Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.