‘Flex-Olympics’ di Instagram: Kenapa Kita Semua Suka Pamer (dan Kenapa Itu Wajar-Wajar Saja)

Kamu pasti pernah merasakannya: baru lima menit scrolling di timeline Instagram, tiba-tiba rasanya semua orang punya kehidupan yang super sempurna. Yang satu membagikan grafik portofolio sahamnya yang terus naik, yang lain memajang pencapaian karier dan foto di dunia profesional yang mentereng, dan yang lainnya lagi berpose estetik di depan sebuah kastel bak negeri dongeng. Dan aku? Baru-baru ini aku membagikan foto momen akhir pekan keluarga di bioskop, duduk santai di kursi relax seats elektrik yang super nyaman.

Sesaat setelah mengunggahnya, tiba-tiba muncul sedikit rasa cemas khas generasi milenial. Eh, ini aku termasuk pamer juga enggak, ya? Apa aku terlihat sedang memamerkan kemewahan buatan, padahal aslinya di balik layar aku tetap emak-emak yang super perhitungan yang sengaja menyelundupkan roti tonijn (tuna) dari La Place ke dalam tas bioskop demi menghemat biaya makan siang, dan memilih paket Kids Kombo yang paling murah? (Tapi kalau kopi, jujur aku tetap beli resmi di bioskop kok, haha!).

Momen itu membuatku merenungkan kembali dinamika media sosial. Jika kita mau jujur berkaca, hampir kita semua sebenarnya ikut ambil bagian di dalamnya. Media sosial perlahan telah berubah menjadi ajang ‘Flex-Olympics’ terselubung, di mana setiap orang menggunakan jenis ‘mata uang’ yang berbeda untuk menunjukkan kepada dunia: Ini lho, hidupku sudah tertata dengan baik.

Setelah merenungkannya, aku melihat setidaknya ada empat cara bagaimana kita (secara sadar atau tidak) membangun citra dan status kita di dunia maya:

1. Financial Flex (Pamer Angka & Investasi)

Ini adalah jenis pamer yang cukup langsung. Mereka tidak memamerkan tas bermerek atau mobil mewah, melainkan secara terbuka membagikan pertumbuhan aset, hasil investasi, atau pendapatan pasif dari dividen. Sering kali kontennya dibungkus dengan tema “edukasi finansial” atau frugal living, namun di balik itu, ada pesan kuat tentang kemandirian materi. Kontras antara penampilan luar yang kasual dengan angka tabungan yang besar di latar belakang membuat jenis flexing ini terasa sangat kuat.

2.Status & Career Flex (Pamer Relasi & Jabatan)

Di kategori ini, fokusnya bukan pada isi rekening, melainkan pada modal sosial dan intelektual. Profil media sosialnya biasanya dipenuhi dengan riwayat universitas ternama, gelar akademis, jabatan pekerjaan yang mentereng, atau foto bersama orang-orang penting dan berpengaruh. Ini adalah cara halus untuk berkata: Lihat seberapa sukses karierku dan di lingkungan elite mana aku bergaul.

3. Lifestyle & Fairy-Tale Flex (Estetika ala Selebriti)

Ini adalah gaya klasik para influencer. Foto-fotonya selalu tajam, estetik, dan diambil di lokasi-lokasi yang sangat instagramable (seperti momen lamaran di depan kastel bersejarah). Isinya adalah tentang romantisasi kehidupan, sengaja dikurasi untuk menciptakan sebuah dlock impian. Secara visual ini sangat indah, meski sering kali jaraknya cukup jauh dari realita kehidupan sehari-hari penontonnya.

4. Aesthetic & Moral Flex (Pamer Ketenangan & Kesederhanaan)

Nah, ini adalah versi yang lebih halus—dan terkadang aku pun berada di sudut ini. Yaitu memamerkan kehidupan yang terlihat sangat tenang, selaras, dan damai. Misalnya, foto barisan sepeda kota di bawah sinaran matahari, buah tomat yang segar langsung dari kebun sendiri, atau kutipan bijak tentang spiritualitas dan rasa syukur. Tipe ini tidak pamer uang, melainkan pamer ketenangan jiwa dan kesadaran hidup. Seni di sini adalah menyaring realita sehari-hari menjadi sebuah foto yang tampak sangat puitis.

Apakah Itu Salah?

Saat mengunggah foto di bioskop itu, aku sempat takut orang lain akan mengira aku sedang pamer kemewahan atau bersikap konsumtif. Namun realitanya jauh lebih sederhana: aku hanyalah seorang ibu yang bangga dan bahagia bisa menikmati akhir pekan yang menyenangkan bersama anak-anak. Dan sama sekali tidak ada yang salah dengan hal itu.

Ada perbedaan besar antara menggunakan media sosial dengan sengaja untuk membuat orang lain merasa minder, dengan sekadar merayakan kebahagiaan dan kreativitas kita sendiri. Baik itu saat aku membagikan momen keluarga, menyalurkan hobi memasak di @ning.tok, atau sekadar menuangkan isi kepala di dagboekmillennial ini.

Media sosial adalah album foto digital kita. Selama kita tetap jujur dengan diri sendiri dan masih bisa tertawa melihat trik hemat kita sendiri (seperti menyelundupkan roti tonijn La Place di dalam tas ke bioskop), tidak ada salahnya untuk sedikit bangga atas kehidupan nyaman yang kita miliki.

Ngomong-ngomong, dalam waktu dekat aku akan membuka babak baru yang sangat seru dalam hidupku. Ada perubahan besar yang sedang berjalan, dan aku sudah tidak sabar untuk membagikan perjalanan baru ini—dengan segala pasang surutnya yang tanpa filter—di sini segera!

Plaats een reactie