Mama’s vriend

“jika ortu nikah lagi”

Dagboek ini aku tulis, murni berdasarkan apa yang aku rasakan, sebagai seorang anak yang ortunya nikah lagi.

Jauh hari sebelum hari ini datang.
Waktu itu aku ada di ruangan itu,
Papa pernah bilang kalau dia sudah nggak ada, mama boleh nikah lagi ; betul-betul dengan intonasi netral dan ikhlas banget.
Meski aku ga pernah bayangin, bakal kejadian.

Benar-benar nggak pernah nyangka, bakal terjadi. Hari itu tiba juga. Kalau mama pernah tanya aku boleh atau nggak, pasti jawabannya nggak boleh. Tapi aku nggak mau egois dan sadar betul aku tidak punya hak untuk melarang mama. Kami semua tinggal jauh dari mama dan mama pasti butuh teman. Juga hak mama, untuk memilih hidup dan kebahagiaannya sendiri.

Jujur aku ikut bahagia buat mama, meski ada rasa sakit, aneh, tidak rela dan kecewa. Setiap hari sampai saat ini terus berjuang berusaha ikhlas kepada bapak yang jadi teman hidup mama. Karena sebagai anak tentu selalu ingin lihat mama bahagia dan aku pun tahu mama selalu cinta papa. Ada rasa lega melihat mereka bisa saling menemukan kekuatan dan penghiburan setelah ditinggal pasangan masing-masing.

Tapi perasaan memang tidak bisa bohong. Ada rasa sakit, tiap vc mama ada orang lain disampingnya, bukan papaku.

Aku hargai niat dan usaha bapak, tapi papa cuma satu dan aku ga butuh penggantinya, please just feel enough and free to be my mommy’s husband but don’t ever try to be my father, karena aku sudah tidak membutuhkan peran seorang ayah. Papa sudah membesarkan dan mendidik aku dari bayi sampai aku dewasa, sampai aku siap menghadapi masalahku sendiri. Kenangan bersama papa terlalu banyak dan cintanya buatku tak terganti. Papa juga sebelum pergi sudah titipkan anak-anak perempuannya secara langsung ke suami (dipanggil ngobrol satu per satu, aku lihat papa dan suami menangis bersama dan diberi surat).

Mungkin berbeda halnya, kalau papa pergi ketika aku masih bayi atau kanak-kanak. Tapi tetap rasanya akan lebih berarti untuk seorang anak (meskipun bayi), ketika kursi ayah/ibu kandung tetap dikosongkan, dihargai perannya.

Untuk orangtua tiri, pesanku jadilah hanya sekedar sahabat buat anak-anak, bantu mereka dimana diperlukan, tapi tinggalkan kursi terhormat itu untuk ayah/ibu yang sudah tiada. Jangan langkahi tali ikatan itu, tau batas. It’s not cool if you do.

Buat papa dan mama yang punya pasangan lagi juga orang tua tiri, jangan pernah mencoba memaksakan perasaan anak-anak untuk menerima. Biarkan hubungan itu tumbuh sendiri, it is there or not at all and it’s okay. Jaga juga perasaan anak-anakmu, ketika kalian sedang di depan mereka. Just the idea that you remarried is already hard to take, so please be kind to us.

Bapak cukup jadi teman hidup mama. Aku sangat menghargai bapak yang buat mama tidak kesepian. Terimakasih sudah menemani mama dan berteman dengan kami anak-anak. Mari kita jaga agar hubungan ini tetap baik dan harmonis.

Plaats een reactie