Saatnya Belajar Melambat

#01 Hidup Tenang & Sehat

Aku pindah ke Eropa tahun 2014. Waktu itu, yang ada di pikiranku hanya satu: mengejar ketertinggalan.

Aku datang dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya bisa aku bawa ke sini. Aku harus mulai dari nol, mencari pekerjaan yang bahkan tidak sesuai dengan bidang studiku, belajar hal-hal baru dari dasar, dan perlahan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang terasa asing.

Aku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk membantu ekonomi keluarga. Di sela-sela itu, aku belajar menyetir lagi. Hal kecil, tapi terasa besar ketika semuanya harus dimulai ulang. Hari-hariku penuh, tapi terasa monoton.

Pekerjaan yang aku jalani tidak benar-benar menantang. Tidak ada rasa berkembang. Hanya rutinitas yang berulang, hari demi hari. Aku terus berjalan, karena merasa memang harus begitu.

Aku didiagnosis hipertiroid, dan selama kurang lebih dua setengah tahun, aku belajar menghadapi tubuh yang tidak lagi bisa aku paksa mengikuti ambisi.

Di tengah semua itu, aku mencoba sesuatu yang baru—membuka katering kecil. Mungkin itu caraku untuk tetap merasa hidup, merasa punya kendali atas sesuatu.

Aku juga menyimpan keinginan sederhana: pulang ke Indonesia. Tapi pandemi datang, dan rencana itu tertunda. Baru di tahun 2022, aku akhirnya bisa pulang.

Tidak lama setelah itu, hidupku berubah lagi. Aku hamil. Aku menjadi seorang ibu.

Peran baru itu indah, tapi juga mengubah banyak hal dalam diriku. Aku memutuskan berhenti menjalankan katering. Bukan karena tidak mampu, tapi karena mulai bertanya: apakah semua ini masih sejalan dengan hidup yang aku inginkan?

Sekarang aku adalah ibu dari dua anak. Hidupku penuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental dan emosi.

Di titik ini, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah aku harus berhenti mengejar ambisi? Atau justru belajar berjalan bersama ambisi itu dengan cara yang berbeda?

Aku tidak punya jawaban pasti. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin lagi menjalani hidup dengan cara yang membuatku terus-menerus lelah.

Mungkin sekarang bukan tentang berlari lebih cepat, tapi tentang belajar berjalan dengan lebih sadar. Menjaga diri tetap sehat, tetap utuh, sambil tetap memelihara mimpi tanpa kehilangan diri sendiri di dalamnya.

Plaats een reactie