Sulit menjadi otentik! – sociale less media 2025

Resolusi 2025 ku sederhana, mengobati candu sosmed dan mengganti the wasted hours dengan slow living ala ala.

Now, waktunya merenung tentang otentik.

Menjadi seseorang yang otentik artinya kita secara pribadi mengenal diri kita sendiri, sadar akan nilai-nilai hidup yang kita anggap penting dan tetap mempertahankannya dalam menyikapi kehidupan yang sedang dihadapi.

Tidak ada tekanan atau pilihan yang lebih penting yang bisa mengubah nilai kita, tetap jadi otentik. Akan sangat sulit untuk mempertahankan nilai saat keadaan menekan. Namun aku percaya orang yang otentik tidak mengubah nilai karena sebab luar atau demi kehendak orang lain, tapi kehidupan yang mengubah nilai itu sendiri (pilihan pribadi).

Tantangan lainnya adalah sering manusia membutuhkan rasa untuk merasa diterima, bertahan hidup, takut kehilangan, ingin menang yang terkadang terasa lebih kuat. Akhirnya kita rela menekan/menahan diri (pikiran, perasaan, pendapat, keinginan, nilai dll) hanya demi rasa butuh ini. Sayangnya, justru merusak/bias hubungan dengan orang lain. Orang lain tidak benar-benar mengenal kita sesungguhnya, tapi karakter yang sedang dimainkan (topeng) demi sebuah kebutuhan.

Pertanyaannya, berapa lama seseorang mampu menahan diri, mengalah, bungkam, berpura-pura? Melelahkan!

Pada akhirnya hanya akan membuang waktu sendiri dan orang lain yang akan sadar siapa kita sebenarnya, cepat atau lambat. Belum lagi, kerusakan hubungan yang nampak dan tidak, yang disadari atau tidak. Jadi, bagaimana agar kita bisa benar-benar otentik, jadi diri sendiri?

Bagi sebagian orang, ini bukan masalah mudah. Apalagi pencitraan semakin menjadi-jadi di dunia virtual yang penuh dengan kemungkinan. Hidup otentik akhirnya akan membebaskan, membangun pondasi hubungan yang sehat dan kuat, menginspirasi dan juga memberikan rasa yakin, setia dan aman di dunia penuh tipu-tipu.

Apakah kita sudah menjadi manusia otentik?