Ketenangan Mahal

Kami dihadapkan pada dilema besar. Situasi antarbenua sedang gonjang-ganjing, dan kami harus merogoh kocek hampir ratusan juta hanya untuk membawa barang-barang ikatan emosional. Padahal, rumah kami nanti 3 kali lipat lebih kecil, ditambah lagi pusing memikirkan urusan pajak bea cukai (grey area).

Malam itu, suasananya tampak seperti malam-malam biasa. Kami duduk di depan TV. Suamiku asyik dengan game-nya, sementara aku seperti biasa, sibuk menelusuri layar ponsel, mengobrol dengan chat AI untuk mencari jawaban atas banyak hal yang berputar di kepalaku. Namun, entah bagaimana awalnya, obrolan santai itu perlahan bergeser ke serius. Ujung-ujungnya, kami berdua sampai di pembahasan visa.

Malam itu kami semakin menyadari tentang mahalnya sebuah ketenangan.

Saat anak-anak akhirnya tertidur lelah, layar ponsel kami berganti menjadi tumpukan informasi birokrasi. Di tengah keheningan malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, kami justru harus memeras otak, mencari tahu visa apa yang paling aman untuk dia pakai ke Indonesia nanti.

Perjalanan kami tertahan oleh sebuah kendala klasik: urusan Kartu Keluarga (KK). Masalah administrasi ini membuatku tidak punya pilihan selain harus datang langsung ke kantor Capil di Indonesia. Membayangkan proses birokrasi yang berbelit saja sudah membuatku lelah duluan. Sangat melelahkan. Mungkin karena kondisi fisik dan mental kami memang sudah berada di titik nadir, terkuras habis setiap harinya untuk bekerja juga urusan domestik mengurus kedua anak kami yang masih kecil.

Di tengah kemelut urusan visa dan KITAS itu, kami tetiba saling melihat ke arah sudut ruangan. Di sana ada tumpukan kardus hasil mencicil packing. Sialnya, dari target awal yang cuma 15 dos, barang-barang kami malah membludak jadi 33 dos plus barang-barang besar lainnya.

Melihat tumpukan kardus sebanyak itu, kami pun langsung terpikir masalah kargo. Di sinilah kami secara sadar mulai membuka email, memeriksa pesan-pesan balasan, dan menelusuri dokumen offerte (penawaran harga) dari perusahaan kargo lewat hape.

Namun, saat membaca detailnya, tiba-tiba kami terdiam. Mata kami tertuju pada baris tulisan kecil—syarat dan ketentuan tersembunyi—di dalam dokumen tersebut. Begitu membacanya, seketika ada rasa khawatir yang menyergap. Penjelasan dalam huruf kecil itu terasa sangat abu-abu, tidak ada kepastian hukum yang bisa kami pegang pasti sifatnya. Hati kami pun mendadak ragu.

Di satu sisi, waktu terus mengejar. Kami harus segera kembali ke Indonesia dalam waktu satu bulan demi membereskan urusan KITAS. Namun di sisi lain, barang-barang ini seperti bongkahan batu berantai yang menahan kami di dalam laut ketidakpastian.

Saat itu juga, kami mulai menimbang-nimbang risiko dari setiap keputusan yang bisa kami ambil. Berada di situasi perbatasan antarbenua yang secara geopolitik sedang gonjang-ganjing saat ini, rasanya seperti sebuah kenekatan jika kami tetap melanjutkan proses kargo ini.

Ketika kami hitung kembali dari sisi nilai materi, logika kami langsung terpukul telak. Kami harus merogoh kocek hingga hampir ratusan juta rupiah hanya demi membawa barang-barang yang sebenarnya hanya punya ikatan emosional. Ironisnya, rumah yang akan kami tempati di Indonesia nanti ukurannya tiga kali lipat lebih kecil dari rumah kami sekarang.

Belum lagi jika membayangkan urusan pajak, aturan bea cukai, dan kerumitan administrasi lainnya—deretan huruf kecil nan rapat di lembar regulasi yang menciptakan begitu banyak jalan buntu (grey area).

Saat itu, kami sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tapi waktu rupanya sudah menunjukkan jam 2 pagi. Pikiran sudah terlalu lelah untuk dipaksa mengambil keputusan besar malam ini. Kami memutuskan untuk menyudahinya. Besok, we will see and decide.

Pindahan antar negara, mengurus birokrasi, mengemas rumah, dan menjaga dua balita di saat yang bersamaan… ternyata seberat ini. Malam itu, di antara tumpukan kardus, keraguan dokumen kargo di email, dan lembaran aplikasi visa di hape, aku menyadari satu hal: di dunia yang serbacepat dan penuh tuntutan ini, ketenangan pikiran adalah kemewahan yang paling mahal.

Plaats een reactie