Awal Kesadaran: Mengenal Tubuhku Lewat Hipertiroid

#05 Hidup Tenang & Sehat

Saat aku akhirnya didiagnosis hipertiroid, rasanya seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang selama ini hilang. Semua kelelahan yang dulu tidak bisa aku jelaskan, perlahan mulai terasa masuk akal.

Aku merasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang harus dihadapi dan mulai mengambil langkah untuk sembuh.

Tetap saja di awal aku bingung. Harus mulai dari mana? Apa yang harus diubah? Sejauh mana aku harus menyesuaikan hidupku? Namun, ketidakpastian itu jauh lebih ringan dibanding tidak tahu sama sekali.

Pelan-pelan, aku mulai mencari tahu tentang makanan apa yang sebaiknya aku hindari, apa yang bisa membantu. Mencoba olahraga yang masih bisa dilakukan tanpa membebani tubuh. Mencari-cari cara bagaimana menjalani hari-hari dengan kondisi yang tidak selalu stabil mental dan fisik. Aku mencoba mulai mengenali tubuhku dari awal.

Kebetulan, kakak perempuanku juga mengalami hal yang sama. Dari situ, aku banyak belajar, bukan hanya dari informasi, tapi dari pengalaman nyata seseorang yang lebih dulu melewatinya. Tentu itu sangat membantu, walau perjalanan sembuh ini tetap tidak mudah.

Dua setengah tahun menjalani pengobatan bukan waktu yang sebentar. Kunjungan rutin ke rumah sakit, efek obat yang kuminum di tubuhku. Ada juga rasa kesal karena kondisi badan yang tidak karuan dan tubuhku tidak lagi bisa aku andalkan seperti dulu.

Ada hari-hari di mana aku merasa lebih baik. Ada juga hari-hari di mana tubuhku terasa kembali melemah, seolah semua usaha belum cukup.

Dan di tengah semua itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar aku pahami bahwa proses ini bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh. Tapi juga tentang belajar hidup dengan cara yang berbeda.

Belajar mendengarkan, bukan memaksa. Belajar menyesuaikan, bukan mengejar. Di fase ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mulai memperhatikan apa yang tubuhku butuhkan bukan hanya apa yang aku inginkan.

Memberi Jeda

#02 Hidup Tenang & Sehat

Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja.
Aku punya keluarga, dua anak. Rutinitas yang jelas dan hari-hari yang terisi. Tidak ada yang benar-benar “salah”. Tapi entah kenapa, rasanya tetap penuh.

Bukan penuh karena aktivitas fisik. Tapi penuh di kepala. Ada banyak hal yang terus berjalan bersamaan, hal-hal kecil yang tidak terlihat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Memikirkan anak, masa depan, apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat. Memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang, bahkan saat semuanya sedang tenang, pikiranku tetap sibuk. Seperti tidak pernah benar-benar istirahat.

Aku mulai menyadari, ini bukan tentang seberapa banyak yang aku lakukan dalam sehari. Tapi seberapa banyak yang aku bawa di dalam kepala.

Mental load, orang bilang.

Dan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai seseorang yang pernah sangat ambisius, aku terbiasa untuk terus memikirkan segalanya. Mengatur, mengantisipasi dan menjaga semuanya tetap berjalan.

Tanpa sadar, aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri berhenti. Bukan berhenti secara fisik, tapi berhenti berpikir. Ada rasa bersalah ketika tidak produktif, memilih istirahat, apalagi tidak melakukan apa-apa.

Seolah-olah diam itu berarti mundur. Padahal mungkin, justru itu yang paling aku butuhkan. Aku mulai belajar hal yang terasa sederhana, tapi ternyata sulit:

Memberi jeda.

Tidak langsung merespon semua hal. Tidak harus selalu mencari solusi. Tidak harus selalu “on”. Kadang, cukup duduk, diam, tarik napas. Mengakui bahwa aku lelah dan itu tidak membuatku lemah.

Hidupku mungkin tidak akan menjadi lebih ringan dalam waktu dekat. Masih akan ada tanggung jawab. Masih akan ada hal-hal yang harus dipikirkan. Mungkin aku bisa belajar membuatnya terasa lebih lapang dengan tidak membawa semua beban sendirian di dalam kepala.

Pelan-pelan, aku ingin belajar:

Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Tidak semua kekhawatiran harus diikuti. Dan bahwa pikiranku juga berhak untuk beristirahat.

Mungkin, ini bentuk lain dari hidup sehat yang baru aku pahami sekarang.

Altijd samen in geluk in verdriet

Wat is jouw definitie van romantiek?

Voor mij betekent romantiek niet alleen bloemen, kaarslicht of lieve woorden. Romantiek zit voor mij in iets veel diepers: in er zijn voor elkaar, elke dag opnieuw. In goede tijden, als alles mee zit en we samen kunnen lachen, maar vooral in de moeilijke momenten, wanneer het leven ons uitdaagt.

Romantiek betekent voor mij dat ik aan jouw zijde sta, wat er ook gebeurt. Dat ik jouw hand vasthoud als je het moeilijk hebt, en jouw geluk vier als je straalt. Het is samen sterk zijn als de wereld zwaar voelt, en samen genieten als het leven licht en mooi is.

Het gaat om kleine gebaren van liefde die laten zien: “je bent niet alleen.” Om luisteren zonder te oordelen, om steunen zonder iets terug te verwachten. Want echte romantiek is niet tijdelijk of oppervlakkig. Het is kiezen voor elkaar, elke dag weer, met heel je hart.