Ketika Tubuh Mulai Protes

#04 Hidup Tenang & Sehat

Akhir 2019, ketika aku dinyatakan terkena hipertiroid di bulan Desember, sebenarnya tubuhku sudah lebih dulu memberi tanda. Sepanjang tahun itu, aku merasakan kelelahan yang tidak biasa. Bukan sekadar capek setelah beraktivitas, tapi lelah yang menetap. Lelah yang tidak hilang meskipun sudah istirahat.

Kalau aku mundur sedikit ke tahun 2018, tubuhku bahkan sudah mulai “berbicara” lebih awal. Aku sempat menjalani rangkaian pemeriksaan yang cukup panjang karena kelenjar tiroid di leherku membesar di satu sisi. Dokter sempat kebingungan, sampai akhirnya aku dirujuk ke beberapa spesialis. Bahkan sempat ada kemungkinan untuk biopsi.

Saat itu aku takut, bukan hanya karena hasil yang belum jelas, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa tubuhku tidak lagi bisa aku pahami. Pada akhirnya, ditemukan bahwa tubuhku sempat melawan penyakit Pfeiffer. Itu menjelaskan kelelahan yang selama ini aku anggap hanya karena terlalu banyak bekerja.

Aku masih ingat satu momen yang terasa sangat jelas. Saat itu aku mencoba berolahraga di rumah, sesuatu yang biasanya terasa sederhana. Tapi ketika aku hanya mengangkat kaki ke atas, tubuhku bergetar hebat. Aku tidak mampu menahannya. Di situ aku mulai benar-benar merasa ada yang tidak beres.

Dan sekarang, kalau aku melihat ke belakang, aku mulai mengerti bahwa tubuhku sebenarnya sudah berbicara sejak lama. Hanya saja, aku tidak benar-benar mendengarkan.

Aku terlalu terbiasa untuk terus berjalan. Terlalu fokus pada apa yang harus dilakukan berikutnya. Terlalu sibuk mengejar, menyesuaikan diri, dan bertahan. Sampai akhirnya tubuhku mengambil cara yang tidak bisa lagi aku abaikan.

Diagnosis Hipertiroid di akhir 2019  itu bukan hanya tentang penyakit. Itu seperti titik di mana semua hal yang selama ini aku dorong ke belakang : kelelahan, tekanan, kecemasan akhirnya muncul ke permukaan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak punya pilihan selain berhenti dan melihat nya. Bukan hanya sebagai kondisi fisik. Tapi sebagai sesuatu yang lebih dalam. Mungkin selama ini, aku terlalu lama hidup terpisah dari tubuhku sendiri.

Sekarang aku mulai memahami bahwa tubuh tidak pernah benar-benar diam dan selalu memberi sinyal. Hanya kita sering kali baru mendengarnya ketika suaranya sudah terlalu keras untuk diabaikan.

Perjalanan ini bukan hanya tentang sembuh. Tapi tentang belajar mendengarkan sebelum semuanya harus dipaksa berhenti.

Pilihan hidup, identitas baru

#03 Hidup Tenang & Sehat

Di usia 20-an, aku sedang membangun karir pelan-pelan, tidak sempurna, tapi jelas ada arah. Saat itu aku merasa sedang membentuk identitasku sendiri sebagai seseorang yang tahu melangkah kemana untuk masa depanku.

Lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seseorang, jatuh cinta, menikah dan memutuskan pindah ke Eropa.

Saat itu, aku tidak merasa sedang kehilangan apa pun. Aku merasa sedang memilih kehidupan baru yang juga berarti. Hanya perlahan, aku mulai sadar bahwa keputusan besar tidak pernah hanya membawa satu perubahan.

Bersamaan dengan membangun hidup baru, aku juga meninggalkan karir yang baru saja mulai tumbuh. Bukan berhenti tapi kembali ke awal. Sepertinya di titik itu, sesuatu dalam diriku mulai runtuh pelan-pelan tanpa ku sadari. Rencana karir ku dan rasa percaya diri, yang lebih dalam lagi: identitasku.

Harus memulai ulang dari nol di negara baru, sistem baru, dan kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang aku kenal sebelumnya. Terasa seperti belajar berjalan dan bicara untuk pertama kali di umur yang sudah terlambat, 20-an tahun. Kadang aku merasa orang disini yang tidak mengenalku, melihatku tertinggal dan mungkin bodoh terbelakang.

Aku bekerja, belajar, beradaptasi, tapi di dalam diriku, ada proses lain yang tidak terlihat: perlahan aku mulai meragukan siapa aku sebenarnya, di luar semua peran yang sedang aku jalani.

Ambisiku tidak hilang hanya terasa semakin jauh. Sesuatu yang dulu jelas, kini menjadi kabur.

Di saat yang sama, aku membangun kehidupan sebagai seorang istri kemudian sebagai ibu. Semua itu nyata dan penting. Tapi di tengah semua peran itu, aku kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa utuh sebagai diri sendiri.

Dan aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Sampai suatu hari aku menyadari aku tidak lagi yakin pada diriku sendiri seperti dulu. Dampaknya tidak hanya emosional tapi juga mental.

Ada kelelahan yang tidak selalu berasal dari aktivitas, tapi dari beban di kepala yang terus berjalan tanpa henti ; overthinking, ragu-ragu dan rasa tidak cukup. Meskipun dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Sebagai perempuan yang dulu punya ambisi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan bahwa cinta bisa mengubah bukan hanya arah hidup, tapi juga cara aku melihat diriku sendiri.

Bukan karena cinta itu salah. Tapi karena aku tidak siap dengan bagaimana ia menggeser begitu banyak bagian dari diriku sekaligus.

Seiring waktu aku mulai paham bahwa ini bukan sekadar cerita tentang karir atau cinta. Ini adalah cerita tentang kesehatan mental.

Tentang bagaimana identitas bisa runtuh pelan-pelan, tanpa suara. Bagaimana seseorang tetap berjalan, bahkan ketika rasa percaya dirinya belum sepenuhnya pulih.

Aku tidak lagi melihat ini sebagai kehilangan, tapi sebagai proses membangun ulang. Pelan-pelan belajar menerima dan menjadi versi terbaikku, identitas baru yang lahir dari pilihan hidup yang pernah kuambil.

Memberi Jeda

#02 Hidup Tenang & Sehat

Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja.
Aku punya keluarga, dua anak. Rutinitas yang jelas dan hari-hari yang terisi. Tidak ada yang benar-benar “salah”. Tapi entah kenapa, rasanya tetap penuh.

Bukan penuh karena aktivitas fisik. Tapi penuh di kepala. Ada banyak hal yang terus berjalan bersamaan, hal-hal kecil yang tidak terlihat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Memikirkan anak, masa depan, apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat. Memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang, bahkan saat semuanya sedang tenang, pikiranku tetap sibuk. Seperti tidak pernah benar-benar istirahat.

Aku mulai menyadari, ini bukan tentang seberapa banyak yang aku lakukan dalam sehari. Tapi seberapa banyak yang aku bawa di dalam kepala.

Mental load, orang bilang.

Dan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai seseorang yang pernah sangat ambisius, aku terbiasa untuk terus memikirkan segalanya. Mengatur, mengantisipasi dan menjaga semuanya tetap berjalan.

Tanpa sadar, aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri berhenti. Bukan berhenti secara fisik, tapi berhenti berpikir. Ada rasa bersalah ketika tidak produktif, memilih istirahat, apalagi tidak melakukan apa-apa.

Seolah-olah diam itu berarti mundur. Padahal mungkin, justru itu yang paling aku butuhkan. Aku mulai belajar hal yang terasa sederhana, tapi ternyata sulit:

Memberi jeda.

Tidak langsung merespon semua hal. Tidak harus selalu mencari solusi. Tidak harus selalu “on”. Kadang, cukup duduk, diam, tarik napas. Mengakui bahwa aku lelah dan itu tidak membuatku lemah.

Hidupku mungkin tidak akan menjadi lebih ringan dalam waktu dekat. Masih akan ada tanggung jawab. Masih akan ada hal-hal yang harus dipikirkan. Mungkin aku bisa belajar membuatnya terasa lebih lapang dengan tidak membawa semua beban sendirian di dalam kepala.

Pelan-pelan, aku ingin belajar:

Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Tidak semua kekhawatiran harus diikuti. Dan bahwa pikiranku juga berhak untuk beristirahat.

Mungkin, ini bentuk lain dari hidup sehat yang baru aku pahami sekarang.

Saatnya Belajar Melambat

#01 Hidup Tenang & Sehat

Aku pindah ke Eropa tahun 2014. Waktu itu, yang ada di pikiranku hanya satu: mengejar ketertinggalan.

Aku datang dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya bisa aku bawa ke sini. Aku harus mulai dari nol, mencari pekerjaan yang bahkan tidak sesuai dengan bidang studiku, belajar hal-hal baru dari dasar, dan perlahan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang terasa asing.

Aku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk membantu ekonomi keluarga. Di sela-sela itu, aku belajar menyetir lagi. Hal kecil, tapi terasa besar ketika semuanya harus dimulai ulang. Hari-hariku penuh, tapi terasa monoton.

Pekerjaan yang aku jalani tidak benar-benar menantang. Tidak ada rasa berkembang. Hanya rutinitas yang berulang, hari demi hari. Aku terus berjalan, karena merasa memang harus begitu.

Aku didiagnosis hipertiroid, dan selama kurang lebih dua setengah tahun, aku belajar menghadapi tubuh yang tidak lagi bisa aku paksa mengikuti ambisi.

Di tengah semua itu, aku mencoba sesuatu yang baru—membuka katering kecil. Mungkin itu caraku untuk tetap merasa hidup, merasa punya kendali atas sesuatu.

Aku juga menyimpan keinginan sederhana: pulang ke Indonesia. Tapi pandemi datang, dan rencana itu tertunda. Baru di tahun 2022, aku akhirnya bisa pulang.

Tidak lama setelah itu, hidupku berubah lagi. Aku hamil. Aku menjadi seorang ibu.

Peran baru itu indah, tapi juga mengubah banyak hal dalam diriku. Aku memutuskan berhenti menjalankan katering. Bukan karena tidak mampu, tapi karena mulai bertanya: apakah semua ini masih sejalan dengan hidup yang aku inginkan?

Sekarang aku adalah ibu dari dua anak. Hidupku penuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental dan emosi.

Di titik ini, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah aku harus berhenti mengejar ambisi? Atau justru belajar berjalan bersama ambisi itu dengan cara yang berbeda?

Aku tidak punya jawaban pasti. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin lagi menjalani hidup dengan cara yang membuatku terus-menerus lelah.

Mungkin sekarang bukan tentang berlari lebih cepat, tapi tentang belajar berjalan dengan lebih sadar. Menjaga diri tetap sehat, tetap utuh, sambil tetap memelihara mimpi tanpa kehilangan diri sendiri di dalamnya.

Sulit menjadi otentik! – sociale less media 2025

Resolusi 2025 ku sederhana, mengobati candu sosmed dan mengganti the wasted hours dengan slow living ala ala.

Now, waktunya merenung tentang otentik.

Menjadi seseorang yang otentik artinya kita secara pribadi mengenal diri kita sendiri, sadar akan nilai-nilai hidup yang kita anggap penting dan tetap mempertahankannya dalam menyikapi kehidupan yang sedang dihadapi.

Tidak ada tekanan atau pilihan yang lebih penting yang bisa mengubah nilai kita, tetap jadi otentik. Akan sangat sulit untuk mempertahankan nilai saat keadaan menekan. Namun aku percaya orang yang otentik tidak mengubah nilai karena sebab luar atau demi kehendak orang lain, tapi kehidupan yang mengubah nilai itu sendiri (pilihan pribadi).

Tantangan lainnya adalah sering manusia membutuhkan rasa untuk merasa diterima, bertahan hidup, takut kehilangan, ingin menang yang terkadang terasa lebih kuat. Akhirnya kita rela menekan/menahan diri (pikiran, perasaan, pendapat, keinginan, nilai dll) hanya demi rasa butuh ini. Sayangnya, justru merusak/bias hubungan dengan orang lain. Orang lain tidak benar-benar mengenal kita sesungguhnya, tapi karakter yang sedang dimainkan (topeng) demi sebuah kebutuhan.

Pertanyaannya, berapa lama seseorang mampu menahan diri, mengalah, bungkam, berpura-pura? Melelahkan!

Pada akhirnya hanya akan membuang waktu sendiri dan orang lain yang akan sadar siapa kita sebenarnya, cepat atau lambat. Belum lagi, kerusakan hubungan yang nampak dan tidak, yang disadari atau tidak. Jadi, bagaimana agar kita bisa benar-benar otentik, jadi diri sendiri?

Bagi sebagian orang, ini bukan masalah mudah. Apalagi pencitraan semakin menjadi-jadi di dunia virtual yang penuh dengan kemungkinan. Hidup otentik akhirnya akan membebaskan, membangun pondasi hubungan yang sehat dan kuat, menginspirasi dan juga memberikan rasa yakin, setia dan aman di dunia penuh tipu-tipu.

Apakah kita sudah menjadi manusia otentik?

Ada lelah dan rasa yang harus diistirahatkan : TIDUR

Tidur yang berkualitas itu sangat baik bagi tubuh, terutama untuk kesehatan jantung dan juga peredaran darah. Tidur itu sangat luar biasa penting, karena menjaga tubuh kita tetap sehat secara jasmani dan rohani.

Rata-rata orang dewasa butuh waktu tidur 7 sampai dengan 9 jam. Kalau aku tidur jam 10 malam artinya aku bangun jam 5 paling awal dan jam 7 pagi paling telat.

Terlalu lama ataupun sebentar tidur, ternyata bisa meningkatkan resiko penyakit yang berhubungan dengan jantung, obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi dan juga infeksi-infeksi di dalam darah. Seram ga sih?

Jadi, gimana dong caranya supaya bisa tidur yang benar?

First, perlu punya waktu tidur yang rutin ;

  • Tidur dan bangun setiap harinya di waktu yang sama
  • Jangan tidur siang, kalaupun harus, tidak boleh lebih dari 20 menit

2nd, pastikan terkena cahaya matahari dan bergerak dengan cukup

  • Aktiflah di siang hari; bersepeda, jalan, melakukan kegiatan harian, berkebun atau berolahraga
  • Pastikan kita mendapatkan cahaya matahari yang cukup dan keluarlah dari rumah meskipun hanya sebentar

3rd, jangan makan dan minum

  • Jangan minum yang mengandung kafein di malam hari, seperti : teh, kopi, cola dan minuman berenergi
  • Jangan minum alkohol sebelum tidur karena bisa mengakibatkan tidur ringan/tidak nyenyak

4th, jangan stress menjelang tidur

  • Jangan olahraga terlalu malam, karena justru memberi tubuh energi
  • Jangan main gadget 1 jam sebelum tidur
  • Jangan bekerja di malam hari

5th, tapi bersantailah

  • Lakukan ritual malam yang menenangkan, membaca buku, hobi yang membuat relax, mandi/berendam, jalan santai di malam hari
  • Dengarkan musik/podcast yang menenangkan
  • Lakukan meditasi/ doa/latihan pernafasan

6th, dan kosongkan pikiranmu

  • Kosongkan dengan menulis atau membicarakannya (curhat)
  • Tulis hal-hal yang harus kamu lakukan atau penting untuk diingat

Cara agar cepat tertidur

Cobalah berbaring dengan tenang dan tidak melihat jam

Matikan/ redupkan lampu

Tutup telinga dengan earplug yang nyaman, untuk mengurangi suara-suara

Jangan tidur dengan selimut atau piyama terlalu tebal

Tips untuk kamar tidur

Pakai kamar tidur untuk tidur, jangan pakai untuk kerja atau nonton TV

Pastikan kamar tidur gelap dan sunyi

Usahakan agar kamar tidur sejuk dan memiliki sirkulasi yang baik

Jika masih belum bisa tidur juga, mungkin kita bisa mencoba sementara waktu untuk menulis jurnal tidur. Gunanya untuk menyelidiki kenapa kualitas tidur kita jelek dan menemukan solusinya. Cobalah cari tahu penyebab tidur kurang baik dan catat di jurnal.

Tulis di jurnal jam berapa kamu tidur dan bangun setiap hari. Tulis juga apa yang kamu rasakan, apakah kamu bangun dengan energi atau justru rasa lelah?

Aktifitas sebelum tidur ?

  • olahraga terlalu intensif
  • bermain game
  • nonton TV, laptop, hp, dll
  • aktifitas sosial yang terlalu ramai, cth : pesta dan sampai larut?
  • pekerjaan

Makanan dan minuman sebelum tidur ?

  • makanan terlalu berat
  • makanan yang sulit dicerna
  • kopi, teh, alkohol
  • rokok dan obat-obatan

Setelah tidur ?

  • suhu kamar terlalu dingin/panas
  • suara ribut dari dalam/luar rumah
  • banyak pikiran
  • keluhan sakit di tubuh

Apa yang perlu dilakukan demi kualitas tidur ?

  • hobi yang menenangkan
  • mandi/berendam
  • latihan relaksasi
  • makanan ringan dan minuman tanpa kafein dan alkohol
  • earplug
  • dan lain lain

Where i wanna go; proyek hidup sehat dan fit-ku

Seperti yang kita tahu, kebanyakan penyakit itu timbul dari pola pikir, pola hidup, pola dan pola yang kurang atau berlebihan lah pokoknya. Contoh sehari-hari saja ; merokok, minum alkohol berlebih, makan makanan yang tidak sehat/ ga ada nilai gizi, kelebihan berat badan dan terlalu sedikit bergerak.

Di jaman yang serba cepat dan modern ini, sangat mudah bagi aku untuk lupa merawat diri, saking sibuknya melakukan hal-hal yang “lebih penting”. Lupa, kalau merawat kesehatan tubuh dan mental adalah hal yang lebih penting supaya hasil apapun itu lebih baik dan maksimal.

So, aku dari dulu termasuk orang yang sangat berniat hidup sehat dan fit, who doesn’t? Tapi, masih jauh dari sempurna, niatku masih saja putus nyambung, daaaan sekarang waktunya buat sambung lagi. Sejak sudah putus September 2024 lalu (Oktober dan November i was still on vacation mode 😛 ).

Caranya buat hidup sehat dan fit itu terdengar mudah di telinga, tapi aplikasinya ga semudah ucapinnya ; tidur yang cukup, makan yang sehat, gerak, merencanakan hal-hal yang menyenangkan, sediain waktu baca/me time, meditasi, punya rutinitas, waktu bebas, istirahat, refleksi diri dan lain-lain.

Jadi, aku mau catat semua tips dan plan aku, aku kumpulin dari semua sumber artikel berbahasa belanda, inggris atau indonesia yang aku baca, tujuannya cuma buat reminder diri sendiri dan mudah mau baca lagi. Semoga juga bermanfaat buat kalian yang ikutan baca.

Ini dia listsnya dari yang mudah ke yang tersulit:

  1. Pola Tidur
  2. Merawat diri
  3. Kesehatan mental
  4. Makan Sehat
  5. Olahraga

self-love isn’t selfish

Pernah dengar ungkapan “bahagia itu kita yang ciptakan”? Dan bisa bayangin pastinya, kalau tiap orang bahagia, betapa indahnya dunia ini, everyone is in the mood! But, bagaimana mungkin bisa bahagia kalau dunia seolah-olah tidak berpihak kepada kita?

Di dalam hidupnya, aku percaya tiap orang pernah dihadapkan dengan keadaan ini. Entah itu masalah atau pilihan sepele bahkan yag besar dan traumatis sekalipun.

Contoh yang sepele saja, bagaimana mau senang kalau sedang sakit gigi? Bagaimana nggak stress kalau sudah mau ujian tapi belum siap? Bagaimana mau senyum percaya diri, kalau ada jerawat nakal di muka? Bagaimana mau bahagia, kalau orang tanpa alasan benci kita?

Contoh yang lebih serius, bagaimana mau bahagia kalau orang tua nggak bahagia atau bangga pada kita? Bagaimana mau bahagia kalau keluarga berantakan? Bagaimana mau bahagia kalau nggak bisa bahagiakan orang yang kita sayang? Bagaimana mau bahagia kalau semua mimpi kita hancur berantakan?

Jawabannya bisa. Be kind, take care and choose yourself first, self love. It is not selfish. Justru itu adalah langkah paling awal untuk kita bisa sebarin kebahagiaan, bahagia yang murni, innocent, not the fake one. You being you, know what you want in life, happy and accept you (ex. You ain’t perfect i ain’t either and hey, it’s okay). Memenuhi panggilan hidupmu. Berdamai dengan diri sendiri, tanpa lupa melibatkan Tuhan, tentunya. Think about it. How can simply love yourself can spread happiness to others. It is, right?

Let’s figure it all out, what makes you happy? How to make sure you love yourself first? Pikirkan, gumulkan dan doakan dengan serius apa yang baik untuk hidupmu. Lakukan dan tularkan bahagiamu.

Living in fear or faith

Mempublikasikan kehamilan ternyata bisa menjadi momok bagi seorang perempuan. Ketika aku tau aku hamil, hal pertama yang paling aku kuatirkan adalah terlalu cepat memberitahu.

Jadi, begitu aku kabari orangtua dan mertua aku langsung ingatkan untuk merahasiakan. Alhasil, yang namanya orangtua nggak bisa simpan kebahagiaan. Rahasia ngga bertahan lama, mereka sudah sebarin berita bahagia ke saudara dan kerabat mereka. Kesal? Tentu saja kesal, tapi itu juga pertanda mereka sangat bahagia dan bangga. Raut wajah ngga bisa bohong.

Aku juga sempat bahas ini ke mertuaku, tapi respon dia ada benarnya juga. Saat itu dia bilang, kebahagiaan tidak perlu disimpan, tapi untuk dibagikan. Kalau takut keguguran, saat kandungan 6 bulan atau 9 bulan pun bisa saja terjadi. Tapi kita bahagia saat ini, momen hari ini dirayakan hari ini.

Setelah aku pikirkan dan renungkan, ya juga, masuk akal sih. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan tentu tidak memandang umur. Suatu hal yang kita tidak bisa hindari. Sebagai orang tua, anak, saudara kita harus selalu siap untuk momen seperti ini. Selama kita masih sehat, masih punya kesempatan, nikmati, jalani dan syukuri. Cherish every moment you have together.

Hidup dalam ketakutan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang saat ini sedang kita miliki. Tapi hidup di dalam iman, memberi kita harapan baru dan kekuatan. Jadi pilih yang mana, living in fear or faith? Faith, dong!

“Positive anything is better than negative nothing.” – Elbert Hubbard

Social media syndrome

Ik zeg nog, als een voorbeeldgeval; ik ben wel soms jaloers op mensen met super mooie goddelijke lichaam (het is mijn droom). Wat zijn de oorzaken van mijn jalozie? Negatief zelfbeeld.

Ik geloof niet dat ik discipline heb van de sporter. “Dat is gewoon onmogelijk voor mij” of “het is te zwaar” of “ik heb honger (trek)” en “tuurlijk, kunnen ze dat, ze hebben toch niks anders te doen!”.

Ik begin van een smoesje naar andere smoesjes te verzinnen.. Ik begin te twijfelen aan mijn eigen vermogen om mijn wens uit te laten komen. Succes van iemand anders wordt een nachtmerrie, een feit dat ik waardeloos ben, een manier om mijn zelf te bekritiseren. Niet gezond!

Vergelijken mezelf met iemand anders leven. Ik kijk naar iemand plaatje op social media, wow! wat hebben ze goed. Wat een bofkont, zeg ik dan (slecht gevoel ipv blij voor hun). Ik heb dat niet of ik kan het niet zoals hun. Scrollen.. scrollen.. scrollen.. blijf scrollen alleen maar mensen met een goede leven (vreselijk). Het is oneerlijk, echt.

Een ding vergeet ik, omdat iemand anders leven zo perfect eruit zien op een plaatje of van de buitenkant niet betekent ze zijn altijd blij. We doen toch ook alleen maar leuke foto’s laten zien? Mensen strijd met hun eigen problemen, iedereen.