Untuk Diriku di Usia 25 Tahun:
“Sepi itu fokus, ramai itu dukungan.”
Di umur ini, mungkin hidup belum sepenuhnya jelas. Masih banyak bingungnya,
masih sering membandingkan diri dengan orang lain, dan masih merasa tertinggal
ketika melihat teman-teman sudah lebih dulu berhasil. Tapi percayalah, setiap
orang punya waktunya masing-masing.
Jalani dan kejarlah semua yang kamu inginkan dalam hidup. Di usia 25, kamu
masih punya banyak waktu untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit lagi.
Jangan takut memulai hanya karena merasa belum cukup hebat atau keadaan ekonomi
belum mendukung.
Percaya diri itu penting. Jangan biarkan gengsi, minder, atau rasa rendah diri
membuatmu berhenti melangkah. Penilaian orang lain tidak menentukan nilai dirimu.
Selalu yakinkan dirimu bahwa kamu mampu dan bisa berkembang menjadi versi terbaik
dari dirimu sendiri.
Nikmati masa mudamu sekarang, karena umur 25 tidak akan datang dua kali.
Bekerjalah keras, tapi jangan lupa menikmati hidup. Nongkronglah sesekali,
tertawa dengan teman, pergi ke tempat yang kamu suka, dan nikmati prosesnya.
Hidup bukan hanya soal tujuan, tapi juga tentang bagaimana kamu menjalani setiap harinya.
Tidak perlu terlalu menyesali masa lalu, dan tidak perlu terlalu khawatir tentang masa depan.
Di usia 25, wajar kalau semuanya belum sempurna. Tuhan sudah menyiapkan jalan terbaik selama
kamu terus berusaha, bekerja keras, dan menjaga niat baik.
Tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia. Cepat atau lambat, kamu akan memanen hasil
dari semua usaha itu, sekecil apa pun langkah yang kamu ambil hari ini.
Apa pun situasinya, tetap jalani hidupmu dengan penuh syukur dan nikmati setiap prosesnya.
De Batik van Oma
Ik was een paar dagen in Jogja om mijn moeder blij te maken, maar ik werd ziek en was erg moe. Het hotel had ook problemen. Mijn moeder zorgde goed voor me, gaf me massage met olie, bad voor me en dekte me toe met een batik van mijn oma uit Sragen. Ze zei dat ik die batik ook moet gebruiken als ze er niet is, zodat ik snel beter word en hopelijk snel zwanger raak. Ik vond het lief en grappig tegelijk.
Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:
12 augustus 2022
De batik van oma.
De afgelopen dagen in Jogja wilde ik eigenlijk mijn moeder blij maken.
Ik was helemaal uitgeput en ook ziek geweest, en er was ook nog iets mis met het hotel.
Weer zo’n moment waarop ik leer van moeders: hun liefde lijkt soms overdreven, niet logisch en best grappig,
maar het is een onvoorwaardelijke liefde voor hun kinderen.
Ook al uiten ze het bij elk kind op een andere manier.
Een batik die van mijn oma uit Sragen is geweest, voor mijn moeder.
Toen ik ziek was, werd ik gemasseerd met kutus-kutus olie, er werd voor me gebeden,
en ik werd toegedekt met deze batik.
Dit was mijn reactie toen: met mijn ogen rollen terwijl ik mijn best deed niet te lachen.
Terwijl ze me toedekte zei mijn moeder:
“Als je straks ziek bent en mama er niet is (in Nederland), gebruik dan deze batik van oma om je toe te dekken,
dan word je snel beter en hopelijk raak je snel zwanger, oké?”
Ik zei: “ja mam,” terwijl ik een beetje moest glimlachen.
Ketika Tubuh Mulai Protes
#04 Hidup Tenang & Sehat
Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.
Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.
Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.
Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.
Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019 itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.
Realita Hamil Besar dengan Batita
“Tangis, Pelukan, dan Hari yang Panjang”
Mama, yang sedang hamil 34 minggu, merasa lelah hingga hampir tak sanggup lagi. Anak balitanya yang berusia 2,5 tahun baru saja sembuh dari demam selama enam hari, tapi pagi ini si kecil bersikeras ingin pergi ke daycare. Mama meminta dia tetap di rumah, tapi anak itu menolak dan tetap ingin pergi. Rasa bersalah menyeruak dalam dada mama, karena kehamilannya yang besar membuatnya sering mengatakan, “Mama capek.”
Setelah kata-kata itu keluar, ada sesuatu yang hilang. Sebuah rasa ragu menyelinap di hati mama: apakah si batita bisa merasakan kelelahan mama? Apakah ia merasa sedih, tersisih, atau berpikir mama tidak mau lagi dekat dengannya? Mama takut kata sederhana yang terlontar tanpa sengaja meninggalkan jarak di antara mereka, padahal ia ingin selalu hadir dan dekat dengan anaknya.
Selama beberapa minggu terakhir, anak itu selalu menempel. Dia memeluk mama, menciumnya, membelainya, seolah takut mama tidak akan mau lagi dekat dengannya. Kemanapun mama pergi, bahkan ke toilet, dia selalu mengikutinya. Setiap pelukan dan ciuman terasa manis, sekaligus menambah beban di pundak mama, karena energi mama mulai menipis.
Di sisi lain, papa sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi tetap hadir dan bekerja bersama mama untuk mengurus rumah. Setelah kejadian tahun baru, tukang ledeng yang dipercayakan ternyata menipu, membuat rumah banjir dan lantai rusak. Mama dan papa harus sama-sama mengurus perbaikan lantai di minggu-minggu yang mepet dengan jadwal kelahiran, ditambah urusan asuransi, biaya, dan dana. Semua itu menumpuk di pikiran mama, membuat lelah dan frustrasi terasa semakin berat.
Hari ini, mama akhirnya menangis. Tangisnya campuran dari lelah, hormon, rasa bersalah, keraguan, dan tekanan pikiran yang menumpuk. Hamil besar sambil mengurus anak batita yang selalu menempel, menghadapi papa yang sibuk tapi tetap membantu, serta menyelesaikan urusan rumah tangga yang menuntut perhatian, terasa seperti perjuangan yang tiada habis.
Namun di balik air mata itu, ada sedikit lega. Mama membiarkan dirinya merasakan semuanya: lelah, bersalah, keraguan, kewalahan, frustrasi, dan khawatir. Ia menerima bahwa dirinya manusia, butuh istirahat, dan bahwa mencintai anaknya atau bekerja sama dengan papa tidak harus selalu memberi 100% energi. Cukup hadir, cukup jujur, cukup mencintai dengan apa yang tersisa di dalam dirinya. Dan di situlah cinta yang tulus tetap hidup, meski lelah dan kekhawatiran mencoba merenggutnya.
De Realiteit van Zwanger Zijn met een Peuter
“Tranen, Knuffels en Lange Dagen”
Mama, die 34 weken zwanger is, voelt zich zo moe dat ze bijna niet meer kan. Haar peuter van 2,5 jaar is net zes dagen ziek geweest, maar vanmorgen wilde hij per se naar de kinderopvang. Mama vroeg of hij thuis wilde blijven, maar hij schudde zijn hoofd en bleef aandringen om te gaan. Schuldgevoel overspoelde mama, omdat ze door haar grote buik vaak zei: “Mama is moe.”
Toen die woorden eenmaal uitgesproken waren, voelde mama dat er iets miste. Er kroop een onzeker gevoel haar hart binnen: voelt haar peuter dat mama moe is? Voelt hij zich verdrietig of buitengesloten, of denkt hij dat mama niet meer dichtbij wil zijn? Mama is bang dat een simpel woord dat ze zonder nadenken zei, afstand kan creëren tussen hen, terwijl ze juist altijd dichtbij wil zijn.
De afgelopen weken is haar peuter altijd aan haar blijven plakken. Hij knuffelt mama, kust haar, aait haar, alsof hij bang is dat mama niet meer dichtbij wil zijn. Waar mama ook heen gaat, zelfs naar de wc, hij volgt haar overal. Elke knuffel en kus voelt lief, maar tegelijkertijd drukt het zwaar op mama’s schouders, omdat haar energie steeds minder wordt.
Aan de andere kant is papa erg druk met zijn werk, maar hij helpt mama wel bij het huishouden. Na het incident tijdens nieuwjaar, waarbij de loodgieter hen had opgelicht en het huis onder water zette waardoor de vloer kapot ging, moeten mama en papa samen de reparatie regelen in de weken vlak voor de uitgerekende datum. Daarbij komen ook verzekeringen, geldzaken en kosten. Alles samen stapelt zich op in mama’s hoofd, waardoor haar moeheid en frustratie alleen maar zwaarder voelen.
Vandaag moest mama eindelijk huilen. Haar tranen waren een mix van moeheid, hormonen, schuldgevoel, twijfel en de druk van alles wat er op haar afkomt. Zwanger zijn met een peuter die altijd plakt, terwijl papa druk is maar wel helpt, en tegelijkertijd het huishouden regelen, voelt als een oneindige strijd.
Toch is er achter de tranen een beetje opluchting. Mama laat zichzelf alles voelen: moeheid, schuld, twijfel, overweldiging, frustratie en zorgen. Ze accepteert dat ze een mens is, dat ze rust nodig heeft, en dat liefhebben van haar kind of samenwerken met papa niet betekent dat ze altijd 100% energie moet geven. Gewoon aanwezig zijn, eerlijk zijn, genoeg liefde geven met wat er nog over is. En juist daar blijft de oprechte liefde bestaan, ook al proberen moeheid en zorgen haar weg te drukken.
Mommy said..
Wat wilde je later worden toen je nog vijf was?
Kata mama jadi dokter. Lulus tes sih, tapi rencana Tuhan lebih indah.
Sugeng tindak, tanteku sayang
“Tante, makasih udah bikin kami merasakan kasih sayang tulus, dari kecil sampai udah nikah selalu diperhatikan. Tiba tiba ga ada tanda-tanda. Rasanya ngga sanggup ditinggal tante, tapi harus rela, karna tempatnya malaikat cantik di surganya Tuhan. Tante mama yang luar biasa buat enna, lingsir dan kami pun ikut rasain. Tante pergi tapi kasih yang tante kasih bakal tinggal selamanya.
Bakal kangen tawa ceria tante, yang selalu paham kalo diajak curhat, pillow talk sama tante, kumpul kumpul. Cerita-cerita penuh cinta tante betapa bangganya dengan anak-anak tante. You are loved tanteku sayang. Rest in peace te.”
Mengenang tanteku yang inspirasional