Rasa Onzeker

Belasan tahun terbiasa dengan rutinitas kerja fisik yang kaku, begitu akan repatriasi aku mulai ada gejala cemas. Ini cerita jujur tentang perjuangan melawan rasa onzeker, ketakutan kalau otakku sudah tumpul untuk mulai dari awal lagi, dan keputusan logis untuk melangkah ke babak baru secara step by step.

Saat seseorang menghabiskan waktu belasan tahun melakukan rutinitas yang serba diatur oleh sistem dan lingkungan kerja yang kaku, tanpa sadar mental kita ikut terbatas/dibatasi.

Aku terbiasa merasa nyaman dalam ruang yang sempit. Aku terbiasa menganggap bahwa keputusan-keputusan besar, kebebasan waktu, atau dunia pemikiran yang dinamis adalah hak milik teman-teman yang melewati karier akademis, tidak sepertiku yang bekerja didominasi fisik.

Tanpa sadar, kita jadi merasa selalu berada di level rookie (padahal siapa bilang pekerjaan produksi itu rendah), terlebih karena selama aku bekerja di posisi ini sering kali secara gak langsung merasa direndahkan.

Ketika situasi itu akhirnya berubah dan aku memegang kendali penuh atas hidupku sendiri, otakku seperti mengalami kejutan.

Menjadi manusia yang merdeka atas pilihannya ternyata membutuhkan proses adaptasi mental yang tidak mudah.Rasa ragu ini membuatku terus mempertanyakan kapasitas diri sendiri.

Ada ketakutan akan kalah start, ketakutan bahwa kemampuan berpikirku sudah tumpul, atau ketakutan bahwa rutinitasku yang dulu akan terbawa ke yang baru nanti.

Meskipun ragu tapi aku terus coba kuatkan hati dan menyadari bahwa logikaku harus ambil alih.

Faktanya, keputusan ini diambil bukan karena nekat, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang dipikirkan dengan matang dan berulang.

Keinginan untuk belajar lagi murni karena dorongan internal untuk berkembang, bukan karena mencari penilaian orang lain.

Aku tidak sedang bermimpi. Aku hanya sedang berpindah ruang dan peran.

Mungkin rasa onzeker ini adalah sisa-sisa dari masa lalu yang butuh waktu untuk diubah, dan itu wajar.

Langkah pulang ini bukan sekadar perpindahan lokasi benua, melainkan proses berdamai dengan pikiran sendiri.

Babak baru ini tidak menjanjikan semuanya akan langsung mudah, tetapi setidaknya, kali ini aku melangkah sebagai manusia yang bebas menentukan pilihan sendiri.

Waktu repatriasiku semakin dekat, rumah sudah mendekati proses fix, dan kontrak pekerjaan akan kusudahi 2 minggu lagi. Step by step, dan semuanya pasti akan menemukan bentuknya yang baru.