Mental Load Kecantikan: Dulu Douglas, Sekarang Zwitsal

Belajar berdamai dengan tubuh pasca melahirkan lewat filosofi slow living. Kisah tentang mengurangi tuntutan kecantikan, dari Douglas ke Zwitsal.

Beberapa bulan belakangan ini, hidupku berubah total. Sejak hamil dan melahirkan, waktu rasanya menjadi barang paling mewah. Menemukan waktu untuk bersolek atau sekadar merawat kulit seperti dulu? Rasanya hampir mustahil. Sekarang, bisa mandi dengan tenang saja sudah menjadi kemewahan yang luar biasa.

Mengurus anak, menyusui, begadang semalaman, tetap bekerja, belum lagi urusan rumah tangga. Ritme ini membuatku sering lupa minum, terlambat makan, dan menempatkan perawatan diri di urutan paling akhir.

Dulu, rak kamar mandiku selalu dihiasi berbagai produk dari The Body Shop hingga Douglas. Namun melihat kondisi sekarang, ada titik di mana aku berpikir: mungkin sudah waktunya untuk berdamai dengan keadaan. Bukan memaksa tubuh kembali seperti sebelum punya anak, melainkan mencari cara yang lebih sederhana.

Belajar dari Filosofi Slow Living

Di tengah rasa lelah, sebuah video dari YouTuber Belanda tentang slow living dan hidup simpel muncul di berandaku. Ada satu hal yang sangat membekas di pikiran: kalau ingin hidup lebih tenang, mulailah dengan menyederhanakan hidup.

Ternyata, penyederhanaan itu juga bisa dimulai dari cara memandang diri sendiri.

Jangan menunggu menerima diri saat sudah langsing. Jangan menunggu kulit bagus, rambut rapi, atau tubuh kembali seperti semula. Terima diri dulu apa adanya. Baru mulai dari sana.

Kalimat itu menampar sekaligus memelukku di saat yang sama. Aku pun mulai mempertanyakan kembali rutinitas kecantikan yang lama.

Sudah beberapa bulan ini lotion jarang kusentuh. Sabun muka pun kadang aku menggunakan Zwitsal milik anak, atau apa saja yang ada di dekat wastafel. Dan ternyata, aku baik-baik saja.

Pikiranku lalu tertuju pada suami. Dia hampir tidak pernah menyentuh skincare, makeup, atau lotion, tapi kulitnya sehat-sehat saja. Tentu saja fisik setiap orang berbeda. Namun, hal itu memicu sebuah pertanyaan besar di kepalaku: sebenarnya, berapa banyak dari semua produk dulu yang kupakai karena memang butuh, dan berapa banyak yang kubeli hanya karena merasa “harus”?

Merawat Diri dengan “Mengurangi”

Mungkin merawat diri tidak selalu berarti menambah lebih banyak produk atau langkah perawatan. Esensi sejatinya justru ada pada tindakan mengurangi.

  • Mengurangi rutinitas rumit yang membuat kita semakin lelah
  • Mengurangi barang yang harus dibeli.
  • Mengurangi waktu di depan cermin hanya untuk mencari-cari kekurangan.
  • Mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna.

Ini bukan berarti aku menyerah pada penampilan. Merawat diri tetap penting, namun sekarang aku memilih melakukannya dengan cara yang lebih sederhana: memastikan makan lebih teratur, cukup minum air putih, bergerak, istirahat setiap kali ada kesempatan, serta menjaga kebersihan kulit seperlunya.

Langkah ini kuambil bukan karena merasa tubuhku sekarang kurang baik. Tapi justru karena aku ingin menyayanginya.

Menurunkan Tuntutan

Pada akhirnya, slow living bukan hanya tentang memiliki lebih sedikit barang atau jadwal harian yang lebih kosong. Lebih dari itu, ini adalah tentang memiliki lebih sedikit tuntutan terhadap diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam perlombaan menjadi lebih cantik, sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru dan jauh lebih menenangkan: merasa cukup dengan diri sendiri, lalu merawat diri dari sana.

Waktu adalah Kunci

Ternyata, waktu adalah kunci.

Pagi ini saat sedang memandang cermin, ingatanku kembali mundur ke beberapa tahun lalu. Di usia 24 tahun, keputusan untuk menikah diambil. Sebuah langkah besar yang membawa kebahagiaan, sekaligus mengubur dalam-dalam ambisi akademis. Selama bertahun-tahun, narasi sebagai “korban keadaan” diam-diam kurawat di dalam kepala. Rasa kehilangan masa muda dan mimpi kuliah lagi demi komitmen domestik terasa begitu heroik, sekaligus menyedihkan.

Namun akhir-akhir ini, kesadaran baru mulai menggoyang egoku.

Saat mencoba duduk tenang, menarik diri dari bias emosional, dan menganalisis rutinitas harian dengan kepala dingin, ada hal mengejutkan yang ditemukan. Ternyata tidak ada yang benar-benar hilang. Ada celah yang selama ini luput dari pandangan: waktu.

Sebagai generasi milenial, kepanikan oleh angka usia sering kali datang terlalu cepat. Aku sempat merasa bahwa jika sesuatu tidak selesai di usia dua puluhan, maka pintu kesempatan otomatis tertutup. Hidup diukur secara kaku, seolah harus berjalan linear sesuai lini masa orang lain. Padahal, apa yang selama ini kusebut sebagai pengorbanan hanyalah sebuah penundaan—pergeseran prioritas yang wajar.

Hidup ternyata bukan tentang kehilangan, melainkan manajemen antrean. Di usia 24 dulu, giliran terdepan memang harus diberikan pada adaptasi pernikahan dan stabilitas keluarga. Ambisi kuliahku tidak dihancurkan, melainkan hanya diminta duduk manis di ruang tunggu. Sayangnya, ruang tunggu itu sering kusalahartikan sebagai pemakaman, lalu diratapi seolah mimpi telah mati.

Sekarang, ketika badai adaptasi lewat dan ritme hidup mulai stabil, celah-celah waktu itu muncul kembali. Ruang kosong yang dulunya habis untuk kecemasan kini siap diklaim. Sifat waktu ternyata sangat restoratif, memberikan kesempatan kedua untuk menata ulang apa yang sempat tertunda.

Mengejar pendidikan lagi di usia sekarang bukan lagi tentang gaya-gayaan atau sekadar berburu gelar. Ini adalah caraku untuk berdamai dengan masa lalu dan membuktikan bahwa diri ini bukan korban dari keputusan sendiri. Menikah muda adalah pilihan yang kuambil dulu, dan kembali kuliah sekarang adalah kendali yang kupegang hari ini.

Dunia saat ini sudah jauh berbeda, menyediakan banyak fleksibilitas yang dulu tidak ada. Tidak ada alasan lagi untuk memelihara mentalitas korban. Pilihan-pilihan yang dikira sudah terkubur ternyata hanya sedang menunggu giliran untuk dibangunkan. Kunci jawabannya sudah ada di tangan, tinggal bagaimana aku menggunakan celah ini untuk merestorasi mimpi yang sempat tertunda. Semoga.

Serba Dipikir, Which is Nice

Semua serba dipikir. Overthinking, kata orang jaman sekarang.

Istilah ini belakangan sering banget kedengaran dan hampir selalu punya konotasi yang negatif. Begitu kita mulai mikirin sesuatu agak lama atau agak dalam, label overthinker langsung nempel. Kita dianggap ribet, cemas, atau buang-buang waktu.

Tapi sadar enggak, sih? Sebenarnya di balik setiap kelemahan kita, selalu ada kekuatan yang tersembunyi. Termasuk si overthinking ini.

Kalau kita coba geser sudut pandangnya sedikit saja, kebiasaan berpikir dalam ini ternyata punya sisi yang indah. Semakin dalam kita berpikir, kita sebenarnya jadi lebih bisa hidup slow, lho. Kok bisa?

Ketika dunia luar bergerak serba cepat, menuntut kita buat instan dalam segala hal, pikiran kita justru mengajak kita untuk melambat. Kita enggak langsung menelan mentah-mentah apa yang ada di depan mata. Kita menimbang, merasakan, dan menganalisis. Proses berpikir yang panjang ini secara enggak langsung melatih kita untuk lebih sadar mindful dengan apa yang sedang kita jalani.

Hasilnya? Kita jadi jarang mengambil keputusan secara impulsif. Langkah hidup kita jadi lebih teratur, penuh kesadaran, dan bermakna. Kita enggak cuma sekadar “berjalan”, tapi benar-benar menikmati setiap prosesnya.

Jadi, buat kita yang sering dibilang terlalu banyak mikir: it’s okay. Selama pikiran itu enggak berubah jadi kecemasan yang melumpuhkan, nikmati saja prosesnya.

Semua serba dipikir, which is nice. Karena dari sanalah kita belajar untuk hidup dengan ritme yang lebih tenang di dunia yang super bising ini.

Mengemas 10 Tahun Dalam 2 Minggu

Semuanya bermula saat kami menghubungi makelar rumah. Rencana awalku adalah mulai mencicil di bulan Agustus tanpa beban. Namun, antusiasme suami mengubah segalanya—tiba-tiba kami hanya punya waktu dua minggu untuk mengosongkan rumah demi mengejar jadwal foto dan penilaian label energi. Di tengah fisikku yang sangat lelah pascamelahirkan, ritme ini sungguh memacu adrenalin.

Sebelum memilah isi rumah, langkah pertama kami adalah memastikan birokrasi kargo pindahan internasional, mulai dari harga per meter kubik hingga dokumen yang diperlukan. Baru setelah itu, perang melawan isi rumah dimulai.

Ternyata, mengemas sepuluh tahun kehidupan di Belanda tidaklah mudah. Aku terkesima melihat betapa banyak barang bernilai tinggi yang dulu dibeli namun jarang dipakai. Mau dibuang pun terasa seperti cut loss yang terlalu kelewat batas.

Akhirnya, sekitar 20-an dos pindahan siap kami bawa pulang ke Indonesia—termasuk peralatan catering, buku-buku untuk modal usaha, serta dekorasi dan mainan kesayangan agar transisi anak-anak nanti terasa lebih bersahabat.

Namun, jujur saja terselip kecemasan. Rumah kami di Yogya nanti hanya tipe 36, sepertiga dari ukuran hunian kami di Belanda. Tantangan terbesarku nanti adalah menahan diri untuk tidak menambah barang baru dan berkomitmen memaksimalkan apa yang sudah ada. Meski, sebenarnya masih jauh lebih banyak barang yang akhirnya berhasil disingkirkan, dijual, atau didonasikan.

Anak pertamaku dengan polosnya sangat antusias ikut menyortir mainan yang mau dia bagikan ke anak-anak lain. Sedangkan si bayi tentu tidak perduli hal-hal selain tidur dan minum susu!

Melihat gunungan ini, buat aku berpikir kalau saja dari awal tempat tinggal kami lebih kosong, hidup pasti terasa lebih nyaman. Setiap benda ternyata menuntut energi untuk dirawat dan dipikirkan. Di usiaku yang menjelang 38 tahun ini, aku tersadar bahwa pilihan hidup paling sehat adalah—melambat dan hidup dengan lebih sedikit beban bagage (apapun bentuknya).

Pindah ke ruang yang jauh lebih kecil di Yogya itu bukanlah sebuah keterbatasan, melainkan cara semesta memaksaku menyederhanakan hidup. Lebih sedikit ruang berarti lebih sedikit benda yang menimbun ego, dan lebih banyak area untuk fokus pada apa yang benar-benar esensial: kedekatan bersama keluarga.

Menjadi Ibu di usia 35+?


“Tuhan, jika Engkau mempercayakan seorang anak kepadaku, berikanlah di saat aku sudah benar-benar siap dalam berbagai aspek kehidupan.”

Aku masih ingat betul baris doa yang sering kuucapkan dulu. Dan Tuhan menjawabnya dengan presisi yang luar biasa. Pertengahan 2023, di usiaku yang hampir menginjak 35 tahun, anak pertamaku lahir. Kini, di usiaku yang sudah berjalan hampir 38 tahun, pelukanku kian penuh dengan kehadiran anak kedua yang saat ini sudah berusia 6 bulan.

Banyak orang dari luar melihatku sebagai sosok ibu yang tenang. Namun, sebuah kejujuran besar menghantamku sejak pertama kali aku memeluk anak pertamaku: menjadi ibu artinya kita tidak akan pernah benar-benar siap, berapapun umur kita.

Kesiapan materi atau kestabilan hidup di Belanda tidak otomatis membuatku kebal dari rasa takut. Pada saat aku masih terus berduka karena tidak bisa melanjutkan kuliah atau karirku yang memang situasinya tidak mendukung, hidup terus berjalan, saatnya aku hamil dan melahirkan. Kehadiran anak kian membuatku merasa terjebak dan harus mengubur mimpi-mimpiku semakin dalam.

Dampak psikologis ini berjalan beriringan dengan kondisi fisikku yang sangat remuk. Sampai hari ini, tubuhku sering terasa melayang-layang dan terjebak dalam mode fight or flight. Tapi aku tidak punya pilihan selain terus berjuang fight. Beruntung, riwayat perjuanganku menghadapi hipertiroid selama 2,5 tahun dulu memberikan sisi positif: aku menjadi jauh lebih alert dan peka untuk mendengarkan alarm tubuh sendiri.

Kelelahan ekstrem karena mengurus balita aktif dan bayi sekaligus tanpa support system membuatku tetap sering merasa cemas. Ada hari-hari di mana aku kewalahan hingga akhirnya lepas kendali dan marah. Ketika momen itu terjadi, rasa bersalah mom guilt langsung datang menghampiri. Namun, seiring kedewasaan emosional yang berjalan, setelah menenangkan diri, aku otomatis sering menemukan cara untuk memperbaiki situasi dan berdamai kembali dengan anak-anak. Aku sadar, bukan berarti aku bebas dari cemas, melainkan aku lebih mampu memulihkan situasi dan menciptakan lingkungan yang positif kembali setelah konflik terjadi.

Dalam menghadapi naik-turunnya emosi ini, suamiku sangat membantu. Meskipun pada kenyataannya, kami berdua terkadang sama-sama bisa lepas kendali karena benar-benar kelelahan secara fisik akibat beban pekerjaan di samping mengurus dua anak kecil. Kami berjalan bersama dalam ketidaksempurnaan ini.

Selain urusan domestik, perjuangan sosialku di sini juga tidak mudah karena sempat kesulitan menemukan teman dekat dari warga lokal. Lucunya, akhir-akhir ini aku justru mulai bisa masuk dan akrab dengan orang tua dari teman anak pertamaku. Namun sayangnya, tepat saat kami baru mulai saling mengenal dengan baik, waktu kami sudah habis. Kami harus segera pindah melakukan repatriasi kembali ke Indonesia. Semua terasa terlambat.

Perpindahan yang di depan mata, tubuh yang ringkih, serta tanggung jawab atas dua nyawa kecil ini akhirnya memicu satu ketakutan terbesar yang paling sering kualami akhir-akhir ini: momen tentang takut mati. Pikiran-pikiran cemas tentang masa depan anak-anak jika aku tidak ada sering kali berputar di kepala.

Usia menjelang 38 tahun ini tidak membuatku terbebas dari kecemasan atau duka atas mimpi yang terkubur, melainkan memberiku satu hadiah terbesar: keberanian untuk menerima ketidaksempurnaan diri.

Aku belajar untuk memaafkan tubuhku yang kelelahan, memaafkan duka masa laluku, dan menyadari bahwa semua emosi serta ketakutan ini adalah bagian dari perjalanan. Lelah itu pasti, cemas itu wajar. Namun di sinilah aku sekarang menerima kerapuhan, merayakan kekuatanku dan bersiap menyambut babak baru repatriasi sambil terus menjalani kehidupanku dengan sebaik-baiknya.

‘Flex-Olympics’ di Instagram: Kenapa Kita Semua Suka Pamer (dan Kenapa Itu Wajar-Wajar Saja)

Kamu pasti pernah merasakannya: baru lima menit scrolling di timeline Instagram, tiba-tiba rasanya semua orang punya kehidupan yang super sempurna. Yang satu membagikan grafik portofolio sahamnya yang terus naik, yang lain memajang pencapaian karier dan foto di dunia profesional yang mentereng, dan yang lainnya lagi berpose estetik di depan sebuah kastel bak negeri dongeng. Dan aku? Baru-baru ini aku membagikan foto momen akhir pekan keluarga di bioskop, duduk santai di kursi relax seats elektrik yang super nyaman.

Sesaat setelah mengunggahnya, tiba-tiba muncul sedikit rasa cemas khas generasi milenial. Eh, ini aku termasuk pamer juga enggak, ya? Apa aku terlihat sedang memamerkan kemewahan buatan, padahal aslinya di balik layar aku tetap emak-emak yang super perhitungan yang sengaja menyelundupkan roti tonijn (tuna) dari La Place ke dalam tas bioskop demi menghemat biaya makan siang, dan memilih paket Kids Kombo yang paling murah? (Tapi kalau kopi, jujur aku tetap beli resmi di bioskop kok, haha!).

Momen itu membuatku merenungkan kembali dinamika media sosial. Jika kita mau jujur berkaca, hampir kita semua sebenarnya ikut ambil bagian di dalamnya. Media sosial perlahan telah berubah menjadi ajang ‘Flex-Olympics’ terselubung, di mana setiap orang menggunakan jenis ‘mata uang’ yang berbeda untuk menunjukkan kepada dunia: Ini lho, hidupku sudah tertata dengan baik.

Setelah merenungkannya, aku melihat setidaknya ada empat cara bagaimana kita (secara sadar atau tidak) membangun citra dan status kita di dunia maya:

1. Financial Flex (Pamer Angka & Investasi)

Ini adalah jenis pamer yang cukup langsung. Mereka tidak memamerkan tas bermerek atau mobil mewah, melainkan secara terbuka membagikan pertumbuhan aset, hasil investasi, atau pendapatan pasif dari dividen. Sering kali kontennya dibungkus dengan tema “edukasi finansial” atau frugal living, namun di balik itu, ada pesan kuat tentang kemandirian materi. Kontras antara penampilan luar yang kasual dengan angka tabungan yang besar di latar belakang membuat jenis flexing ini terasa sangat kuat.

2.Status & Career Flex (Pamer Relasi & Jabatan)

Di kategori ini, fokusnya bukan pada isi rekening, melainkan pada modal sosial dan intelektual. Profil media sosialnya biasanya dipenuhi dengan riwayat universitas ternama, gelar akademis, jabatan pekerjaan yang mentereng, atau foto bersama orang-orang penting dan berpengaruh. Ini adalah cara halus untuk berkata: Lihat seberapa sukses karierku dan di lingkungan elite mana aku bergaul.

3. Lifestyle & Fairy-Tale Flex (Estetika ala Selebriti)

Ini adalah gaya klasik para influencer. Foto-fotonya selalu tajam, estetik, dan diambil di lokasi-lokasi yang sangat instagramable (seperti momen lamaran di depan kastel bersejarah). Isinya adalah tentang romantisasi kehidupan, sengaja dikurasi untuk menciptakan sebuah dlock impian. Secara visual ini sangat indah, meski sering kali jaraknya cukup jauh dari realita kehidupan sehari-hari penontonnya.

4. Aesthetic & Moral Flex (Pamer Ketenangan & Kesederhanaan)

Nah, ini adalah versi yang lebih halus—dan terkadang aku pun berada di sudut ini. Yaitu memamerkan kehidupan yang terlihat sangat tenang, selaras, dan damai. Misalnya, foto barisan sepeda kota di bawah sinaran matahari, buah tomat yang segar langsung dari kebun sendiri, atau kutipan bijak tentang spiritualitas dan rasa syukur. Tipe ini tidak pamer uang, melainkan pamer ketenangan jiwa dan kesadaran hidup. Seni di sini adalah menyaring realita sehari-hari menjadi sebuah foto yang tampak sangat puitis.

Apakah Itu Salah?

Saat mengunggah foto di bioskop itu, aku sempat takut orang lain akan mengira aku sedang pamer kemewahan atau bersikap konsumtif. Namun realitanya jauh lebih sederhana: aku hanyalah seorang ibu yang bangga dan bahagia bisa menikmati akhir pekan yang menyenangkan bersama anak-anak. Dan sama sekali tidak ada yang salah dengan hal itu.

Ada perbedaan besar antara menggunakan media sosial dengan sengaja untuk membuat orang lain merasa minder, dengan sekadar merayakan kebahagiaan dan kreativitas kita sendiri. Baik itu saat aku membagikan momen keluarga, menyalurkan hobi memasak di @ning.tok, atau sekadar menuangkan isi kepala di dagboekmillennial ini.

Media sosial adalah album foto digital kita. Selama kita tetap jujur dengan diri sendiri dan masih bisa tertawa melihat trik hemat kita sendiri (seperti menyelundupkan roti tonijn La Place di dalam tas ke bioskop), tidak ada salahnya untuk sedikit bangga atas kehidupan nyaman yang kita miliki.

Ngomong-ngomong, dalam waktu dekat aku akan membuka babak baru yang sangat seru dalam hidupku. Ada perubahan besar yang sedang berjalan, dan aku sudah tidak sabar untuk membagikan perjalanan baru ini—dengan segala pasang surutnya yang tanpa filter—di sini segera!

Hai aku, 35 Tahun!

Hai Diriku di usia 35 tahun. Aku menulis ini untuk memberi tahumu sebuah rahasia yang mungkin belum kamu sadari saat itu: ternyata kamu sekuat itu.

Aku tahu selama ini kamu sering merasa minder dan menganggap fisikmu lemah karena terus-menerus didera sakit. Kamu sudah melewati tifus, influenza, Covid-19, pfeiffer, hingga hipertiroid Graves.

Bahkan ketika momen yang kamu nantikan tiba, saat kamu akhirnya bisa hamil, tubuhmu dinilai tidak mampu untuk melahirkan secara normal.

Tapi dengarkan aku: semua diagnosis dan keterbatasan itu bukan tanda bahwa kamu lemah. Buktinya, kamu berhasil melewati setiap badai itu satu per satu.

Ingatkah bagaimana beratnya perjuanganmu pasca-persalinan dan masa pemulihan? Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kamu tetap alert, terjaga, dan mengerahkan seluruh jiwamu untuk merawat bayimu, bahkan sampai kedua kalinya. Itu bukan kerja tubuh yang lemah; itu adalah manifestasi kekuatan seorang ibu yang luar biasa.

Memang, tidak ada situasi yang benar-benar ideal dalam hidupmu. Kamu mungkin sering merasa seperti kumpulan hewan dalam film dokumenter Discovery Channel, saat kamu tidak berhasil keep up dengan kelompokmu. Kamu kehilangan arah dan sempat tersesat. Namun, yang membuatku sangat bangga padamu adalah: kamu menolak untuk menyerah pada kehidupan.

Tertinggal? Ternyata tidak. Kamu tidak pernah benar-benar tertinggal. Kamu hanya punya jalanmu sendiri, waktu pertumbuhanmu sendiri.

Hidup setiap manusia sangat unik, itu betul. Tuhan tahu ada kalanya manusia merasa tidak spesial dan tidak berharga, tetapi nyatanya tidak begitu. Cerita kehidupan kita adalah milik kita sendiri yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapapun. Percayalah, selalu ada maksud di balik semua kejadian.

Tiba saatnya kesempatan itu akhirnya datang menghampirimu. Di momen itu, sudut pandangmu berubah sepenuhnya. Kamu tidak lagi melihat ketertinggalanmu sebagai sebuah masalah.

Kamu berhasil mengubah semua itu menjadi kekuatan penuh dan pelajaran berharga, jubah yang akhirnya bisa kamu pakai untuk menikmati setiap tantangan di depan mata.

Dan sekarang, saatnya kamu pulang. Ada cahaya di ujung sana, ada jalan pulang yang menantimu. Modalmu untuk pulang ada di jubahmu yang kamu bangun sepanjang perjalanan pulang. Kamu pulang bukan lagi orang yang sama, tapi sosok yang jauh lebih tangguh, bijaksana, dan utuh. Setiap jengkal benang di jubah itu dirajut dari rasa sakit yang berhasil kamu lalui, kesabaran yang kamu pupuk, dan keberanian untuk terus berjalan saat kehilangan arah.

Apakah rasanya akan sama seperti sebelum kamu tersesat? Kamu tidak tahu. Tetapi di balik cahaya itu, selalu ada kesempatan untuk sembuh dan beristirahat sejenak.

Lebih dari itu, ada petualangan baru yang sudah menantimu untuk dijalani. Kamu bisa catch up lagi, bahkan bisa menikmati kehidupan ini dengan caramu sendiri, cara unik yang tidak bisa ditiru orang lain.

Terima kasih karena telah bertahan dan menolak menyerah, hingga aku bisa berdiri di sini hari ini dan melihat betapa hebatnya kamu.

Tidak Berhak Mengeluh

Hari ini, ingatan itu kembali mengetuk pintu hati dengan sangat keras. Melihat perjuangan adik sepupuku yang sedang berhadapan dengan luka operasi dan baby blues-nya, seketika melempar diriku kembali ke masa lalu. Ke sebuah ruang gelap en dingin di tanah rantau ini, tempat di mana seluruh luka dan air mataku membeku tanpa pernah sempat dicairkan.

Sejak awal menginjakkan kaki di Belanda, rasa sepi sudah menjadi teman akrab yang tak pernah pergi. Sendirian. Kalimat itu bukan sekadar status fisik, melainkan sebuah hantaman emosional yang nyata. Rasa sepi itu memuncak, bergulir dari masa kehamilan, hingga puncaknya ketika perutku harus dibelah melalui operasi caesar. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Dua kali mengalami operasi besar di negeri orang tanpa dekapan seorang mama. Tanpa kehadiran keluarga besar yang menenangkan. Tanpa sahabat yang bisa mendengarkan tangisan tanpa perlu dihakimi.

Namun, bagian paling menyakitkan dari semua perjuangan ini bukanlah rasa nyeri di bekas jahitan yang ditarik paksa saat harus mengurus bayi. Bagian paling menyiksa adalah sebuah kalimat yang terus berdengung dari orang-orang sekitar: “Kamu beruntung.”

Kata “beruntung” itu perlahan menjelma menjadi penjara emosional yang sangat rapat. Karena dianggap beruntung hidup di luar negeri, karena dianggap beruntung bisa memiliki anak sementara kakak kandungku sendiri di sini harus tertatih-tatih menghadapi kegagalan program hamil (IVF) yang tiada habisnya. Lingkungan dan keadaan seolah secara sepihak mencabut hakku untuk mengeluh.

Aku dipaksa memakai topeng “wanita tangguh yang beruntung”. Aku harus menahan diri, menelan semua rasa hancur, kelelahan yang luar biasa, dan kehampaan pascamelahirkan, hanya agar tidak dicap sebagai orang yang kurang bersyukur. Aku harus menjaga perasaan semua orang, melindungi emosi kakakku yang selalu dalam posisi dikasihani, sampai aku lupa bahwa jiwaku sendiri sedang menjerit kehabisan napas.

Aku merasa tidak berhak mengeluh. Seolah-olah rasa perih fisik dan hancurnya mental setelah dua kali SC ini adalah harga murah yang harus kubayar diam-diam tanpa boleh bersuara. Setiap kali air mata ingin menetes, rasa bersalah langsung menyergap, mengingatkanku bahwa ada orang lain yang lebih tidak beruntung.

Hari ini, melalui cerita adikku, aku akhirnya berani mengakui pada diriku sendiri: Aku hancur. Perjalananku di sini sangat sepi, sangat berat, dan aku berhak untuk merasa terluka. Menjadi seorang ibu dan memiliki anak tidak serta-merta menghapus trauma dari pengabaian emosional yang kualami. Aku bersyukur atas anak-anakku, tetapi aku juga berhak menangisi malam-malam sepi yang harus kulewati sendirian tanpa sandaran.

Kepada diriku di masa lalu yang selalu dipaksa kuat: Maafkan aku karena baru berani menyuarakan rasa sakitmu hari ini. Kamu hebat, kamu sudah bertahan melewati badai tersunyi di negeri kincir angin ini. Dan kini, perlahan, aku ingin melepaskan topeng itu en memberikan ruang bagi hatiku yang hancur untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen

We staan op het punt om te verhuizen en realiseren ons hoeveel we gaan missen: de kleine dagelijkse dingen, de wandelingen, de rust en het leven in Nederland.

Baca juga versi Bahasa Indonesia dari cerita ini:

Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah

Vanochtend had ik een afspraak bij de fysio. Omdat papa van de kinderen aan het werk is, moest ik alleen gaan met de kinderen. Eén van de dingen die ik het meest ga missen van ons huis hier, is hoe makkelijk alles dichtbij is. De fysio, huisarts, tandarts, supermarkt, scholen van peuterspeelzaal tot middelbare school, bushaltes en het treinstation… alles is gewoon op loopafstand.

Maar eigenlijk is dat niet het enige wat ik ga missen. Het zijn juist de kleine, gewone momenten. De wandelingen over de rustige paadjes, de frisse koude wind op je gezicht, de schone lucht, en overal kleine speeltuintjes langs de weg. Dingen die nu zo normaal voelen, maar eigenlijk best bijzonder zijn.

In Indonesië zal dat anders zijn. Misschien niet meer even snel even lopen naar een afspraak of boodschap. Misschien geen rustige wandelpaden meer waar je zomaar even kunt genieten van de ochtend. En misschien ook niet overal speeltuintjes in de buurt zoals hier.

Maar de laatste tijd zie ik ook iets anders. Via social media van andere ouders in Indonesië zie ik hoe blij kinderen daar zijn. Ze rennen door mooie natuur, spelen op het strand, ontdekken bergen, spelen in de regen, voeren dieren, of brengen hun tijd door in parken en buitenruimtes. En ook binnen is er veel: grote speeltuinen, interactieve musea, science centers en allerlei creatieve plekken waar kinderen zich helemaal kunnen uitleven.

Misschien ziet geluk er gewoon anders uit, afhankelijk van waar je bent.

Kinderen tellen niet hoeveel speeltuinen er binnen een straal van 500 meter zijn. Ze vragen zich niet af of ze er lopend naartoe kunnen of dat ze gebracht moeten worden. Ze vinden plezier in het spelen zelf, in samen zijn, in ontdekken.

En misschien leer ik daar zelf ook van. Ja, er zijn dingen die we gaan missen. Dingen die heel vanzelfsprekend voelen nu, maar straks niet meer. Maar tegelijk komen er ook nieuwe dingen voor terug, dingen die we nu nog niet eens kunnen voorstellen.

Terwijl ik vanochtend met de kinderen naar de fysio liep, besefte ik weer dat het meestal niet de grote dingen zijn die je het meest bijblijven. Het zijn juist die kleine dagelijkse routines: overal naartoe kunnen lopen, frisse ochtendlucht, kinderen die rennen naar een speeltuintje onderweg… dat soort momenten die je dag vullen zonder dat je het doorhebt.

Maar ik geloof ook dat ons nieuwe huis straks weer andere verhalen zal brengen. Verhalen die nu nog onbekend zijn, maar die later misschien net zo dierbaar zullen worden.

Want uiteindelijk leren kinderen ons iets heel belangrijks: niet te veel stilstaan bij wat was of wat komt, maar gewoon leven in het moment. Ze willen spelen, lachen en zich veilig en geliefd voelen.

En misschien is dat eigenlijk alles wat echt nodig is.

Want zolang er ruimte is om te spelen, mensen die van je houden, en nieuwe dingen om te ontdekken, vindt geluk altijd wel zijn weg. ❤️


Lees ook

  • Waarom we terugverhuizen naar Indonesië
  • Wat we gaan missen aan ons leven in Nederland
  • Opvoeden tussen twee culturen
  • Ons leven als gezin in Nederland
  • De kleine dingen die je pas waardeert als je ze achterlaat

Categorie: Gezin, Emigratie, Ouderschap, Leven in Nederland, Reflectie

Hal-Hal Kecil yang Baru Akan Kita Hargai Saat Harus Berpisah

Menjelang kepindahan ke Indonesia, saya menyadari bahwa yang paling akan dirindukan bukan hanya fasilitas yang dekat dan mudah dijangkau, tetapi juga rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa. Tentang perpisahan, adaptasi, dan kebahagiaan anak-anak yang selalu menemukan jalannya.

Lees ook de Nederlandse versie van dit verhaal:

De kleine dingen die we pas waarderen als we afscheid nemen

Pagi ini aku ada jadwal ke fysio. Karena papa anak-anak sedang bekerja, aku harus pergi sendiri ditemani anak-anak. Salah satu hal yang akan paling kurindukan dari rumah kami yang sekarang adalah kemudahan akses ke mana-mana. Ke fysio, dokter, dokter gigi, supermarket, sekolah dari TK sampai SMA, halte bus, stasiun kereta api, dan banyak fasilitas lainnya, semuanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tapi ternyata bukan hanya itu yang akan dirindukan. Ada juga momen-momen sederhana yang selama ini terasa biasa saja: JJS melewati jalan setapak yang tenang, merasakan angin sejuk yang dingin menyentuh wajah, menghirup udara segar, dan menemukan taman bermain di hampir setiap sudut perjalanan. Hal-hal kecil yang menjadi bagian dari keseharian kami tanpa pernah benar-benar disadari betapa berharganya.

Tapi di Indonesia, semuanya akan berbeda. Mungkin tidak lagi semudah keluar rumah lalu berjalan kaki beberapa menit ke tempat tujuan. Mungkin tidak ada lagi jalan setapak yang nyaman untuk berjalan santai sambil menikmati udara pagi. Mungkin taman bermain tidak lagi hadir di setiap lingkungan yang kami lewati.

Namun belakangan ini aku juga menyadari sesuatu. Dari status dan cerita teman-teman yang memiliki anak kecil di Indonesia, aku melihat anak-anak mereka tumbuh dengan bahagia. Mereka berlarian di alam yang indah, bermain pasir di pantai, menjelajah pegunungan, bermain hujan-hujanan, memberi makan hewan, atau sekadar menghabiskan sore di taman dan ruang terbuka. Di sisi lain, pilihan tempat bermain dalam ruangan juga tidak kalah seru dan semakin beragam. Playground yang besar, museum interaktif, pusat sains, hingga berbagai aktivitas kreatif yang membuat anak-anak betah bereksplorasi.

Mungkin bentuk kebahagiaannya saja yang berbeda.

Anak-anak tidak menghitung berapa banyak taman bermain yang ada dalam radius beberapa ratus meter dari rumah. Mereka tidak membandingkan apakah bisa berjalan kaki ke sana atau harus naik kendaraan terlebih dahulu. Mereka menemukan kegembiraan dari pengalaman, dari kebersamaan, dan dari kesempatan untuk bermain serta mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.

Di situlah aku belajar melihat perpindahan ini dari sudut pandang yang lain. Ya, ada banyak hal yang akan kami rindukan. Ada kenyamanan yang harus kami tinggalkan. Ada rutinitas yang tidak akan sama lagi. Namun pada saat yang sama, ada banyak hal baru yang menunggu untuk ditemukan.

Saat berjalan menuju fysio pagi ini bersama anak-anak, aku kembali diingatkan bahwa yang paling sulit ditinggalkan sering kali bukanlah hal-hal besar. Justru rutinitas sederhana yang selama ini terasa biasa: berjalan kaki ke mana-mana, menikmati udara pagi yang segar, melihat anak-anak berlari menuju taman bermain, dan perjalanan-perjalanan kecil yang membentuk keseharian kami.

Namun aku juga percaya, rumah yang baru nantinya akan menghadirkan cerita-cerita kecil yang lain. Cerita yang saat ini belum bisa kubayangkan, tetapi suatu hari mungkin akan kami kenang dan rindukan dengan cara yang sama.

Karena pada akhirnya, anak-anak punya kemampuan luar biasa untuk mengajarkan orang tuanya tentang beradaptasi. Mereka tidak terlalu sibuk membandingkan masa lalu dengan masa depan. Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan merasa dicintai.

Dan mungkin itulah yang terpenting.

Sebab selama ada ruang untuk bermain, kesempatan untuk bertumbuh, dan orang-orang yang mencintai mereka, kebahagiaan akan selalu menemukan jalannya. ❤️


Baca juga

  • Mengapa Kami Memutuskan Kembali ke Indonesia
  • Hal-Hal yang Akan Kami Rindukan dari Kehidupan di Belanda
  • Membesarkan Anak di Antara Dua Budaya
  • Ketika Rumah Bukan Lagi Sekadar Sebuah Tempat
  • Pelajaran Berharga Selama Tinggal di Belanda

Kategori: Keluarga, Migrasi, Parenting, Kehidupan di Belanda, Refleksi