Clued yet Clueless
Malam ini, kedua anak sudah tidur ditemani suami yang ikut ketiduran saat membacakan buku cerita. Aku baru selesai mandi setelah membereskan ruang bawah yang berantakan seperti kapal pecah. Saat duduk santai seperti ini, aku mendadak ingat masa-masa hamil anak pertama dulu.
Waktu hamil anak pertama, rasanya bisa menikmati tiap fase dengan santai. Sembilan bulan penuh dengan rasa antusias, bahagia, dan optimis meski tentu ada catatan medis yang kadang buat kami khawatir.
Tapi aku masih bisa istirahat cantik, me-time, maraton Netflix, dan menikmati waktu santai berdua bersama suami. Pokoknya berbeda jauh dengan apa yang aku alami saat hamil anak kedua kemarin.
Di bulan pertama sampai ke tujuh belum ada ketakutan. Masuk bulan ke delapan sembilan ada kecemasan tapi itupun masih wajar. Bayanganku lebih ke hal-hal indah seperti menggendong bayi yang harum, menyusui dengan damai, dan keyakinan kalau semuanya akan mudah dan alami.
Barusan saja kepikiran kalau dulu ternyata aku bisa seoptimis itu karena belum tahu apa-apa tentang apa yang akan kuhadapi saat hari H tiba dan bayi lahir.
Teori vs di lapangan
Proses melahirkan yang jujur super lama (tiga hari) dan dengan berbagai teknik. Karena lahiran di Belanda anak pertama, harus diusahakan normal dulu. Mulai dari induksi balon katheter, minum obat perangsang, oksitosin dan pembukaan buatan dan sampai ujung di meja operasi.
Ketika bayiku terlahir dan tubuh mungilnya diletakkan di dadaku, ada detik-detik di mana dunia seolah melambat. Rasa lega yang luar biasa membuncah, tubuhku yang tadinya menggigil kedinginan terasa hangat dan rasa mual diganti luapan haru.
‘Ah, akhirnya kami berhasil,’ bisik hati kecilku terharu. Namun, romantisasi itu hanya bertahan beberapa jam. Begitu efek bius perlahan habis dan menyisakan rasa nyeri yang menyengat di perut, aku seperti di tampar bangun dari mimpi indah. Tubuhku yang masih lemas pasca-operasi dipaksa langsung terjaga, bersiap menghadapi babak baru yang sama sekali belum pernah tertulis di buku panduan mana pun.
Romantisasi masa kehamilan buyar ambyar. Realita menjadi orang tua baru datang seperti ombak besar yang langsung menggulung tanpa permisi. Malam-malam setelah operasi saat itu adalah saksi perjuangan nyata yang aku lewati berdua dengan suami.
Kombinasi yang kami hadapi waktu itu benar-benar menguras energi: fisik belum pulih pasca-lahiran, kurang tidur karena harus bergadang semalaman, dan belum ada pengalaman sama sekali. Bukan cuma aku, tapi aku saksikan bagaimana suami juga benar-benar dengan muka yang sangat capek, meski bukan dia yang lahiran.
Perawat di Rumah Sakit gantian masuk ke kamar inap kami, untuk kontrol dan mendampingi proses mengASIhi, sangat menolong, walaupun ada tekanan tersendiri bagiku, tidak bisa benar-benar istirahat dan suasana rumah sakit pasti beda dengan kamar di rumah sendiri. Di rumah pun beda lagi tantangannya, tetap penuh perjuangan dan bingung berdua!
Proses menyusui yang aku kira alami dan mudah, ternyata aslinya sangat menyakitkan dan butuh perjuangan (bukan hanya lecet, bahkan sampai daging lepas). Bergadang pun bukan lagi untuk hal seru, tapi menahan kantuk luar biasa sambil mencoba menenangkan bayi yang menangis tanpa aku tahu apa maunya.
Rasa optimis saat hamil langsung berubah jadi rasa takut ini-itu. Takut salah mengurus bayi, takut ASI kurang, dan merasa serba salah. Akar dari semua rasa takut itu sebenarnya cuma satu: ketidaktahuan. Karena memang setelah pernah melahirkan, kelahiran kedua akan terasa berbeda lelahnya 😅.
Surprisingly clueless
Sebagai kaum yang terbiasa terencana, punya kontrol, atau minimal bisa cari solusi instan lewat Google, fase ini sukses memukul egoku dengan keras. Aku mendadak kehilangan kendali atas waktu dan tubuh sendiri dalam semalam. Kewalahan, kaget dan merasa cemas bukan berarti aku menjadi ibu yang buruk (sempat terbersit sih). Tapi itu adalah reaksi manusiawi karena tubuh menghadapi kelelahan fisik yang luar biasa.
Saat hamil anak pertama, pandangan hanya tertuju pada satu sisi karena aku belum tahu apa-apa, belum pernah mengalami. Sekarang, baru paham lelahnya, bingungnya, tapi juga rasa sayang dan bahagia yang luar biasa dikaruniai anak.
Ternyata, dulu aku tidak sadar kalau adalah hal yang wajar terjebak di antara rasa lelah dan cinta pada anak bersamaan.
Wajar kalau kaget, takut dan belum tahu segalanya. Bahkan sampai punya anak kedua aku masih tidak tahu segalanya. Begitulah ternyata, jadi orang tua adalah fase belajar panjang bahkan mungkin sampai kita kakek nenek.
Ini aku tulis untuk semua ibu yang melahirkan anak pertama mereka, kalian tidak sendirian. Tetap semangat ya mama hebat <love>.