“Tuhan, jika Engkau mempercayakan seorang anak kepadaku, berikanlah di saat aku sudah benar-benar siap dalam berbagai aspek kehidupan.”
Aku masih ingat betul baris doa yang sering kuucapkan dulu. Dan Tuhan menjawabnya dengan presisi yang luar biasa. Pertengahan 2023, di usiaku yang hampir menginjak 35 tahun, anak pertamaku lahir. Kini, di usiaku yang sudah berjalan hampir 38 tahun, pelukanku kian penuh dengan kehadiran anak kedua yang saat ini sudah berusia 6 bulan.
Banyak orang dari luar melihatku sebagai sosok ibu yang tenang. Namun, sebuah kejujuran besar menghantamku sejak pertama kali aku memeluk anak pertamaku: menjadi ibu artinya kita tidak akan pernah benar-benar siap, berapapun umur kita.
Kesiapan materi atau kestabilan hidup di Belanda tidak otomatis membuatku kebal dari rasa takut. Pada saat aku masih terus berduka karena tidak bisa melanjutkan kuliah atau karirku yang memang situasinya tidak mendukung, hidup terus berjalan, saatnya aku hamil dan melahirkan. Kehadiran anak kian membuatku merasa terjebak dan harus mengubur mimpi-mimpiku semakin dalam.
Dampak psikologis ini berjalan beriringan dengan kondisi fisikku yang sangat remuk. Sampai hari ini, tubuhku sering terasa melayang-layang dan terjebak dalam mode fight or flight. Tapi aku tidak punya pilihan selain terus berjuang fight. Beruntung, riwayat perjuanganku menghadapi hipertiroid selama 2,5 tahun dulu memberikan sisi positif: aku menjadi jauh lebih alert dan peka untuk mendengarkan alarm tubuh sendiri.
Kelelahan ekstrem karena mengurus balita aktif dan bayi sekaligus tanpa support system membuatku tetap sering merasa cemas. Ada hari-hari di mana aku kewalahan hingga akhirnya lepas kendali dan marah. Ketika momen itu terjadi, rasa bersalah mom guilt langsung datang menghampiri. Namun, seiring kedewasaan emosional yang berjalan, setelah menenangkan diri, aku otomatis sering menemukan cara untuk memperbaiki situasi dan berdamai kembali dengan anak-anak. Aku sadar, bukan berarti aku bebas dari cemas, melainkan aku lebih mampu memulihkan situasi dan menciptakan lingkungan yang positif kembali setelah konflik terjadi.
Dalam menghadapi naik-turunnya emosi ini, suamiku sangat membantu. Meskipun pada kenyataannya, kami berdua terkadang sama-sama bisa lepas kendali karena benar-benar kelelahan secara fisik akibat beban pekerjaan di samping mengurus dua anak kecil. Kami berjalan bersama dalam ketidaksempurnaan ini.
Selain urusan domestik, perjuangan sosialku di sini juga tidak mudah karena sempat kesulitan menemukan teman dekat dari warga lokal. Lucunya, akhir-akhir ini aku justru mulai bisa masuk dan akrab dengan orang tua dari teman anak pertamaku. Namun sayangnya, tepat saat kami baru mulai saling mengenal dengan baik, waktu kami sudah habis. Kami harus segera pindah melakukan repatriasi kembali ke Indonesia. Semua terasa terlambat.
Perpindahan yang di depan mata, tubuh yang ringkih, serta tanggung jawab atas dua nyawa kecil ini akhirnya memicu satu ketakutan terbesar yang paling sering kualami akhir-akhir ini: momen tentang takut mati. Pikiran-pikiran cemas tentang masa depan anak-anak jika aku tidak ada sering kali berputar di kepala.
Usia menjelang 38 tahun ini tidak membuatku terbebas dari kecemasan atau duka atas mimpi yang terkubur, melainkan memberiku satu hadiah terbesar: keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan diri.
Aku belajar untuk memaafkan tubuhku yang kelelahan, memaafkan duka masa laluku, dan menyadari bahwa semua emosi serta ketakutan ini adalah bagian dari perjalanan. Lelah itu pasti, cemas itu wajar. Namun di sinilah aku sekarang menerima kerapuhan, merayakan kekuatanku dan bersiap menyambut babak baru repatriasi sambil terus menjalani kehidupanku dengan sebaik-baiknya.