Hari ini, ingatan itu kembali mengetuk pintu hati dengan sangat keras. Melihat perjuangan adik sepupuku yang sedang berhadapan dengan luka operasi dan baby blues-nya, seketika melempar diriku kembali ke masa lalu. Ke sebuah ruang gelap en dingin di tanah rantau ini, tempat di mana seluruh luka dan air mataku membeku tanpa pernah sempat dicairkan.
Sejak awal menginjakkan kaki di Belanda, rasa sepi sudah menjadi teman akrab yang tak pernah pergi. Sendirian. Kalimat itu bukan sekadar status fisik, melainkan sebuah hantaman emosional yang nyata. Rasa sepi itu memuncak, bergulir dari masa kehamilan, hingga puncaknya ketika perutku harus dibelah melalui operasi caesar. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.
Dua kali mengalami operasi besar di negeri orang tanpa dekapan seorang mama. Tanpa kehadiran keluarga besar yang menenangkan. Tanpa sahabat yang bisa mendengarkan tangisan tanpa perlu dihakimi.
Namun, bagian paling menyakitkan dari semua perjuangan ini bukanlah rasa nyeri di bekas jahitan yang ditarik paksa saat harus mengurus bayi. Bagian paling menyiksa adalah sebuah kalimat yang terus berdengung dari orang-orang sekitar: “Kamu beruntung.”
Kata “beruntung” itu perlahan menjelma menjadi penjara emosional yang sangat rapat. Karena dianggap beruntung hidup di luar negeri, karena dianggap beruntung bisa memiliki anak sementara kakak kandungku sendiri di sini harus tertatih-tatih menghadapi kegagalan program hamil (IVF) yang tiada habisnya. Lingkungan dan keadaan seolah secara sepihak mencabut hakku untuk mengeluh.
Aku dipaksa memakai topeng “wanita tangguh yang beruntung”. Aku harus menahan diri, menelan semua rasa hancur, kelelahan yang luar biasa, dan kehampaan pascamelahirkan, hanya agar tidak dicap sebagai orang yang kurang bersyukur. Aku harus menjaga perasaan semua orang, melindungi emosi kakakku yang selalu dalam posisi dikasihani, sampai aku lupa bahwa jiwaku sendiri sedang menjerit kehabisan napas.
Aku merasa tidak berhak mengeluh. Seolah-olah rasa perih fisik dan hancurnya mental setelah dua kali SC ini adalah harga murah yang harus kubayar diam-diam tanpa boleh bersuara. Setiap kali air mata ingin menetes, rasa bersalah langsung menyergap, mengingatkanku bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung.
Hari ini, melalui cerita adikku, aku akhirnya berani mengakui pada diriku sendiri: Aku hancur. Perjalananku di sini sangat sepi, sangat berat, dan aku berhak untuk merasa terluka. Menjadi seorang ibu dan memiliki anak tidak serta-merta menghapus trauma dari pengabaian emosional yang kualami. Aku bersyukur atas anak-anakku, tetapi aku juga berhak menangisi malam-malam sepi yang harus kulewati sendirian tanpa sandaran.
Kepada diriku di masa lalu yang selalu dipaksa kuat: Maafkan aku karena baru berani menyuarakan rasa sakitmu hari ini. Kamu hebat, kamu sudah bertahan melewati badai tersunyi di negeri kincir angin ini. Dan kini, perlahan, aku ingin melepaskan topeng itu en memberikan ruang bagi hatiku yang hancur untuk menyembuhkan dirinya sendiri.