Geluk ღ

De drukte van het dagelijks leven laat ons soms vergeten om even stil te staan — om te reflecteren.
Op een dag miste ik opeens de oma van mijn man,
die een paar jaar geleden naar het huis van de Vader is teruggekeerd.
Haar liefde voelt nog steeds zo warm en dichtbij in mijn hart.
Ze gaf me zoveel vreugde en kracht.

Ze was een vrouw met een groot geloof, sterk, trouw, slim en wijs.
Ze had een lang en gelukkig leven,
en was echt gezegend —
zelfs toen ze naar het huis van de Vader terugging, was ze gewoon aan het slapen.
Een leven vol met Gods aanwezigheid. Ik ben er getuige van!

Omdat ik opeens aan haar moest denken, ben ik op zoek gegaan naar het cadeau dat ze mij ooit gaf.
Een mooi agenda-boekje, dat ik bijna nooit heb gebruikt —
het was gewoon té mooi om erin te schrijven.
Maar toen ik het opensloeg, vond ik iets dat ik ooit had geschreven:
mijn eigen definitie van geluk,
op 15-08-2019.
Het voelde alsof het eeuwen geleden was dat ik voor het laatst iets op papier had gekrabbeld.
Oma, ik mis je ♡

En dit was het —
mijn definitie van geluk,
iets wat ik de laatste jaren misschien een beetje heb verwaarloosd:

Dankbaar zijn : niet klagen, elke dag dankbaarheid voelen, positief blijven, vol energie.
Vertrouwen : volledig aan God overlaten, niet piekeren of onrustig zijn,
niet wantrouwen, maar geloven in het geloof zodat elk probleem opgelost kan worden.
Vergeven : geen wrok koesteren, vrede hebben met jezelf,
niet vol woede zijn, een zacht hart hebben en niet snel teleurgesteld raken.
Jezelf corrigeren en beter worden : het leven wordt kleurrijker, optimistischer en enthousiaster.

Geluk
Donderdag, 15 juni 2019 | Jakobus 1

Gelukkig zijn lijkt makkelijk als alles in het leven gaat zoals we hopen.
Maar het kan opeens heel moeilijk worden,
als de problemen van het leven voor de deur staan.

Toch, hoe moeilijk ook,
ik wil blijven proberen — gelukkig te zijn in elke situatie.
En als het even niet lukt,
wil ik bewust die nare gevoelens bestrijden
en kiezen om tóch gelukkig te zijn.

I don’t know about you,
maar ik wil dit proberen,
what ever it takes.

Bahagia ღ

Kesibukan-kesibukan dalam kehidupan sehari-hari terkadang membuat kita lupa untuk berhenti sejenak — merefleksi diri.
Suatu hari, aku tiba-tiba rindu pada nenek suamiku, yang beberapa tahun lalu telah berpulang ke rumah Bapa.
Rasa sayangnya begitu membekas, hangat di hatiku.
Sungguh, ia telah memberikan sukacita dan kekuatan tersendiri bagiku.

Dia perempuan yang sangat beriman, kuat, setia, pintar, bijaksana.
Umurnya panjang, hidupnya bahagia, dan sungguh beruntung —
sampai saat ia pulang ke rumah Bapa, ia hanya sedang tidur.
Hidupnya penuh dengan penyertaan Tuhan. Aku saksinya!

Karena tiba-tiba teringat akan dirinya, aku mencari-cari hadiah yang pernah ia berikan padaku.
Sebuah buku agenda, yang hampir tak pernah kusentuh —
karena bukunya terlalu bagus, rasanya sayang untuk dipakai.
Ternyata, di buku itu aku pernah menulis sesuatu tentang definisi bahagia,
pada tanggal 15-08-2019.
Sudah lama rasanya aku tidak mencoret-coret kertas.
Oma, aku kangen ♡

Dan ini dia —
definisi bahagia versiku,
yang beberapa tahun terakhir, mungkin, kurang aku usahakan:

Bersyukur : tidak mengeluh, tiap hari rasa terima kasih, positif, semangat.
Percaya : berserah penuh kepada Tuhan, tidak kuatir dan gelisah,
tidak curiga dan yakin di dalam iman sehingga setiap masalah dapat teratasi.
Memaafkan : tidak menyimpan dendam, berdamai dengan diri sendiri,
tidak penuh amarah, hati yang lembut dan tidak mudah kecewa.
Koreksi diri dan jadi lebih baik lagi : hidup akan lebih berwarna, optimis, dan antusias.

Bahagia
Donderdag, 15 Juni 2019 | Yakobus 1

Bahagia memang terasa mudah dilakukan ketika hidup berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Namun seketika bisa menjadi sangat sulit,
ketika kendala-kendala kehidupan datang mampir tanpa diundang.

Tapi, meskipun sulit,
aku ingin terus berusaha — mencoba bahagia dalam setiap keadaan.
Ketika gagal, aku ingin dengan sadar melawan perasaan tidak menyenangkan itu,
dan memilih untuk tetap berusaha bahagia.

I don’t know about you,
but aku mau coba ini,
whatever it takes.

Here’s to forever

December 2024

Dua orang asing yang seiring perjalanan waktu dan ujian-ujian kehidupan tumbuh menjadi sahabat, teman hidup selamanya.

Dua belas tahun kita menikah, pastinya nggak sedikit ujian yang sudah dilewati dan akan dilewati bersama. Namanya hidup, pasti selalu ada ujiannya. Aku senang itu bersama kamu, seseorang yang bisa diandalkan.

Ini hanya akan terus menjadi keseruan, seperti film seri di Netflix yang nggak ada ujungnya, buat penasaran terus. Karena selalu ada hal baru yang bisa kita pelajari dari satu sama lain ataupun dari tantangan-tantangan yang kita temui.

Semakin lama bersama semakin banyak yang aku pahami. Pernikahan itu much more than just romantisme, tapi soal komitmen dan kepercayaan, a lifetime partnership. Bisa dengan nyaman menjadi diri sendiri dan tetap merasa dicintai. Memprioritaskan kepentingan satu sama lain dalam mengambil pilihan-pilihan hidup dan misi menemukan versi terbaik tiap pribadi. It’s not me anymore, but us. Memaknai arti pengorbanan cinta, asikk. Haha.

Terkadang we are having fun, sometimes we’re arguing and both are bentuk art of love. Aku percaya, cinta akan mati jika didiamkan, so never ignore your dearest one.

Hey, will you keep arguing with me whole your life? make us better us?

After all. Surely, two pov’s in life are benefit.

Perjalanan kita panjang sayang, mari bersenang-senang dan ciptakan cerita yang indah untuk dikenang dan dinikmati.

Marriage is a lifetime partnership.


Love is a forever commitment, it’s purely accidental happen to you, irreversible. Is to be given not taken.

Cheers to forever ever!

Sugeng tindak, tanteku sayang

“Tante, makasih udah bikin kami merasakan kasih sayang tulus, dari kecil sampai udah nikah selalu diperhatikan. Tiba tiba ga ada tanda-tanda. Rasanya ngga sanggup ditinggal tante, tapi harus rela, karna tempatnya malaikat cantik di surganya Tuhan. Tante mama yang luar biasa buat enna, lingsir dan kami pun ikut rasain. Tante pergi tapi kasih yang tante kasih bakal tinggal selamanya.

Bakal kangen tawa ceria tante, yang selalu paham kalo diajak curhat, pillow talk sama tante, kumpul kumpul. Cerita-cerita penuh cinta tante betapa bangganya dengan anak-anak tante. You are loved tanteku sayang. Rest in peace te.”

Mengenang tanteku yang inspirasional

Living in fear or faith

Mempublikasikan kehamilan ternyata bisa menjadi momok bagi seorang perempuan. Ketika aku tau aku hamil, hal pertama yang paling aku kuatirkan adalah terlalu cepat memberitahu.

Jadi, begitu aku kabari orangtua dan mertua aku langsung ingatkan untuk merahasiakan. Alhasil, yang namanya orangtua nggak bisa simpan kebahagiaan. Rahasia ngga bertahan lama, mereka sudah sebarin berita bahagia ke saudara dan kerabat mereka. Kesal? Tentu saja kesal, tapi itu juga pertanda mereka sangat bahagia dan bangga. Raut wajah ngga bisa bohong.

Aku juga sempat bahas ini ke mertuaku, tapi respon dia ada benarnya juga. Saat itu dia bilang, kebahagiaan tidak perlu disimpan, tapi untuk dibagikan. Kalau takut keguguran, saat kandungan 6 bulan atau 9 bulan pun bisa saja terjadi. Tapi kita bahagia saat ini, momen hari ini dirayakan hari ini.

Setelah aku pikirkan dan renungkan, ya juga, masuk akal sih. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan tentu tidak memandang umur. Suatu hal yang kita tidak bisa hindari. Sebagai orang tua, anak, saudara kita harus selalu siap untuk momen seperti ini. Selama kita masih sehat, masih punya kesempatan, nikmati, jalani dan syukuri. Cherish every moment you have together.

Hidup dalam ketakutan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang saat ini sedang kita miliki. Tapi hidup di dalam iman, memberi kita harapan baru dan kekuatan. Jadi pilih yang mana, living in fear or faith? Faith, dong!

“Positive anything is better than negative nothing.” – Elbert Hubbard

Pasar bawah, traditionale markt in Pekanbaru

Juni, 2022

Het was een warme middag in pekanbaru. Ik starte het motor van mijn moeder’s auto, mijn blouse was allang nat van het zweet terwijl ik heb me net omgekleed. Ik ging samen met moeder en bapak naar pasar bawah om gezouten vissen te kopen.

Pasar bawah is bekende traditionele markt in Pekanbaru. Je kan bijna van alles vinden, dus daar is ook leuk om rond te kijken. Maar die dag was zo heet, dus ik had amper kracht om gezouten vissen te vinden op begane grond van pasar bawah.

Zodra ik de parkeerman kon vinden, deed ik parkeren op de zijkant van de weg waar hij mij wees. Hij pakte een karton voor op voorkant van de auto beschermen van de hete. Ik betalde 2000 rupiah voor zijn servies, het is rond 13 cent denk ik.

Batik lungsuran si mbah

Hari-hari terakhir di Jogja jadi pelajaran tentang cinta seorang mama—terkadang lebay, lucu, tapi tulus dan tanpa syarat. Dari momen sakit dan perhatian sederhana, aku belajar bahwa cinta itu hadir sekarang, tidak perlu menunggu jadi apa-apa dulu untuk mengekspresikannya.

Baca juga versi bahasa Belanda:
De Batik van Oma

Beberapa hari terakhir di Jogja, maksud hatiku mau nyenengin mama. Aku tepar dan sempat sakit, hotel bermasalah pula. Lagi-lagi belajar dari para mama, yang rasa sayangnya terkesan lebay, ga masuk akal dan so funny tapi cintanya mutlak buat anak-anaknya, equally meski penyampaiannya berbeda ke tiap anak.

Batik peninggalan mbah putri Sragen buat mama. Waktu aku sakit, aku dipijitin pake minyak kutus-kutus, didoain, terus diselimutin pakai batik ini. This was ekspresi aku waktu itu; putar bola mata sambil berusaha ga tertawa. Sambil selimutin aku mama bilang “mba kalo besok sakit ga ada mama (di Belanda), selimutin batik mbah ini ya, biar cepat sembuh dan semoga cepat bisa hamil, ya mba.” Aku jawab, “iya ma” sambil senyum geli.

Mungkin suatu saat aku bakal jadi mama or not, cuma Tuhan yang tau (coz, hidup tentang belajar mengucap syukur dan mencukupkan diri dengan apapun yang dikasih Tuhan). So, aku ngga bakal tunggu jadi seorang mama, buat ekspresikan this kind of love “The Lebay one”. Karna hidup itu present, sekarang. Se-simple itu.

Liefde Zonder Ego

Na 8 jaar zie ik hoeveel er veranderd is en besef ik dat we het leven niet kunnen controleren. Liefde betekent loslaten en oprecht geven zonder verwachtingen.

Lees ook de Indonesische versie van dit verhaal:
Cinta tanpa ego

Liefde zonder ego: wat ik leerde over onvoorwaardelijke liefde

De vakantie in juni 2022 heeft me echt geleerd wat liefde zonder ego is—gewoon geven, wat het ook is.

Trouwen, alles achterlaten, een nieuw leven beginnen ver weg van de mensen waar ik van hou, en weer nieuwe mensen krijgen om van te houden.

Maar toch voelde ik me nooit echt tevreden, want ik weet dat ik nooit fysiek bij iedereen tegelijk kan zijn.
Zes weken weg van m’n man… zelfs in één seconde kan er iets gebeuren, dus ik maak mezelf soms gek van de stress.
Maar ik voel me wel geliefd, door hoe hij me gewoon m’n ding laat doen.

Na 8 jaar niet in Indonesië te zijn geweest… zoveel is veranderd. Zoveel verhalen, gebouwen, systemen, relaties, gevoelens—mensen veranderen en worden ouder.
Papa zei ooit dat één jaar kort is en dat er veel verandert, toen hij me belde en zei dat ik naar huis moest komen, terug van het leven ver weg in Tanah Bugis.
En weer had je gelijk, pap. Verdrietig, maar geen spijt, want ik kon meer tijd met hem doorbrengen.

Hoe ouder ik word, hoe meer ik besef dat we het lot en de omstandigheden niet kunnen controleren. Maar we hebben wel een keuze.

En toen besefte ik: liefde is er niet om vast te houden, maar om los te laten. Gewoon geven zonder iets terug te verwachten, en laten voelen dat ze echt geliefd zijn.

We kunnen er alleen voor kiezen om oprecht lief te hebben. Zoals mama zegt: geef alles wat je hebt, dan ben je niet bang om iemand te verliezen of dat het niet wordt beantwoord.
Want het is puur en echt—niet nep of geforceerd.

Amsterdam