#04 Hidup Tenang & Sehat
Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.
Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.
Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.
Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.
Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.
Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019 itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.
Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.