Bezitsrelaties

mijnMijn moeder zegt altijd …
…sMarks vriendin zei …
…’sAnna’s buurman zei
… vanDe dochter van mijn buurvrouw zei …
… z’n / d’rMijn buurvrouw d’r dochter zei … (vooral in spreektaal)
die / dat van mijIs dit jouw koffie of die van mij? Is dit jouw kopje of dat van mij? Die/dat van mij, geloof ik.
mijn koffiedie van mij(de koffie)
jouw moederdie van jou(de moeder)
uw huisdat van u(het huis)
zijn autodie van hem(de auto)
haar abonnementdat  van haar(het abonnement)
onze verhalendie van ons(de verhalen)
jullie krantdie van jullie(de krant)
hun praatjedat van hun(het praatje)

Soms wordt ook het pronomen met -e gebruikt om te verwijzen naar bezit.

de / het mijne                   Is dit jouw koffie of de mijne?

                                            De jouwe, volgens mij.

38 minggu

Minggu 16-07-2023, pagi sekitar jam 6 kami membuat janji dengan kamar bersalin di RS. Elkerliek Helmond untuk melakukan proses induksi balon katheter. Pulang ke rumah, seharian beraktifitas dan gerak kemanapun dengan balon katheter rasanya gimana gitu, imagine that 😂.

Senin 17-07-2023
Pagi-pagi kita sudah datang ke rumah sakit. Hanya duduk di ruang tunggu sebentar (berasa lama banget), kemudian dipindah ke kamar bersalin untuk melihat perkembangan balon katheter oleh dua orang petugas rumah sakit.

Pada saat pemeriksaan ternyata, rahim aku masih belum matang, dan keras.  Jam dinas 2 petugas sudah habis, kemudian terpaksa kenalan lagi sama petugas di jam itu. Mencoba menahan diri untuk tetap ramah dan keep positive vibes. Sampai akhirnya, setelah perawat ngobrol dengan ginekolog, dapat jawaban di hari itu ; “ibu, kalau besok belum ada tanda-tanda juga, sepertinya besok pulang ke rumah saja, minggu depan kita ulang lagi proses balon katheternya”.

Kita dapat kamar bersalin, family suit. Kamarnya cukup luas, difasilitasi satu kasur pasien, box bayi, meja makan, wastafel, kamar mandi dalam dan bangku tidur. Suami sedikit protes, karena sudah bayar asuransinya mahal cuma kebagian sofa dan makan masih dikenakan charge.

Sore itu, kita keliling rumah sakit cari kafe dan menu dinner buat suami. Kalau aku nggak puas juga makan sup tomat dan worstenbroodjes, jadi dari rumah sudah pesan dan bawa Thaise Food, plus disediain juga dari rumah sakit (makanannya enak semua!). Setelah temenin suami nongkrong di kafe rumah sakit, balik lagi ke kamar inap.

Dengan hati sedikit kecewa dan lega, malam itu di kamar rumah sakit alhasil aku begadang, balas in chat keluarga dan teman-teman. Banyak yang share pengalaman melahirkan dan tips. Berusaha menguatkan diri dan bersabar sampai minggu depan. Belum bisa tidur, mungkin juga masih kepikiran dan cemas di alam bawah sadar. Jam 3an akhirnya ketiduran.

Selasa 18-07-2023
Pagi itu kita dilayani 2 petugas rs yang jam dinasnya hampir habis, satu bidan dan satu perawat (artinya, tiap beberapa jam bakal ganti petugas). Di awal proses, perawat memasangkan alat ctg selama 15-30 menit, untuk kontrol kondisi janin. Setelah itu bidan memeriksa secara vaginal, seberapa matang dan supel kondisi rahim.

Pemeriksaan ini menurut aku sangat sakit dan buat nggak nyaman, tiap bidan juga nggak sama pengalamannya (percayalah tiap tangan beda-beda, kalau nggak salah hitung ada total 7 orang berbeda yang periksa aku, oh Tuhan).

Oh ya, untuk mengurangi sakit saat periksa ini ada beberapa tips yang bisa kurangi ketegangan. Tarik buang nafas panjang, bokong tidak boleh diangkat, paha dan kaki posisi atas (dibantu penyangga) atau disangga petugas. Tetap sakit, tapi lebih bisa buat kita tenang, dan prosesnya jd cepat.

Sugeng tindak, tanteku sayang

“Tante, makasih udah bikin kami merasakan kasih sayang tulus, dari kecil sampai udah nikah selalu diperhatikan. Tiba tiba ga ada tanda-tanda. Rasanya ngga sanggup ditinggal tante, tapi harus rela, karna tempatnya malaikat cantik di surganya Tuhan. Tante mama yang luar biasa buat enna, lingsir dan kami pun ikut rasain. Tante pergi tapi kasih yang tante kasih bakal tinggal selamanya.

Bakal kangen tawa ceria tante, yang selalu paham kalo diajak curhat, pillow talk sama tante, kumpul kumpul. Cerita-cerita penuh cinta tante betapa bangganya dengan anak-anak tante. You are loved tanteku sayang. Rest in peace te.”

Mengenang tanteku yang inspirasional

Mojito

  • 30 ml blanke rum
  • 90 ml bruiswater
  • 15 ml limoensap
  • 2 theelepels rietsuiker
  • 12 blaadjes verse munt
  • 1 takje munt
  • Partje limoen
  • Crushed ijs
  • Pollepel of mudler
  • Short tumbler glas

Aan de slag

  • Doe het limoensap met de suiker in je glas.
  • Stamp stevig door elkaar met een cocktailmuddler, of de achterkant van een pollepel.
  • Geef een klap op de muntblaadjes en doe de blaadjes in je glas.
  • Voeg de rum en het bruiswater toe.
  • Vul je glas tot de rand met ijs. Crushed bij voorkeur, of blokjes.
  • Doorroeren zodat de muntblaadjes mooi gaan zweven. Garneer met een takje munt en een partje limoen.

Alcoholvrij? 

Vervang de rum door Undone No. 1 – Not Rum

self-love isn’t selfish

Pernah dengar ungkapan “bahagia itu kita yang ciptakan”? Dan bisa bayangin pastinya, kalau tiap orang bahagia, betapa indahnya dunia ini, everyone is in the mood! But, bagaimana mungkin bisa bahagia kalau dunia seolah-olah tidak berpihak kepada kita?

Di dalam hidupnya, aku percaya tiap orang pernah dihadapkan dengan keadaan ini. Entah itu masalah atau pilihan sepele bahkan yag besar dan traumatis sekalipun.

Contoh yang sepele saja, bagaimana mau senang kalau sedang sakit gigi? Bagaimana nggak stress kalau sudah mau ujian tapi belum siap? Bagaimana mau senyum percaya diri, kalau ada jerawat nakal di muka? Bagaimana mau bahagia, kalau orang tanpa alasan benci kita?

Contoh yang lebih serius, bagaimana mau bahagia kalau orang tua nggak bahagia atau bangga pada kita? Bagaimana mau bahagia kalau keluarga berantakan? Bagaimana mau bahagia kalau nggak bisa bahagiakan orang yang kita sayang? Bagaimana mau bahagia kalau semua mimpi kita hancur berantakan?

Jawabannya bisa. Be kind, take care and choose yourself first, self love. It is not selfish. Justru itu adalah langkah paling awal untuk kita bisa sebarin kebahagiaan, bahagia yang murni, innocent, not the fake one. You being you, know what you want in life, happy and accept you (ex. You ain’t perfect i ain’t either and hey, it’s okay). Memenuhi panggilan hidupmu. Berdamai dengan diri sendiri, tanpa lupa melibatkan Tuhan, tentunya. Think about it. How can simply love yourself can spread happiness to others. It is, right?

Let’s figure it all out, what makes you happy? How to make sure you love yourself first? Pikirkan, gumulkan dan doakan dengan serius apa yang baik untuk hidupmu. Lakukan dan tularkan bahagiamu.

Living in fear or faith

Mempublikasikan kehamilan ternyata bisa menjadi momok bagi seorang perempuan. Ketika aku tau aku hamil, hal pertama yang paling aku kuatirkan adalah terlalu cepat memberitahu.

Jadi, begitu aku kabari orangtua dan mertua aku langsung ingatkan untuk merahasiakan. Alhasil, yang namanya orangtua nggak bisa simpan kebahagiaan. Rahasia ngga bertahan lama, mereka sudah sebarin berita bahagia ke saudara dan kerabat mereka. Kesal? Tentu saja kesal, tapi itu juga pertanda mereka sangat bahagia dan bangga. Raut wajah ngga bisa bohong.

Aku juga sempat bahas ini ke mertuaku, tapi respon dia ada benarnya juga. Saat itu dia bilang, kebahagiaan tidak perlu disimpan, tapi untuk dibagikan. Kalau takut keguguran, saat kandungan 6 bulan atau 9 bulan pun bisa saja terjadi. Tapi kita bahagia saat ini, momen hari ini dirayakan hari ini.

Setelah aku pikirkan dan renungkan, ya juga, masuk akal sih. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan dan tentu tidak memandang umur. Suatu hal yang kita tidak bisa hindari. Sebagai orang tua, anak, saudara kita harus selalu siap untuk momen seperti ini. Selama kita masih sehat, masih punya kesempatan, nikmati, jalani dan syukuri. Cherish every moment you have together.

Hidup dalam ketakutan membuat kita tidak bisa menikmati apa yang saat ini sedang kita miliki. Tapi hidup di dalam iman, memberi kita harapan baru dan kekuatan. Jadi pilih yang mana, living in fear or faith? Faith, dong!

“Positive anything is better than negative nothing.” – Elbert Hubbard

Pasar bawah, traditionale markt in Pekanbaru

Juni, 2022

Het was een warme middag in pekanbaru. Ik starte het motor van mijn moeder’s auto, mijn blouse was allang nat van het zweet terwijl ik heb me net omgekleed. Ik ging samen met moeder en bapak naar pasar bawah om gezouten vissen te kopen.

Pasar bawah is bekende traditionele markt in Pekanbaru. Je kan bijna van alles vinden, dus daar is ook leuk om rond te kijken. Maar die dag was zo heet, dus ik had amper kracht om gezouten vissen te vinden op begane grond van pasar bawah.

Zodra ik de parkeerman kon vinden, deed ik parkeren op de zijkant van de weg waar hij mij wees. Hij pakte een karton voor op voorkant van de auto beschermen van de hete. Ik betalde 2000 rupiah voor zijn servies, het is rond 13 cent denk ik.

Social media syndrome

Ik zeg nog, als een voorbeeldgeval; ik ben wel soms jaloers op mensen met super mooie goddelijke lichaam (het is mijn droom). Wat zijn de oorzaken van mijn jalozie? Negatief zelfbeeld.

Ik geloof niet dat ik discipline heb van de sporter. “Dat is gewoon onmogelijk voor mij” of “het is te zwaar” of “ik heb honger (trek)” en “tuurlijk, kunnen ze dat, ze hebben toch niks anders te doen!”.

Ik begin van een smoesje naar andere smoesjes te verzinnen.. Ik begin te twijfelen aan mijn eigen vermogen om mijn wens uit te laten komen. Succes van iemand anders wordt een nachtmerrie, een feit dat ik waardeloos ben, een manier om mijn zelf te bekritiseren. Niet gezond!

Vergelijken mezelf met iemand anders leven. Ik kijk naar iemand plaatje op social media, wow! wat hebben ze goed. Wat een bofkont, zeg ik dan (slecht gevoel ipv blij voor hun). Ik heb dat niet of ik kan het niet zoals hun. Scrollen.. scrollen.. scrollen.. blijf scrollen alleen maar mensen met een goede leven (vreselijk). Het is oneerlijk, echt.

Een ding vergeet ik, omdat iemand anders leven zo perfect eruit zien op een plaatje of van de buitenkant niet betekent ze zijn altijd blij. We doen toch ook alleen maar leuke foto’s laten zien? Mensen strijd met hun eigen problemen, iedereen.