Diam-diam

Menikmati hidup secara diam-diam, seperti belasan tahun bekerja dengan fokus dan ketelitian tinggi yang justru memaksa imajinasi untuk membebaskan diri

Pagi ini aku terbangun cukup awal. Mungkin karena sekarang sudah tidak bekerja, tidak ada lagi kebutuhan akan alarm, dan tubuh mulai menemukan ritmenya sendiri. Anak-anak ikut terbangun, alhasil kami turun ke bawah lebih pagi dari biasanya. Setelah mereka selesai makan, aku pergi ke atas untuk bersiap-siap.

Dari balik kaca jendela, aku mengintip ke luar. Pagi seperti ini di Belanda terasa sangat syahdu; jalanan basah diguyur hujan dan warna daun-daun kecoklatan yang berguguran persis seperti bayangan imajinasiku dulu, saat membaca buku pinjaman perpustakaan di SD Pekanbaru. Seandainya saja hidup selama 12 tahun terakhir di Belanda selalu bisa dinikmati seperti ini—tanpa terburu-buru, tanpa kesibukan yang mengular. Sayangnya, kenyataannya tidak begitu.

Di luar sana, semua orang tampaknya sedang berlomba-lomba untuk berada di puncak. Mengejar karir setinggi mungkin dan memastikan eksistensi mereka terdengar di tengah riuh rendahnya dunia.

Namun, ada kedamaian berbeda yang kucari. Sebuah keinginan untuk meresapi ketenangan tanpa riak. Aku merasa paling hidup justru saat menjadi invisible—tidak dikenal dan tidak dipedulikan di dalam keramaian. Ada kenikmatan tersendiri saat bisa duduk diam dan memandang air dalam kesunyian, tanpa harus memenuhi ekspektasi siapa pun.

Selama belasan tahun terakhir, Belanda menjadi tempatku bernaung. Tak kusangka di sini aku belajar dewasa, menghadapi dinamika kehidupan,  menikah dengan pria WN Belanda dan melahirkan dua anak yang kini berusia 3 tahun dan 7 bulan. Namun, di balik keindahan negara ini, ada realitas pekerjaan yang sekian lama mengurungku.

Tuntutan pekerjaanku melibatkan ketelitian yang luar biasa tinggi. Setiap hari dihabiskan terisolasi di dalam ruangan, berperang dengan produk-produk yang harus dibuat secara presisi dan tanpa cela. Karena nyatanya tidak banyak orang yang memiliki tingkat ketelitian dan kesabaran seperti ini, posisiku menjadi sangat sulit digantikan. Aku pun tidak punya pilihan untuk pindah ke bidang lain karena susahnya mencari orang yang sanggup bertahan di posisi tersebut.

Hari-hariku berjalan sangat monoton. Namun, di balik dinding-dinding ruangan yang kaku itu, pikiranku justru bisa berpikir dengan sangat jernih. Ketika tangan dan fokus terpaku pada detail produk, imajinasiku terbang bebas ke mana-mana. Dari kecil aku memang sudah pemimpi dan melamun itu asyik. Dengar-dengar ternyata melamun bukan berarti kosong, melainkan cara otak menciptakan ruang bebasnya sendiri. Ini caraku coping saat fisik sedang terkurung rutinitas kaku Belanda yang serba cepat.

Keinginan untuk pulang ke Indonesia justru datang dari suamiku, pencetus ide awal. Dialah yang ingin melambat. Kemudian saat punya anak ia juga mendambakan waktu yang berkualitas untuk anak-anak, sebelumnya hanya ingin menikmati hidup mumpung usia masih muda. Aku sendiri tentu tidak keberatan, meskipun pasti ada sedikit kecemasan bagaimana nanti disana.

Keputusan bersama ini akhirnya membawa kami memilih Yogyakarta sebagai pelabuhan baru untuk memenangkan kembali kendali atas waktu, nafas yang lebih panjang untuk bisa hadir bagi anak-anak kami.

Di Jogja nanti, rutinitas baru perlu dirancang agar hari-hari tetap memiliki jangkar dan pikiran tetap tajam (op peil), tetapi tanpa tekanan ritme kerja yang mengurung. Pagi hari akan sepenuhnya menjadi milik keluarga—bersama suami mengurus dan bermain dengan anak-anak tanpa terburu-buru. Waktu khusus untuk proyek-proyek personal yang menuntut kreativitas juga harus disengaja, serta menyediakan ruang untuk terus belajar secara mandiri. Aktivitas-aktivitas inilah yang akan menjaga ritme berpikir tetap hidup.

Kesyahduan transisi musim gugur dan dingin di Belanda, seperti pagi ini, mungkin akan kurindukan. Namun, ada kebutuhan yang lebih besar akan kehangatan ritme hidup yang melambat. Di Jogja, seni hidup yang sudah kupelajari di ruang kerja selama belasan tahun akan terus berlanjut:

Menikmati hidupku diam-diam, membiarkan imajinasi terbang bebas, dan meresapi setiap detiknya dalam kesunyian yang nikmat.