mendukung.
Percaya diri itu penting. Jangan biarkan gengsi, minder, atau rasa rendah diri
membuatmu berhenti melangkah. Penilaian orang lain tidak menentukan nilai dirimu.
Selalu yakinkan dirimu bahwa kamu mampu dan bisa berkembang menjadi versi terbaik
dari dirimu sendiri.
Nikmati masa mudamu sekarang, karena umur 25 tidak akan datang dua kali.
Bekerjalah keras, tapi jangan lupa menikmati hidup. Nongkronglah sesekali,
tertawa dengan teman, pergi ke tempat yang kamu suka, dan nikmati prosesnya.
Hidup bukan hanya soal tujuan, tapi juga tentang bagaimana kamu menjalani setiap harinya.
Tidak perlu terlalu menyesali masa lalu, dan tidak perlu terlalu khawatir tentang masa depan.
Di usia 25, wajar kalau semuanya belum sempurna. Tuhan sudah menyiapkan jalan terbaik selama
kamu terus berusaha, bekerja keras, dan menjaga niat baik.
Tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia. Cepat atau lambat, kamu akan memanen hasil
dari semua usaha itu, sekecil apa pun langkah yang kamu ambil hari ini.
Apa pun situasinya, tetap jalani hidupmu dengan penuh syukur dan nikmati setiap prosesnya.
De Batik van Oma
Ik was een paar dagen in Jogja om mijn moeder blij te maken, maar ik werd ziek en was erg moe. Het hotel had ook problemen. Mijn moeder zorgde goed voor me, gaf me massage met olie, bad voor me en dekte me toe met een batik van mijn oma uit Sragen. Ze zei dat ik die batik ook moet gebruiken als ze er niet is, zodat ik snel beter word en hopelijk snel zwanger raak. Ik vond het lief en grappig tegelijk.
Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:
12 augustus 2022
De batik van oma.
De afgelopen dagen in Jogja wilde ik eigenlijk mijn moeder blij maken.
Ik was helemaal uitgeput en ook ziek geweest, en er was ook nog iets mis met het hotel.
Weer zo’n moment waarop ik leer van moeders: hun liefde lijkt soms overdreven, niet logisch en best grappig,
maar het is een onvoorwaardelijke liefde voor hun kinderen.
Ook al uiten ze het bij elk kind op een andere manier.
Een batik die van mijn oma uit Sragen is geweest, voor mijn moeder.
Toen ik ziek was, werd ik gemasseerd met kutus-kutus olie, er werd voor me gebeden,
en ik werd toegedekt met deze batik.
Dit was mijn reactie toen: met mijn ogen rollen terwijl ik mijn best deed niet te lachen.
Terwijl ze me toedekte zei mijn moeder:
“Als je straks ziek bent en mama er niet is (in Nederland), gebruik dan deze batik van oma om je toe te dekken,
dan word je snel beter en hopelijk raak je snel zwanger, oké?”
Ik zei: “ja mam,” terwijl ik een beetje moest glimlachen.
Hati Gembira Caraku Bertahan
#07 Hidup Tenang & Sehat
Selama dua setengah tahun menjalani pengobatan hipertiroid, aku mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Tidak ada pantangan khusus dari dokter secara medis, pengobatan dan kontrol rutin sudah cukup. Itu hanya karena aku merasa perlu melakukan bagianku sendiri.
Untuk urusan medis, aku percaya pada dokter. Bagiku yang lebih menantang justru hal lain yaitu dampak mentalnya.
Aku menjadi lebih sensitif. Lebih mudah sedih tanpa alasan yang jelas. Lebih mudah marah, terutama ketika tubuh terasa tidak nyaman.
Itu tidak selalu mudah dipahami bahkan oleh diriku sendiri. Dari luar, aku terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda yang jelas bahwa tubuhku sedang berjuang.
Dan di situlah sering terjadi kesalahpahaman.
Di titik itu, aku sadar: aku tidak ingin hidupku hanya berputar di sekitar penyakit ini. Aku tidak ingin sepenuhnya dikendalikan oleh apa yang sedang terjadi di tubuhku.
Pelan-pelan, aku mulai mencari cara untuk tetap bertahan.
Tahun 2020, aku memutuskan untuk membuka catering. Aku butuh sesuatu yang membuatku tetap merasa hidup. Kegiatan yang bisa mengisi hariku dengan makna.
Kalau dipikir secara logika, itu pilihan yang melelahkan. Aku tetap bekerja di hari biasa, dan di akhir pekan menerima pesanan. Tapi justru di situ aku menemukan sesuatu yang tidak aku duga.
Aku merasa lebih hidup.
Lebih berarti.
Tanpa sadar, aku jadi tidak terlalu fokus pada penyakitku.
Pikiranku terisi dengan hal lain ; menu yang harus disiapkan, pesanan yang harus diselesaikan, ide-ide baru yang ingin aku coba.
Hal-hal sederhana, tapi cukup untuk mengalihkan pikiranku dari rasa yang terlalu penuh.
Aku juga mulai menemukan cara lain untuk menjaga diri. Saat merasa sedih tanpa alasan, aku membiarkan diriku berhenti sejenak menonton sesuatu yang membuatku bisa menangis, tanpa perlu menjelaskan kenapa.
Cara sederhana, tapi cukup melegakan. Mungkin ini bukan cara yang sempurna, tapi ini adalah caraku. Cara untuk tetap berjalan, meskipun tidak selalu kuat.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang aku rasakan:
aku bisa tidur lebih pulas.
Seolah tubuh dan pikiranku perlahan menemukan ritmenya kembali.
Dari semua proses itu, aku mulai memahami bahwa melakukan hal-hal yang membuat kita merasa produktif, belajar sesuatu yang baru, dan memberi kebahagiaan bagi orang lain bisa memberi warna pada hidup. Bisa mengisi kembali bagian diri yang sempat kosong.
Bukan berarti semuanya jadi mudah.
Bukan berarti aku selalu merasa baik-baik saja. Cukup untuk membuatku tetap ingin menjalani hari.
Aku mulai menyadari bahwa hati yang gembira bukan berarti hidup tanpa beban. Justru hati yang tetap hidup, meskipun sedang berjuang. Mungkin, itu adalah caraku bertahan.
Menjalani Hipertiroid
#06 Hidup Tenang & Sehat
Mendengarkan tubuh ternyata bukan sesuatu yang spontan kulakukan.
Mungkin juga bagi banyak orang.
Kita sering baru benar-benar memperhatikan, ketika tubuh sudah sampai di titik jenuh, seperti bom waktu yang akhirnya meledak lewat penyakit, seolah berkata:
“aku juga perlu didengar.”
Bagiku, pengalaman ini terasa sangat nyata.
Hipertiroid bukan hal yang asing. Aku sudah lebih dulu mengenalnya lewat kakakku yang juga pernah mengalaminya.
Tapi mengenal dari jauh dan mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.
Ketika akhirnya itu terjadi padaku, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan: tubuh ini tidak hanya lelah, tapi benar-benar kehabisan energi.
Hampir setiap hari aku merasa lelah bahkan di hari yang tidak terasa berat sekalipun.
Obat yang harus aku minum membantu, tapi juga membawa perubahan lain. Berat badan naik, tubuh berubah, dan sebagai perempuan, itu menjadi lapisan beban tambahan yang tidak sederhana.
Aku yang dulu takut gemuk, yang pernah mencoba berbagai cara diet yang tidak selalu sehat, tiba-tiba harus berdamai dengan tubuh yang tidak lagi bisa aku kontrol seperti dulu.
Dan di saat yang sama, emosiku ikut berubah.
Ada hari-hari ketika aku sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.
Ada hari-hari ketika aku merasa kosong, seperti menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.
Yang paling sulit bukan hanya rasa lelah itu sendiri, tapi ketidakstabilan yang datang bersamanya, fisik dan mental seperti tidak lagi berjalan selaras.
Sebagai penyakit autoimun Graves, hipertiroid tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga emosi dan cara berpikir.
Dan itu yang perlahan mulai aku sadari.
Bukan dari penjelasan medis.
Tapi dari pengalaman sehari-hari yang tidak bisa aku abaikan.
Dari situ aku mulai berubah cara pandang.
Lebih berhati-hati.
Lebih pelan.
Lebih sadar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi juga tentang bagaimana aku menjaga pikiranku dan emosiku.
Karena aku tidak ingin penyakit ini hanya mengubah tubuhku, tapi juga cara aku hidup dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarku.
Dan mungkin di titik itu, aku mulai belajar hal yang paling sederhana tapi paling sulit:
bahwa tubuh tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu.
Bahwa sehat bukan berarti selalu kuat.
Dan bahwa mendengarkan tubuh bukan kelemahan tapi bentuk paling dasar dari bertahan hidup.
Awal Kesadaran: Mengenal Tubuhku Lewat Hipertiroid
#05 Hidup Tenang & Sehat
Saat aku akhirnya didiagnosis hipertiroid, rasanya seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang selama ini hilang. Semua kelelahan yang dulu tidak bisa aku jelaskan, perlahan mulai terasa masuk akal.
Aku merasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang harus dihadapi dan mulai mengambil langkah untuk sembuh.
Tetap saja di awal aku bingung. Harus mulai dari mana? Apa yang harus diubah? Sejauh mana aku harus menyesuaikan hidupku? Namun, ketidakpastian itu jauh lebih ringan dibanding tidak tahu sama sekali.
Pelan-pelan, aku mulai mencari tahu tentang makanan apa yang sebaiknya aku hindari, apa yang bisa membantu. Mencoba olahraga yang masih bisa dilakukan tanpa membebani tubuh. Mencari-cari cara bagaimana menjalani hari-hari dengan kondisi yang tidak selalu stabil mental dan fisik. Aku mencoba mulai mengenali tubuhku dari awal.
Kebetulan, kakak perempuanku juga mengalami hal yang sama. Dari situ, aku banyak belajar, bukan hanya dari informasi, tapi dari pengalaman nyata seseorang yang lebih dulu melewatinya. Tentu itu sangat membantu, walau perjalanan sembuh ini tetap tidak mudah.
Dua setengah tahun menjalani pengobatan bukan waktu yang sebentar. Kunjungan rutin ke rumah sakit, efek obat yang kuminum di tubuhku. Ada juga rasa kesal karena kondisi badan yang tidak karuan dan tubuhku tidak lagi bisa aku andalkan seperti dulu.
Ada hari-hari di mana aku merasa lebih baik. Ada juga hari-hari di mana tubuhku terasa kembali melemah, seolah semua usaha belum cukup.
Dan di tengah semua itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar aku pahami bahwa proses ini bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh. Tapi juga tentang belajar hidup dengan cara yang berbeda.
Belajar mendengarkan, bukan memaksa. Belajar menyesuaikan, bukan mengejar. Di fase ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mulai memperhatikan apa yang tubuhku butuhkan bukan hanya apa yang aku inginkan.
Ketika Tubuh Mulai Protes
#04 Hidup Tenang & Sehat
Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.
Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.
Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.
Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.
Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019 itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.
Pilihan hidup, identitas baru
#03 Hidup Tenang & Sehat
Di usia 20-an, aku sedang membangun karir pelan-pelan, tidak sempurna, tapi jelas ada arah. Saat itu aku merasa sedang membentuk identitasku sendiri sebagai seseorang yang tahu melangkah kemana untuk masa depanku.
Lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seseorang, jatuh cinta, menikah dan memutuskan pindah ke Eropa.
Saat itu, aku tidak merasa sedang kehilangan apa pun. Aku merasa sedang memilih kehidupan baru yang juga berarti. Hanya perlahan, aku mulai sadar bahwa keputusan besar tidak pernah hanya membawa satu perubahan.
Bersamaan dengan membangun hidup baru, aku juga meninggalkan karir yang baru saja mulai tumbuh. Bukan berhenti tapi kembali ke awal. Sepertinya di titik itu, sesuatu dalam diriku mulai runtuh pelan-pelan tanpa ku sadari. Rencana karir ku dan rasa percaya diri, yang lebih dalam lagi: identitasku.
Harus memulai ulang dari nol di negara baru, sistem baru, dan kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang aku kenal sebelumnya. Terasa seperti belajar berjalan dan bicara untuk pertama kali di umur yang sudah terlambat, 20-an tahun. Kadang aku merasa orang disini yang tidak mengenalku, melihatku tertinggal dan mungkin bodoh terbelakang.
Aku bekerja, belajar, beradaptasi, tapi di dalam diriku, ada proses lain yang tidak terlihat: perlahan aku mulai meragukan siapa aku sebenarnya, di luar semua peran yang sedang aku jalani.
Ambisiku tidak hilang hanya terasa semakin jauh. Sesuatu yang dulu jelas, kini menjadi kabur.
Di saat yang sama, aku membangun kehidupan sebagai seorang istri kemudian sebagai ibu. Semua itu nyata dan penting. Tapi di tengah semua peran itu, aku kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa utuh sebagai diri sendiri.
Dan aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Sampai suatu hari aku menyadari aku tidak lagi yakin pada diriku sendiri seperti dulu. Dampaknya tidak hanya emosional tapi juga mental.
Ada kelelahan yang tidak selalu berasal dari aktivitas, tapi dari beban di kepala yang terus berjalan tanpa henti ; overthinking, ragu-ragu dan rasa tidak cukup. Meskipun dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Sebagai perempuan yang dulu punya ambisi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan bahwa cinta bisa mengubah bukan hanya arah hidup, tapi juga cara aku melihat diriku sendiri.
Bukan karena cinta itu salah. Tapi karena aku tidak siap dengan bagaimana ia menggeser begitu banyak bagian dari diriku sekaligus.
Seiring waktu aku mulai paham bahwa ini bukan sekadar cerita tentang karir atau cinta. Ini adalah cerita tentang kesehatan mental.
Tentang bagaimana identitas bisa runtuh pelan-pelan, tanpa suara. Bagaimana seseorang tetap berjalan, bahkan ketika rasa percaya dirinya belum sepenuhnya pulih.
Aku tidak lagi melihat ini sebagai kehilangan, tapi sebagai proses membangun ulang. Pelan-pelan belajar menerima dan menjadi versi terbaikku, identitas baru yang lahir dari pilihan hidup yang pernah kuambil.