Untuk Diriku di Usia 25 Tahun:
“Sepi itu fokus, ramai itu dukungan.”
Di umur ini, mungkin hidup belum sepenuhnya jelas. Masih banyak bingungnya,
masih sering membandingkan diri dengan orang lain, dan masih merasa tertinggal
ketika melihat teman-teman sudah lebih dulu berhasil. Tapi percayalah, setiap
orang punya waktunya masing-masing.
Jalani dan kejarlah semua yang kamu inginkan dalam hidup. Di usia 25, kamu
masih punya banyak waktu untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit lagi.
Jangan takut memulai hanya karena merasa belum cukup hebat atau keadaan ekonomi
belum mendukung.
Percaya diri itu penting. Jangan biarkan gengsi, minder, atau rasa rendah diri
membuatmu berhenti melangkah. Penilaian orang lain tidak menentukan nilai dirimu.
Selalu yakinkan dirimu bahwa kamu mampu dan bisa berkembang menjadi versi terbaik
dari dirimu sendiri.
Nikmati masa mudamu sekarang, karena umur 25 tidak akan datang dua kali.
Bekerjalah keras, tapi jangan lupa menikmati hidup. Nongkronglah sesekali,
tertawa dengan teman, pergi ke tempat yang kamu suka, dan nikmati prosesnya.
Hidup bukan hanya soal tujuan, tapi juga tentang bagaimana kamu menjalani setiap harinya.
Tidak perlu terlalu menyesali masa lalu, dan tidak perlu terlalu khawatir tentang masa depan.
Di usia 25, wajar kalau semuanya belum sempurna. Tuhan sudah menyiapkan jalan terbaik selama
kamu terus berusaha, bekerja keras, dan menjaga niat baik.
Tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia. Cepat atau lambat, kamu akan memanen hasil
dari semua usaha itu, sekecil apa pun langkah yang kamu ambil hari ini.
Apa pun situasinya, tetap jalani hidupmu dengan penuh syukur dan nikmati setiap prosesnya.
De Batik van Oma
Ik was een paar dagen in Jogja om mijn moeder blij te maken, maar ik werd ziek en was erg moe. Het hotel had ook problemen. Mijn moeder zorgde goed voor me, gaf me massage met olie, bad voor me en dekte me toe met een batik van mijn oma uit Sragen. Ze zei dat ik die batik ook moet gebruiken als ze er niet is, zodat ik snel beter word en hopelijk snel zwanger raak. Ik vond het lief en grappig tegelijk.
Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:
12 augustus 2022
De batik van oma.
De afgelopen dagen in Jogja wilde ik eigenlijk mijn moeder blij maken.
Ik was helemaal uitgeput en ook ziek geweest, en er was ook nog iets mis met het hotel.
Weer zo’n moment waarop ik leer van moeders: hun liefde lijkt soms overdreven, niet logisch en best grappig,
maar het is een onvoorwaardelijke liefde voor hun kinderen.
Ook al uiten ze het bij elk kind op een andere manier.
Een batik die van mijn oma uit Sragen is geweest, voor mijn moeder.
Toen ik ziek was, werd ik gemasseerd met kutus-kutus olie, er werd voor me gebeden,
en ik werd toegedekt met deze batik.
Dit was mijn reactie toen: met mijn ogen rollen terwijl ik mijn best deed niet te lachen.
Terwijl ze me toedekte zei mijn moeder:
“Als je straks ziek bent en mama er niet is (in Nederland), gebruik dan deze batik van oma om je toe te dekken,
dan word je snel beter en hopelijk raak je snel zwanger, oké?”
Ik zei: “ja mam,” terwijl ik een beetje moest glimlachen.
Hati Gembira Caraku Bertahan
#07 Hidup Tenang & Sehat
Selama dua setengah tahun menjalani pengobatan hipertiroid, aku mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Tidak ada pantangan khusus dari dokter secara medis, pengobatan dan kontrol rutin sudah cukup. Itu hanya karena aku merasa perlu melakukan bagianku sendiri.
Untuk urusan medis, aku percaya pada dokter. Bagiku yang lebih menantang justru hal lain yaitu dampak mentalnya.
Aku menjadi lebih sensitif. Lebih mudah sedih tanpa alasan yang jelas. Lebih mudah marah, terutama ketika tubuh terasa tidak nyaman.
Itu tidak selalu mudah dipahami bahkan oleh diriku sendiri. Dari luar, aku terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda yang jelas bahwa tubuhku sedang berjuang.
Dan di situlah sering terjadi kesalahpahaman.
Di titik itu, aku sadar: aku tidak ingin hidupku hanya berputar di sekitar penyakit ini. Aku tidak ingin sepenuhnya dikendalikan oleh apa yang sedang terjadi di tubuhku.
Pelan-pelan, aku mulai mencari cara untuk tetap bertahan.
Tahun 2020, aku memutuskan untuk membuka catering. Aku butuh sesuatu yang membuatku tetap merasa hidup. Kegiatan yang bisa mengisi hariku dengan makna.
Kalau dipikir secara logika, itu pilihan yang melelahkan. Aku tetap bekerja di hari biasa, dan di akhir pekan menerima pesanan. Tapi justru di situ aku menemukan sesuatu yang tidak aku duga.
Aku merasa lebih hidup.
Lebih berarti.
Tanpa sadar, aku jadi tidak terlalu fokus pada penyakitku.
Pikiranku terisi dengan hal lain ; menu yang harus disiapkan, pesanan yang harus diselesaikan, ide-ide baru yang ingin aku coba.
Hal-hal sederhana, tapi cukup untuk mengalihkan pikiranku dari rasa yang terlalu penuh.
Aku juga mulai menemukan cara lain untuk menjaga diri. Saat merasa sedih tanpa alasan, aku membiarkan diriku berhenti sejenak menonton sesuatu yang membuatku bisa menangis, tanpa perlu menjelaskan kenapa.
Cara sederhana, tapi cukup melegakan. Mungkin ini bukan cara yang sempurna, tapi ini adalah caraku. Cara untuk tetap berjalan, meskipun tidak selalu kuat.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang aku rasakan:
aku bisa tidur lebih pulas.
Seolah tubuh dan pikiranku perlahan menemukan ritmenya kembali.
Dari semua proses itu, aku mulai memahami bahwa melakukan hal-hal yang membuat kita merasa produktif, belajar sesuatu yang baru, dan memberi kebahagiaan bagi orang lain bisa memberi warna pada hidup. Bisa mengisi kembali bagian diri yang sempat kosong.
Bukan berarti semuanya jadi mudah.
Bukan berarti aku selalu merasa baik-baik saja. Cukup untuk membuatku tetap ingin menjalani hari.
Aku mulai menyadari bahwa hati yang gembira bukan berarti hidup tanpa beban. Justru hati yang tetap hidup, meskipun sedang berjuang. Mungkin, itu adalah caraku bertahan.
Menjalani Hipertiroid
#06 Hidup Tenang & Sehat
Mendengarkan tubuh ternyata bukan sesuatu yang spontan kulakukan.
Mungkin juga bagi banyak orang.
Kita sering baru benar-benar memperhatikan, ketika tubuh sudah sampai di titik jenuh, seperti bom waktu yang akhirnya meledak lewat penyakit, seolah berkata:
“aku juga perlu didengar.”
Bagiku, pengalaman ini terasa sangat nyata.
Hipertiroid bukan hal yang asing. Aku sudah lebih dulu mengenalnya lewat kakakku yang juga pernah mengalaminya.
Tapi mengenal dari jauh dan mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.
Ketika akhirnya itu terjadi padaku, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan: tubuh ini tidak hanya lelah, tapi benar-benar kehabisan energi.
Hampir setiap hari aku merasa lelah bahkan di hari yang tidak terasa berat sekalipun.
Obat yang harus aku minum membantu, tapi juga membawa perubahan lain. Berat badan naik, tubuh berubah, dan sebagai perempuan, itu menjadi lapisan beban tambahan yang tidak sederhana.
Aku yang dulu takut gemuk, yang pernah mencoba berbagai cara diet yang tidak selalu sehat, tiba-tiba harus berdamai dengan tubuh yang tidak lagi bisa aku kontrol seperti dulu.
Dan di saat yang sama, emosiku ikut berubah.
Ada hari-hari ketika aku sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.
Ada hari-hari ketika aku merasa kosong, seperti menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.
Yang paling sulit bukan hanya rasa lelah itu sendiri, tapi ketidakstabilan yang datang bersamanya, fisik dan mental seperti tidak lagi berjalan selaras.
Sebagai penyakit autoimun Graves, hipertiroid tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga emosi dan cara berpikir.
Dan itu yang perlahan mulai aku sadari.
Bukan dari penjelasan medis.
Tapi dari pengalaman sehari-hari yang tidak bisa aku abaikan.
Dari situ aku mulai berubah cara pandang.
Lebih berhati-hati.
Lebih pelan.
Lebih sadar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi juga tentang bagaimana aku menjaga pikiranku dan emosiku.
Karena aku tidak ingin penyakit ini hanya mengubah tubuhku, tapi juga cara aku hidup dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarku.
Dan mungkin di titik itu, aku mulai belajar hal yang paling sederhana tapi paling sulit:
bahwa tubuh tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu.
Bahwa sehat bukan berarti selalu kuat.
Dan bahwa mendengarkan tubuh bukan kelemahan tapi bentuk paling dasar dari bertahan hidup.
Awal Kesadaran: Mengenal Tubuhku Lewat Hipertiroid
#05 Hidup Tenang & Sehat
Saat aku akhirnya didiagnosis hipertiroid, rasanya seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang selama ini hilang. Semua kelelahan yang dulu tidak bisa aku jelaskan, perlahan mulai terasa masuk akal.
Aku merasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang harus dihadapi dan mulai mengambil langkah untuk sembuh.
Tetap saja di awal aku bingung. Harus mulai dari mana? Apa yang harus diubah? Sejauh mana aku harus menyesuaikan hidupku? Namun, ketidakpastian itu jauh lebih ringan dibanding tidak tahu sama sekali.
Pelan-pelan, aku mulai mencari tahu tentang makanan apa yang sebaiknya aku hindari, apa yang bisa membantu. Mencoba olahraga yang masih bisa dilakukan tanpa membebani tubuh. Mencari-cari cara bagaimana menjalani hari-hari dengan kondisi yang tidak selalu stabil mental dan fisik. Aku mencoba mulai mengenali tubuhku dari awal.
Kebetulan, kakak perempuanku juga mengalami hal yang sama. Dari situ, aku banyak belajar, bukan hanya dari informasi, tapi dari pengalaman nyata seseorang yang lebih dulu melewatinya. Tentu itu sangat membantu, walau perjalanan sembuh ini tetap tidak mudah.
Dua setengah tahun menjalani pengobatan bukan waktu yang sebentar. Kunjungan rutin ke rumah sakit, efek obat yang kuminum di tubuhku. Ada juga rasa kesal karena kondisi badan yang tidak karuan dan tubuhku tidak lagi bisa aku andalkan seperti dulu.
Ada hari-hari di mana aku merasa lebih baik. Ada juga hari-hari di mana tubuhku terasa kembali melemah, seolah semua usaha belum cukup.
Dan di tengah semua itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar aku pahami bahwa proses ini bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh. Tapi juga tentang belajar hidup dengan cara yang berbeda.
Belajar mendengarkan, bukan memaksa. Belajar menyesuaikan, bukan mengejar. Di fase ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mulai memperhatikan apa yang tubuhku butuhkan bukan hanya apa yang aku inginkan.
Ketika Tubuh Mulai Protes
#04 Hidup Tenang & Sehat
Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.
Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.
Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.
Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.
Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019 itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.
Pilihan hidup, identitas baru
#03 Hidup Tenang & Sehat
Di usia 20-an, aku sedang membangun karir pelan-pelan, tidak sempurna, tapi jelas ada arah. Saat itu aku merasa sedang membentuk identitasku sendiri sebagai seseorang yang tahu melangkah kemana untuk masa depanku.
Lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seseorang, jatuh cinta, menikah dan memutuskan pindah ke Eropa.
Saat itu, aku tidak merasa sedang kehilangan apa pun. Aku merasa sedang memilih kehidupan baru yang juga berarti. Hanya perlahan, aku mulai sadar bahwa keputusan besar tidak pernah hanya membawa satu perubahan.
Bersamaan dengan membangun hidup baru, aku juga meninggalkan karir yang baru saja mulai tumbuh. Bukan berhenti tapi kembali ke awal. Sepertinya di titik itu, sesuatu dalam diriku mulai runtuh pelan-pelan tanpa ku sadari. Rencana karir ku dan rasa percaya diri, yang lebih dalam lagi: identitasku.
Harus memulai ulang dari nol di negara baru, sistem baru, dan kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang aku kenal sebelumnya. Terasa seperti belajar berjalan dan bicara untuk pertama kali di umur yang sudah terlambat, 20-an tahun. Kadang aku merasa orang disini yang tidak mengenalku, melihatku tertinggal dan mungkin bodoh terbelakang.
Aku bekerja, belajar, beradaptasi, tapi di dalam diriku, ada proses lain yang tidak terlihat: perlahan aku mulai meragukan siapa aku sebenarnya, di luar semua peran yang sedang aku jalani.
Ambisiku tidak hilang hanya terasa semakin jauh. Sesuatu yang dulu jelas, kini menjadi kabur.
Di saat yang sama, aku membangun kehidupan sebagai seorang istri kemudian sebagai ibu. Semua itu nyata dan penting. Tapi di tengah semua peran itu, aku kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa utuh sebagai diri sendiri.
Dan aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Sampai suatu hari aku menyadari aku tidak lagi yakin pada diriku sendiri seperti dulu. Dampaknya tidak hanya emosional tapi juga mental.
Ada kelelahan yang tidak selalu berasal dari aktivitas, tapi dari beban di kepala yang terus berjalan tanpa henti ; overthinking, ragu-ragu dan rasa tidak cukup. Meskipun dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Sebagai perempuan yang dulu punya ambisi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan bahwa cinta bisa mengubah bukan hanya arah hidup, tapi juga cara aku melihat diriku sendiri.
Bukan karena cinta itu salah. Tapi karena aku tidak siap dengan bagaimana ia menggeser begitu banyak bagian dari diriku sekaligus.
Seiring waktu aku mulai paham bahwa ini bukan sekadar cerita tentang karir atau cinta. Ini adalah cerita tentang kesehatan mental.
Tentang bagaimana identitas bisa runtuh pelan-pelan, tanpa suara. Bagaimana seseorang tetap berjalan, bahkan ketika rasa percaya dirinya belum sepenuhnya pulih.
Aku tidak lagi melihat ini sebagai kehilangan, tapi sebagai proses membangun ulang. Pelan-pelan belajar menerima dan menjadi versi terbaikku, identitas baru yang lahir dari pilihan hidup yang pernah kuambil.
Memberi Jeda
#02 Hidup Tenang & Sehat
Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja.
Aku punya keluarga, dua anak. Rutinitas yang jelas dan hari-hari yang terisi. Tidak ada yang benar-benar “salah”. Tapi entah kenapa, rasanya tetap penuh.
Bukan penuh karena aktivitas fisik. Tapi penuh di kepala. Ada banyak hal yang terus berjalan bersamaan, hal-hal kecil yang tidak terlihat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.
Memikirkan anak, masa depan, apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat. Memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang, bahkan saat semuanya sedang tenang, pikiranku tetap sibuk. Seperti tidak pernah benar-benar istirahat.
Aku mulai menyadari, ini bukan tentang seberapa banyak yang aku lakukan dalam sehari. Tapi seberapa banyak yang aku bawa di dalam kepala.
Mental load, orang bilang.
Dan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai seseorang yang pernah sangat ambisius, aku terbiasa untuk terus memikirkan segalanya. Mengatur, mengantisipasi dan menjaga semuanya tetap berjalan.
Tanpa sadar, aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri berhenti. Bukan berhenti secara fisik, tapi berhenti berpikir. Ada rasa bersalah ketika tidak produktif, memilih istirahat, apalagi tidak melakukan apa-apa.
Seolah-olah diam itu berarti mundur. Padahal mungkin, justru itu yang paling aku butuhkan. Aku mulai belajar hal yang terasa sederhana, tapi ternyata sulit:
Memberi jeda.
Tidak langsung merespon semua hal. Tidak harus selalu mencari solusi. Tidak harus selalu “on”. Kadang, cukup duduk, diam, tarik napas. Mengakui bahwa aku lelah dan itu tidak membuatku lemah.
Hidupku mungkin tidak akan menjadi lebih ringan dalam waktu dekat. Masih akan ada tanggung jawab. Masih akan ada hal-hal yang harus dipikirkan. Mungkin aku bisa belajar membuatnya terasa lebih lapang dengan tidak membawa semua beban sendirian di dalam kepala.
Pelan-pelan, aku ingin belajar:
Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Tidak semua kekhawatiran harus diikuti. Dan bahwa pikiranku juga berhak untuk beristirahat.
Mungkin, ini bentuk lain dari hidup sehat yang baru aku pahami sekarang.
Saatnya Belajar Melambat
Aku pindah ke Eropa tahun 2014. Waktu itu, yang ada di pikiranku hanya satu: mengejar ketertinggalan.
Aku datang dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya bisa aku bawa ke sini. Aku harus mulai dari nol, mencari pekerjaan yang bahkan tidak sesuai dengan bidang studiku, belajar hal-hal baru dari dasar, dan perlahan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang terasa asing.
Aku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk membantu ekonomi keluarga. Di sela-sela itu, aku belajar menyetir lagi. Hal kecil, tapi terasa besar ketika semuanya harus dimulai ulang. Hari-hariku penuh, tapi terasa monoton.
Pekerjaan yang aku jalani tidak benar-benar menantang. Tidak ada rasa berkembang. Hanya rutinitas yang berulang, hari demi hari. Aku terus berjalan, karena merasa memang harus begitu.
Aku didiagnosis hipertiroid, dan selama kurang lebih dua setengah tahun, aku belajar menghadapi tubuh yang tidak lagi bisa aku paksa mengikuti ambisi.
Di tengah semua itu, aku mencoba sesuatu yang baru—membuka katering kecil. Mungkin itu caraku untuk tetap merasa hidup, merasa punya kendali atas sesuatu.
Aku juga menyimpan keinginan sederhana: pulang ke Indonesia. Tapi pandemi datang, dan rencana itu tertunda. Baru di tahun 2022, aku akhirnya bisa pulang.
Tidak lama setelah itu, hidupku berubah lagi. Aku hamil. Aku menjadi seorang ibu.
Peran baru itu indah, tapi juga mengubah banyak hal dalam diriku. Aku memutuskan berhenti menjalankan katering. Bukan karena tidak mampu, tapi karena mulai bertanya: apakah semua ini masih sejalan dengan hidup yang aku inginkan?
Sekarang aku adalah ibu dari dua anak. Hidupku penuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental dan emosi.
Di titik ini, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah aku harus berhenti mengejar ambisi? Atau justru belajar berjalan bersama ambisi itu dengan cara yang berbeda?
Aku tidak punya jawaban pasti. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin lagi menjalani hidup dengan cara yang membuatku terus-menerus lelah.
Mungkin sekarang bukan tentang berlari lebih cepat, tapi tentang belajar berjalan dengan lebih sadar. Menjaga diri tetap sehat, tetap utuh, sambil tetap memelihara mimpi tanpa kehilangan diri sendiri di dalamnya.
Leven in het land van de windmolens
Vanaf hier ziet alles er mooi uit. Ruim. Netjes. Indrukwekkend. Alsof alles klopt.
Maar de wind waait hier hard. En die wind is niet alleen maar wind. Het is druk. Snel tempo. Hoge verwachtingen. Altijd door blijven gaan.
Leven hier is als een molen die blijft draaien. Hij draait omdat er druk is.
Zonder energie stopt hij. Zonder mentale kracht houd je het niet vol.
Je moet tegen de kou kunnen. Tegen stilte. Tegen heimwee. Tegen fouten maken. En weer opstaan.
En eerlijk?
Nederland is niet voor iedereen. Niet omdat je zwak bent. Niet omdat je niet slim genoeg bent. Maar omdat niet elke motor gemaakt is om hier te draaien.
Sommige mensen groeien onder druk. Anderen hebben warmte nodig om te bloeien.
En als je halverwege merkt dat dit systeem niet bij je past, dan heb je niet gefaald, dan heb je iets belangrijks geleerd.
Blijven is niet altijd sterk zijn.
Soms is weggaan juist sterker.
Want uiteindelijk gaat het niet alleen om volhouden. Het gaat om weten waar jij echt kunt groeien in plaats van alleen maar overleven.
Filosofi Hidup di Negeri Kincir Angin
Dari atas sini, pemandangannya indah :
luas, tertata, megah. Semuanya terlihat menjanjikan.
Namun angin berhembus kencang. Angin di sini bukan sekadar angin, ia adalah tuntutan, ritme cepat, standar tinggi, disiplin yang tak memberi banyak ruang untuk lengah.
Hidup di sini seperti kincir yang terus berputar. Ia bergerak karena tekanan.
Tanpa tenaga, ia diam. Tanpa mental kuat, ia patah. Kau harus tahan dingin, tahan sepi, tahan rindu, tahan gagal berkali-kali.
Dan kenyataannya…
Belanda bukan untuk semua orang.
Bukan karena kau lemah.
Bukan karena kau tak cukup pintar.
Tapi karena tak semua mesin dirancang untuk berputar dalam sistem seperti ini.
Ada yang kuat di tekanan.
Ada yang kuat di kehangatan.
Jika di tengah jalan kau sadar mesinmu tak cocok memutar roda di sini, itu bukan kekalahan. Itu evaluasi.
Karena bertahan bukan selalu tentang kuat. Kadang tentang tepat.
Dan hidup yang realistis adalah berani mengakui di mana kita bisa tumbuh, dan di mana kita hanya bertahan.