Rasa Onzeker

Belasan tahun terbiasa dengan rutinitas kerja fisik yang kaku, begitu akan repatriasi aku mulai ada gejala cemas. Ini cerita jujur tentang perjuangan melawan rasa onzeker, ketakutan kalau otakku sudah tumpul untuk mulai dari awal lagi, dan keputusan logis untuk melangkah ke babak baru secara step by step.

Saat seseorang menghabiskan waktu belasan tahun melakukan rutinitas yang serba diatur oleh sistem dan lingkungan kerja yang kaku, tanpa sadar mental kita ikut terbatas/dibatasi.

Aku terbiasa merasa nyaman dalam ruang yang sempit. Aku terbiasa menganggap bahwa keputusan-keputusan besar, kebebasan waktu, atau dunia pemikiran yang dinamis adalah hak milik teman-teman yang melewati karier akademis, tidak sepertiku yang bekerja didominasi fisik.

Tanpa sadar, kita jadi merasa selalu berada di level rookie (padahal siapa bilang pekerjaan produksi itu rendah), terlebih karena selama aku bekerja di posisi ini sering kali secara gak langsung merasa direndahkan.

Ketika situasi itu akhirnya berubah dan aku memegang kendali penuh atas hidupku sendiri, otakku seperti mengalami kejutan.

Menjadi manusia yang merdeka atas pilihannya ternyata membutuhkan proses adaptasi mental yang tidak mudah.Rasa ragu ini membuatku terus mempertanyakan kapasitas diri sendiri.

Ada ketakutan akan kalah start, ketakutan bahwa kemampuan berpikirku sudah tumpul, atau ketakutan bahwa rutinitasku yang dulu akan terbawa ke yang baru nanti.

Meskipun ragu tapi aku terus coba kuatkan hati dan menyadari bahwa logikaku harus ambil alih.

Faktanya, keputusan ini diambil bukan karena nekat, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang dipikirkan dengan matang dan berulang.

Keinginan untuk belajar lagi murni karena dorongan internal untuk berkembang, bukan karena mencari penilaian orang lain.

Aku tidak sedang bermimpi. Aku hanya sedang berpindah ruang dan peran.

Mungkin rasa onzeker ini adalah sisa-sisa dari masa lalu yang butuh waktu untuk diubah, dan itu wajar.

Langkah pulang ini bukan sekadar perpindahan lokasi benua, melainkan proses berdamai dengan pikiran sendiri.

Babak baru ini tidak menjanjikan semuanya akan langsung mudah, tetapi setidaknya, kali ini aku melangkah sebagai manusia yang bebas menentukan pilihan sendiri.

Waktu repatriasiku semakin dekat, rumah sudah mendekati proses fix, dan kontrak pekerjaan akan kusudahi 2 minggu lagi. Step by step, dan semuanya pasti akan menemukan bentuknya yang baru.

Sebulan Tanpa Lotion: I’m fine!

Eksperimen sebulan hidup minimalis tanpa lotion dan skincare berlapis. Sebuah refleksi tentang pergeseran makna dari sekadar beauty routine menjadi self-care yang sejati.

Sudah sekitar satu bulan aku mencoba hidup dengan lebih sedikit produk kecantikan. Awalnya cuma ingin bereksperimen. Setelah beberapa bulan hampir tidak punya waktu untuk merawat diri seperti dulu, aku penasaran: sebenarnya apa yang benar-benar kubutuhkan?

Aku memulainya dari langkah yang paling sederhana. Aku berhenti memakai lotion setiap hari. Penggunaan makeup juga kuminimalisir. Untuk wajah, pagi dan malam aku lebih sering hanya membilasnya dengan air. Kalaupun sedang memakai makeup, aku akan membersihkannya dengan lembut tanpa rutinitas panjang berlapis-lapis seperti dulu.

Dan ternyata… aku baik-baik saja.

Kulitku tidak tiba-tiba rusak. Aku juga tidak merasa menjadi kurang cantik hanya karena tidak memakai banyak produk. Malah ada sesuatu yang jauh lebih terasa di dalam sini: aku merasa lebih ringan.

Dulu, merawat diri kadang terasa seperti daftar pekerjaan (to-do list) yang melelahkan dan harus dicentang. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan hanya kalau memang aku sedang membutuhkannya.

Kalau kulit terasa kering, ya pakai pelembap. Kalau sedang ingin memakai makeup, ya berdandan. Namun, kalau mau keluar rumah hanya dengan wajah polos dan rambut diikat, ya sudah. Aku tidak lagi merasa harus selalu “siap tampil” di depan semua orang.

Lucunya, setelah sebulan menjalani ini, aku malah merasa rutinitasku yang sekarang pun masih terlalu ribet. Aku mulai berpikir, mungkin aku bisa menyederhanakannya lagi.

Menggeser Konsep: Dari Beauty Routine Menjadi Self-Care

Perjalanan satu bulan ini membuatku melihat perbedaan besar antara merawat penampilan dan merawat diri. Dulu, aku menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengurus penampilan luar. Sekarang, fokusku bergeser total. Aku ingin memberikan perhatian lebih pada esensi merawat diri yang sesungguhnya.

Apalagi sebentar lagi kami akan kembali ke Yogya. Aku mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana dan memiliki lebih banyak waktu luang bersama anak-anak.

Di sana nanti, aku tidak harus setiap hari bertemu banyak orang seperti saat masih aktif bekerja. Tidak harus selalu berdandan sebelum melangkah keluar rumah. Aku tidak perlu lagi merasa tertekan untuk terlihat sempurna setiap kali berada di ruang publik. Rasanya sangat membebaskan saat menyadari bahwa keluar dengan wajah polos tanpa riasan itu sepenuhnya sah-sah saja.

Justru uang dan waktu yang dulu habis untuk berbagai produk kecantikan, kini ingin kualihkan ke hal-hal lain. Sesuatu yang menurutku benar-benar membuatku merasa “dirawat” lahir dan batin:

  • Menikmati pijat refleksi sebulan sekali.
  • Pergi ke salon untuk merapikan rambut dengan tenang.
  • Menyempatkan diri untuk healing sesekali.
  • Memiliki me time berkualitas untuk berjalan-jalan sendiri.
  • Makan dengan tenang atau cuma duduk minum kopi tanpa harus terburu-buru.

Memilih Merasa Lebih Baik

Pada akhirnya, aku sadar bahwa yang kucari selama ini bukan sekadar ingin terlihat lebih cantik di mata orang lain. Aku hanya ingin merasa lebih baik dengan diriku sendiri.

Dan mungkin, itulah yang sekarang ingin kusebut sebagai self-care yang nyata. Bukan tentang seberapa banyak produk yang kita miliki atau seberapa rumit rutinitas yang kita jalani. Melainkan tentang seberapa tahu kita pada apa yang benar-benar membuat kita merasa bahagia dan tenang.

Sebulan ini aku belajar satu hal penting: ternyata aku tidak membutuhkan produk sebanyak yang selama ini kupikirkan.

Semakin sedikit hal yang perlu kupikirkan tentang penampilan fisik, semakin banyak ruang yang tersisa di kepala dan hatiku untuk hal-hal lain yang jauh lebih berharga. Anak-anak, keluarga, kesehatan, waktu, dan sebuah kehidupan yang ingin kujalani dengan lebih banyak napas panjang.