Rasa Onzeker

Belasan tahun terbiasa dengan rutinitas kerja fisik yang kaku, begitu akan repatriasi aku mulai ada gejala cemas. Ini cerita jujur tentang perjuangan melawan rasa onzeker, ketakutan kalau otakku sudah tumpul untuk mulai dari awal lagi, dan keputusan logis untuk melangkah ke babak baru secara step by step.

Saat seseorang menghabiskan waktu belasan tahun melakukan rutinitas yang serba diatur oleh sistem dan lingkungan kerja yang kaku, tanpa sadar mental kita ikut terbatas/dibatasi.

Aku terbiasa merasa nyaman dalam ruang yang sempit. Aku terbiasa menganggap bahwa keputusan-keputusan besar, kebebasan waktu, atau dunia pemikiran yang dinamis adalah hak milik teman-teman yang melewati karier akademis, tidak sepertiku yang bekerja didominasi fisik.

Tanpa sadar, kita jadi merasa selalu berada di level rookie (padahal siapa bilang pekerjaan produksi itu rendah), terlebih karena selama aku bekerja di posisi ini sering kali secara gak langsung merasa direndahkan.

Ketika situasi itu akhirnya berubah dan aku memegang kendali penuh atas hidupku sendiri, otakku seperti mengalami kejutan.

Menjadi manusia yang merdeka atas pilihannya ternyata membutuhkan proses adaptasi mental yang tidak mudah.Rasa ragu ini membuatku terus mempertanyakan kapasitas diri sendiri.

Ada ketakutan akan kalah start, ketakutan bahwa kemampuan berpikirku sudah tumpul, atau ketakutan bahwa rutinitasku yang dulu akan terbawa ke yang baru nanti.

Meskipun ragu tapi aku terus coba kuatkan hati dan menyadari bahwa logikaku harus ambil alih.

Faktanya, keputusan ini diambil bukan karena nekat, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang dipikirkan dengan matang dan berulang.

Keinginan untuk belajar lagi murni karena dorongan internal untuk berkembang, bukan karena mencari penilaian orang lain.

Aku tidak sedang bermimpi. Aku hanya sedang berpindah ruang dan peran.

Mungkin rasa onzeker ini adalah sisa-sisa dari masa lalu yang butuh waktu untuk diubah, dan itu wajar.

Langkah pulang ini bukan sekadar perpindahan lokasi benua, melainkan proses berdamai dengan pikiran sendiri.

Babak baru ini tidak menjanjikan semuanya akan langsung mudah, tetapi setidaknya, kali ini aku melangkah sebagai manusia yang bebas menentukan pilihan sendiri.

Waktu repatriasiku semakin dekat, rumah sudah mendekati proses fix, dan kontrak pekerjaan akan kusudahi 2 minggu lagi. Step by step, dan semuanya pasti akan menemukan bentuknya yang baru.

Kebebasan Gila

Bagi orang lain, menjual rumah di Belanda dan melepas karier mapan demi pulang ke rumah kecil di Jogja adalah kenekatan yang gila. Namun di usia menjelang kepala empat, kami sadar bahwa terus bertahan dalam rutinitas tanpa mengejar impian adalah kegilaan yang sesungguhnya. Inilah cerita kami tentang memilih kebebasan.

Keinginan suamiku untuk pindah ke Jogja sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, saat keputusan itu benar-benar kami bulatkan sekarang, hal itu justru menimbulkan pertanyaan buatku: apakah ada kaitannya dengan umurnya yang 2 tahun lagi hampir menginjak 40 tahun? Apakah transisi usia menuju kepala empat ini yang akhirnya mematangkan keberanian kami untuk benar-benar berhenti menunda?

Di luar sana, fase ini sering dicap sebagai puncak kemapanan standar. Kamu seharusnya sudah punya karier stabil di luar negeri, posisi nyaman, dan rencana masa tua yang rapi.

Suamiku dan aku memiliki semua stabilitas itu di Belanda. Dia bekerja sebagai Productie Leider dengan tanggung jawab manajemen yang cukup besar, dan aku sebagai Productie Medewerker Lijm en Buig Specialist—staf ahli teknis.  Untuk hidup di Belanda kami cukup. Namun, tekanan target harian dan rutinitas jam pabrik perlahan mulai menguras fisik serta pikiran.

Memasuki akhir usia 30-an ini serta kehadiran kedua anak kami, aku dan suamiku mulai terbuka mata. Selama ini kami memang tidak pernah hidup dari ekspektasi orang lain. Namun, kami tau kami sedang menjalani rutinitas yang monoton, bukan hidup yang seharusnya; mengejar impian dan sekarang yang terlebih penting fase golden age anak-anak. Kami tidak ingin menghabiskan sisa umur hanya untuk sebuah rutinitas.

Itulah mengapa kami akhirnya mantap mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia. Sebuah langkah yang membuat orang-orang di sekitar kami ada yang berdecak kagum, optimis, ke trigger dan banyak juga yang pesimis kuatir. Ada sebutan nekat, preman bahkan juga dikatai lef hebben (keberanian yang kelewat batas). Sebutan ini aku hargai sebagai pujian tentunya.

Karena bagi kami, ini bukan kenekatan tanpa arah, melainkan enam langkah sadar demi mengejar kebebasan:

Keluar dari pekerjaan yang membesarkan kami. Suamiku meninggalkan posisi leider yang cukup dihormati, dan aku melepas keahlian spesialis yang dibangun bertahun-tahun. Orang luar hanya melihat kenyamanan finansial yang hilang, tanpa tahu harga kesehatan fisik dan mental yang harus kami bayar jika terus bertahan.

Menjual rumah di Belanda. Mempunyai dua rumah di dua tempat (negara berbeda) sangat melelahkan secara emosional. Ada dilema konstan antara ingin menyewakan tapi takut rusak, ditambah urusan perawatan jarak jauh yang menyita energi. Kami memilih menjualnya untuk melepas beban mental itu.

Memilih hidup tanpa beban. Melalui keputusan menjual rumah, kami memilih untuk tidak lagi terikat pada aset fisik. Kami belajar bahwa kenyamanan sejati bukanlah seberapa banyak properti atas nama kita, melainkan tentang fleksibilitas hidup yang ringan dan mandiri dan hal yang paling berharga : menjadi orangtua yang hadir, waktu dengan anak-anak.

Menemukan jawaban dari “beban” sejak 2021. Tahun 2021 lalu, kami membeli sebuah rumah kecil di Jogja. Selama beberapa tahun, rumah kosong ini sempat terasa membebani karena urusan perawatannya dari jauh. Namun, di sinilah plot twist-nya. Rumah ini justru berbalik menjadi jangkar, solusi, dan pemberi keberanian utama bagi kami untuk pindah dari Belanda.

Berhenti menunggu saat pensiun. Dulu kami berpikir baru akan pulang dan menikmati hidup saat tua nanti. Sampai akhirnya kami tahu bahwa hari esok tidak pernah digaransi. Waktu yang sempurna itu mitos. Jika terus menunggu, kita hanya akan menghabiskan masa muda di ruang pabrik.

Menemukan arti kebebasan hakiki. Keluar dari zona nyaman di Eropa membawa kami pada esensi hidup yang sesungguhnya: bebas memilih apa yang ingin kami lakukan karena kami menyukainya. Kami tidak lagi bergerak karena tuntutan, keharusan, atau beban kewajiban yang dikerjakan tanpa ada feel. Segala hal yang kami kerjakan ke depan adalah murni karena kami mau dan antusias.

Meninggalkan kenyamanan Eropa untuk pulang ke Jogja mungkin terdengar ekstrem dan “gila” bagi orang lain. Namun bagi kami, ini adalah sebuah kemenangan. Kami memilih berhenti sekadar bertahan dalam rutinitas, dan mulai benar-benar hidup untuk impian kami sendiri. Kami pulang ke Jogja, membawa bekal pengalaman, dan siap menulis babak baru dengan penuh kedamaian.

Waktu adalah Kunci

Ternyata, waktu adalah kunci.

Pagi ini saat sedang memandang cermin, ingatanku kembali mundur ke beberapa tahun lalu. Di usia 24 tahun, keputusan untuk menikah diambil. Sebuah langkah besar yang membawa kebahagiaan, sekaligus mengubur dalam-dalam ambisi akademis. Selama bertahun-tahun, narasi sebagai “korban keadaan” diam-diam kurawat di dalam kepala. Rasa kehilangan masa muda dan mimpi kuliah lagi demi komitmen domestik terasa begitu heroik, sekaligus menyedihkan.

Namun akhir-akhir ini, kesadaran baru mulai menggoyang egoku.

Saat mencoba duduk tenang, menarik diri dari bias emosional, dan menganalisis rutinitas harian dengan kepala dingin, ada hal mengejutkan yang ditemukan. Ternyata tidak ada yang benar-benar hilang. Ada celah yang selama ini luput dari pandangan: waktu.

Sebagai generasi milenial, kepanikan oleh angka usia sering kali datang terlalu cepat. Aku sempat merasa bahwa jika sesuatu tidak selesai di usia dua puluhan, maka pintu kesempatan otomatis tertutup. Hidup diukur secara kaku, seolah harus berjalan linear sesuai lini masa orang lain. Padahal, apa yang selama ini kusebut sebagai pengorbanan hanyalah sebuah penundaan—pergeseran prioritas yang wajar.

Hidup ternyata bukan tentang kehilangan, melainkan manajemen antrean. Di usia 24 dulu, giliran terdepan memang harus diberikan pada adaptasi pernikahan dan stabilitas keluarga. Ambisi kuliahku tidak dihancurkan, melainkan hanya diminta duduk manis di ruang tunggu. Sayangnya, ruang tunggu itu sering kusalahartikan sebagai pemakaman, lalu diratapi seolah mimpi telah mati.

Sekarang, ketika badai adaptasi lewat dan ritme hidup mulai stabil, celah-celah waktu itu muncul kembali. Ruang kosong yang dulunya habis untuk kecemasan kini siap diklaim. Sifat waktu ternyata sangat restoratif, memberikan kesempatan kedua untuk menata ulang apa yang sempat tertunda.

Mengejar pendidikan lagi di usia sekarang bukan lagi tentang gaya-gayaan atau sekadar berburu gelar. Ini adalah caraku untuk berdamai dengan masa lalu dan membuktikan bahwa diri ini bukan korban dari keputusan sendiri. Menikah muda adalah pilihan yang kuambil dulu, dan kembali kuliah sekarang adalah kendali yang kupegang hari ini.

Dunia saat ini sudah jauh berbeda, menyediakan banyak fleksibilitas yang dulu tidak ada. Tidak ada alasan lagi untuk memelihara mentalitas korban. Pilihan-pilihan yang dikira sudah terkubur ternyata hanya sedang menunggu giliran untuk dibangunkan. Kunci jawabannya sudah ada di tangan, tinggal bagaimana aku menggunakan celah ini untuk merestorasi mimpi yang sempat tertunda. Semoga.

Mengemas 10 Tahun Dalam 2 Minggu

Semuanya bermula saat kami menghubungi makelar rumah. Rencana awalku adalah mulai mencicil di bulan Agustus tanpa beban. Namun, antusiasme suami mengubah segalanya—tiba-tiba kami hanya punya waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah demi mengejar jadwal foto dan penilaian label energi. Di tengah fisikku yang sangat lelah pascamelahirkan, ritme ini sungguh memacu adrenalin.

Sebelum memilah isi rumah, langkah pertama kami adalah memastikan birokrasi kargo pindahan internasional, mulai dari harga per meter kubik hingga dokumen yang diperlukan. Baru setelah itu, perang melawan isi rumah dimulai.

Ternyata, mengemas sepuluh tahun kehidupan di Belanda tidaklah mudah. Aku terkesima melihat betapa banyak barang bernilai tinggi yang dulu dibeli namun jarang dipakai. Mau dibuang pun terasa seperti cut loss yang terlalu kelewat batas.

Akhirnya, sekitar 20-an dos pindahan siap kami bawa pulang ke Indonesia—termasuk peralatan catering, buku-buku untuk modal usaha, serta dekorasi dan mainan kesayangan agar transisi anak-anak nanti terasa lebih bersahabat.

Namun, jujur saja terselip kecemasan. Rumah kami di Yogya nanti hanya tipe 36, sepertiga dari ukuran hunian kami di Belanda. Tantangan terbesarku nanti adalah menahan diri untuk tidak menambah barang baru dan berkomitmen memaksimalkan apa yang sudah ada. Meski, sebenarnya masih jauh lebih banyak barang yang akhirnya berhasil disingkirkan, dijual, atau didonasikan.

Anak pertamaku dengan polosnya sangat antusias ikut menyortir mainan yang mau dia bagikan ke anak-anak lain. Sedangkan si bayi tentu tidak perduli hal-hal selain tidur dan minum susu!

Melihat gunungan ini, buat aku berpikir kalau saja dari awal tempat tinggal kami lebih kosong, hidup pasti terasa lebih nyaman. Setiap benda ternyata menuntut energi untuk dirawat dan dipikirkan. Di usiaku yang menjelang 38 tahun ini, aku tersadar bahwa pilihan hidup paling sehat adalah—melambat dan hidup dengan lebih sedikit beban bagage (apapun bentuknya).

Pindah ke ruang yang jauh lebih kecil di Yogya itu bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan cara semesta memaksaku menyederhanakan hidup. Lebih sedikit ruang berarti lebih sedikit benda yang menimbun ego, dan lebih banyak area untuk fokus pada apa yang benar-benar esensial: kedekatan bersama keluarga.

Hai aku, 35 Tahun!

Hai Diriku di usia 35 tahun. Aku menulis ini untuk memberi tahumu sebuah rahasia yang mungkin belum kamu sadari saat itu: ternyata kamu sekuat itu.

Aku tahu selama ini kamu sering merasa minder dan menganggap fisikmu lemah karena terus-menerus didera sakit. Kamu sudah melewati tifus, influenza, Covid-19, pfeiffer, hingga hipertiroid Graves.

Bahkan ketika momen yang kamu nantikan tiba, saat kamu akhirnya bisa hamil, tubuhmu dinilai tidak mampu untuk melahirkan secara normal.

Tapi dengarkan aku: semua diagnosis dan keterbatasan itu bukan tanda bahwa kamu lemah. Buktinya, kamu berhasil melewati setiap badai itu satu per satu.

Ingatkah bagaimana beratnya perjuanganmu pasca-persalinan dan masa pemulihan? Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kamu tetap alert, terjaga, dan mengerahkan seluruh jiwamu untuk merawat bayimu, bahkan sampai kedua kalinya. Itu bukan kerja tubuh yang lemah; itu adalah manifestasi kekuatan seorang ibu yang luar biasa.

Memang, tidak ada situasi yang benar-benar ideal dalam hidupmu. Kamu mungkin sering merasa seperti kumpulan hewan dalam film dokumenter Discovery Channel, saat kamu tidak berhasil keep up dengan kelompokmu. Kamu kehilangan arah dan sempat tersesat. Namun, yang membuatku sangat bangga padamu adalah: kamu menolak untuk menyerah pada kehidupan.

Tertinggal? Ternyata tidak. Kamu tidak pernah benar-benar tertinggal. Kamu hanya punya jalanmu sendiri, waktu pertumbuhanmu sendiri.

Hidup setiap manusia sangat unik, itu betul. Tuhan tahu ada kalanya manusia merasa tidak spesial dan tidak berharga, tetapi nyatanya tidak begitu. Cerita kehidupan kita adalah milik kita sendiri yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapapun. Percayalah, selalu ada maksud di balik semua kejadian.

Tiba saatnya kesempatan itu akhirnya datang menghampirimu. Di momen itu, sudut pandangmu berubah sepenuhnya. Kamu tidak lagi melihat ketertinggalanmu sebagai sebuah masalah.

Kamu berhasil mengubah semua itu menjadi kekuatan penuh dan pelajaran berharga, jubah yang akhirnya bisa kamu pakai untuk menikmati setiap tantangan di depan mata.

Dan sekarang, saatnya kamu pulang. Ada cahaya di ujung sana, ada jalan pulang yang menantimu. Modalmu untuk pulang ada di jubahmu yang kamu bangun sepanjang perjalanan pulang. Kamu pulang bukan lagi orang yang sama, tapi sosok yang jauh lebih tangguh, bijaksana, dan utuh. Setiap jengkal benang di jubah itu dirajut dari rasa sakit yang berhasil kamu lalui, kesabaran yang kamu pupuk, dan keberanian untuk terus berjalan saat kehilangan arah.

Apakah rasanya akan sama seperti sebelum kamu tersesat? Kamu tidak tahu. Tetapi di balik cahaya itu, selalu ada kesempatan untuk sembuh dan beristirahat sejenak.

Lebih dari itu, ada petualangan baru yang sudah menantimu untuk dijalani. Kamu bisa catch up lagi, bahkan bisa menikmati kehidupan ini dengan caramu sendiri, cara unik yang tidak bisa ditiru orang lain.

Terima kasih karena telah bertahan dan menolak menyerah, hingga aku bisa berdiri di sini hari ini dan melihat betapa hebatnya kamu.

Tidak Berhak Mengeluh

Hari ini, ingatan itu kembali mengetuk pintu hati dengan sangat keras. Melihat perjuangan adik sepupuku yang sedang berhadapan dengan luka operasi dan baby blues-nya, seketika melempar diriku kembali ke masa lalu. Ke sebuah ruang gelap en dingin di tanah rantau ini, tempat di mana seluruh luka dan air mataku membeku tanpa pernah sempat dicairkan.

Sejak awal menginjakkan kaki di Belanda, rasa sepi sudah menjadi teman akrab yang tak pernah pergi. Sendirian. Kalimat itu bukan sekadar status fisik, melainkan sebuah hantaman emosional yang nyata. Rasa sepi itu memuncak, bergulir dari masa kehamilan, hingga puncaknya ketika perutku harus dibelah melalui operasi caesar. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Dua kali mengalami operasi besar di negeri orang tanpa dekapan seorang mama. Tanpa kehadiran keluarga besar yang menenangkan. Tanpa sahabat yang bisa mendengarkan tangisan tanpa perlu dihakimi.

Namun, bagian paling menyakitkan dari semua perjuangan ini bukanlah rasa nyeri di bekas jahitan yang ditarik paksa saat harus mengurus bayi. Bagian paling menyiksa adalah sebuah kalimat yang terus berdengung dari orang-orang sekitar: “Kamu beruntung.”

Kata “beruntung” itu perlahan menjelma menjadi penjara emosional yang sangat rapat. Karena dianggap beruntung hidup di luar negeri, karena dianggap beruntung bisa memiliki anak sementara kakak kandungku sendiri di sini harus tertatih-tatih menghadapi kegagalan program hamil (IVF) yang tiada habisnya. Lingkungan dan keadaan seolah secara sepihak mencabut hakku untuk mengeluh.

Aku dipaksa memakai topeng “wanita tangguh yang beruntung”. Aku harus menahan diri, menelan semua rasa hancur, kelelahan yang luar biasa, dan kehampaan pascamelahirkan, hanya agar tidak dicap sebagai orang yang kurang bersyukur. Aku harus menjaga perasaan semua orang, melindungi emosi kakakku yang selalu dalam posisi dikasihani, sampai aku lupa bahwa jiwaku sendiri sedang menjerit kehabisan napas.

Aku merasa tidak berhak mengeluh. Seolah-olah rasa perih fisik dan hancurnya mental setelah dua kali SC ini adalah harga murah yang harus kubayar diam-diam tanpa boleh bersuara. Setiap kali air mata ingin menetes, rasa bersalah langsung menyergap, mengingatkanku bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung.

Hari ini, melalui cerita adikku, aku akhirnya berani mengakui pada diriku sendiri: Aku hancur. Perjalananku di sini sangat sepi, sangat berat, dan aku berhak untuk merasa terluka. Menjadi seorang ibu dan memiliki anak tidak serta-merta menghapus trauma dari pengabaian emosional yang kualami. Aku bersyukur atas anak-anakku, tetapi aku juga berhak menangisi malam-malam sepi yang harus kulewati sendirian tanpa sandaran.

Kepada diriku di masa lalu yang selalu dipaksa kuat: Maafkan aku karena baru berani menyuarakan rasa sakitmu hari ini. Kamu hebat, kamu sudah bertahan melewati badai tersunyi di negeri kincir angin ini. Dan kini, perlahan, aku ingin melepaskan topeng itu en memberikan ruang bagi hatiku yang hancur untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen

We staan op het punt om te verhuizen en realiseren ons hoeveel we gaan missen: de kleine dagelijkse dingen, de wandelingen, de rust en het leven in Nederland.

Baca juga versi Bahasa Indonesia dari cerita ini:

Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah

Vanochtend had ik een afspraak bij de fysio. Omdat papa van de kinderen aan het werk is, moest ik alleen gaan met de kinderen. Eén van de dingen die ik het meest ga missen van ons huis hier, is hoe makkelijk alles dichtbij is. De fysio, huisarts, tandarts, supermarkt, scholen van peuterspeelzaal tot middelbare school, bushaltes en het treinstation… alles is gewoon op loopafstand.

Maar eigenlijk is dat niet het enige wat ik ga missen. Het zijn juist de kleine, gewone momenten. De wandelingen over de rustige paadjes, de frisse koude wind op je gezicht, de schone lucht, en overal kleine speeltuintjes langs de weg. Dingen die nu zo normaal voelen, maar eigenlijk best bijzonder zijn.

In Indonesië zal dat anders zijn. Misschien niet meer even snel even lopen naar een afspraak of boodschap. Misschien geen rustige wandelpaden meer waar je zomaar even kunt genieten van de ochtend. En misschien ook niet overal speeltuintjes in de buurt zoals hier.

Maar de laatste tijd zie ik ook iets anders. Via social media van andere ouders in Indonesië zie ik hoe blij kinderen daar zijn. Ze rennen door mooie natuur, spelen op het strand, ontdekken bergen, spelen in de regen, voeren dieren, of brengen hun tijd door in parken en buitenruimtes. En ook binnen is er veel: grote speeltuinen, interactieve musea, science centers en allerlei creatieve plekken waar kinderen zich helemaal kunnen uitleven.

Misschien ziet geluk er gewoon anders uit, afhankelijk van waar je bent.

Kinderen tellen niet hoeveel speeltuinen er binnen een straal van 500 meter zijn. Ze vragen zich niet af of ze er lopend naartoe kunnen of dat ze gebracht moeten worden. Ze vinden plezier in het spelen zelf, in samen zijn, in ontdekken.

En misschien leer ik daar zelf ook van. Ja, er zijn dingen die we gaan missen. Dingen die heel vanzelfsprekend voelen nu, maar straks niet meer. Maar tegelijk komen er ook nieuwe dingen voor terug, dingen die we nu nog niet eens kunnen voorstellen.

Terwijl ik vanochtend met de kinderen naar de fysio liep, besefte ik weer dat het meestal niet de grote dingen zijn die je het meest bijblijven. Het zijn juist die kleine dagelijkse routines: overal naartoe kunnen lopen, frisse ochtendlucht, kinderen die rennen naar een speeltuintje onderweg… dat soort momenten die je dag vullen zonder dat je het doorhebt.

Maar ik geloof ook dat ons nieuwe huis straks weer andere verhalen zal brengen. Verhalen die nu nog onbekend zijn, maar die later misschien net zo dierbaar zullen worden.

Want uiteindelijk leren kinderen ons iets heel belangrijks: niet te veel stilstaan bij wat was of wat komt, maar gewoon leven in het moment. Ze willen spelen, lachen en zich veilig en geliefd voelen.

En misschien is dat eigenlijk alles wat echt nodig is.

Want zolang er ruimte is om te spelen, mensen die van je houden, en nieuwe dingen om te ontdekken, vindt geluk altijd wel zijn weg. ❤️


Lees ook

  • Waarom we terugverhuizen naar Indonesië
  • Wat we gaan missen aan ons leven in Nederland
  • Opvoeden tussen twee culturen
  • Ons leven als gezin in Nederland
  • De kleine dingen die je pas waardeert als je ze achterlaat

Categorie: Gezin, Emigratie, Ouderschap, Leven in Nederland, Reflectie

Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah

Menjelang kepindahan ke Indonesia, saya menyadari bahwa yang paling akan dirindukan bukan hanya fasilitas yang dekat dan mudah dijangkau, tetapi juga rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa. Tentang perpisahan, adaptasi, dan kebahagiaan anak-anak yang selalu menemukan jalannya.

Lees ook de Nederlandse versie van dit verhaal:

De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen

Pagi ini aku ada jadwal ke fysio. Karena papa anak-anak sedang bekerja, aku harus pergi sendiri ditemani anak-anak. Salah satu hal yang akan paling kurindukan dari rumah kami yang sekarang adalah kemudahan akses ke mana-mana. Ke fysio, dokter, dokter gigi, supermarket, sekolah dari TK sampai SMA, halte bus, stasiun kereta api, dan banyak fasilitas lainnya, semuanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tapi ternyata bukan hanya itu yang akan dirindukan. Ada juga momen-momen sederhana yang selama ini terasa biasa saja: JJS melewati jalan setapak yang tenang, merasakan angin sejuk yang dingin menyentuh wajah, menghirup udara segar, dan menemukan taman bermain di hampir setiap sudut perjalanan. Hal-hal kecil yang menjadi bagian dari keseharian kami tanpa pernah benar-benar disadari betapa berharganya.

Tapi di Indonesia, semuanya akan berbeda. Mungkin tidak lagi semudah keluar rumah lalu berjalan kaki beberapa menit ke tempat tujuan. Mungkin tidak ada lagi jalan setapak yang nyaman untuk berjalan santai sambil menikmati udara pagi. Mungkin taman bermain tidak lagi hadir di setiap lingkungan yang kami lewati.

Namun belakangan ini aku juga menyadari sesuatu. Dari status dan cerita teman-teman yang memiliki anak kecil di Indonesia, aku melihat anak-anak mereka tumbuh dengan bahagia. Mereka berlarian di alam yang indah, bermain pasir di pantai, menjelajah pegunungan, bermain hujan-hujanan, memberi makan hewan, atau sekadar menghabiskan sore di taman dan ruang terbuka. Di sisi lain, pilihan tempat bermain dalam ruangan juga tidak kalah seru dan semakin beragam. Playground yang besar, museum interaktif, pusat sains, hingga berbagai aktivitas kreatif yang membuat anak-anak betah bereksplorasi.

Mungkin bentuk kebahagiaannya saja yang berbeda.

Anak-anak tidak menghitung berapa banyak taman bermain yang ada dalam radius beberapa ratus meter dari rumah. Mereka tidak membandingkan apakah bisa berjalan kaki ke sana atau harus naik kendaraan terlebih dahulu. Mereka menemukan kegembiraan dari pengalaman, dari kebersamaan, dan dari kesempatan untuk bermain serta mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.

Di situlah aku belajar melihat perpindahan ini dari sudut pandang yang lain. Ya, ada banyak hal yang akan kami rindukan. Ada kenyamanan yang harus kami tinggalkan. Ada rutinitas yang tidak akan sama lagi. Namun pada saat yang sama, ada banyak hal baru yang menunggu untuk ditemukan.

Saat berjalan menuju fysio pagi ini bersama anak-anak, aku kembali diingatkan bahwa yang paling sulit ditinggalkan sering kali bukanlah hal-hal besar. Justru rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa: berjalan kaki ke mana-mana, menikmati udara pagi yang segar, melihat anak-anak berlari menuju taman bermain, dan perjalanan-perjalanan kecil yang membentuk keseharian kami.

Namun aku juga percaya, rumah yang baru nantinya akan menghadirkan cerita-cerita kecil yang lain. Cerita yang saat ini belum bisa kubayangkan, tetapi suatu hari mungkin akan kami kenang dan rindukan dengan cara yang sama.

Karena pada akhirnya, anak-anak punya kemampuan luar biasa untuk mengajarkan orang tuanya tentang beradaptasi. Mereka tidak terlalu sibuk membandingkan masa lalu dengan masa depan. Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan merasa dicintai.

Dan mungkin itulah yang terpenting.

Sebab selama ada ruang untuk bermain, kesempatan untuk bertumbuh, dan orang-orang yang mencintai mereka, kebahagiaan akan selalu menemukan jalannya. ❤️


Baca juga

  • Mengapa Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia
  • Hal-Hal yang Akan Kami Rindukan dari Kehidupan di Belanda
  • Membesarkan Anak di Antara Dua Budaya
  • Ketika Rumah Bukan Lagi Sekadar Sebuah Tempat
  • Pelajaran Berharga Selama Tinggal di Belanda

Kategori: Keluarga, Migrasi, Parenting, Kehidupan di Belanda, Refleksi

De Batik van Oma

Ik was een paar dagen in Jogja om mijn moeder blij te maken, maar ik werd ziek en was erg moe. Het hotel had ook problemen. Mijn moeder zorgde goed voor me, gaf me massage met olie, bad voor me en dekte me toe met een batik van mijn oma uit Sragen. Ze zei dat ik die batik ook moet gebruiken als ze er niet is, zodat ik snel beter word en hopelijk snel zwanger raak. Ik vond het lief en grappig tegelijk.

Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:

Batik lungsuran si mbah

12 augustus 2022

De batik van oma.

De afgelopen dagen in Jogja wilde ik eigenlijk mijn moeder blij maken.
Ik was helemaal uitgeput en ook ziek geweest, en er was ook nog iets mis met het hotel.
Weer zo’n moment waarop ik leer van moeders: hun liefde lijkt soms overdreven, niet logisch en best grappig,
maar het is een onvoorwaardelijke liefde voor hun kinderen.
Ook al uiten ze het bij elk kind op een andere manier.

Een batik die van mijn oma uit Sragen is geweest, voor mijn moeder.
Toen ik ziek was, werd ik gemasseerd met kutus-kutus olie, er werd voor me gebeden,
en ik werd toegedekt met deze batik.

Dit was mijn reactie toen: met mijn ogen rollen terwijl ik mijn best deed niet te lachen.
Terwijl ze me toedekte zei mijn moeder:
“Als je straks ziek bent en mama er niet is (in Nederland), gebruik dan deze batik van oma om je toe te dekken,
dan word je snel beter en hopelijk raak je snel zwanger, oké?”

Ik zei: “ja mam,” terwijl ik een beetje moest glimlachen.

Cinta yang ngga egois

Refleksi liburan Juni 2022 tentang cinta tanpa ego: menikah, hidup jauh dari keluarga, belajar merelakan, dan mencintai dengan tulus tanpa takut kehilangan.

Baca juga versi bahasa Belanda: Liefde zonder ego

Liburan di bulan Juni 2022 ini ngajarin aku cinta yang ngga egois, yang memberi apapun bentuknya.

Menikah, ninggalin semuanya, hidup baru jauh dari orang-orang yang aku kasihi, punya orang-orang baru lagi yang juga dikasihi sama.

Tapi aku ga pernah merasa puas, karena aku tau ga akan pernah bisa physically dekat mereka secara bersamaan, terpisah 6 minggu dari suami, bahkan sedetik aja hal buruk bisa terjadi, jadi parno sendiri. And i feel loved, the way he let me go for it.

Setelah 8 tahun ga pulang ke Indonesia. Banyak yang berubah, banyak cerita, bangunan, sistem, hubungan, emosi, orang-orang berubah dan menua. Papa pernah bilang 1 tahun itu sebentar dan banyak yang bakal berubah, saat dia telpon suruh aku pulang ke rumah dari merantau ke tanah bugis. And once again you’re right dad. Sedih but no regret, bisa lebih lama habisin waktu bareng papa.

Semakin aku gede, semakin sadar kita ga bisa kontrol takdir, keadaan. Tapi kita punya pilihan.

Then, dari situ aku sadar. Cinta itu bukan untuk digenggam tapi dilepas, memberi tanpa pamrih, and let them feel they are truly loved. Kita hanya bisa memilih untuk memberi cinta yang tulus, kata mama maksimal en kita ga akan takut kehilangan or ga dibalas. Karena itu murni en ikhlas, ga dibuat-buat.