Kebebasan Gila

Bagi orang lain, menjual rumah di Belanda dan melepas karier mapan demi pulang ke rumah kecil di Jogja adalah kenekatan yang gila. Namun di usia menjelang kepala empat, kami sadar bahwa terus bertahan dalam rutinitas tanpa mengejar impian adalah kegilaan yang sesungguhnya. Inilah cerita kami tentang memilih kebebasan.

Keinginan suamiku untuk pindah ke Jogja sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, saat keputusan itu benar-benar kami bulatkan sekarang, hal itu justru menimbulkan pertanyaan buatku: apakah ada kaitannya dengan umurnya yang 2 tahun lagi hampir menginjak 40 tahun? Apakah transisi usia menuju kepala empat ini yang akhirnya mematangkan keberanian kami untuk benar-benar berhenti menunda?

Di luar sana, fase ini sering dicap sebagai puncak kemapanan standar. Kamu seharusnya sudah punya karier stabil di luar negeri, posisi nyaman, dan rencana masa tua yang rapi.

Suamiku dan aku memiliki semua stabilitas itu di Belanda. Dia bekerja sebagai Productie Leider dengan tanggung jawab manajemen yang cukup besar, dan aku sebagai Productie Medewerker Lijm en Buig Specialist—staf ahli teknis.  Untuk hidup di Belanda kami cukup. Namun, tekanan target harian dan rutinitas jam pabrik perlahan mulai menguras fisik serta pikiran.

Memasuki akhir usia 30-an ini serta kehadiran kedua anak kami, aku dan suamiku mulai terbuka mata. Selama ini kami memang tidak pernah hidup dari ekspektasi orang lain. Namun, kami tau kami sedang menjalani rutinitas yang monoton, bukan hidup yang seharusnya; mengejar impian dan sekarang yang terlebih penting fase golden age anak-anak. Kami tidak ingin menghabiskan sisa umur hanya untuk sebuah rutinitas.

Itulah mengapa kami akhirnya mantap mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia. Sebuah langkah yang membuat orang-orang di sekitar kami ada yang berdecak kagum, optimis, ke trigger dan banyak juga yang pesimis kuatir. Ada sebutan nekat, preman bahkan juga dikatai lef hebben (keberanian yang kelewat batas). Sebutan ini aku hargai sebagai pujian tentunya.

Karena bagi kami, ini bukan kenekatan tanpa arah, melainkan enam langkah sadar demi mengejar kebebasan:

Keluar dari pekerjaan yang membesarkan kami. Suamiku meninggalkan posisi leider yang cukup dihormati, dan aku melepas keahlian spesialis yang dibangun bertahun-tahun. Orang luar hanya melihat kenyamanan finansial yang hilang, tanpa tahu harga kesehatan fisik dan mental yang harus kami bayar jika terus bertahan.

Menjual rumah di Belanda. Mempunyai dua rumah di dua tempat (negara berbeda) sangat melelahkan secara emosional. Ada dilema konstan antara ingin menyewakan tapi takut rusak, ditambah urusan perawatan jarak jauh yang menyita energi. Kami memilih menjualnya untuk melepas beban mental itu.

Memilih hidup tanpa beban. Melalui keputusan menjual rumah, kami memilih untuk tidak lagi terikat pada aset fisik. Kami belajar bahwa kenyamanan sejati bukanlah seberapa banyak properti atas nama kita, melainkan tentang fleksibilitas hidup yang ringan dan mandiri dan hal yang paling berharga : menjadi orangtua yang hadir, waktu dengan anak-anak.

Menemukan jawaban dari “beban” sejak 2021. Tahun 2021 lalu, kami membeli sebuah rumah kecil di Jogja. Selama beberapa tahun, rumah kosong ini sempat terasa membebani karena urusan perawatannya dari jauh. Namun, di sinilah plot twist-nya. Rumah ini justru berbalik menjadi jangkar, solusi, dan pemberi keberanian utama bagi kami untuk pindah dari Belanda.

Berhenti menunggu saat pensiun. Dulu kami berpikir baru akan pulang dan menikmati hidup saat tua nanti. Sampai akhirnya kami tahu bahwa hari esok tidak pernah digaransi. Waktu yang sempurna itu mitos. Jika terus menunggu, kita hanya akan menghabiskan masa muda di ruang pabrik.

Menemukan arti kebebasan hakiki. Keluar dari zona nyaman di Eropa membawa kami pada esensi hidup yang sesungguhnya: bebas memilih apa yang ingin kami lakukan karena kami menyukainya. Kami tidak lagi bergerak karena tuntutan, keharusan, atau beban kewajiban yang dikerjakan tanpa ada feel. Segala hal yang kami kerjakan ke depan adalah murni karena kami mau dan antusias.

Meninggalkan kenyamanan Eropa untuk pulang ke Jogja mungkin terdengar ekstrem dan “gila” bagi orang lain. Namun bagi kami, ini adalah sebuah kemenangan. Kami memilih berhenti sekadar bertahan dalam rutinitas, dan mulai benar-benar hidup untuk impian kami sendiri. Kami pulang ke Jogja, membawa bekal pengalaman, dan siap menulis babak baru dengan penuh kedamaian.

Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.