Memberi Jeda

#02 Hidup Tenang & Sehat

Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja.
Aku punya keluarga, dua anak. Rutinitas yang jelas dan hari-hari yang terisi. Tidak ada yang benar-benar “salah”. Tapi entah kenapa, rasanya tetap penuh.

Bukan penuh karena aktivitas fisik. Tapi penuh di kepala. Ada banyak hal yang terus berjalan bersamaan, hal-hal kecil yang tidak terlihat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Memikirkan anak, masa depan, apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat. Memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang, bahkan saat semuanya sedang tenang, pikiranku tetap sibuk. Seperti tidak pernah benar-benar istirahat.

Aku mulai menyadari, ini bukan tentang seberapa banyak yang aku lakukan dalam sehari. Tapi seberapa banyak yang aku bawa di dalam kepala.

Mental load, orang bilang.

Dan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai seseorang yang pernah sangat ambisius, aku terbiasa untuk terus memikirkan segalanya. Mengatur, mengantisipasi dan menjaga semuanya tetap berjalan.

Tanpa sadar, aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri berhenti. Bukan berhenti secara fisik, tapi berhenti berpikir. Ada rasa bersalah ketika tidak produktif, memilih istirahat, apalagi tidak melakukan apa-apa.

Seolah-olah diam itu berarti mundur. Padahal mungkin, justru itu yang paling aku butuhkan. Aku mulai belajar hal yang terasa sederhana, tapi ternyata sulit:

Memberi jeda.

Tidak langsung merespon semua hal. Tidak harus selalu mencari solusi. Tidak harus selalu “on”. Kadang, cukup duduk, diam, tarik napas. Mengakui bahwa aku lelah dan itu tidak membuatku lemah.

Hidupku mungkin tidak akan menjadi lebih ringan dalam waktu dekat. Masih akan ada tanggung jawab. Masih akan ada hal-hal yang harus dipikirkan. Mungkin aku bisa belajar membuatnya terasa lebih lapang dengan tidak membawa semua beban sendirian di dalam kepala.

Pelan-pelan, aku ingin belajar:

Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Tidak semua kekhawatiran harus diikuti. Dan bahwa pikiranku juga berhak untuk beristirahat.

Mungkin, ini bentuk lain dari hidup sehat yang baru aku pahami sekarang.

Sulit menjadi otentik! – sociale less media 2025

Resolusi 2025 ku sederhana, mengobati candu sosmed dan mengganti the wasted hours dengan slow living ala ala.

Now, waktunya merenung tentang otentik.

Menjadi seseorang yang otentik artinya kita secara pribadi mengenal diri kita sendiri, sadar akan nilai-nilai hidup yang kita anggap penting dan tetap mempertahankannya dalam menyikapi kehidupan yang sedang dihadapi.

Tidak ada tekanan atau pilihan yang lebih penting yang bisa mengubah nilai kita, tetap jadi otentik. Akan sangat sulit untuk mempertahankan nilai saat keadaan menekan. Namun aku percaya orang yang otentik tidak mengubah nilai karena sebab luar atau demi kehendak orang lain, tapi kehidupan yang mengubah nilai itu sendiri (pilihan pribadi).

Tantangan lainnya adalah sering manusia membutuhkan rasa untuk merasa diterima, bertahan hidup, takut kehilangan, ingin menang yang terkadang terasa lebih kuat. Akhirnya kita rela menekan/menahan diri (pikiran, perasaan, pendapat, keinginan, nilai dll) hanya demi rasa butuh ini. Sayangnya, justru merusak/bias hubungan dengan orang lain. Orang lain tidak benar-benar mengenal kita sesungguhnya, tapi karakter yang sedang dimainkan (topeng) demi sebuah kebutuhan.

Pertanyaannya, berapa lama seseorang mampu menahan diri, mengalah, bungkam, berpura-pura? Melelahkan!

Pada akhirnya hanya akan membuang waktu sendiri dan orang lain yang akan sadar siapa kita sebenarnya, cepat atau lambat. Belum lagi, kerusakan hubungan yang nampak dan tidak, yang disadari atau tidak. Jadi, bagaimana agar kita bisa benar-benar otentik, jadi diri sendiri?

Bagi sebagian orang, ini bukan masalah mudah. Apalagi pencitraan semakin menjadi-jadi di dunia virtual yang penuh dengan kemungkinan. Hidup otentik akhirnya akan membebaskan, membangun pondasi hubungan yang sehat dan kuat, menginspirasi dan juga memberikan rasa yakin, setia dan aman di dunia penuh tipu-tipu.

Apakah kita sudah menjadi manusia otentik?