Where i wanna go; proyek hidup sehat dan fit-ku

Seperti yang kita tahu, kebanyakan penyakit itu timbul dari pola pikir, pola hidup, pola dan pola yang kurang atau berlebihan lah pokoknya. Contoh sehari-hari saja ; merokok, minum alkohol berlebih, makan makanan yang tidak sehat/ ga ada nilai gizi, kelebihan berat badan dan terlalu sedikit bergerak.

Di jaman yang serba cepat dan modern ini, sangat mudah bagi aku untuk lupa merawat diri, saking sibuknya melakukan hal-hal yang “lebih penting”. Lupa, kalau merawat kesehatan tubuh dan mental adalah hal yang lebih penting supaya hasil apapun itu lebih baik dan maksimal.

So, aku dari dulu termasuk orang yang sangat berniat hidup sehat dan fit, who doesn’t? Tapi, masih jauh dari sempurna, niatku masih saja putus nyambung, daaaan sekarang waktunya buat sambung lagi. Sejak sudah putus September 2024 lalu (Oktober dan November i was still on vacation mode šŸ˜› ).

Caranya buat hidup sehat dan fit itu terdengar mudah di telinga, tapi aplikasinya ga semudah ucapinnya ; tidur yang cukup, makan yang sehat, gerak, merencanakan hal-hal yang menyenangkan, sediain waktu baca/me time, meditasi, punya rutinitas, waktu bebas, istirahat, refleksi diri dan lain-lain.

Jadi, aku mau catat semua tips dan plan aku, aku kumpulin dari semua sumber artikel berbahasa belanda, inggris atau indonesia yang aku baca, tujuannya cuma buat reminder diri sendiri dan mudah mau baca lagi. Semoga juga bermanfaat buat kalian yang ikutan baca.

Ini dia listsnya dari yang mudah ke yang tersulit:

  1. Pola Tidur
  2. Merawat diri
  3. Kesehatan mental
  4. Makan Sehat
  5. Olahraga

38 minggu

Minggu 16-07-2023, pagi sekitar jam 6 kami membuat janji dengan kamar bersalin di RS. Elkerliek Helmond untuk melakukan proses induksi balon katheter. Pulang ke rumah, seharian beraktifitas dan gerak kemanapun dengan balon katheter rasanya gimana gitu, imagine that šŸ˜‚.

Senin 17-07-2023
Pagi-pagi kita sudah datang ke rumah sakit. Hanya duduk di ruang tunggu sebentar (berasa lama banget), kemudian dipindah ke kamar bersalin untuk melihat perkembangan balon katheter oleh dua orang petugas rumah sakit.

Pada saat pemeriksaan ternyata, rahim aku masih belum matang, dan keras.  Jam dinas 2 petugas sudah habis, kemudian terpaksa kenalan lagi sama petugas di jam itu. Mencoba menahan diri untuk tetap ramah dan keep positive vibes. Sampai akhirnya, setelah perawat ngobrol dengan ginekolog, dapat jawaban di hari itu ; “ibu, kalau besok belum ada tanda-tanda juga, sepertinya besok pulang ke rumah saja, minggu depan kita ulang lagi proses balon katheternya”.

Kita dapat kamar bersalin, family suit. Kamarnya cukup luas, difasilitasi satu kasur pasien, box bayi, meja makan, wastafel, kamar mandi dalam dan bangku tidur. Suami sedikit protes, karena sudah bayar asuransinya mahal cuma kebagian sofa dan makan masih dikenakan charge.

Sore itu, kita keliling rumah sakit cari kafe dan menu dinner buat suami. Kalau aku nggak puas juga makan sup tomat dan worstenbroodjes, jadi dari rumah sudah pesan dan bawa Thaise Food, plus disediain juga dari rumah sakit (makanannya enak semua!). Setelah temenin suami nongkrong di kafe rumah sakit, balik lagi ke kamar inap.

Dengan hati sedikit kecewa dan lega, malam itu di kamar rumah sakit alhasil aku begadang, balas in chat keluarga dan teman-teman. Banyak yang share pengalaman melahirkan dan tips. Berusaha menguatkan diri dan bersabar sampai minggu depan. Belum bisa tidur, mungkin juga masih kepikiran dan cemas di alam bawah sadar. Jam 3an akhirnya ketiduran.

Selasa 18-07-2023
Pagi itu kita dilayani 2 petugas rs yang jam dinasnya hampir habis, satu bidan dan satu perawat (artinya, tiap beberapa jam bakal ganti petugas). Di awal proses, perawat memasangkan alat ctg selama 15-30 menit, untuk kontrol kondisi janin. Setelah itu bidan memeriksa secara vaginal, seberapa matang dan supel kondisi rahim.

Pemeriksaan ini menurut aku sangat sakit dan buat nggak nyaman, tiap bidan juga nggak sama pengalamannya (percayalah tiap tangan beda-beda, kalau nggak salah hitung ada total 7 orang berbeda yang periksa aku, oh Tuhan).

Oh ya, untuk mengurangi sakit saat periksa ini ada beberapa tips yang bisa kurangi ketegangan. Tarik buang nafas panjang, bokong tidak boleh diangkat, paha dan kaki posisi atas (dibantu penyangga) atau disangga petugas. Tetap sakit, tapi lebih bisa buat kita tenang, dan prosesnya jd cepat.

Sugeng tindak, tanteku sayang

“Tante, makasih udah bikin kami merasakan kasih sayang tulus, dari kecil sampai udah nikah selalu diperhatikan. Tiba tiba ga ada tanda-tanda. Rasanya ngga sanggup ditinggal tante, tapi harus rela, karna tempatnya malaikat cantik di surganya Tuhan. Tante mama yang luar biasa buat enna, lingsir dan kami pun ikut rasain. Tante pergi tapi kasih yang tante kasih bakal tinggal selamanya.

Bakal kangen tawa ceria tante, yang selalu paham kalo diajak curhat, pillow talk sama tante, kumpul kumpul. Cerita-cerita penuh cinta tante betapa bangganya dengan anak-anak tante. You are loved tanteku sayang. Rest in peace te.”

Mengenang tanteku yang inspirasional

self-love isn’t selfish

Pernah dengar ungkapan “bahagia itu kita yang ciptakan”? Dan bisa bayangin pastinya, kalau tiap orang bahagia, betapa indahnya dunia ini, everyone is in the mood! But, bagaimana mungkin bisa bahagia kalau dunia seolah-olah tidak berpihak kepada kita?

Di dalam hidupnya, aku percaya tiap orang pernah dihadapkan dengan keadaan ini. Entah itu masalah atau pilihan sepele bahkan yag besar dan traumatis sekalipun.

Contoh yang sepele saja, bagaimana mau senang kalau sedang sakit gigi? Bagaimana nggak stress kalau sudah mau ujian tapi belum siap? Bagaimana mau senyum percaya diri, kalau ada jerawat nakal di muka? Bagaimana mau bahagia, kalau orang tanpa alasan benci kita?

Contoh yang lebih serius, bagaimana mau bahagia kalau orang tua nggak bahagia atau bangga pada kita? Bagaimana mau bahagia kalau keluarga berantakan? Bagaimana mau bahagia kalau nggak bisa bahagiakan orang yang kita sayang? Bagaimana mau bahagia kalau semua mimpi kita hancur berantakan?

Jawabannya bisa. Be kind, take care and choose yourself first, self love. It is not selfish. Justru itu adalah langkah paling awal untuk kita bisa sebarin kebahagiaan, bahagia yang murni, innocent, not the fake one. You being you, know what you want in life, happy and accept you (ex. You ain’t perfect i ain’t either and hey, it’s okay). Memenuhi panggilan hidupmu. Berdamai dengan diri sendiri, tanpa lupa melibatkan Tuhan, tentunya. Think about it. How can simply love yourself can spread happiness to others. It is, right?

Let’s figure it all out, what makes you happy? How to make sure you love yourself first? Pikirkan, gumulkan dan doakan dengan serius apa yang baik untuk hidupmu. Lakukan dan tularkan bahagiamu.

Living in fear or faith

Mempublikasikan kehamilan ternyata bisa menjadi momok bagi seorang perempuan. Ketika aku tau aku hamil, hal pertama yang paling aku kuatirkan adalah terlalu cepat memberitahu.

Jadi, begitu aku kabari orangtua dan mertua aku langsung ingatkan untuk merahasiakan. Alhasil, yang namanya orangtua nggak bisa simpan kebahagiaan. Rahasia ngga bertahan lama, mereka sudah sebarin berita bahagia ke saudara dan kerabat mereka. Kesal? Tentu saja kesal, tapi itu juga pertanda mereka sangat bahagia dan bangga. Raut wajah ngga bisa bohong.

Aku juga sempat bahas ini ke mertuaku, tapi respon dia ada benarnya juga. Saat itu dia bilang, kebahagiaan tidak perlu disimpan, tapi untuk dibagikan. Kalau takut keguguran, saat kandungan 6 bulan atau 9 bulan pun bisa saja terjadi. Tapi kita bahagia saat ini, momen hari ini dirayakan hari ini.

Setelah aku pikirkan dan renungkan, ya juga, masuk akal sih. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan tentu tidak memandang umur. Suatu hal yang kita tidak bisa hindari. Sebagai orang tua, anak, saudara kita harus selalu siap untuk momen seperti ini. Selama kita masih sehat, masih punya kesempatan, nikmati, jalani dan syukuri. Cherish every moment you have together.

Hidup dalam ketakutan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang saat ini sedang kita miliki. Tapi hidup di dalam iman, memberi kita harapan baru dan kekuatan. Jadi pilih yang mana, living in fear or faith? Faith, dong!

ā€œPositive anything is better than negative nothing.ā€ – Elbert Hubbard

Pasar bawah, traditionale markt in Pekanbaru

Juni, 2022

Het was een warme middag in pekanbaru. Ik starte het motor van mijn moeder’s auto, mijn blouse was allang nat van het zweet terwijl ik heb me net omgekleed. Ik ging samen met moeder en bapak naar pasar bawah om gezouten vissen te kopen.

Pasar bawah is bekende traditionele markt in Pekanbaru. Je kan bijna van alles vinden, dus daar is ook leuk om rond te kijken. Maar die dag was zo heet, dus ik had amper kracht om gezouten vissen te vinden op begane grond van pasar bawah.

Zodra ik de parkeerman kon vinden, deed ik parkeren op de zijkant van de weg waar hij mij wees. Hij pakte een karton voor op voorkant van de auto beschermen van de hete. Ik betalde 2000 rupiah voor zijn servies, het is rond 13 cent denk ik.

Social media syndrome

Ik zeg nog, als een voorbeeldgeval; ik ben wel soms jaloers op mensen met super mooie goddelijke lichaam (het is mijn droom). Wat zijn de oorzaken van mijn jalozie? Negatief zelfbeeld.

Ik geloof niet dat ik discipline heb van de sporter. “Dat is gewoon onmogelijk voor mij” of “het is te zwaar” of “ik heb honger (trek)” en “tuurlijk, kunnen ze dat, ze hebben toch niks anders te doen!”.

Ik begin van een smoesje naar andere smoesjes te verzinnen.. Ik begin te twijfelen aan mijn eigen vermogen om mijn wens uit te laten komen. Succes van iemand anders wordt een nachtmerrie, een feit dat ik waardeloos ben, een manier om mijn zelf te bekritiseren. Niet gezond!

Vergelijken mezelf met iemand anders leven. Ik kijk naar iemand plaatje op social media, wow! wat hebben ze goed. Wat een bofkont, zeg ik dan (slecht gevoel ipv blij voor hun). Ik heb dat niet of ik kan het niet zoals hun. Scrollen.. scrollen.. scrollen.. blijf scrollen alleen maar mensen met een goede leven (vreselijk). Het is oneerlijk, echt.

Een ding vergeet ik, omdat iemand anders leven zo perfect eruit zien op een plaatje of van de buitenkant niet betekent ze zijn altijd blij. We doen toch ook alleen maar leuke foto’s laten zien? Mensen strijd met hun eigen problemen, iedereen.

Mama’s vriend

“jika ortu nikah lagi”

Dagboek ini aku tulis, murni berdasarkan apa yang aku rasakan, sebagai seorang anak yang ortunya nikah lagi.

Jauh hari sebelum hari ini datang.
Waktu itu aku ada di ruangan itu,
Papa pernah bilang kalau dia sudah nggak ada, mama boleh nikah lagi ; betul-betul dengan intonasi netral dan ikhlas banget.
Meski aku ga pernah bayangin, bakal kejadian.

Benar-benar nggak pernah nyangka, bakal terjadi. Hari itu tiba juga. Kalau mama pernah tanya aku boleh atau nggak, pasti jawabannya nggak boleh. Tapi aku nggak mau egois dan sadar betul aku tidak punya hak untuk melarang mama. Kami semua tinggal jauh dari mama dan mama pasti butuh teman. Juga hak mama, untuk memilih hidup dan kebahagiaannya sendiri.

Jujur aku ikut bahagia buat mama, meski ada rasa sakit, aneh, tidak rela dan kecewa. Setiap hari sampai saat ini terus berjuang berusaha ikhlas kepada bapak yang jadi teman hidup mama. Karena sebagai anak tentu selalu ingin lihat mama bahagia dan aku pun tahu mama selalu cinta papa. Ada rasa lega melihat mereka bisa saling menemukan kekuatan dan penghiburan setelah ditinggal pasangan masing-masing.

Tapi perasaan memang tidak bisa bohong. Ada rasa sakit, tiap vc mama ada orang lain disampingnya, bukan papaku.

Aku hargai niat dan usaha bapak, tapi papa cuma satu dan aku ga butuh penggantinya, please just feel enough and free to be my mommy’s husband but don’t ever try to be my father, karena aku sudah tidak membutuhkan peran seorang ayah. Papa sudah membesarkan dan mendidik aku dari bayi sampai aku dewasa, sampai aku siap menghadapi masalahku sendiri. Kenangan bersama papa terlalu banyak dan cintanya buatku tak terganti. Papa juga sebelum pergi sudah titipkan anak-anak perempuannya secara langsung ke suami (dipanggil ngobrol satu per satu, aku lihat papa dan suami menangis bersama dan diberi surat).

Mungkin berbeda halnya, kalau papa pergi ketika aku masih bayi atau kanak-kanak. Tapi tetap rasanya akan lebih berarti untuk seorang anak (meskipun bayi), ketika kursi ayah/ibu kandung tetap dikosongkan, dihargai perannya.

Untuk orangtua tiri, pesanku jadilah hanya sekedar sahabat buat anak-anak, bantu mereka dimana diperlukan, tapi tinggalkan kursi terhormat itu untuk ayah/ibu yang sudah tiada. Jangan langkahi tali ikatan itu, tau batas. It’s not cool if you do.

Buat papa dan mama yang punya pasangan lagi juga orang tua tiri, jangan pernah mencoba memaksakan perasaan anak-anak untuk menerima. Biarkan hubungan itu tumbuh sendiri, it is there or not at all and it’s okay. Jaga juga perasaan anak-anakmu, ketika kalian sedang di depan mereka. Just the idea that you remarried is already hard to take, so please be kind to us.

Bapak cukup jadi teman hidup mama. Aku sangat menghargai bapak yang buat mama tidak kesepian. Terimakasih sudah menemani mama dan berteman dengan kami anak-anak. Mari kita jaga agar hubungan ini tetap baik dan harmonis.

Akhirnya hamil

Pacaran singkat pada 11 juni 2011, kami putuskan menikah di tgl 17-12-2012 . Sudah 10 tahun menikah tapi belum diberi keturunan. 2 tahun pertama pernikahan, kami harus merasakan yang namanya LDR, karena harus belajar bahasa belanda dan banyak persyaratan yang perlu diurus sebelum akhirnya boleh tinggal. Saat itu fokus juga berubah untuk menemani papa yang sedang sakit, tidak bisa ditinggal sampai sembuh. Meski pada akhirnya papa tenang di rumah Bapa.

Tahun 2014, aku dijemput suami dan mertua laki laki untuk pindah tinggal di belanda. 6 bulan pertama masih numpang di rumah mertua, menyesuaikan diri dengan iklim yang ekstrim buat aku, budaya dan bahasa. Puji Tuhan punya dua mertua yang perhatian dan sayang sama aku.

Aku saat itu bergumul cari kerja, ujian bahasa (syarat dapat ktp tetap), ijazah nggak diakui, melamar kerja nggak keterima dimanapun. Nyali sempat ciut dan akhirnya berserah sama Tuhan, berdoa.

Saat aku dan suami jemput mertua dari sebuah pesta, dipertemukan dengan 2 kerabat mereka yang masing-masing nawarin kerja aku, akhirnya aku bisa jadi pegawai tetap salah satu mereka setelah 1 tahunan kerja. Selamanya, aku berterimakasih buat bos aku, Adrie, yang kasih kesempatan ini. Akhirnya aku juga lulus ujian bahasa dengan nilai memuaskan. Puji Tuhan.

Perkenalan yang sebenarnya dimulai ketika kami mulai bisa membangun kehidupan rumah tangga berdua dengan menyewa rumah di sebuah desa namanya Bakel. Hidup bersama sehari-hari, susahnya ngobrol dari hati ke hati dengan bahasa yang saat itu masih asing buat aku (belanda diselingi bahasa inggris). Budaya, nilai moral, agama dan kebiasaan simpel kita yang berbeda, juga perjuangan bagi kita berdua untuk bertemu di tengah. Bisa bayangin sendiri ya. Perjuangan menyesuaikan diri di tempat kerja, ekonomi, hubungan dan banyak lagi.

Pada akhir tahun 2016, kita akhirnya dapat kesempatan untuk bisa beli rumah. Rumah pertama kami di Helmond. Hidup di belanda tidak murah, banyak pengeluaran wajib yang harus dibayar, artinya kita dituntut untuk hidup mewah, ga ada pilihan. Standar hidup di belanda termasuk tinggi.

Kita mulai penyesuaian lagi dan banyak bagian yang juga harus dibenahi, contohnya jendela-jendela yang kacanya harus di double karena kalo musim dingin, dingin banget dan itu ga murah, dll. Mobil buat mobilitas sempat beberapa kali ganti karena rusak. Tapi kita termasuk beruntung, mengucap syukur masih muda dan sudah bisa beli rumah, meski banyak perjuangannya.

Selain urusan rumah, aku juga harus segera punya sim, karena harus bisa mandiri juga. Untuk mendapatkan sim, wajib kursus menyetir, dan harga per jam sangat mahal. Ada pergumulan tersendiri di fase ini, lumayan bikin stress karena sulit dan nguras kantong banget. Bahasa belanda terkenal sulit dan ujian teori juga prakteknya nggak mudah, peraturan di jalan buat mobil, motor dll. Aku nggak akan bahas disini, karena bisa panjang kali lebar, intinya perjuangan berat untuk orang asing bisa dapatin sim.

Sempat aku bilang ke suami, coba kamu dapat istri sesama belanda, pasti kamu hidupnya lebih mudah, ga perlu mulai dari awal lagi, sama-sama sudah kerja dan ready. So sad haha. Karena buat seusia dia, harusnya fase ini sudah lewat, nggak perlu masih nabung dan ikut bayar ini itu karena aku yang baru di sini.

Baru akhirnya mulai punya kehidupan yang stabil di tahun 2018, mulai bisa nabung dan liburan. Sudah mulai tenang, ternyata, Tuhan punya rencana lain, akhir 2019 aku dinyatakan punya penyakit hipertiroid, ini juga nggak aku bahas disini karna panjang. Struggle and struggle…
Setelah minum obat tiap hari dan cek darah teratur, total 2 tahunan. Akhirnya dinyatain sembuh.

Selama aku sakit, aku sempat ambil beberapa kursus kemudian aku buka bisnis katering supaya nggak fokus sama penyakitku dan juga belum hamil. Tanggal 20-11-2020 NingTok resmi terdaftar. Aku punya pekerjaan dan weekend aku jadi sering terima pesanan. Hidup berasa lebih hidup, ada pergumulan yang berbeda lagi. Pertumbuhan karakter, mungkin aku bahas lain kali.

Oke, tahun 2020 kita sempat rencanain pulang ke Indonesia (covid pun melanda), diundur 2021, masih belum juga. Nah, kapan planning anaknya? Kita pun baru sadar, kalau kita selama bertahun-tahun nggak benar-benar fokus buat hamil. Meskipun, selama bertahun itu aku doa yang sama tiap malam sama Tuhan “saat Kau beri aku keturunan, biarlah di saat menurutMu kami sudah siap jadi orang tua, dan bisa berikan kehidupan yang layak buat dia”, always doa yang sama.

Sampai akhirnya aku sembuh dari sakit tiroid di tahun 2021. Tahun 2021, kita rencanain pulang ke Indonesia dulu, baru fokus hamil. Tapi karena covid, harus diundur, sampai akhirnya terealisasi di bulan juni 2022, itupun cuma aku yang berangkat.

Tahun 2021, kita mulai coba hamil, tapi nggak benar-benar hitung tanggal dan sekenanya, masih terbawa suasana peraturan virus covid yang bikin nggak mood dan belum lagi hari-hariku yang sibuk dengan pesanan. Tahun 2022, aku mulai minum vitamin untuk hamil dan lakuin tes di rumah untuk tau tanggal LH aku, mulai sesuaikan dengan applikasi benar-benar hitung tanggal.

Bulan juni aku liburan ke indonesia, 6 minggu yang luar biasa (100% healing). Pulang dari Indonesia sempat flu berat tapi hati benar-benar senang. Aku mulai terima pesanan lagi dan jalani hari-hari yang sibuk, seperti biasa.

Bulan oktober, badan aku sempat nggak fit, tapi harus tetap masak karena udah terima order besar, nggak bisa cancel karena tinggal beberapa hari. Puji Tuhan, aku bisa selesaikan order dengan baik. Karena badanku yang mulai nggak fit sejak oktober, aku mulai sakit-sakitan lagi. Tapi tetap aku sempatin olahraga dan tetap masak.

Selama aku tinggal di belanda, aku termasuk langganan tiap tahun 2 kali kena virus influenza berat, bisa 3 minggu bedrest. Dua tahun terakhir, aku nggak pernah kena lagi, sampai di bulan November virus influenza menyerang (masuk berita juga). Karena kondisi aku yang nggak fit, aku pun tepar. Untuk pertama kali order pempek terpaksa di cancel. Tapi ga cuma itu, yang bikin aku sedih, aku dapat order besar lagi (kesempatan lagi buat ningtok semakin dikenal) dan juga beberapa pesanan kue kering, tapi akhirnya aku harus nolak.

Ntah kenapa, virus influenza kali ini bikin aku kepikiran buat berhenti masak. Tutup. Tanggal 22-11-22 aku curhat chat ke grup keluarga, aku mau berhenti, udah nggak sanggup urus semuanya (selain masak pembukuan, administrasi dll), aku bilang and i mean it. Selama sakit, aku telat datang bulan, aku kira wajar saja. Meski mama suruh aku tes kehamilan.

Sampai akhirnya tanggal 27 november 2022, aku telat 7 hari dan aku tes, akhirnya positif hamil udah 7 minggu. Kado pernikahan ke 10 yang nggak ternilai harganya. Aku ga terima pesanan di NingTok lagi, tapi website tetap aku buka, kembali statusnya jadi hobi. Ternyata Tuhan kasih aku pengalaman baru. Aku mau fokus nikmatin persiapan dan prosesnya jadi orang tua.

Mohon doa buat kehamilanku ya semua šŸ™ supaya sehat dan lancar sampai lahiran. Dalam setiap fase kehidupan, tetap mengucap syukur, taat dan andalkan Tuhan. Karena hidup kita milik Dia, biar namaNya dimuliakan di bumi. Amin.

De magie van stilte

Diskusi yang ga penting?

Apakah diskusi diperlukan? Kapan?

Manfaat dan dampak buruk berdiskusi. Hmmmm….

“Kamu kok taruh gelas di atas meja dapur sih? kenapa kok ga langsung dimasukkin ke vatwasser?” aku mulai kesal, karena tiap kali mesti beresin gelas kotor di meja dapur yang baru aja di lap mengkilap. “Ya ampun, itu aja kamu marah. Aku sering banget lho beresin dan nyusunin piring-piring, ga pernah protes tuh” dia jawab dengan nada sebel. bla di bla di bla, diskusi pun berlanjut, saling sahut menyahut.

Guess what, dua-duanya akhirnya saling ngga mau kalah hitung-hitungan apa aja jasa yang udah disodorin buat satu sama lain. Yang tadinya, kerjain dengan penuh cinta dan ikhlas tetiba berubah jadi nota panjang tagihan yang ga habis-habis disebutin satu persatu.