Hati Gembira Caraku Bertahan

#07 Hidup Tenang & Sehat

Selama dua setengah tahun menjalani pengobatan hipertiroid, aku mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Tidak ada pantangan khusus dari dokter secara medis, pengobatan dan kontrol rutin sudah cukup. Itu hanya karena aku merasa perlu melakukan bagianku sendiri.

Untuk urusan medis, aku percaya pada dokter. Bagiku yang lebih menantang justru hal lain yaitu dampak mentalnya.

Aku menjadi lebih sensitif. Lebih mudah sedih tanpa alasan yang jelas. Lebih mudah marah, terutama ketika tubuh terasa tidak nyaman.

Itu tidak selalu mudah dipahami bahkan oleh diriku sendiri. Dari luar, aku terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda yang jelas bahwa tubuhku sedang berjuang.

Dan di situlah sering terjadi kesalahpahaman.

Di titik itu, aku sadar: aku tidak ingin hidupku hanya berputar di sekitar penyakit ini. Aku tidak ingin sepenuhnya dikendalikan oleh apa yang sedang terjadi di tubuhku.

Pelan-pelan, aku mulai mencari cara untuk tetap bertahan.

Tahun 2020, aku memutuskan untuk membuka catering. Aku butuh sesuatu yang membuatku tetap merasa hidup. Kegiatan yang bisa mengisi hariku dengan makna.

Kalau dipikir secara logika, itu pilihan yang melelahkan. Aku tetap bekerja di hari biasa, dan di akhir pekan menerima pesanan. Tapi justru di situ aku menemukan sesuatu yang tidak aku duga.

Aku merasa lebih hidup.

Lebih berarti.

Tanpa sadar, aku jadi tidak terlalu fokus pada penyakitku.

Pikiranku terisi dengan hal lain ; menu yang harus disiapkan, pesanan yang harus diselesaikan, ide-ide baru yang ingin aku coba.

Hal-hal sederhana, tapi cukup untuk mengalihkan pikiranku dari rasa yang terlalu penuh.

Aku juga mulai menemukan cara lain untuk menjaga diri. Saat merasa sedih tanpa alasan, aku membiarkan diriku berhenti sejenak menonton sesuatu yang membuatku bisa menangis, tanpa perlu menjelaskan kenapa.

Cara sederhana, tapi cukup melegakan. Mungkin ini bukan cara yang sempurna, tapi ini adalah caraku. Cara untuk tetap berjalan, meskipun tidak selalu kuat.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang aku rasakan:

aku bisa tidur lebih pulas.

Seolah tubuh dan pikiranku perlahan menemukan ritmenya kembali.

Dari semua proses itu, aku mulai memahami bahwa melakukan hal-hal yang membuat kita merasa produktif, belajar sesuatu yang baru, dan memberi kebahagiaan bagi orang lain bisa memberi warna pada hidup. Bisa mengisi kembali bagian diri yang sempat kosong.

Bukan berarti semuanya jadi mudah.

Bukan berarti aku selalu merasa baik-baik saja. Cukup untuk membuatku tetap ingin menjalani hari.

Aku mulai menyadari bahwa hati yang gembira bukan berarti hidup tanpa beban. Justru hati yang tetap hidup, meskipun sedang berjuang. Mungkin, itu adalah caraku bertahan.

Menjalani Hipertiroid

#06 Hidup Tenang & Sehat

Mendengarkan tubuh ternyata bukan sesuatu yang spontan kulakukan.

Mungkin juga bagi banyak orang.

Kita sering baru benar-benar memperhatikan, ketika tubuh sudah sampai di titik jenuh, seperti bom waktu yang akhirnya meledak lewat penyakit, seolah berkata:

“aku juga perlu didengar.”

Bagiku, pengalaman ini terasa sangat nyata.

Hipertiroid bukan hal yang asing. Aku sudah lebih dulu mengenalnya lewat kakakku yang juga pernah mengalaminya.

Tapi mengenal dari jauh dan mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.

Ketika akhirnya itu terjadi padaku, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan: tubuh ini tidak hanya lelah, tapi benar-benar kehabisan energi.

Hampir setiap hari aku merasa lelah bahkan di hari yang tidak terasa berat sekalipun.

Obat yang harus aku minum membantu, tapi juga membawa perubahan lain. Berat badan naik, tubuh berubah, dan sebagai perempuan, itu menjadi lapisan beban tambahan yang tidak sederhana.

Aku yang dulu takut gemuk, yang pernah mencoba berbagai cara diet yang tidak selalu sehat, tiba-tiba harus berdamai dengan tubuh yang tidak lagi bisa aku kontrol seperti dulu.

Dan di saat yang sama, emosiku ikut berubah.

Ada hari-hari ketika aku sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.

Ada hari-hari ketika aku merasa kosong, seperti menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

Yang paling sulit bukan hanya rasa lelah itu sendiri, tapi ketidakstabilan yang datang bersamanya, fisik dan mental seperti tidak lagi berjalan selaras.

Sebagai penyakit autoimun Graves, hipertiroid tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga emosi dan cara berpikir.

Dan itu yang perlahan mulai aku sadari.

Bukan dari penjelasan medis.

Tapi dari pengalaman sehari-hari yang tidak bisa aku abaikan.

Dari situ aku mulai berubah cara pandang.

Lebih berhati-hati.

Lebih pelan.

Lebih sadar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi juga tentang bagaimana aku menjaga pikiranku dan emosiku.

Karena aku tidak ingin penyakit ini hanya mengubah tubuhku, tapi juga cara aku hidup dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarku.

Dan mungkin di titik itu, aku mulai belajar hal yang paling sederhana tapi paling sulit:

bahwa tubuh tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu.

Bahwa sehat bukan berarti selalu kuat.

Dan bahwa mendengarkan tubuh bukan kelemahan tapi bentuk paling dasar dari bertahan hidup.