Hamil Pertama

Sembilan bulan hamil anak pertama dilalui dengan santai, bahagia; penuh optimisme. Begitu melahirkan lewat operasi caesar di Belanda, rasa itu langsung bias. Realita kurang tidur, badan yang kesakitan dan drama menyusui. Sebuah cerita tentang teori vs lapangan, juga kenyataan bahwa menjadi orang tua baru memang membuat kita surprisingly clueless.

Clued yet Clueless

Malam ini, kedua anak sudah tidur ditemani suami yang ikut ketiduran saat membacakan buku cerita. Aku baru selesai mandi setelah membereskan ruang bawah yang berantakan seperti kapal pecah. Saat duduk santai seperti ini, aku mendadak ingat masa-masa hamil anak pertama dulu.

Waktu hamil anak pertama, rasanya bisa menikmati tiap fase dengan santai. Sembilan bulan penuh dengan rasa antusias, bahagia, dan optimis meski tentu ada catatan medis yang kadang buat kami khawatir.

Tapi aku masih bisa istirahat cantik, me-time, maraton Netflix, dan menikmati waktu santai berdua bersama suami. Pokoknya berbeda jauh dengan apa yang aku alami saat hamil anak kedua kemarin.

Di bulan pertama sampai ke tujuh belum ada ketakutan. Masuk bulan ke delapan sembilan ada kecemasan tapi itupun masih wajar. Bayanganku lebih ke hal-hal indah seperti menggendong bayi yang harum, menyusui dengan damai, dan keyakinan kalau semuanya akan mudah dan alami.

Barusan saja kepikiran kalau dulu ternyata aku bisa seoptimis itu karena belum tahu apa-apa tentang apa yang akan kuhadapi saat hari H tiba dan bayi lahir.

Teori vs di lapangan

Proses melahirkan yang jujur super lama (tiga hari) dan dengan berbagai teknik. Karena lahiran di Belanda anak pertama, harus diusahakan normal dulu. Mulai dari induksi balon katheter, minum obat perangsang, oksitosin dan pembukaan buatan dan sampai ujung di meja operasi.

Ketika bayiku terlahir dan tubuh mungilnya diletakkan di dadaku, ada detik-detik di mana dunia seolah melambat. Rasa lega yang luar biasa membuncah, tubuhku yang tadinya menggigil kedinginan terasa hangat dan rasa mual diganti luapan haru.

‘Ah, akhirnya kami berhasil,’ bisik hati kecilku terharu. Namun, romantisasi itu hanya bertahan beberapa jam. Begitu efek bius perlahan habis dan menyisakan rasa nyeri yang menyengat di perut, aku seperti di tampar bangun dari mimpi indah. Tubuhku yang masih lemas pasca-operasi dipaksa langsung terjaga, bersiap menghadapi babak baru yang sama sekali belum pernah tertulis di buku panduan mana pun.

Romantisasi masa kehamilan buyar ambyar. Realita menjadi orang tua baru datang seperti ombak besar yang langsung menggulung tanpa permisi. Malam-malam setelah operasi saat itu adalah saksi perjuangan nyata yang aku lewati berdua dengan suami.

Kombinasi yang kami hadapi waktu itu benar-benar menguras energi: fisik belum pulih pasca-lahiran, kurang tidur karena harus bergadang semalaman, dan belum ada pengalaman sama sekali. Bukan cuma aku, tapi aku saksikan bagaimana suami juga benar-benar dengan muka yang sangat capek, meski bukan dia yang lahiran.

Perawat di Rumah Sakit gantian masuk ke kamar inap kami, untuk kontrol dan mendampingi proses mengASIhi, sangat menolong, walaupun ada tekanan tersendiri bagiku, tidak bisa benar-benar istirahat dan suasana rumah sakit pasti beda dengan kamar di rumah sendiri. Di rumah pun beda lagi tantangannya, tetap penuh perjuangan dan bingung berdua!

Proses menyusui yang aku kira alami dan mudah, ternyata aslinya sangat menyakitkan dan butuh perjuangan (bukan hanya lecet, bahkan sampai daging lepas). Bergadang pun bukan lagi untuk hal seru, tapi menahan kantuk luar biasa sambil mencoba menenangkan bayi yang menangis tanpa aku tahu apa maunya.

Rasa optimis saat hamil langsung berubah jadi rasa takut ini-itu. Takut salah mengurus bayi, takut ASI kurang, dan merasa serba salah. Akar dari semua rasa takut itu sebenarnya cuma satu: ketidaktahuan. Karena memang setelah pernah melahirkan, kelahiran kedua akan terasa berbeda lelahnya 😅.

Surprisingly clueless

Sebagai kaum yang terbiasa terencana, punya kontrol, atau minimal bisa cari solusi instan lewat Google, fase ini sukses memukul egoku dengan keras. Aku mendadak kehilangan kendali atas waktu dan tubuh sendiri dalam semalam. Kewalahan, kaget dan merasa cemas bukan berarti aku menjadi ibu yang buruk (sempat terbersit sih). Tapi itu adalah reaksi manusiawi karena tubuh menghadapi kelelahan fisik yang luar biasa.

Saat hamil anak pertama, pandangan hanya tertuju pada satu sisi karena aku belum tahu apa-apa, belum pernah mengalami. Sekarang, baru paham lelahnya, bingungnya, tapi juga rasa sayang dan bahagia yang luar biasa dikaruniai anak.

Ternyata, dulu aku tidak sadar kalau adalah hal yang wajar terjebak di antara rasa lelah dan cinta pada anak bersamaan.

Wajar kalau kaget, takut dan belum tahu segalanya. Bahkan sampai punya anak kedua aku masih tidak tahu segalanya. Begitulah ternyata, jadi orang tua adalah fase belajar panjang bahkan mungkin sampai kita kakek nenek.

Ini aku tulis untuk semua ibu yang melahirkan anak pertama mereka, kalian tidak sendirian. Tetap semangat ya mama hebat <love>.

Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.

Menjadi Ibu di usia 35+?


“Tuhan, jika Engkau mempercayakan seorang anak kepadaku, berikanlah di saat aku sudah benar-benar siap dalam berbagai aspek kehidupan.”

Aku masih ingat betul baris doa yang sering kuucapkan dulu. Dan Tuhan menjawabnya dengan presisi yang luar biasa. Pertengahan 2023, di usiaku yang hampir menginjak 35 tahun, anak pertamaku lahir. Kini, di usiaku yang sudah berjalan hampir 38 tahun, pelukanku kian penuh dengan kehadiran anak kedua yang saat ini sudah berusia 6 bulan.

Banyak orang dari luar melihatku sebagai sosok ibu yang tenang. Namun, sebuah kejujuran besar menghantamku sejak pertama kali aku memeluk anak pertamaku: menjadi ibu artinya kita tidak akan pernah benar-benar siap, berapapun umur kita.

Kesiapan materi atau kestabilan hidup di Belanda tidak otomatis membuatku kebal dari rasa takut. Pada saat aku masih terus berduka karena tidak bisa melanjutkan kuliah atau karirku yang memang situasinya tidak mendukung, hidup terus berjalan, saatnya aku hamil dan melahirkan. Kehadiran anak kian membuatku merasa terjebak dan harus mengubur mimpi-mimpiku semakin dalam.

Dampak psikologis ini berjalan beriringan dengan kondisi fisikku yang sangat remuk. Sampai hari ini, tubuhku sering terasa melayang-layang dan terjebak dalam mode fight or flight. Tapi aku tidak punya pilihan selain terus berjuang fight. Beruntung, riwayat perjuanganku menghadapi hipertiroid selama 2,5 tahun dulu memberikan sisi positif: aku menjadi jauh lebih alert dan peka untuk mendengarkan alarm tubuh sendiri.

Kelelahan ekstrem karena mengurus balita aktif dan bayi sekaligus tanpa support system membuatku tetap sering merasa cemas. Ada hari-hari di mana aku kewalahan hingga akhirnya lepas kendali dan marah. Ketika momen itu terjadi, rasa bersalah mom guilt langsung datang menghampiri. Namun, seiring kedewasaan emosional yang berjalan, setelah menenangkan diri, aku otomatis sering menemukan cara untuk memperbaiki situasi dan berdamai kembali dengan anak-anak. Aku sadar, bukan berarti aku bebas dari cemas, melainkan aku lebih mampu memulihkan situasi dan menciptakan lingkungan yang positif kembali setelah konflik terjadi.

Dalam menghadapi naik-turunnya emosi ini, suamiku sangat membantu. Meskipun pada kenyataannya, kami berdua terkadang sama-sama bisa lepas kendali karena benar-benar kelelahan secara fisik akibat beban pekerjaan di samping mengurus dua anak kecil. Kami berjalan bersama dalam ketidaksempurnaan ini.

Selain urusan domestik, perjuangan sosialku di sini juga tidak mudah karena sempat kesulitan menemukan teman dekat dari warga lokal. Lucunya, akhir-akhir ini aku justru mulai bisa masuk dan akrab dengan orang tua dari teman anak pertamaku. Namun sayangnya, tepat saat kami baru mulai saling mengenal dengan baik, waktu kami sudah habis. Kami harus segera pindah melakukan repatriasi kembali ke Indonesia. Semua terasa terlambat.

Perpindahan yang di depan mata, tubuh yang ringkih, serta tanggung jawab atas dua nyawa kecil ini akhirnya memicu satu ketakutan terbesar yang paling sering kualami akhir-akhir ini: momen tentang takut mati. Pikiran-pikiran cemas tentang masa depan anak-anak jika aku tidak ada sering kali berputar di kepala.

Usia menjelang 38 tahun ini tidak membuatku terbebas dari kecemasan atau duka atas mimpi yang terkubur, melainkan memberiku satu hadiah terbesar: keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan diri.

Aku belajar untuk memaafkan tubuhku yang kelelahan, memaafkan duka masa laluku, dan menyadari bahwa semua emosi serta ketakutan ini adalah bagian dari perjalanan. Lelah itu pasti, cemas itu wajar. Namun di sinilah aku sekarang menerima kerapuhan, merayakan kekuatanku dan bersiap menyambut babak baru repatriasi sambil terus menjalani kehidupanku dengan sebaik-baiknya.

De Batik van Oma

Ik was een paar dagen in Jogja om mijn moeder blij te maken, maar ik werd ziek en was erg moe. Het hotel had ook problemen. Mijn moeder zorgde goed voor me, gaf me massage met olie, bad voor me en dekte me toe met een batik van mijn oma uit Sragen. Ze zei dat ik die batik ook moet gebruiken als ze er niet is, zodat ik snel beter word en hopelijk snel zwanger raak. Ik vond het lief en grappig tegelijk.

Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:

Batik lungsuran si mbah

12 augustus 2022

De batik van oma.

De afgelopen dagen in Jogja wilde ik eigenlijk mijn moeder blij maken.
Ik was helemaal uitgeput en ook ziek geweest, en er was ook nog iets mis met het hotel.
Weer zo’n moment waarop ik leer van moeders: hun liefde lijkt soms overdreven, niet logisch en best grappig,
maar het is een onvoorwaardelijke liefde voor hun kinderen.
Ook al uiten ze het bij elk kind op een andere manier.

Een batik die van mijn oma uit Sragen is geweest, voor mijn moeder.
Toen ik ziek was, werd ik gemasseerd met kutus-kutus olie, er werd voor me gebeden,
en ik werd toegedekt met deze batik.

Dit was mijn reactie toen: met mijn ogen rollen terwijl ik mijn best deed niet te lachen.
Terwijl ze me toedekte zei mijn moeder:
“Als je straks ziek bent en mama er niet is (in Nederland), gebruik dan deze batik van oma om je toe te dekken,
dan word je snel beter en hopelijk raak je snel zwanger, oké?”

Ik zei: “ja mam,” terwijl ik een beetje moest glimlachen.

Realita Hamil Besar dengan Batita


“Tangis, Pelukan, dan Hari yang Panjang”

Mama, yang sedang hamil 34 minggu, merasa lelah hingga hampir tak sanggup lagi. Anak balitanya yang berusia 2,5 tahun baru saja sembuh dari demam selama enam hari, tapi pagi ini si kecil bersikeras ingin pergi ke daycare. Mama meminta dia tetap di rumah, tapi anak itu menolak dan tetap ingin pergi. Rasa bersalah menyeruak dalam dada mama, karena kehamilannya yang besar membuatnya sering mengatakan, “Mama capek.”


Setelah kata-kata itu keluar, ada sesuatu yang hilang. Sebuah rasa ragu menyelinap di hati mama: apakah si batita bisa merasakan kelelahan mama? Apakah ia merasa sedih, tersisih, atau berpikir mama tidak mau lagi dekat dengannya? Mama takut kata sederhana yang terlontar tanpa sengaja meninggalkan jarak di antara mereka, padahal ia ingin selalu hadir dan dekat dengan anaknya.


Selama beberapa minggu terakhir, anak itu selalu menempel. Dia memeluk mama, menciumnya, membelainya, seolah takut mama tidak akan mau lagi dekat dengannya. Kemanapun mama pergi, bahkan ke toilet, dia selalu mengikutinya. Setiap pelukan dan ciuman terasa manis, sekaligus menambah beban di pundak mama, karena energi mama mulai menipis.


Di sisi lain, papa sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi tetap hadir dan bekerja bersama mama untuk mengurus rumah. Setelah kejadian tahun baru, tukang ledeng yang dipercayakan ternyata menipu, membuat rumah banjir dan lantai rusak. Mama dan papa harus sama-sama mengurus perbaikan lantai di minggu-minggu yang mepet dengan jadwal kelahiran, ditambah urusan asuransi, biaya, dan dana. Semua itu menumpuk di pikiran mama, membuat lelah dan frustrasi terasa semakin berat.


Hari ini, mama akhirnya menangis. Tangisnya campuran dari lelah, hormon, rasa bersalah, keraguan, dan tekanan pikiran yang menumpuk. Hamil besar sambil mengurus anak batita yang selalu menempel, menghadapi papa yang sibuk tapi tetap membantu, serta menyelesaikan urusan rumah tangga yang menuntut perhatian, terasa seperti perjuangan yang tiada habis.


Namun di balik air mata itu, ada sedikit lega. Mama membiarkan dirinya merasakan semuanya: lelah, bersalah, keraguan, kewalahan, frustrasi, dan khawatir. Ia menerima bahwa dirinya manusia, butuh istirahat, dan bahwa mencintai anaknya atau bekerja sama dengan papa tidak harus selalu memberi 100% energi. Cukup hadir, cukup jujur, cukup mencintai dengan apa yang tersisa di dalam dirinya. Dan di situlah cinta yang tulus tetap hidup, meski lelah dan kekhawatiran mencoba merenggutnya.

De Realiteit van Zwanger Zijn met een Peuter


“Tranen, Knuffels en Lange Dagen”


Mama, die 34 weken zwanger is, voelt zich zo moe dat ze bijna niet meer kan. Haar peuter van 2,5 jaar is net zes dagen ziek geweest, maar vanmorgen wilde hij per se naar de kinderopvang. Mama vroeg of hij thuis wilde blijven, maar hij schudde zijn hoofd en bleef aandringen om te gaan. Schuldgevoel overspoelde mama, omdat ze door haar grote buik vaak zei: “Mama is moe.”


Toen die woorden eenmaal uitgesproken waren, voelde mama dat er iets miste. Er kroop een onzeker gevoel haar hart binnen: voelt haar peuter dat mama moe is? Voelt hij zich verdrietig of buitengesloten, of denkt hij dat mama niet meer dichtbij wil zijn? Mama is bang dat een simpel woord dat ze zonder nadenken zei, afstand kan creëren tussen hen, terwijl ze juist altijd dichtbij wil zijn.


De afgelopen weken is haar peuter altijd aan haar blijven plakken. Hij knuffelt mama, kust haar, aait haar, alsof hij bang is dat mama niet meer dichtbij wil zijn. Waar mama ook heen gaat, zelfs naar de wc, hij volgt haar overal. Elke knuffel en kus voelt lief, maar tegelijkertijd drukt het zwaar op mama’s schouders, omdat haar energie steeds minder wordt.


Aan de andere kant is papa erg druk met zijn werk, maar hij helpt mama wel bij het huishouden. Na het incident tijdens nieuwjaar, waarbij de loodgieter hen had opgelicht en het huis onder water zette waardoor de vloer kapot ging, moeten mama en papa samen de reparatie regelen in de weken vlak voor de uitgerekende datum. Daarbij komen ook verzekeringen, geldzaken en kosten. Alles samen stapelt zich op in mama’s hoofd, waardoor haar moeheid en frustratie alleen maar zwaarder voelen.


Vandaag moest mama eindelijk huilen. Haar tranen waren een mix van moeheid, hormonen, schuldgevoel, twijfel en de druk van alles wat er op haar afkomt. Zwanger zijn met een peuter die altijd plakt, terwijl papa druk is maar wel helpt, en tegelijkertijd het huishouden regelen, voelt als een oneindige strijd.


Toch is er achter de tranen een beetje opluchting. Mama laat zichzelf alles voelen: moeheid, schuld, twijfel, overweldiging, frustratie en zorgen. Ze accepteert dat ze een mens is, dat ze rust nodig heeft, en dat liefhebben van haar kind of samenwerken met papa niet betekent dat ze altijd 100% energie moet geven. Gewoon aanwezig zijn, eerlijk zijn, genoeg liefde geven met wat er nog over is. En juist daar blijft de oprechte liefde bestaan, ook al proberen moeheid en zorgen haar weg te drukken.

Overleven met 2jarige

Ik dacht dat ik tegen de dertig wel klaar zou zijn om moeder te zijn.
Maar eerlijk? Het is zwaar.
Alles lijkt klein, maar elke beslissing laat m’n hoofd duizelen.

Mijn kind is nu twee en zo koppig.
Groenten eten? Wat vroeger makkelijk was, is nu een strijd.
Ik zit met een mix van frustratie en vermoeidheid.
Op internet zeggen alle artikelen en social media: “Zo moet het!”
Maar thuis? Theorieën werken hier gewoon niet.

Mijn dagen voelen als een never-ending marathon.
Alles op schema – eten, slapen, spelen – maar tijd voor mezelf bijna niet.
Soms lig ik laat in bed, en word ik de volgende dag uitgeput wakker.
En toch… die knuffel, dat lieve “Mama” van hem… maakt alles een beetje lichter.

Soms denk ik terug aan mijn eigen dromen.
Het voelt alsof ik een deel daarvan moet parkeren voor later, zonder te weten of ik ze ooit weer oppak.
Ik mis mezelf, maar ik ben er voor hem. Want niks, echt niks, kan tippen aan de blijheid als ik hem zie.

Misschien is dat genoeg.
Misschien hoef je niet perfect te zijn om te mogen bestaan als moeder.
Aanwezig zijn is al meer dan genoeg.

Moeder zijn

Zwanger zijn verandert je leven op een manier die je nooit had verwacht. Vanaf het moment dat er een klein leven in de buik groeit, komen er zoveel gevoelens tegelijk. Blijdschap, onzekerheid, angst en hoop wisselen elkaar af. Het lichaam voelt soms zwaar, de emoties gaan op en neer, maar elke schopje in de buik geeft weer nieuwe kracht.

Elke dag is een nieuwe stap in het leren accepteren dat niets meer hetzelfde zal zijn. Het is niet altijd makkelijk, maar de gedachte dat er een klein mensje groeit, maakt alles de moeite waard.

De dag van de bevalling is zwaar en spannend. De pijn, de vermoeidheid, de angst — alles komt tegelijk. Maar op het moment dat het eerste huiltje klinkt, lijkt alles te verdwijnen. Dan is er alleen nog liefde. Een liefde die groter is dan ooit tevoren.

Wanneer dat kleine mensje voor het eerst vastgehouden wordt, voelt het alsof de wereld even stilstaat. Alles draait ineens om dit ene moment. Vanaf die seconde verandert alles. Het leven gaat niet meer alleen om jezelf, maar om zorgen voor dit kleine wonder.

Na de geboorte begint een nieuw hoofdstuk. Er zijn slapeloze nachten, tranen van vermoeidheid, en momenten van twijfel. Maar er zijn ook pure momenten van geluk. Een eerste lach, een handje dat je vinger vasthoudt, een rustige blik.

Moeder zijn betekent elke dag leren. Niet perfect zijn, maar je best doen met liefde. Soms moe, soms onzeker, maar altijd met een hart dat vol zit met zorg en warmte.

Het leven is anders geworden, maar mooier dan ooit. Omdat er nu iemand is voor wie alles de moeite waard is. Iemand die je met heel je hart liefhebt, zonder voorwaarden.

38 minggu

Minggu 16-07-2023, pagi sekitar jam 6 kami membuat janji dengan kamar bersalin di RS. Elkerliek Helmond untuk melakukan proses induksi balon katheter. Pulang ke rumah, seharian beraktifitas dan gerak kemanapun dengan balon katheter rasanya gimana gitu, imagine that 😂.

Senin 17-07-2023
Pagi-pagi kita sudah datang ke rumah sakit. Hanya duduk di ruang tunggu sebentar (berasa lama banget), kemudian dipindah ke kamar bersalin untuk melihat perkembangan balon katheter oleh dua orang petugas rumah sakit.

Pada saat pemeriksaan ternyata, rahim aku masih belum matang, dan keras.  Jam dinas 2 petugas sudah habis, kemudian terpaksa kenalan lagi sama petugas di jam itu. Mencoba menahan diri untuk tetap ramah dan keep positive vibes. Sampai akhirnya, setelah perawat ngobrol dengan ginekolog, dapat jawaban di hari itu ; “ibu, kalau besok belum ada tanda-tanda juga, sepertinya besok pulang ke rumah saja, minggu depan kita ulang lagi proses balon katheternya”.

Kita dapat kamar bersalin, family suit. Kamarnya cukup luas, difasilitasi satu kasur pasien, box bayi, meja makan, wastafel, kamar mandi dalam dan bangku tidur. Suami sedikit protes, karena sudah bayar asuransinya mahal cuma kebagian sofa dan makan masih dikenakan charge.

Sore itu, kita keliling rumah sakit cari kafe dan menu dinner buat suami. Kalau aku nggak puas juga makan sup tomat dan worstenbroodjes, jadi dari rumah sudah pesan dan bawa Thaise Food, plus disediain juga dari rumah sakit (makanannya enak semua!). Setelah temenin suami nongkrong di kafe rumah sakit, balik lagi ke kamar inap.

Dengan hati sedikit kecewa dan lega, malam itu di kamar rumah sakit alhasil aku begadang, balas in chat keluarga dan teman-teman. Banyak yang share pengalaman melahirkan dan tips. Berusaha menguatkan diri dan bersabar sampai minggu depan. Belum bisa tidur, mungkin juga masih kepikiran dan cemas di alam bawah sadar. Jam 3an akhirnya ketiduran.

Selasa 18-07-2023
Pagi itu kita dilayani 2 petugas rs yang jam dinasnya hampir habis, satu bidan dan satu perawat (artinya, tiap beberapa jam bakal ganti petugas). Di awal proses, perawat memasangkan alat ctg selama 15-30 menit, untuk kontrol kondisi janin. Setelah itu bidan memeriksa secara vaginal, seberapa matang dan supel kondisi rahim.

Pemeriksaan ini menurut aku sangat sakit dan buat nggak nyaman, tiap bidan juga nggak sama pengalamannya (percayalah tiap tangan beda-beda, kalau nggak salah hitung ada total 7 orang berbeda yang periksa aku, oh Tuhan).

Oh ya, untuk mengurangi sakit saat periksa ini ada beberapa tips yang bisa kurangi ketegangan. Tarik buang nafas panjang, bokong tidak boleh diangkat, paha dan kaki posisi atas (dibantu penyangga) atau disangga petugas. Tetap sakit, tapi lebih bisa buat kita tenang, dan prosesnya jd cepat.

Living in fear or faith

Mempublikasikan kehamilan ternyata bisa menjadi momok bagi seorang perempuan. Ketika aku tau aku hamil, hal pertama yang paling aku kuatirkan adalah terlalu cepat memberitahu.

Jadi, begitu aku kabari orangtua dan mertua aku langsung ingatkan untuk merahasiakan. Alhasil, yang namanya orangtua nggak bisa simpan kebahagiaan. Rahasia ngga bertahan lama, mereka sudah sebarin berita bahagia ke saudara dan kerabat mereka. Kesal? Tentu saja kesal, tapi itu juga pertanda mereka sangat bahagia dan bangga. Raut wajah ngga bisa bohong.

Aku juga sempat bahas ini ke mertuaku, tapi respon dia ada benarnya juga. Saat itu dia bilang, kebahagiaan tidak perlu disimpan, tapi untuk dibagikan. Kalau takut keguguran, saat kandungan 6 bulan atau 9 bulan pun bisa saja terjadi. Tapi kita bahagia saat ini, momen hari ini dirayakan hari ini.

Setelah aku pikirkan dan renungkan, ya juga, masuk akal sih. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan tentu tidak memandang umur. Suatu hal yang kita tidak bisa hindari. Sebagai orang tua, anak, saudara kita harus selalu siap untuk momen seperti ini. Selama kita masih sehat, masih punya kesempatan, nikmati, jalani dan syukuri. Cherish every moment you have together.

Hidup dalam ketakutan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang saat ini sedang kita miliki. Tapi hidup di dalam iman, memberi kita harapan baru dan kekuatan. Jadi pilih yang mana, living in fear or faith? Faith, dong!

“Positive anything is better than negative nothing.” – Elbert Hubbard

Akhirnya hamil

Setelah masa sibuk antara kerja, sakit, dan pemulihan di Belanda, hidupku berubah tak terduga. Sempat kena flu berat dan harus berhenti terima pesanan, sampai akhirnya telat haid yang ternyata berujung pada kabar bahagia: aku hamil. Ini jadi hadiah indah setelah 10 tahun pernikahan. Dari situ aku mulai pelan-pelan mengalihkan fokus dari kerja ke kesehatan, ketenangan, dan persiapan jadi orang tua, sambil tetap bersyukur dan percaya pada Tuhan.

Pacaran singkat pada 11 juni 2011, kami putuskan menikah di tgl 17-12-2012 . Sudah 10 tahun menikah tapi belum diberi keturunan. 2 tahun pertama pernikahan, kami harus merasakan yang namanya LDR, karena harus belajar bahasa belanda dan banyak persyaratan yang perlu diurus sebelum akhirnya boleh tinggal. Saat itu fokus juga berubah untuk menemani papa yang sedang sakit, tidak bisa ditinggal sampai sembuh. Meski pada akhirnya papa tenang di rumah Bapa.

Tahun 2014, aku dijemput suami dan mertua laki laki untuk pindah tinggal di belanda. 6 bulan pertama masih numpang di rumah mertua, menyesuaikan diri dengan iklim yang ekstrim buat aku, budaya dan bahasa. Puji Tuhan punya dua mertua yang perhatian dan sayang sama aku.

Aku saat itu bergumul cari kerja, ujian bahasa (syarat dapat ktp tetap), ijazah nggak diakui, melamar kerja nggak keterima dimanapun. Nyali sempat ciut dan akhirnya berserah sama Tuhan, berdoa.

Saat aku dan suami jemput mertua dari sebuah pesta, dipertemukan dengan 2 kerabat mereka yang masing-masing nawarin kerja aku, akhirnya aku bisa jadi pegawai tetap salah satu mereka setelah 1 tahunan kerja. Selamanya, aku berterimakasih buat bos aku, Adrie, yang kasih kesempatan ini. Akhirnya aku juga lulus ujian bahasa dengan nilai memuaskan. Puji Tuhan.

Perkenalan yang sebenarnya dimulai ketika kami mulai bisa membangun kehidupan rumah tangga berdua dengan menyewa rumah di sebuah desa namanya Bakel. Hidup bersama sehari-hari, susahnya ngobrol dari hati ke hati dengan bahasa yang saat itu masih asing buat aku (belanda diselingi bahasa inggris). Budaya, nilai moral, agama dan kebiasaan simpel kita yang berbeda, juga perjuangan bagi kita berdua untuk bertemu di tengah. Bisa bayangin sendiri ya. Perjuangan menyesuaikan diri di tempat kerja, ekonomi, hubungan dan banyak lagi.

Pada akhir tahun 2016, kita akhirnya dapat kesempatan untuk bisa beli rumah. Rumah pertama kami di Helmond. Hidup di belanda tidak murah, banyak pengeluaran wajib yang harus dibayar, artinya kita dituntut untuk hidup mewah, ga ada pilihan. Standar hidup di belanda termasuk tinggi.

Kita mulai penyesuaian lagi dan banyak bagian yang juga harus dibenahi, contohnya jendela-jendela yang kacanya harus di double karena kalo musim dingin, dingin banget dan itu ga murah, dll. Mobil buat mobilitas sempat beberapa kali ganti karena rusak. Tapi kita termasuk beruntung, mengucap syukur masih muda dan sudah bisa beli rumah, meski banyak perjuangannya.

Selain urusan rumah, aku juga harus segera punya sim, karena harus bisa mandiri juga. Untuk mendapatkan sim, wajib kursus menyetir, dan harga per jam sangat mahal. Ada pergumulan tersendiri di fase ini, lumayan bikin stress karena sulit dan nguras kantong banget. Bahasa belanda terkenal sulit dan ujian teori juga prakteknya nggak mudah, peraturan di jalan buat mobil, motor dll. Aku nggak akan bahas disini, karena bisa panjang kali lebar, intinya perjuangan berat untuk orang asing bisa dapatin sim.

Sempat aku bilang ke suami, coba kamu dapat istri sesama belanda, pasti kamu hidupnya lebih mudah, ga perlu mulai dari awal lagi, sama-sama sudah kerja dan ready. So sad haha. Karena buat seusia dia, harusnya fase ini sudah lewat, nggak perlu masih nabung dan ikut bayar ini itu karena aku yang baru di sini.

Baru akhirnya mulai punya kehidupan yang stabil di tahun 2018, mulai bisa nabung dan liburan. Sudah mulai tenang, ternyata, Tuhan punya rencana lain, akhir 2019 aku dinyatakan punya penyakit hipertiroid, ini juga nggak aku bahas disini karna panjang. Struggle and struggle…
Setelah minum obat tiap hari dan cek darah teratur, total 2 tahunan. Akhirnya dinyatain sembuh.

Selama aku sakit, aku sempat ambil beberapa kursus kemudian aku buka bisnis katering supaya nggak fokus sama penyakitku dan juga belum hamil. Tanggal 20-11-2020 NingTok resmi terdaftar. Aku punya pekerjaan dan weekend aku jadi sering terima pesanan. Hidup berasa lebih hidup, ada pergumulan yang berbeda lagi. Pertumbuhan karakter, mungkin aku bahas lain kali.

Oke, tahun 2020 kita sempat rencanain pulang ke Indonesia (covid pun melanda), diundur 2021, masih belum juga. Nah, kapan planning anaknya? Kita pun baru sadar, kalau kita selama bertahun-tahun nggak benar-benar fokus buat hamil. Meskipun, selama bertahun itu aku doa yang sama tiap malam sama Tuhan “saat Kau beri aku keturunan, biarlah di saat menurutMu kami sudah siap jadi orang tua, dan bisa berikan kehidupan yang layak buat dia”, always doa yang sama.

Sampai akhirnya aku sembuh dari sakit tiroid di tahun 2021. Tahun 2021, kita rencanain pulang ke Indonesia dulu, baru fokus hamil. Tapi karena covid, harus diundur, sampai akhirnya terealisasi di bulan juni 2022, itupun cuma aku yang berangkat.

Tahun 2021, kita mulai coba hamil, tapi nggak benar-benar hitung tanggal dan sekenanya, masih terbawa suasana peraturan virus covid yang bikin nggak mood dan belum lagi hari-hariku yang sibuk dengan pesanan. Tahun 2022, aku mulai minum vitamin untuk hamil dan lakuin tes di rumah untuk tau tanggal LH aku, mulai sesuaikan dengan applikasi benar-benar hitung tanggal.

Bulan juni aku liburan ke indonesia, 6 minggu yang luar biasa (100% healing). Pulang dari Indonesia sempat flu berat tapi hati benar-benar senang. Aku mulai terima pesanan lagi dan jalani hari-hari yang sibuk, seperti biasa.

Bulan oktober, badan aku sempat nggak fit, tapi harus tetap masak karena udah terima order besar, nggak bisa cancel karena tinggal beberapa hari. Puji Tuhan, aku bisa selesaikan order dengan baik. Karena badanku yang mulai nggak fit sejak oktober, aku mulai sakit-sakitan lagi. Tapi tetap aku sempatin olahraga dan tetap masak.

Selama aku tinggal di belanda, aku termasuk langganan tiap tahun 2 kali kena virus influenza berat, bisa 3 minggu bedrest. Dua tahun terakhir, aku nggak pernah kena lagi, sampai di bulan November virus influenza menyerang (masuk berita juga). Karena kondisi aku yang nggak fit, aku pun tepar. Untuk pertama kali order pempek terpaksa di cancel. Tapi ga cuma itu, yang bikin aku sedih, aku dapat order besar lagi (kesempatan lagi buat ningtok semakin dikenal) dan juga beberapa pesanan kue kering, tapi akhirnya aku harus nolak.

Ntah kenapa, virus influenza kali ini bikin aku kepikiran buat berhenti masak. Tutup. Tanggal 22-11-22 aku curhat chat ke grup keluarga, aku mau berhenti, udah nggak sanggup urus semuanya (selain masak pembukuan, administrasi dll), aku bilang and i mean it. Selama sakit, aku telat datang bulan, aku kira wajar saja. Meski mama suruh aku tes kehamilan.

Sampai akhirnya tanggal 27 november 2022, aku telat 7 hari dan aku tes, akhirnya positif hamil udah 7 minggu. Kado pernikahan ke 10 yang nggak ternilai harganya. Aku ga terima pesanan di NingTok lagi, tapi website tetap aku buka, kembali statusnya jadi hobi. Ternyata Tuhan kasih aku pengalaman baru. Aku mau fokus nikmatin persiapan dan prosesnya jadi orang tua.

Mohon doa buat kehamilanku ya semua 🙏 supaya sehat dan lancar sampai lahiran. Dalam setiap fase kehidupan, tetap mengucap syukur, taat dan andalkan Tuhan. Karena hidup kita milik Dia, biar namaNya dimuliakan di bumi. Amin.