Fase Panen

Pernahkah hidupmu terasa berputar dalam siklus yang persis seperti transisi masa kecil? Perasaan mendebarkan, perut yang mulas karena gugup, sekaligus rasa penasaran yang membuncah. Persis seperti hari pertama masuk TK, lulus SD, SMP, SMA, melangkah ke bangku kuliah, pertama kali bekerja, menikah, memulai hidup dari 0 di negri antah berantah hingga momen pertama kali menggendong anak.

Saat ini, di usia yang menginjak 38 tahun, perasaan magis sekaligus menegangkan itu hadir kembali.

Sebuah keputusan besar diambil untuk imigrasi balik ke Indonesia.

Langkah ini berarti menjual rumah yang sudah dibangun dengan kerja keras dan cinta selama 10 tahun di Belanda, meninggalkan karier stabil belasan tahun di bawah sistem produksi Eropa, dan memboyong suami Belanda serta dua anak yang masih kecil menyeberangi benua.

Komitmen Jarak Jauh (LDR)

Jika menengok ke belakang, perjalanan cinta ini memang selalu akrab dengan kata “adaptasi”. Hubungan dimulai dengan ujian komitmen jarak jauh antarbenua saat pacaran. Ketika menikah, akulah yang mengalah. Aku melipat impian di Indonesia, mengemas koper, dan ikut suami ke Belanda—meninggalkan kehidupanku di Indonesia, orang-orang yang kusayangi.

Di Belanda, aku bekerja belasan tahun di departemen yang sama di mana suamiku yang jadi afdeling leider-nya. Di sana, profesionalitas dan loyalitasku bertubi-tubi diuji, karena bekerja satu atap dengan pasangan lebih berat ujiannya. Berkali-kali ego ini ingin berontak dan mencari tantangan di tempat lain, namun demi mendukung perannya serta menjaga keharmonisan, aku memilih bertahan menjadi jangkar bagi kariernya.

Dan momen yang hanya berani kumimpikan, kompas kehidupan yang berputar balik. Suami minta untuk pulang ke Indonesia.

Bertukar Peran

Awalnya, ada rasa cemas yang menyelusup. Apakah aku harus memulai semuanya dari nol lagi? Namun, ketika duduk bersama dan mendiskusikan isi kepala berulang-ulang kali, kesimpulannya tetap sama:

Ini bukan lagi tentang ujian kesetiaan yang melelahkan, melainkan fase panen dari apa yang telah ditanam.

Keputusan pulang ini bukan karena keegoisan. Suami ingin “melambat” dari rutinitas korporat Eropa demi menikmati masa-masa emas bersama anak-anak yang masih kecil. Lebih dari itu, kami membawa modal cukup agar kehidupan di Indonesia tidak perlu merangkak dari bawah seperti saat aku pertama kali tiba di Belanda dulu.

Dan hadiah paling indah untukku dari keputusan ini? kebebasan penuh. Sebuah lampu hijau untuk melanjutkan impianku yang sempat tertunda, meskipun usiaku kini sudah hampir masuk kepala empat.

Ujian Pernikahan

Rasa gugupku sangat nyata. Menghadapi reverse culture shock, beradaptasi dengan ritme Indonesia yang dinamis, serta mendampingi anak-anak transisi bahasa bukanlah perkara mudah. Otak rasanya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mempersiapkan segalanya.

Namun di balik rasa gugup itu, ada api semangat yang menyala terang.

Dulu, aku pergi ke Belanda demi cinta dan komitmen pernikahanku. Sekarang, perjalanan pulang ke Indonesia membawa cinta yang sama, namun kali ini ditambah dengan ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dan mengaktualisasikan diri tanpa tekanan tuntutan.

Aku tahu perjalanan baru ini akan menempa hubungan kami lagi layaknya emas ke next level. Yang pasti, tempaan itu tidak menghancurkan, melainkan membuat kilau ikatan pernikahan menjadi jauh lebih murni dan bernilai.

Selamat datang babak baru. Hari pertama “sekolah hidup” akan segera dimulai!

Kebebasan Gila

Bagi orang lain, menjual rumah di Belanda dan melepas karier mapan demi pulang ke rumah kecil di Jogja adalah kenekatan yang gila. Namun di usia menjelang kepala empat, kami sadar bahwa terus bertahan dalam rutinitas tanpa mengejar impian adalah kegilaan yang sesungguhnya. Inilah cerita kami tentang memilih kebebasan.

Keinginan suamiku untuk pindah ke Jogja sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, saat keputusan itu benar-benar kami bulatkan sekarang, hal itu justru menimbulkan pertanyaan buatku: apakah ada kaitannya dengan umurnya yang 2 tahun lagi hampir menginjak 40 tahun? Apakah transisi usia menuju kepala empat ini yang akhirnya mematangkan keberanian kami untuk benar-benar berhenti menunda?

Di luar sana, fase ini sering dicap sebagai puncak kemapanan standar. Kamu seharusnya sudah punya karier stabil di luar negeri, posisi nyaman, dan rencana masa tua yang rapi.

Suamiku dan aku memiliki semua stabilitas itu di Belanda. Dia bekerja sebagai Productie Leider dengan tanggung jawab manajemen yang cukup besar, dan aku sebagai Productie Medewerker Lijm en Buig Specialist—staf ahli teknis.  Untuk hidup di Belanda kami cukup. Namun, tekanan target harian dan rutinitas jam pabrik perlahan mulai menguras fisik serta pikiran.

Memasuki akhir usia 30-an ini serta kehadiran kedua anak kami, aku dan suamiku mulai terbuka mata. Selama ini kami memang tidak pernah hidup dari ekspektasi orang lain. Namun, kami tau kami sedang menjalani rutinitas yang monoton, bukan hidup yang seharusnya; mengejar impian dan sekarang yang terlebih penting fase golden age anak-anak. Kami tidak ingin menghabiskan sisa umur hanya untuk sebuah rutinitas.

Itulah mengapa kami akhirnya mantap mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia. Sebuah langkah yang membuat orang-orang di sekitar kami ada yang berdecak kagum, optimis, ke trigger dan banyak juga yang pesimis kuatir. Ada sebutan nekat, preman bahkan juga dikatai lef hebben (keberanian yang kelewat batas). Sebutan ini aku hargai sebagai pujian tentunya.

Karena bagi kami, ini bukan kenekatan tanpa arah, melainkan enam langkah sadar demi mengejar kebebasan:

Keluar dari pekerjaan yang membesarkan kami. Suamiku meninggalkan posisi leider yang cukup dihormati, dan aku melepas keahlian spesialis yang dibangun bertahun-tahun. Orang luar hanya melihat kenyamanan finansial yang hilang, tanpa tahu harga kesehatan fisik dan mental yang harus kami bayar jika terus bertahan.

Menjual rumah di Belanda. Mempunyai dua rumah di dua tempat (negara berbeda) sangat melelahkan secara emosional. Ada dilema konstan antara ingin menyewakan tapi takut rusak, ditambah urusan perawatan jarak jauh yang menyita energi. Kami memilih menjualnya untuk melepas beban mental itu.

Memilih hidup tanpa beban. Melalui keputusan menjual rumah, kami memilih untuk tidak lagi terikat pada aset fisik. Kami belajar bahwa kenyamanan sejati bukanlah seberapa banyak properti atas nama kita, melainkan tentang fleksibilitas hidup yang ringan dan mandiri dan hal yang paling berharga : menjadi orangtua yang hadir, waktu dengan anak-anak.

Menemukan jawaban dari “beban” sejak 2021. Tahun 2021 lalu, kami membeli sebuah rumah kecil di Jogja. Selama beberapa tahun, rumah kosong ini sempat terasa membebani karena urusan perawatannya dari jauh. Namun, di sinilah plot twist-nya. Rumah ini justru berbalik menjadi jangkar, solusi, dan pemberi keberanian utama bagi kami untuk pindah dari Belanda.

Berhenti menunggu saat pensiun. Dulu kami berpikir baru akan pulang dan menikmati hidup saat tua nanti. Sampai akhirnya kami tahu bahwa hari esok tidak pernah digaransi. Waktu yang sempurna itu mitos. Jika terus menunggu, kita hanya akan menghabiskan masa muda di ruang pabrik.

Menemukan arti kebebasan hakiki. Keluar dari zona nyaman di Eropa membawa kami pada esensi hidup yang sesungguhnya: bebas memilih apa yang ingin kami lakukan karena kami menyukainya. Kami tidak lagi bergerak karena tuntutan, keharusan, atau beban kewajiban yang dikerjakan tanpa ada feel. Segala hal yang kami kerjakan ke depan adalah murni karena kami mau dan antusias.

Meninggalkan kenyamanan Eropa untuk pulang ke Jogja mungkin terdengar ekstrem dan “gila” bagi orang lain. Namun bagi kami, ini adalah sebuah kemenangan. Kami memilih berhenti sekadar bertahan dalam rutinitas, dan mulai benar-benar hidup untuk impian kami sendiri. Kami pulang ke Jogja, membawa bekal pengalaman, dan siap menulis babak baru dengan penuh kedamaian.

De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen

We staan op het punt om te verhuizen en realiseren ons hoeveel we gaan missen: de kleine dagelijkse dingen, de wandelingen, de rust en het leven in Nederland.

Baca juga versi Bahasa Indonesia dari cerita ini:

Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah

Vanochtend had ik een afspraak bij de fysio. Omdat papa van de kinderen aan het werk is, moest ik alleen gaan met de kinderen. Eén van de dingen die ik het meest ga missen van ons huis hier, is hoe makkelijk alles dichtbij is. De fysio, huisarts, tandarts, supermarkt, scholen van peuterspeelzaal tot middelbare school, bushaltes en het treinstation… alles is gewoon op loopafstand.

Maar eigenlijk is dat niet het enige wat ik ga missen. Het zijn juist de kleine, gewone momenten. De wandelingen over de rustige paadjes, de frisse koude wind op je gezicht, de schone lucht, en overal kleine speeltuintjes langs de weg. Dingen die nu zo normaal voelen, maar eigenlijk best bijzonder zijn.

In Indonesië zal dat anders zijn. Misschien niet meer even snel even lopen naar een afspraak of boodschap. Misschien geen rustige wandelpaden meer waar je zomaar even kunt genieten van de ochtend. En misschien ook niet overal speeltuintjes in de buurt zoals hier.

Maar de laatste tijd zie ik ook iets anders. Via social media van andere ouders in Indonesië zie ik hoe blij kinderen daar zijn. Ze rennen door mooie natuur, spelen op het strand, ontdekken bergen, spelen in de regen, voeren dieren, of brengen hun tijd door in parken en buitenruimtes. En ook binnen is er veel: grote speeltuinen, interactieve musea, science centers en allerlei creatieve plekken waar kinderen zich helemaal kunnen uitleven.

Misschien ziet geluk er gewoon anders uit, afhankelijk van waar je bent.

Kinderen tellen niet hoeveel speeltuinen er binnen een straal van 500 meter zijn. Ze vragen zich niet af of ze er lopend naartoe kunnen of dat ze gebracht moeten worden. Ze vinden plezier in het spelen zelf, in samen zijn, in ontdekken.

En misschien leer ik daar zelf ook van. Ja, er zijn dingen die we gaan missen. Dingen die heel vanzelfsprekend voelen nu, maar straks niet meer. Maar tegelijk komen er ook nieuwe dingen voor terug, dingen die we nu nog niet eens kunnen voorstellen.

Terwijl ik vanochtend met de kinderen naar de fysio liep, besefte ik weer dat het meestal niet de grote dingen zijn die je het meest bijblijven. Het zijn juist die kleine dagelijkse routines: overal naartoe kunnen lopen, frisse ochtendlucht, kinderen die rennen naar een speeltuintje onderweg… dat soort momenten die je dag vullen zonder dat je het doorhebt.

Maar ik geloof ook dat ons nieuwe huis straks weer andere verhalen zal brengen. Verhalen die nu nog onbekend zijn, maar die later misschien net zo dierbaar zullen worden.

Want uiteindelijk leren kinderen ons iets heel belangrijks: niet te veel stilstaan bij wat was of wat komt, maar gewoon leven in het moment. Ze willen spelen, lachen en zich veilig en geliefd voelen.

En misschien is dat eigenlijk alles wat echt nodig is.

Want zolang er ruimte is om te spelen, mensen die van je houden, en nieuwe dingen om te ontdekken, vindt geluk altijd wel zijn weg. ❤️


Lees ook

  • Waarom we terugverhuizen naar Indonesië
  • Wat we gaan missen aan ons leven in Nederland
  • Opvoeden tussen twee culturen
  • Ons leven als gezin in Nederland
  • De kleine dingen die je pas waardeert als je ze achterlaat

Categorie: Gezin, Emigratie, Ouderschap, Leven in Nederland, Reflectie