Sebulan Tanpa Lotion: I’m fine!

Eksperimen sebulan hidup minimalis tanpa lotion dan skincare berlapis. Sebuah refleksi tentang pergeseran makna dari sekadar beauty routine menjadi self-care yang sejati.

Sudah sekitar satu bulan aku mencoba hidup dengan lebih sedikit produk kecantikan. Awalnya cuma ingin bereksperimen. Setelah beberapa bulan hampir tidak punya waktu untuk merawat diri seperti dulu, aku penasaran: sebenarnya apa yang benar-benar kubutuhkan?

Aku memulainya dari langkah yang paling sederhana. Aku berhenti memakai lotion setiap hari. Penggunaan makeup juga kuminimalisir. Untuk wajah, pagi dan malam aku lebih sering hanya membilasnya dengan air. Kalaupun sedang memakai makeup, aku akan membersihkannya dengan lembut tanpa rutinitas panjang berlapis-lapis seperti dulu.

Dan ternyata… aku baik-baik saja.

Kulitku tidak tiba-tiba rusak. Aku juga tidak merasa menjadi kurang cantik hanya karena tidak memakai banyak produk. Malah ada sesuatu yang jauh lebih terasa di dalam sini: aku merasa lebih ringan.

Dulu, merawat diri kadang terasa seperti daftar pekerjaan (to-do list) yang melelahkan dan harus dicentang. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan hanya kalau memang aku sedang membutuhkannya.

Kalau kulit terasa kering, ya pakai pelembap. Kalau sedang ingin memakai makeup, ya berdandan. Namun, kalau mau keluar rumah hanya dengan wajah polos dan rambut diikat, ya sudah. Aku tidak lagi merasa harus selalu “siap tampil” di depan semua orang.

Lucunya, setelah sebulan menjalani ini, aku malah merasa rutinitasku yang sekarang pun masih terlalu ribet. Aku mulai berpikir, mungkin aku bisa menyederhanakannya lagi.

Menggeser Konsep: Dari Beauty Routine Menjadi Self-Care

Perjalanan satu bulan ini membuatku melihat perbedaan besar antara merawat penampilan dan merawat diri. Dulu, aku menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengurus penampilan luar. Sekarang, fokusku bergeser total. Aku ingin memberikan perhatian lebih pada esensi merawat diri yang sesungguhnya.

Apalagi sebentar lagi kami akan kembali ke Yogya. Aku mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana dan memiliki lebih banyak waktu luang bersama anak-anak.

Di sana nanti, aku tidak harus setiap hari bertemu banyak orang seperti saat masih aktif bekerja. Tidak harus selalu berdandan sebelum melangkah keluar rumah. Aku tidak perlu lagi merasa tertekan untuk terlihat sempurna setiap kali berada di ruang publik. Rasanya sangat membebaskan saat menyadari bahwa keluar dengan wajah polos tanpa riasan itu sepenuhnya sah-sah saja.

Justru uang dan waktu yang dulu habis untuk berbagai produk kecantikan, kini ingin kualihkan ke hal-hal lain. Sesuatu yang menurutku benar-benar membuatku merasa “dirawat” lahir dan batin:

  • Menikmati pijat refleksi sebulan sekali.
  • Pergi ke salon untuk merapikan rambut dengan tenang.
  • Menyempatkan diri untuk healing sesekali.
  • Memiliki me time berkualitas untuk berjalan-jalan sendiri.
  • Makan dengan tenang atau cuma duduk minum kopi tanpa harus terburu-buru.

Memilih Merasa Lebih Baik

Pada akhirnya, aku sadar bahwa yang kucari selama ini bukan sekadar ingin terlihat lebih cantik di mata orang lain. Aku hanya ingin merasa lebih baik dengan diriku sendiri.

Dan mungkin, itulah yang sekarang ingin kusebut sebagai self-care yang nyata. Bukan tentang seberapa banyak produk yang kita miliki atau seberapa rumit rutinitas yang kita jalani. Melainkan tentang seberapa tahu kita pada apa yang benar-benar membuat kita merasa bahagia dan tenang.

Sebulan ini aku belajar satu hal penting: ternyata aku tidak membutuhkan produk sebanyak yang selama ini kupikirkan.

Semakin sedikit hal yang perlu kupikirkan tentang penampilan fisik, semakin banyak ruang yang tersisa di kepala dan hatiku untuk hal-hal lain yang jauh lebih berharga. Anak-anak, keluarga, kesehatan, waktu, dan sebuah kehidupan yang ingin kujalani dengan lebih banyak napas panjang.

Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.

Waktu adalah Kunci

Ternyata, waktu adalah kunci.

Pagi ini saat sedang memandang cermin, ingatanku kembali mundur ke beberapa tahun lalu. Di usia 24 tahun, keputusan untuk menikah diambil. Sebuah langkah besar yang membawa kebahagiaan, sekaligus mengubur dalam-dalam ambisi akademis. Selama bertahun-tahun, narasi sebagai “korban keadaan” diam-diam kurawat di dalam kepala. Rasa kehilangan masa muda dan mimpi kuliah lagi demi komitmen domestik terasa begitu heroik, sekaligus menyedihkan.

Namun akhir-akhir ini, kesadaran baru mulai menggoyang egoku.

Saat mencoba duduk tenang, menarik diri dari bias emosional, dan menganalisis rutinitas harian dengan kepala dingin, ada hal mengejutkan yang ditemukan. Ternyata tidak ada yang benar-benar hilang. Ada celah yang selama ini luput dari pandangan: waktu.

Sebagai generasi milenial, kepanikan oleh angka usia sering kali datang terlalu cepat. Aku sempat merasa bahwa jika sesuatu tidak selesai di usia dua puluhan, maka pintu kesempatan otomatis tertutup. Hidup diukur secara kaku, seolah harus berjalan linear sesuai lini masa orang lain. Padahal, apa yang selama ini kusebut sebagai pengorbanan hanyalah sebuah penundaan—pergeseran prioritas yang wajar.

Hidup ternyata bukan tentang kehilangan, melainkan manajemen antrean. Di usia 24 dulu, giliran terdepan memang harus diberikan pada adaptasi pernikahan dan stabilitas keluarga. Ambisi kuliahku tidak dihancurkan, melainkan hanya diminta duduk manis di ruang tunggu. Sayangnya, ruang tunggu itu sering kusalahartikan sebagai pemakaman, lalu diratapi seolah mimpi telah mati.

Sekarang, ketika badai adaptasi lewat dan ritme hidup mulai stabil, celah-celah waktu itu muncul kembali. Ruang kosong yang dulunya habis untuk kecemasan kini siap diklaim. Sifat waktu ternyata sangat restoratif, memberikan kesempatan kedua untuk menata ulang apa yang sempat tertunda.

Mengejar pendidikan lagi di usia sekarang bukan lagi tentang gaya-gayaan atau sekadar berburu gelar. Ini adalah caraku untuk berdamai dengan masa lalu dan membuktikan bahwa diri ini bukan korban dari keputusan sendiri. Menikah muda adalah pilihan yang kuambil dulu, dan kembali kuliah sekarang adalah kendali yang kupegang hari ini.

Dunia saat ini sudah jauh berbeda, menyediakan banyak fleksibilitas yang dulu tidak ada. Tidak ada alasan lagi untuk memelihara mentalitas korban. Pilihan-pilihan yang dikira sudah terkubur ternyata hanya sedang menunggu giliran untuk dibangunkan. Kunci jawabannya sudah ada di tangan, tinggal bagaimana aku menggunakan celah ini untuk merestorasi mimpi yang sempat tertunda. Semoga.

Serba Dipikir, Which is Nice

Semua serba dipikir. Overthinking, kata orang jaman sekarang.

Istilah ini belakangan sering banget kedengaran dan hampir selalu punya konotasi yang negatif. Begitu kita mulai mikirin sesuatu agak lama atau agak dalam, label overthinker langsung nempel. Kita dianggap ribet, cemas, atau buang-buang waktu.

Tapi sadar enggak, sih? Sebenarnya di balik setiap kelemahan kita, selalu ada kekuatan yang tersembunyi. Termasuk si overthinking ini.

Kalau kita coba geser sudut pandangnya sedikit saja, kebiasaan berpikir dalam ini ternyata punya sisi yang indah. Semakin dalam kita berpikir, kita sebenarnya jadi lebih bisa hidup slow, lho. Kok bisa?

Ketika dunia luar bergerak serba cepat, menuntut kita buat instan dalam segala hal, pikiran kita justru mengajak kita untuk melambat. Kita enggak langsung menelan mentah-mentah apa yang ada di depan mata. Kita menimbang, merasakan, dan menganalisis. Proses berpikir yang panjang ini secara enggak langsung melatih kita untuk lebih sadar mindful dengan apa yang sedang kita jalani.

Hasilnya? Kita jadi jarang mengambil keputusan secara impulsif. Langkah hidup kita jadi lebih teratur, penuh kesadaran, dan bermakna. Kita enggak cuma sekadar “berjalan”, tapi benar-benar menikmati setiap prosesnya.

Jadi, buat kita yang sering dibilang terlalu banyak mikir: it’s okay. Selama pikiran itu enggak berubah jadi kecemasan yang melumpuhkan, nikmati saja prosesnya.

Semua serba dipikir, which is nice. Karena dari sanalah kita belajar untuk hidup dengan ritme yang lebih tenang di dunia yang super bising ini.

‘Flex-Olympics’ di Instagram: Kenapa Kita Semua Suka Pamer (dan Kenapa Itu Wajar-Wajar Saja)

Kamu pasti pernah merasakannya: baru lima menit scrolling di timeline Instagram, tiba-tiba rasanya semua orang punya kehidupan yang super sempurna. Yang satu membagikan grafik portofolio sahamnya yang terus naik, yang lain memajang pencapaian karier dan foto di dunia profesional yang mentereng, dan yang lainnya lagi berpose estetik di depan sebuah kastel bak negeri dongeng. Dan aku? Baru-baru ini aku membagikan foto momen akhir pekan keluarga di bioskop, duduk santai di kursi relax seats elektrik yang super nyaman.

Sesaat setelah mengunggahnya, tiba-tiba muncul sedikit rasa cemas khas generasi milenial. Eh, ini aku termasuk pamer juga enggak, ya? Apa aku terlihat sedang memamerkan kemewahan buatan, padahal aslinya di balik layar aku tetap emak-emak yang super perhitungan yang sengaja menyelundupkan roti tonijn (tuna) dari La Place ke dalam tas bioskop demi menghemat biaya makan siang, dan memilih paket Kids Kombo yang paling murah? (Tapi kalau kopi, jujur aku tetap beli resmi di bioskop kok, haha!).

Momen itu membuatku merenungkan kembali dinamika media sosial. Jika kita mau jujur berkaca, hampir kita semua sebenarnya ikut ambil bagian di dalamnya. Media sosial perlahan telah berubah menjadi ajang ‘Flex-Olympics’ terselubung, di mana setiap orang menggunakan jenis ‘mata uang’ yang berbeda untuk menunjukkan kepada dunia: Ini lho, hidupku sudah tertata dengan baik.

Setelah merenungkannya, aku melihat setidaknya ada empat cara bagaimana kita (secara sadar atau tidak) membangun citra dan status kita di dunia maya:

1. Financial Flex (Pamer Angka & Investasi)

Ini adalah jenis pamer yang cukup langsung. Mereka tidak memamerkan tas bermerek atau mobil mewah, melainkan secara terbuka membagikan pertumbuhan aset, hasil investasi, atau pendapatan pasif dari dividen. Sering kali kontennya dibungkus dengan tema “edukasi finansial” atau frugal living, namun di balik itu, ada pesan kuat tentang kemandirian materi. Kontras antara penampilan luar yang kasual dengan angka tabungan yang besar di latar belakang membuat jenis flexing ini terasa sangat kuat.

2.Status & Career Flex (Pamer Relasi & Jabatan)

Di kategori ini, fokusnya bukan pada isi rekening, melainkan pada modal sosial dan intelektual. Profil media sosialnya biasanya dipenuhi dengan riwayat universitas ternama, gelar akademis, jabatan pekerjaan yang mentereng, atau foto bersama orang-orang penting dan berpengaruh. Ini adalah cara halus untuk berkata: Lihat seberapa sukses karierku dan di lingkungan elite mana aku bergaul.

3. Lifestyle & Fairy-Tale Flex (Estetika ala Selebriti)

Ini adalah gaya klasik para influencer. Foto-fotonya selalu tajam, estetik, dan diambil di lokasi-lokasi yang sangat instagramable (seperti momen lamaran di depan kastel bersejarah). Isinya adalah tentang romantisasi kehidupan, sengaja dikurasi untuk menciptakan sebuah dlock impian. Secara visual ini sangat indah, meski sering kali jaraknya cukup jauh dari realita kehidupan sehari-hari penontonnya.

4. Aesthetic & Moral Flex (Pamer Ketenangan & Kesederhanaan)

Nah, ini adalah versi yang lebih halus—dan terkadang aku pun berada di sudut ini. Yaitu memamerkan kehidupan yang terlihat sangat tenang, selaras, dan damai. Misalnya, foto barisan sepeda kota di bawah sinaran matahari, buah tomat yang segar langsung dari kebun sendiri, atau kutipan bijak tentang spiritualitas dan rasa syukur. Tipe ini tidak pamer uang, melainkan pamer ketenangan jiwa dan kesadaran hidup. Seni di sini adalah menyaring realita sehari-hari menjadi sebuah foto yang tampak sangat puitis.

Apakah Itu Salah?

Saat mengunggah foto di bioskop itu, aku sempat takut orang lain akan mengira aku sedang pamer kemewahan atau bersikap konsumtif. Namun realitanya jauh lebih sederhana: aku hanyalah seorang ibu yang bangga dan bahagia bisa menikmati akhir pekan yang menyenangkan bersama anak-anak. Dan sama sekali tidak ada yang salah dengan hal itu.

Ada perbedaan besar antara menggunakan media sosial dengan sengaja untuk membuat orang lain merasa minder, dengan sekadar merayakan kebahagiaan dan kreativitas kita sendiri. Baik itu saat aku membagikan momen keluarga, menyalurkan hobi memasak di @ning.tok, atau sekadar menuangkan isi kepala di dagboekmillennial ini.

Media sosial adalah album foto digital kita. Selama kita tetap jujur dengan diri sendiri dan masih bisa tertawa melihat trik hemat kita sendiri (seperti menyelundupkan roti tonijn La Place di dalam tas ke bioskop), tidak ada salahnya untuk sedikit bangga atas kehidupan nyaman yang kita miliki.

Ngomong-ngomong, dalam waktu dekat aku akan membuka babak baru yang sangat seru dalam hidupku. Ada perubahan besar yang sedang berjalan, dan aku sudah tidak sabar untuk membagikan perjalanan baru ini—dengan segala pasang surutnya yang tanpa filter—di sini segera!

Untuk Diriku di Usia 25 Tahun: 

Usia 25 adalah tentang belajar percaya pada diri sendiri, bekerja keras, menikmati hidup, dan tetap melangkah meski belum semuanya jelas. Sepi adalah fokus, ramai adalah dukungan — nikmati setiap prosesnya.

Untuk Diriku di Usia 25 Tahun:

“Sepi itu fokus, ramai itu dukungan.”

Di umur ini, mungkin hidup belum sepenuhnya jelas. Masih banyak bingungnya,
masih sering membandingkan diri dengan orang lain, dan masih merasa tertinggal
ketika melihat teman-teman sudah lebih dulu berhasil. Tapi percayalah, setiap
orang punya waktunya masing-masing.

Jalani dan kejarlah semua yang kamu inginkan dalam hidup. Di usia 25, kamu
masih punya banyak waktu untuk mencoba, gagal, belajar, lalu bangkit lagi.
Jangan takut memulai hanya karena merasa belum cukup hebat atau keadaan ekonomi
belum mendukung.

Percaya diri itu penting. Jangan biarkan gengsi, minder, atau rasa rendah diri
membuatmu berhenti melangkah. Penilaian orang lain tidak menentukan nilai dirimu.
Selalu yakinkan dirimu bahwa kamu mampu dan bisa berkembang menjadi versi terbaik
dari dirimu sendiri.

Nikmati masa mudamu sekarang, karena umur 25 tidak akan datang dua kali.
Bekerjalah keras, tapi jangan lupa menikmati hidup. Nongkronglah sesekali,
tertawa dengan teman, pergi ke tempat yang kamu suka, dan nikmati prosesnya.
Hidup bukan hanya soal tujuan, tapi juga tentang bagaimana kamu menjalani setiap harinya.

Tidak perlu terlalu menyesali masa lalu, dan tidak perlu terlalu khawatir tentang masa depan.
Di usia 25, wajar kalau semuanya belum sempurna. Tuhan sudah menyiapkan jalan terbaik selama
kamu terus berusaha, bekerja keras, dan menjaga niat baik.

Tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia. Cepat atau lambat, kamu akan memanen hasil
dari semua usaha itu, sekecil apa pun langkah yang kamu ambil hari ini.

Apa pun situasinya, tetap jalani hidupmu dengan penuh syukur dan nikmati setiap prosesnya.

Cinta yang ngga egois

Refleksi liburan Juni 2022 tentang cinta tanpa ego: menikah, hidup jauh dari keluarga, belajar merelakan, dan mencintai dengan tulus tanpa takut kehilangan.

Baca juga versi bahasa Belanda: Liefde zonder ego

Liburan di bulan Juni 2022 ini ngajarin aku cinta yang ngga egois, yang memberi apapun bentuknya.

Menikah, ninggalin semuanya, hidup baru jauh dari orang-orang yang aku kasihi, punya orang-orang baru lagi yang juga dikasihi sama.

Tapi aku ga pernah merasa puas, karena aku tau ga akan pernah bisa physically dekat mereka secara bersamaan, terpisah 6 minggu dari suami, bahkan sedetik aja hal buruk bisa terjadi, jadi parno sendiri. And i feel loved, the way he let me go for it.

Setelah 8 tahun ga pulang ke Indonesia. Banyak yang berubah, banyak cerita, bangunan, sistem, hubungan, emosi, orang-orang berubah dan menua. Papa pernah bilang 1 tahun itu sebentar dan banyak yang bakal berubah, saat dia telpon suruh aku pulang ke rumah dari merantau ke tanah bugis. And once again you’re right dad. Sedih but no regret, bisa lebih lama habisin waktu bareng papa.

Semakin aku gede, semakin sadar kita ga bisa kontrol takdir, keadaan. Tapi kita punya pilihan.

Then, dari situ aku sadar. Cinta itu bukan untuk digenggam tapi dilepas, memberi tanpa pamrih, and let them feel they are truly loved. Kita hanya bisa memilih untuk memberi cinta yang tulus, kata mama maksimal en kita ga akan takut kehilangan or ga dibalas. Karena itu murni en ikhlas, ga dibuat-buat.

Hati Gembira Caraku Bertahan

#07 Hidup Tenang & Sehat

Selama dua setengah tahun menjalani pengobatan hipertiroid, aku mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Tidak ada pantangan khusus dari dokter secara medis, pengobatan dan kontrol rutin sudah cukup. Itu hanya karena aku merasa perlu melakukan bagianku sendiri.

Untuk urusan medis, aku percaya pada dokter. Bagiku yang lebih menantang justru hal lain yaitu dampak mentalnya.

Aku menjadi lebih sensitif. Lebih mudah sedih tanpa alasan yang jelas. Lebih mudah marah, terutama ketika tubuh terasa tidak nyaman.

Itu tidak selalu mudah dipahami bahkan oleh diriku sendiri. Dari luar, aku terlihat baik-baik saja. Tidak ada tanda yang jelas bahwa tubuhku sedang berjuang.

Dan di situlah sering terjadi kesalahpahaman.

Di titik itu, aku sadar: aku tidak ingin hidupku hanya berputar di sekitar penyakit ini. Aku tidak ingin sepenuhnya dikendalikan oleh apa yang sedang terjadi di tubuhku.

Pelan-pelan, aku mulai mencari cara untuk tetap bertahan.

Tahun 2020, aku memutuskan untuk membuka catering. Aku butuh sesuatu yang membuatku tetap merasa hidup. Kegiatan yang bisa mengisi hariku dengan makna.

Kalau dipikir secara logika, itu pilihan yang melelahkan. Aku tetap bekerja di hari biasa, dan di akhir pekan menerima pesanan. Tapi justru di situ aku menemukan sesuatu yang tidak aku duga.

Aku merasa lebih hidup.

Lebih berarti.

Tanpa sadar, aku jadi tidak terlalu fokus pada penyakitku.

Pikiranku terisi dengan hal lain ; menu yang harus disiapkan, pesanan yang harus diselesaikan, ide-ide baru yang ingin aku coba.

Hal-hal sederhana, tapi cukup untuk mengalihkan pikiranku dari rasa yang terlalu penuh.

Aku juga mulai menemukan cara lain untuk menjaga diri. Saat merasa sedih tanpa alasan, aku membiarkan diriku berhenti sejenak menonton sesuatu yang membuatku bisa menangis, tanpa perlu menjelaskan kenapa.

Cara sederhana, tapi cukup melegakan. Mungkin ini bukan cara yang sempurna, tapi ini adalah caraku. Cara untuk tetap berjalan, meskipun tidak selalu kuat.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang aku rasakan:

aku bisa tidur lebih pulas.

Seolah tubuh dan pikiranku perlahan menemukan ritmenya kembali.

Dari semua proses itu, aku mulai memahami bahwa melakukan hal-hal yang membuat kita merasa produktif, belajar sesuatu yang baru, dan memberi kebahagiaan bagi orang lain bisa memberi warna pada hidup. Bisa mengisi kembali bagian diri yang sempat kosong.

Bukan berarti semuanya jadi mudah.

Bukan berarti aku selalu merasa baik-baik saja. Cukup untuk membuatku tetap ingin menjalani hari.

Aku mulai menyadari bahwa hati yang gembira bukan berarti hidup tanpa beban. Justru hati yang tetap hidup, meskipun sedang berjuang. Mungkin, itu adalah caraku bertahan.

Menjalani Hipertiroid

#06 Hidup Tenang & Sehat

Mendengarkan tubuh ternyata bukan sesuatu yang spontan kulakukan.

Mungkin juga bagi banyak orang.

Kita sering baru benar-benar memperhatikan, ketika tubuh sudah sampai di titik jenuh, seperti bom waktu yang akhirnya meledak lewat penyakit, seolah berkata:

“aku juga perlu didengar.”

Bagiku, pengalaman ini terasa sangat nyata.

Hipertiroid bukan hal yang asing. Aku sudah lebih dulu mengenalnya lewat kakakku yang juga pernah mengalaminya.

Tapi mengenal dari jauh dan mengalaminya sendiri adalah dua hal yang berbeda.

Ketika akhirnya itu terjadi padaku, aku mulai menyadari sesuatu yang tidak bisa lagi aku abaikan: tubuh ini tidak hanya lelah, tapi benar-benar kehabisan energi.

Hampir setiap hari aku merasa lelah bahkan di hari yang tidak terasa berat sekalipun.

Obat yang harus aku minum membantu, tapi juga membawa perubahan lain. Berat badan naik, tubuh berubah, dan sebagai perempuan, itu menjadi lapisan beban tambahan yang tidak sederhana.

Aku yang dulu takut gemuk, yang pernah mencoba berbagai cara diet yang tidak selalu sehat, tiba-tiba harus berdamai dengan tubuh yang tidak lagi bisa aku kontrol seperti dulu.

Dan di saat yang sama, emosiku ikut berubah.

Ada hari-hari ketika aku sangat sensitif tanpa alasan yang jelas.

Ada hari-hari ketika aku merasa kosong, seperti menjalani hidup tanpa benar-benar hadir di dalamnya.

Yang paling sulit bukan hanya rasa lelah itu sendiri, tapi ketidakstabilan yang datang bersamanya, fisik dan mental seperti tidak lagi berjalan selaras.

Sebagai penyakit autoimun Graves, hipertiroid tidak hanya menyerang tubuh, tapi juga emosi dan cara berpikir.

Dan itu yang perlahan mulai aku sadari.

Bukan dari penjelasan medis.

Tapi dari pengalaman sehari-hari yang tidak bisa aku abaikan.

Dari situ aku mulai berubah cara pandang.

Lebih berhati-hati.

Lebih pelan.

Lebih sadar bahwa menjaga kesehatan bukan hanya soal tubuh, tapi juga tentang bagaimana aku menjaga pikiranku dan emosiku.

Karena aku tidak ingin penyakit ini hanya mengubah tubuhku, tapi juga cara aku hidup dan berhubungan dengan orang-orang di sekitarku.

Dan mungkin di titik itu, aku mulai belajar hal yang paling sederhana tapi paling sulit:

bahwa tubuh tidak lagi bisa dipaksa seperti dulu.

Bahwa sehat bukan berarti selalu kuat.

Dan bahwa mendengarkan tubuh bukan kelemahan tapi bentuk paling dasar dari bertahan hidup.

Awal Kesadaran: Mengenal Tubuhku Lewat Hipertiroid

#05 Hidup Tenang & Sehat

Saat aku akhirnya didiagnosis hipertiroid, rasanya seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang selama ini hilang. Semua kelelahan yang dulu tidak bisa aku jelaskan, perlahan mulai terasa masuk akal.

Aku merasa lega karena akhirnya aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku. Aku tahu apa yang harus dihadapi dan mulai mengambil langkah untuk sembuh.

Tetap saja di awal aku bingung. Harus mulai dari mana? Apa yang harus diubah? Sejauh mana aku harus menyesuaikan hidupku? Namun, ketidakpastian itu jauh lebih ringan dibanding tidak tahu sama sekali.

Pelan-pelan, aku mulai mencari tahu tentang makanan apa yang sebaiknya aku hindari, apa yang bisa membantu. Mencoba olahraga yang masih bisa dilakukan tanpa membebani tubuh. Mencari-cari cara bagaimana menjalani hari-hari dengan kondisi yang tidak selalu stabil mental dan fisik. Aku mencoba mulai mengenali tubuhku dari awal.

Kebetulan, kakak perempuanku juga mengalami hal yang sama. Dari situ, aku banyak belajar, bukan hanya dari informasi, tapi dari pengalaman nyata seseorang yang lebih dulu melewatinya. Tentu itu sangat membantu, walau perjalanan sembuh ini tetap tidak mudah.

Dua setengah tahun menjalani pengobatan bukan waktu yang sebentar. Kunjungan rutin ke rumah sakit, efek obat yang kuminum di tubuhku. Ada juga rasa kesal karena kondisi badan yang tidak karuan dan tubuhku tidak lagi bisa aku andalkan seperti dulu.

Ada hari-hari di mana aku merasa lebih baik. Ada juga hari-hari di mana tubuhku terasa kembali melemah, seolah semua usaha belum cukup.

Dan di tengah semua itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar aku pahami bahwa proses ini bukan hanya tentang menyembuhkan tubuh. Tapi juga tentang belajar hidup dengan cara yang berbeda.

Belajar mendengarkan, bukan memaksa. Belajar menyesuaikan, bukan mengejar. Di fase ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar mulai memperhatikan apa yang tubuhku butuhkan bukan hanya apa yang aku inginkan.