Belajar Fungsi: ik leer wat werkt

Tentang pergeseran pola pikirku dari seorang pemburu nilai di Indonesia hingga mengenal budaya Zesjescultuur di Belanda. Ini adalah kisah jujurku tentang arti belajar sejati yang berfokus pada fungsionalitas nyata dan efisiensi hidup, di mana aku memilih melepaskan ambisi akademis dan ijazah demi sebuah prinsip: ik leer wat werkt.

Selama aku di Belanda, aku belum punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku. Aku harus bekerja, tapi justru di situ aku menemukan arti belajar yang sesungguhnya: bukan gelar atau titel hanya fungsi, doel.

Pada saat aku wajib untuk lulus inburgering, agar tidak perlu bayar sekolah bahasa yang mahal, aku memilih belajar online secara mandiri. Hasilnya, nilai ujianku sangat memuaskan.

Tapi, saat ada yang bertanya aku menolak menyebut angka. Waktu itu adalah AHA momenku paham bahwa pencapaian yang kuraih itu untuk kusimpan sendiri. Orang lain tidak perlu tahu berapa, karena bagiku lulus ujian inburgering jauh lebih penting.

Di Belanda, aku mulai sadar bahwa ada yang tidak beres dari didikan masa kecilku dulu. Saat masih sekolah di Indonesia, aku baru bisa merasa agak puas kalau melihat angka 8 di rapor.

Aku jadi ingat masa SMP, saking takutnya dimarahi karena rapor jelek, aku sampai nekat mengedit nilainya sendiri memakai pensil. Rapor itu kemudian kumintakan tanda tangan Papa saat suasana rumah sedang remang-remang agar tidak ketahuan. Setelah bertahun-tahun berlalu dan aku sudah bekerja, baru aku berani mengakui dosa masa kecil itu ke Papa, haha.

Dulu saat masih sekolah di Indonesia, aku baru bisa merasa puas kalau melihat angka 8 di rapor. Sampai nekat mengedit nilainya sendiri memakai pensil.

Beda halnya di Belanda. Di awal aku masih agak aneh dan percaya ga percaya, hihi it’s too good to be true tapi aku suka budaya nilai enam mereka! Rasanya lebih manusiawi dan keren.

Masyarakat Belanda mengenal fenomena sosiologis yang disebut Zesjescultuur (budaya nilai enam), sebuah mentalitas di mana pelajar atau mahasiswa sudah merasa cukup dengan nilai 6—batas paling rendah untuk lulus—tanpa perlu menunjukkan usaha ekstra yang berlebihan.

Alih-alih berkompetisi secara agresif demi meraih nilai 8 atau 10, mereka memilih jalur pragmatis: meraih diploma dengan efisiensi waktu dan energi seminimal mungkin agar keseimbangan hidup (work-life balance) tetap terjaga. Tapi tetap terlihat cara berpikir dan bekerja kebanyakan orangnya efektif juga efisien.

Pola pikir ini berakar dari prinsip kesetaraan dan sikap nuchtere (bersahaja) masyarakat Belanda yang memegang teguh filosofi ‘doe maar gewoon‘—bahwa bersikap biasa saja itu sudah baik, dan cukup berarti sudah cukup.

Makanya, dari beberapa ujian yang pernah aku tempuh di sini, aku tidak pernah menemukan sistem ranking. Hasilnya hanya voldoende (cukup/lulus) atau onvoldoende (tidak cukup/gagal). Padahal, soal ujiannya sangat tricky dan menjebak, sehingga perlu pemikiran logika yang matang—seperti pada teori ujian mengemudi ataupun NT2 B2.

Orang di sini jarang, dan bahkan hampir tidak ada, yang peduli berapa nilaimu. Mereka hanya peduli kamu lulus atau tidak, apakah kamu paham atau perlu waktu belajar ekstra.

Juga saat pelatihan dari tempat kerja, meski materi yang disampaikan bersifat teknis, tapi dari awal kursus sampai akhir, ilmu berhasil ditransfer tanpa pemaksaan, mengalir dan tepat sasaran.

Sejak hidup di Belanda, pandanganku tentang pendidikan berubah cukup drastis. Mungkin juga karena pada saat itu aku mulai mengubur ambisi akademisku, entahlah. Aku mulai ekstrem menganut bahwa ijazah itu tidak begitu penting, asal kita benar-benar paham apa yang kita pelajari dan bisa mengaplikasikannya untuk kepentingan riil.

Saat aku membuka usaha kecil katering atau sekadar mengambil kursus untuk aktualisasi diri, aku hanya mengikutinya untuk pemahamanku dan target yang ingin kucapai, sisanya n.v.t (niet van toepassing /tidak relevan. Aku mulai belajar untuk bekerja, ik leer wat werkt.

Plaats een reactie