Hari ini terasa luar biasa berat. Menjelang tengah malam, aku terbangun setelah tidak sengaja tertidur karena kelelahan menemani anak-anak. Leher dan kepalaku sakit sekali. Otot-otot di area tengkuk menegang setelah seharian penuh dipaksa menahan sabar.
Ya, hari ini si Kakak yang berusia 3 tahun benar-benar menguji batas kemampuanku bersabar.
Sepanjang hari, ada saja kelakuannya yang memancing emosi. Mulai dari sengaja berteriak dan mengeluarkan bunyi bising tepat saat aku dan suami sedang mengobrol, hingga menghentakkan kaki ke lantai atau kemanapun yang buat bising. Yang paling membuat dada ini sesak adalah ketika dia sengaja membuat kegaduhan dengan satu misi:
Misi membangunkan adiknya yang baru berusia 7 bulan.
Sebenarnya mencari perhatian seperti ini adalah masalah sejuta umat dalam dunia parenting, terutama pada anak sulung yang belum lama memiliki adik : negative attention seeking. Bagi anak usia 3 tahun, kemarahan atau reaksi kesal orang tua tetaplah sebuah bentuk perhatian yang berhasil mereka rebut kembali.
Si Adik hari ini juga sangat menguras energi, hari ini dia sedang sangat manja dan rewel. Dia sedang lucu-lucunya—suka mengangguk-anggukkan kepala dengan heboh seolah menikmati musik, dan mulutnya komat-kamit ikut bernyanyi setiap kali aku melantunkan lagu favoritnya. Bolak-balik tiap 3 jam minta menyusu, minta digendong terus, dan mendadak susah sekali disuapi makan.
Sepertinya dia sedang tidak nyaman. Sejak dia mulai masuk fase MPASI dan lebih banyak minum susu formula, popoknya menjadi jauh lebih cepat penuh dari biasanya. Kulitnya sedang mengalami ruam popok yang memicu rasa tidak nyamannya. Ditambah gejala tumbuh gigi dan groeispurt, belum lagi istirahat yang singkat karena bolak balik terbangun oleh kakaknya.
Di tengah kepungan rasa lelah mengurus adik yang menempel tanpa henti, kapasitas kesabaranku menghadapi anak berada di titik nol.
Puncaknya terjadi sore tadi. Si Kakak tiba-tiba menarik-narik foam matras tempat bermain di lantai. Dia sedang asyik masuk ke dunia imajinasinya, meniru karakter Chase, si anjing polisi pemimpin dari serial Paw Patrol. Jika tidak dilarang, dia bisa melakukan aksi penyelamatan itu seharian penuh. Namun bagi aku yang sudah kehabisan daya, tindakan tersebut menjadi sebuah kehebohan yang tidak bisa ditoleransi lagi.
Refleks, aku mengusirnya dari atas foam. Tangisnya pun pecah.
Rasanya benar-benar jadi tidak enak setelah kejadian itu. Malam harinya sebelum tidur, oleh papanya dia dihukum untuk tidur lebih cepat. Momen tersebut langsung kupakai untuk menikmati beberapa menit berdua saja dengan bayiku, sambil melanjutkan mengemas stok MPASI-nya yang sudah dingin dan siap dibekukan.
Saat selesai kemas-kemas, kami naik ke atas kamar. Ternyata, si Kakak masih saja aktif bereksperimen dengan kegaduhan. Setelah aku meletakkan adiknya, aku dan Papa berbagi tugas. Papa memberikan susu ke adik—untungnya saat ini aku berada di fase pengalihan ASI yang hampir selesai.
Gantian, aku kini bisa memeluk dan bercerita dengan si Kakak. Menemani anak tidur sebenarnya adalah salah satu cara yang selalu kupakai untuk bercengkerama dengan anak, sekaligus mengevaluasi semua perasaan mereka sepanjang hari. Lewat nasihat, pelukan, obrolan santai, atau dongeng sebelum tidur, aku bisa menyelami apa yang mereka rasakan.
Awalnya memang ada sedikit penolakan dari dia, mungkin karena seharian ini terus-menerus dilarang oleh Mama. Namun, aku tetap memeluk dan mengajaknya bercanda tawa. Di momen intim menjelang terlelap itu, dia tahu betul jika aku sangat menyayanginya. Setelah kedekatan singkat yang hangat itu, aku pun tertidur bersamanya.
Saat rumah sudah tenang malam ini sambil memijat leher yang kaku, aku menyadari bahwa menjalani fase 2 under 3 terkadang membuat diri lupa bahwa manusia memiliki batas. Seorang ibu bukanlah robot. Lelah, sakit kepala, dan habis kesabaran adalah respons tubuh yang manusiawi.
Hari yang panjang ini akhirnya berlalu. Untuk para mama yang mungkin sedang mengalami keletihan yang sama malam ini: peluk jauh untuk sesama pejuang balita. Hari ini sudah terlewati dengan baik. Besok, aku sambut lagi petualangan baru bersama “Chase” kecil dengan energi dan kesabaran yang baru.