Menjalani Hipertiroid

#06 Hidup Tenang & Sehat

Mendengarkan tubuh ternyata bukan sesuatu yang spontan kulakukan.

Mungkin juga bagi banyak orang.

Kita sering baru benar-benar memperhatikan, ketika tubuh sudah sampai di titik jenuh, seperti bom waktu yang akhirnya meledak lewat penyakit, seolah berkata:

“aku juga perlu didengar.”

Bagiku, pengalaman ini terasa sangat nyata.

Hipertiroid bukan hal yang asing. Aku sudah lebih dulu mengenalnya lewat kakakku yang juga pernah mengalaminya.

Tapi mengenal dari jauh dan mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.

Ketika akhirnya itu terjadi padaku, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan: tubuh ini tidak hanya lelah, tapi benar-benar kehabisan energi.

Hampir setiap hari aku merasa lelah bahkan di hari yang tidak terasa berat sekalipun.

Obat yang harus aku minum membantu, tapi juga membawa perubahan lain. Berat badan naik, tubuh berubah, dan sebagai perempuan, itu menjadi lapisan beban tambahan yang tidak sederhana.

Aku yang dulu takut gemuk, yang pernah mencoba berbagai cara diet yang tidak selalu sehat, tiba-tiba harus berdamai dengan tubuh yang tidak lagi bisa aku kontrol seperti dulu.

Dan di saat yang sama, emosiku ikut berubah.

Ada hari-hari ketika aku sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.

Ada hari-hari ketika aku merasa kosong, seperti menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

Yang paling sulit bukan hanya rasa lelah itu sendiri, tapi ketidakstabilan yang datang bersamanya, fisik dan mental seperti tidak lagi berjalan selaras.

Sebagai penyakit autoimun Graves, hipertiroid tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga emosi dan cara berpikir.

Dan itu yang perlahan mulai aku sadari.

Bukan dari penjelasan medis.

Tapi dari pengalaman sehari-hari yang tidak bisa aku abaikan.

Dari situ aku mulai berubah cara pandang.

Lebih berhati-hati.

Lebih pelan.

Lebih sadar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi juga tentang bagaimana aku menjaga pikiranku dan emosiku.

Karena aku tidak ingin penyakit ini hanya mengubah tubuhku, tapi juga cara aku hidup dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarku.

Dan mungkin di titik itu, aku mulai belajar hal yang paling sederhana tapi paling sulit:

bahwa tubuh tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu.

Bahwa sehat bukan berarti selalu kuat.

Dan bahwa mendengarkan tubuh bukan kelemahan tapi bentuk paling dasar dari bertahan hidup.

Plaats een reactie