01#Echt Hier

In 2014 ben ik naar Nederland verhuisd.

Niet om te studeren.
Niet vanwege werk.
Maar omdat ik ging trouwen.

Een nieuw begin dat zoveel beloofde: een stabiel land, een goed systeem, een toekomst die je kunt plannen.
Maar de werkelijkheid bleek anders.

Ik had moeite om werk te vinden – zelfs de simpelste banen – omdat mijn Nederlands nog niet goed genoeg was.
En diep van binnen was ik bang.
Bang om iemand te worden die volledig afhankelijk is van haar man.

We woonden bij de ouders van mijn man, in Deurne.

Ze waren ontzettend lief.
Ze ontvingen me als een deel van de familie en behandelden me warm, zodat ik me welkom voelde.
Maar toch was ik vaak in de war.

Ik wilde helpen, maar was bang iets verkeerd te doen.
Ik wilde praten, maar bang om dom over te komen.
Ik deed mijn best, maar het voelde alsof ik moest leren zwemmen in een onbekende zee – zonder te weten waarheen of hoe ik moest drijven om “erin te passen”.

Ik was niet gewend aan hun manier van leven.
Zelfs kleine dingen, zoals wat je eet bij het ontbijt of hoe je zegt dat je nog honger hebt, voelden ongemakkelijk.

Dus deed ik maar mee.
Ook al had ik nog trek.

Soms bleef ik gewoon op mijn kamer.
Deed alsof ik al vroeg ging slapen.
Ik kookte Indonesisch eten, hopend dat ze het lekker zouden vinden.

Ze zeiden “lekker”, maar ik wist: dat is niet altijd zo.
Soms is een compliment gewoon beleefdheid.
Niemand zegt iets, maar je voelt het wel.

Ik leerde dat afwijzing hier vaak niet uitgesproken wordt – je voelt het gewoon.

Hoe lief ze ook voor me waren, ik bleef me een buitenstaander voelen.

Toen zei ik tegen mijn man:
“Laten we een eigen huis zoeken. Dan kunnen we echt leren samenleven.”

We verhuisden naar een klein dorpje, Bakel, niet ver van Deurne.
Rustig, koel, mooi.

Maar… er was niets.
Stil.

Toch voelde het als vrijheid.

In ons kleine huurhuis leerden we stap voor stap om alles zelf te doen: papierwerk, boodschappen, geld, taal.
Langzaam, maar het voelde als mijn eerste echte ademhaling.

Elke keer als we langs mooie huizen reden, keek ik uit het raam: grote ramen, warme lampen, kleine tuinen.

“Zou ik ooit ook zo’n huis hebben?” dacht ik.
Toen leek het onmogelijk.

Maar beetje bij beetje vond ik werk.
Eerst met nul-urencontract, af en toe gebeld als ze iemand nodig hadden.
Later kreeg ik een vaste baan, met echte vaardigheden.

En daardoor konden we opnieuw verhuizen – naar ons eigen huis.
Niet in een grote stad, maar goed genoeg.
Tussen het dorp van mijn schoonouders en onze werkplek in.

Ons eigen huis.
Een droom die ik vroeger alleen durfde te bekijken vanachter het autoraam.

Maar vreemd genoeg… sinds ik hier woon, voel ik juist meer leegte.

Ik heb een vaste baan, een goed salaris, alles is netjes geregeld.
Maar ik voel me onzichtbaar.
Niemand kent echt wie ik ben.

Gesprekken met collega’s blijven oppervlakkig.
Kleine praatjes.
Grapjes die ik niet snap.
Altijd voorzichtig.

Ik voel me vaak een buitenstaander – zelfs op de plek die “thuis” zou moeten zijn.

Sommige mensen kijken misschien met wantrouwen.
Een Aziatische vrouw die met een Europese man trouwt – vast voor een verblijfsvergunning, denken ze.
Niemand zegt het hardop, maar ik voel het.

En ik word moe van steeds moeten bewijzen dat ik niet ben wat ze denken.

Misschien komt het ook omdat ik mezelf een beetje kwijt ben geraakt.
Geen tijd om stil te staan en te vragen:
“Wie ben ik eigenlijk nog?”

Het leven voelt als een eindeloze cyclus:
Werken → moe → weekend → geld op → weer werken.
Herhaal. Altijd.

Langzaam werd ik het zat om alleen een functionerende versie van mezelf te zijn.
Iemand die leeft om te overleven, niet om echt te voelen.

Ik probeerde me vaak aan te passen.
Naar feestjes gaan, met mensen praten.
Maar het bleef ongemakkelijk.

De humor is anders.
De gesprekken zijn anders.
Ik kom stilletjes, en als het kan, vertrek ik vroeg.

Wat het meest pijn doet, is niet anders zijn dan anderen.
Maar het moment dat je voelt dat je niet meer past in jezelf.

En soms vraag ik mezelf zachtjes af:

Is dit het leven dat ik echt heb gekozen?
Of het leven dat ik vasthoud, omdat ik bang ben om te vallen?

Misschien heb ik het antwoord nog niet gevonden.
Maar elke dag leer ik een beetje meer –
om echt aanwezig te zijn.

Niet alleen in dit land te wonen,
maar ook in mezelf.

01# Benar-benar Di Sini



Tahun 2014, aku pindah ke Belanda.

Bukan untuk kuliah. Bukan karena kerja. Tapi karena menikah.

Awal hidup baru yang menjanjikan: negara yang stabil, sistem yang tertata, masa depan yang bisa direncanakan. Tapi realitasnya berbeda. Aku kesulitan mencari pekerjaan bahkan yang paling sepele, karena bahasa Belandaku belum lancar. Dan jauh di dalam hati, aku takut. Takut menjadi seseorang yang sepenuhnya bergantung pada suami.

Kami tinggal bersama orang tua suamiku, di Deurne.

Mereka sangat baik. Menyambutku seperti keluarga sendiri, memperlakukanku dengan hangat agar aku merasa diterima. Tapi tetap saja, aku kebingungan. Aku ingin membantu, tapi takut salah. Ingin bicara, tapi takut terdengar bodoh. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi rasanya seperti belajar berenang di laut yang asing, aku tak tahu arah, tak tahu bagaimana caranya agar bisa “cocok”.

Aku tak terbiasa dengan budaya mereka. Bahkan hal-hal kecil seperti memilih sarapan atau menyampaikan bahwa aku masih lapar terasa canggung. Jadi aku ikut saja. Padahal perut belum kenyang.

Kadang aku hanya diam di kamar. Pura-pura tidur lebih cepat. Memasak makanan Indonesia, berharap mereka suka. Mereka bilang “lekker,” tapi aku tahu, tidak selalu begitu. Kadang, pujian hanya basa-basi. Tidak ada yang menambah atau mungkin memang begitu. Dan aku belajar bahwa penolakan tidak selalu dinyatakan secara langsung kadang hanya terasa saja.

Meski mereka menyayangiku seperti anak sendiri, aku tetap merasa asing.

Lalu aku bilang pada suamiku, “Ayo kita cari rumah sendiri. Supaya bisa belajar hidup sebagai pasangan.”

Kami pindah ke desa kecil bernama Bakel, tidak jauh dari Deurne. Sunyi, sejuk, dan cantik. Tapi… tidak ada apa-apa di sana. Sepi. Tapi itu awal kebebasan. Di rumah sewa kecil, kami mulai belajar mengurus segalanya sendiri: dokumen, pengeluaran, belanja, bahasa. Pelan-pelan, tapi terasa seperti nafas pertama yang utuh.

Setiap kali naik mobil dan melewati rumah-rumah indah, aku hanya bisa memandang: jendela besar, lampu hangat, taman kecil.

“Mungkinkah suatu hari nanti punya yang seperti itu?” pikirku. Waktu itu, rasanya mustahil.

Tapi perlahan, aku mulai bekerja. Dari pegawai nol-kontrak yang hanya dipanggil sesekali, sampai akhirnya jadi pegawai tetap dengan keahlian. Dan karena itu, kami bisa pindah lagi membeli rumah sendiri. Bukan kota besar, tapi cukup. Di tengah antara desa mertua dan tempat kami bekerja.

Rumah sendiri. Mimpi yang dulu hanya berani dibayangkan dari balik jendela mobil.

Tapi anehnya, sejak tinggal di sini… kekosongan justru makin terasa.

Aku bekerja dengan gaji yang cukup, dalam sistem yang rapi dan terjamin. Tapi aku merasa tak terlihat. Tak ada yang benar-benar mengenal siapa aku. Obrolan dengan rekan kerja hanya sampai permukaan. Basa-basi. Candaan yang tak nyambung, percakapan yang dangkal, penuh kehati-hatian. Aku selalu merasa seperti orang asing bahkan di tempat yang seharusnya jadi rumah.

Aku tahu ada yang mungkin menatap dengan curiga. Perempuan Asia yang menikah dengan pria Eropa, katanya demi status. Tak ada yang bilang langsung, tapi aku bisa merasakannya.

Dan aku lelah harus selalu membuktikan bahwa aku bukan seperti yang mereka pikirkan.

Mungkin karena aku sendiri mulai kehilangan siapa diriku. Tak ada waktu untuk berhenti, untuk bertanya kembali: “Aku ini siapa?”

Hidup seperti ini terasa seperti siklus yang tak pernah berhenti:
Kerja → lelah → akhir pekan → uang habis → kerja lagi.
Ulangi. Terus.

Lama-lama, aku muak menjadi versi diriku yang “berfungsi” tapi tak pernah merasa utuh. Yang hanya hidup untuk bertahan, bukan untuk merasakan.

Aku sering mencoba untuk menyesuaikan diri. Pergi ke pesta, kumpul bersama. Tapi tetap terasa asing. Budaya candanya lain. Topik obrolannya lain. Aku datang diam-diam, dan kalau bisa, pulang paling awal.

Yang paling menyakitkan bukan saat merasa berbeda dari orang lain.
Tapi saat mulai merasa tak cocok dengan diri sendiri.

Dan kadang aku bertanya dalam hati, pelan dan nyaris tanpa suara:

Apakah ini hidup yang benar-benar kupilih?
Atau hidup yang kupaksakan, karena aku terlalu takut untuk jatuh?

Mungkin jawabannya belum kutemukan.
Tapi setiap hari, aku belajar sedikit demi sedikit untuk benar-benar hadir di sini. Bukan hanya tinggal di negeri ini,
tapi tinggal di dalam diriku sendiri.

Plaats een reactie