Hai aku, 35 Tahun!

Hai Diriku di usia 35 tahun. Aku menulis ini untuk memberi tahumu sebuah rahasia yang mungkin belum kamu sadari saat itu: ternyata kamu sekuat itu.

Aku tahu selama ini kamu sering merasa minder dan menganggap fisikmu lemah karena terus-menerus didera sakit. Kamu sudah melewati tifus, influenza, Covid-19, pfeiffer, hingga hipertiroid Graves.

Bahkan ketika momen yang kamu nantikan tiba, saat kamu akhirnya bisa hamil, tubuhmu dinilai tidak mampu untuk melahirkan secara normal.

Tapi dengarkan aku: semua diagnosis dan keterbatasan itu bukan tanda bahwa kamu lemah. Buktinya, kamu berhasil melewati setiap badai itu satu per satu.

Ingatkah bagaimana beratnya perjuanganmu pasca-persalinan dan masa pemulihan? Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kamu tetap alert, terjaga, dan mengerahkan seluruh jiwamu untuk merawat bayimu, bahkan sampai kedua kalinya. Itu bukan kerja tubuh yang lemah; itu adalah manifestasi kekuatan seorang ibu yang luar biasa.

Memang, tidak ada situasi yang benar-benar ideal dalam hidupmu. Kamu mungkin sering merasa seperti kumpulan hewan dalam film dokumenter Discovery Channel, saat kamu tidak berhasil keep up dengan kelompokmu. Kamu kehilangan arah dan sempat tersesat. Namun, yang membuatku sangat bangga padamu adalah: kamu menolak untuk menyerah pada kehidupan.

Tertinggal? Ternyata tidak. Kamu tidak pernah benar-benar tertinggal. Kamu hanya punya jalanmu sendiri, waktu pertumbuhanmu sendiri.

Hidup setiap manusia sangat unik, itu betul. Tuhan tahu ada kalanya manusia merasa tidak spesial dan tidak berharga, tetapi nyatanya tidak begitu. Cerita kehidupan kita adalah milik kita sendiri yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapapun. Percayalah, selalu ada maksud di balik semua kejadian.

Tiba saatnya kesempatan itu akhirnya datang menghampirimu. Di momen itu, sudut pandangmu berubah sepenuhnya. Kamu tidak lagi melihat ketertinggalanmu sebagai sebuah masalah.

Kamu berhasil mengubah semua itu menjadi kekuatan penuh dan pelajaran berharga, jubah yang akhirnya bisa kamu pakai untuk menikmati setiap tantangan di depan mata.

Dan sekarang, saatnya kamu pulang. Ada cahaya di ujung sana, ada jalan pulang yang menantimu. Modalmu untuk pulang ada di jubahmu yang kamu bangun sepanjang perjalanan pulang. Kamu pulang bukan lagi orang yang sama, tapi sosok yang jauh lebih tangguh, bijaksana, dan utuh. Setiap jengkal benang di jubah itu dirajut dari rasa sakit yang berhasil kamu lalui, kesabaran yang kamu pupuk, dan keberanian untuk terus berjalan saat kehilangan arah.

Apakah rasanya akan sama seperti sebelum kamu tersesat? Kamu tidak tahu. Tetapi di balik cahaya itu, selalu ada kesempatan untuk sembuh dan beristirahat sejenak.

Lebih dari itu, ada petualangan baru yang sudah menantimu untuk dijalani. Kamu bisa catch up lagi, bahkan bisa menikmati kehidupan ini dengan caramu sendiri, cara unik yang tidak bisa ditiru orang lain.

Terima kasih karena telah bertahan dan menolak menyerah, hingga aku bisa berdiri di sini hari ini dan melihat betapa hebatnya kamu.

Plaats een reactie