Batik lungsuran si mbah

Beberapa hari terakhir di Jogja, maksud hatiku mau nyenengin mama. Aku tepar dan sempat sakit, hotel bermasalah pula. Lagi-lagi belajar dari para mama, yang rasa sayangnya terkesan lebay, ga masuk akal dan so funny tapi cintanya mutlak buat anak-anaknya, equally meski penyampaiannya berbeda ke tiap anak.

Batik peninggalan mbah putri Sragen buat mama. Waktu aku sakit, aku dipijitin pake minyak kutus-kutus, didoain, terus diselimutin pakai batik ini. This was ekspresi aku waktu itu; putar bola mata sambil berusaha ga tertawa. Sambil selimutin aku mama bilang “mba kalo besok sakit ga ada mama (di Belanda), selimutin batik mbah ini ya, biar cepat sembuh dan semoga cepat bisa hamil, ya mba.” Aku jawab, “iya ma” sambil senyum geli.

Mungkin suatu saat aku bakal jadi mama or not, cuma Tuhan yang tau (coz, hidup tentang belajar mengucap syukur dan mencukupkan diri dengan apapun yang dikasih Tuhan). So, aku ngga bakal tunggu jadi seorang mama, buat ekspresikan this kind of love “The Lebay one”. Karna hidup itu present, sekarang. Se-simple itu.

Cinta yang ngga egois

Liburan di bulan Juni 2022 ini ngajarin aku cinta yang ngga egois, yang memberi apapun bentuknya.

Menikah, ninggalin semuanya, hidup baru jauh dari orang-orang yang aku kasihi, punya orang-orang baru lagi yang juga dikasihi sama.

Tapi aku ga pernah merasa puas, karena aku tau ga akan pernah bisa physically dekat mereka secara bersamaan, terpisah 6 minggu dari suami, bahkan sedetik aja hal buruk bisa terjadi, jadi parno sendiri. And i feel loved, the way he let me go for it.

Setelah 8 tahun ga pulang ke Indonesia. Banyak yang berubah, banyak cerita, bangunan, sistem, hubungan, emosi, orang-orang berubah dan menua. Papa pernah bilang 1 tahun itu sebentar dan banyak yang bakal berubah, saat dia telpon suruh aku pulang ke rumah dari merantau ke tanah bugis. And once again you’re right dad. Sedih but no regret, bisa lebih lama habisin waktu bareng papa.

Semakin aku gede, semakin sadar kita ga bisa kontrol takdir, keadaan. Tapi kita punya pilihan.

Then, dari situ aku sadar. Cinta itu bukan untuk digenggam tapi dilepas, memberi tanpa pamrih, and let them feel they are truly loved. Kita hanya bisa memilih untuk memberi cinta yang tulus, kata mama maksimal en kita ga akan takut kehilangan or ga dibalas. Karena itu murni en ikhlas, ga dibuat-buat.