Sebulan Tanpa Lotion: I’m fine!

Eksperimen sebulan hidup minimalis tanpa lotion dan skincare berlapis. Sebuah refleksi tentang pergeseran makna dari sekadar beauty routine menjadi self-care yang sejati.

Sudah sekitar satu bulan aku mencoba hidup dengan lebih sedikit produk kecantikan. Awalnya cuma ingin bereksperimen. Setelah beberapa bulan hampir tidak punya waktu untuk merawat diri seperti dulu, aku penasaran: sebenarnya apa yang benar-benar kubutuhkan?

Aku memulainya dari langkah yang paling sederhana. Aku berhenti memakai lotion setiap hari. Penggunaan makeup juga kuminimalisir. Untuk wajah, pagi dan malam aku lebih sering hanya membilasnya dengan air. Kalaupun sedang memakai makeup, aku akan membersihkannya dengan lembut tanpa rutinitas panjang berlapis-lapis seperti dulu.

Dan ternyata… aku baik-baik saja.

Kulitku tidak tiba-tiba rusak. Aku juga tidak merasa menjadi kurang cantik hanya karena tidak memakai banyak produk. Malah ada sesuatu yang jauh lebih terasa di dalam sini: aku merasa lebih ringan.

Dulu, merawat diri kadang terasa seperti daftar pekerjaan (to-do list) yang melelahkan dan harus dicentang. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai sesuatu yang boleh dilakukan hanya kalau memang aku sedang membutuhkannya.

Kalau kulit terasa kering, ya pakai pelembap. Kalau sedang ingin memakai makeup, ya berdandan. Namun, kalau mau keluar rumah hanya dengan wajah polos dan rambut diikat, ya sudah. Aku tidak lagi merasa harus selalu “siap tampil” di depan semua orang.

Lucunya, setelah sebulan menjalani ini, aku malah merasa rutinitasku yang sekarang pun masih terlalu ribet. Aku mulai berpikir, mungkin aku bisa menyederhanakannya lagi.

Menggeser Konsep: Dari Beauty Routine Menjadi Self-Care

Perjalanan satu bulan ini membuatku melihat perbedaan besar antara merawat penampilan dan merawat diri. Dulu, aku menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengurus penampilan luar. Sekarang, fokusku bergeser total. Aku ingin memberikan perhatian lebih pada esensi merawat diri yang sesungguhnya.

Apalagi sebentar lagi kami akan kembali ke Yogya. Aku mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana dan memiliki lebih banyak waktu luang bersama anak-anak.

Di sana nanti, aku tidak harus setiap hari bertemu banyak orang seperti saat masih aktif bekerja. Tidak harus selalu berdandan sebelum melangkah keluar rumah. Aku tidak perlu lagi merasa tertekan untuk terlihat sempurna setiap kali berada di ruang publik. Rasanya sangat membebaskan saat menyadari bahwa keluar dengan wajah polos tanpa riasan itu sepenuhnya sah-sah saja.

Justru uang dan waktu yang dulu habis untuk berbagai produk kecantikan, kini ingin kualihkan ke hal-hal lain. Sesuatu yang menurutku benar-benar membuatku merasa “dirawat” lahir dan batin:

  • Menikmati pijat refleksi sebulan sekali.
  • Pergi ke salon untuk merapikan rambut dengan tenang.
  • Menyempatkan diri untuk healing sesekali.
  • Memiliki me time berkualitas untuk berjalan-jalan sendiri.
  • Makan dengan tenang atau cuma duduk minum kopi tanpa harus terburu-buru.

Memilih Merasa Lebih Baik

Pada akhirnya, aku sadar bahwa yang kucari selama ini bukan sekadar ingin terlihat lebih cantik di mata orang lain. Aku hanya ingin merasa lebih baik dengan diriku sendiri.

Dan mungkin, itulah yang sekarang ingin kusebut sebagai self-care yang nyata. Bukan tentang seberapa banyak produk yang kita miliki atau seberapa rumit rutinitas yang kita jalani. Melainkan tentang seberapa tahu kita pada apa yang benar-benar membuat kita merasa bahagia dan tenang.

Sebulan ini aku belajar satu hal penting: ternyata aku tidak membutuhkan produk sebanyak yang selama ini kupikirkan.

Semakin sedikit hal yang perlu kupikirkan tentang penampilan fisik, semakin banyak ruang yang tersisa di kepala dan hatiku untuk hal-hal lain yang jauh lebih berharga. Anak-anak, keluarga, kesehatan, waktu, dan sebuah kehidupan yang ingin kujalani dengan lebih banyak napas panjang.

Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.