Pilihan hidup, identitas baru

#03 Hidup Tenang & Sehat

Di usia 20-an, aku sedang membangun karir pelan-pelan, tidak sempurna, tapi jelas ada arah. Saat itu aku merasa sedang membentuk identitasku sendiri sebagai seseorang yang tahu melangkah kemana untuk masa depanku.

Lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seseorang, jatuh cinta, menikah dan memutuskan pindah ke Eropa.

Saat itu, aku tidak merasa sedang kehilangan apa pun. Aku merasa sedang memilih kehidupan baru yang juga berarti. Hanya perlahan, aku mulai sadar bahwa keputusan besar tidak pernah hanya membawa satu perubahan.

Bersamaan dengan membangun hidup baru, aku juga meninggalkan karir yang baru saja mulai tumbuh. Bukan berhenti tapi kembali ke awal. Sepertinya di titik itu, sesuatu dalam diriku mulai runtuh pelan-pelan tanpa ku sadari. Rencana karir ku dan rasa percaya diri, yang lebih dalam lagi: identitasku.

Harus memulai ulang dari nol di negara baru, sistem baru, dan kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang aku kenal sebelumnya. Terasa seperti belajar berjalan dan bicara untuk pertama kali di umur yang sudah terlambat, 20-an tahun. Kadang aku merasa orang disini yang tidak mengenalku, melihatku tertinggal dan mungkin bodoh terbelakang.

Aku bekerja, belajar, beradaptasi, tapi di dalam diriku, ada proses lain yang tidak terlihat: perlahan aku mulai meragukan siapa aku sebenarnya, di luar semua peran yang sedang aku jalani.

Ambisiku tidak hilang hanya terasa semakin jauh. Sesuatu yang dulu jelas, kini menjadi kabur.

Di saat yang sama, aku membangun kehidupan sebagai seorang istri kemudian sebagai ibu. Semua itu nyata dan penting. Tapi di tengah semua peran itu, aku kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan: rasa utuh sebagai diri sendiri.

Dan aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Sampai suatu hari aku menyadari aku tidak lagi yakin pada diriku sendiri seperti dulu. Dampaknya tidak hanya emosional tapi juga mental.

Ada kelelahan yang tidak selalu berasal dari aktivitas, tapi dari beban di kepala yang terus berjalan tanpa henti ; overthinking, ragu-ragu dan rasa tidak cukup. Meskipun dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Sebagai perempuan yang dulu punya ambisi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan bahwa cinta bisa mengubah bukan hanya arah hidup, tapi juga cara aku melihat diriku sendiri.

Bukan karena cinta itu salah. Tapi karena aku tidak siap dengan bagaimana ia menggeser begitu banyak bagian dari diriku sekaligus.

Seiring waktu aku mulai paham bahwa ini bukan sekadar cerita tentang karir atau cinta. Ini adalah cerita tentang kesehatan mental.

Tentang bagaimana identitas bisa runtuh pelan-pelan, tanpa suara. Bagaimana seseorang tetap berjalan, bahkan ketika rasa percaya dirinya belum sepenuhnya pulih.

Aku tidak lagi melihat ini sebagai kehilangan, tapi sebagai proses membangun ulang. Pelan-pelan belajar menerima dan menjadi versi terbaikku, identitas baru yang lahir dari pilihan hidup yang pernah kuambil.

Memberi Jeda

#02 Hidup Tenang & Sehat

Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja.
Aku punya keluarga, dua anak. Rutinitas yang jelas dan hari-hari yang terisi. Tidak ada yang benar-benar “salah”. Tapi entah kenapa, rasanya tetap penuh.

Bukan penuh karena aktivitas fisik. Tapi penuh di kepala. Ada banyak hal yang terus berjalan bersamaan, hal-hal kecil yang tidak terlihat, tapi tidak pernah benar-benar berhenti.

Memikirkan anak, masa depan, apakah keputusan yang aku ambil sudah tepat. Memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kadang, bahkan saat semuanya sedang tenang, pikiranku tetap sibuk. Seperti tidak pernah benar-benar istirahat.

Aku mulai menyadari, ini bukan tentang seberapa banyak yang aku lakukan dalam sehari. Tapi seberapa banyak yang aku bawa di dalam kepala.

Mental load, orang bilang.

Dan sebagai ibu, sebagai istri, sebagai seseorang yang pernah sangat ambisius, aku terbiasa untuk terus memikirkan segalanya. Mengatur, mengantisipasi dan menjaga semuanya tetap berjalan.

Tanpa sadar, aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri berhenti. Bukan berhenti secara fisik, tapi berhenti berpikir. Ada rasa bersalah ketika tidak produktif, memilih istirahat, apalagi tidak melakukan apa-apa.

Seolah-olah diam itu berarti mundur. Padahal mungkin, justru itu yang paling aku butuhkan. Aku mulai belajar hal yang terasa sederhana, tapi ternyata sulit:

Memberi jeda.

Tidak langsung merespon semua hal. Tidak harus selalu mencari solusi. Tidak harus selalu “on”. Kadang, cukup duduk, diam, tarik napas. Mengakui bahwa aku lelah dan itu tidak membuatku lemah.

Hidupku mungkin tidak akan menjadi lebih ringan dalam waktu dekat. Masih akan ada tanggung jawab. Masih akan ada hal-hal yang harus dipikirkan. Mungkin aku bisa belajar membuatnya terasa lebih lapang dengan tidak membawa semua beban sendirian di dalam kepala.

Pelan-pelan, aku ingin belajar:

Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini. Tidak semua kekhawatiran harus diikuti. Dan bahwa pikiranku juga berhak untuk beristirahat.

Mungkin, ini bentuk lain dari hidup sehat yang baru aku pahami sekarang.

Saatnya Belajar Melambat

#01 Hidup Tenang & Sehat

Aku pindah ke Eropa tahun 2014. Waktu itu, yang ada di pikiranku hanya satu: mengejar ketertinggalan.

Aku datang dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya bisa aku bawa ke sini. Aku harus mulai dari nol, mencari pekerjaan yang bahkan tidak sesuai dengan bidang studiku, belajar hal-hal baru dari dasar, dan perlahan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang terasa asing.

Aku bekerja bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk membantu ekonomi keluarga. Di sela-sela itu, aku belajar menyetir lagi. Hal kecil, tapi terasa besar ketika semuanya harus dimulai ulang. Hari-hariku penuh, tapi terasa monoton.

Pekerjaan yang aku jalani tidak benar-benar menantang. Tidak ada rasa berkembang. Hanya rutinitas yang berulang, hari demi hari. Aku terus berjalan, karena merasa memang harus begitu.

Aku didiagnosis hipertiroid, dan selama kurang lebih dua setengah tahun, aku belajar menghadapi tubuh yang tidak lagi bisa aku paksa mengikuti ambisi.

Di tengah semua itu, aku mencoba sesuatu yang baru—membuka katering kecil. Mungkin itu caraku untuk tetap merasa hidup, merasa punya kendali atas sesuatu.

Aku juga menyimpan keinginan sederhana: pulang ke Indonesia. Tapi pandemi datang, dan rencana itu tertunda. Baru di tahun 2022, aku akhirnya bisa pulang.

Tidak lama setelah itu, hidupku berubah lagi. Aku hamil. Aku menjadi seorang ibu.

Peran baru itu indah, tapi juga mengubah banyak hal dalam diriku. Aku memutuskan berhenti menjalankan katering. Bukan karena tidak mampu, tapi karena mulai bertanya: apakah semua ini masih sejalan dengan hidup yang aku inginkan?

Sekarang aku adalah ibu dari dua anak. Hidupku penuh—bukan hanya secara fisik, tapi juga mental dan emosi.

Di titik ini, aku mulai bertanya pada diriku sendiri: apakah aku harus berhenti mengejar ambisi? Atau justru belajar berjalan bersama ambisi itu dengan cara yang berbeda?

Aku tidak punya jawaban pasti. Tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin lagi menjalani hidup dengan cara yang membuatku terus-menerus lelah.

Mungkin sekarang bukan tentang berlari lebih cepat, tapi tentang belajar berjalan dengan lebih sadar. Menjaga diri tetap sehat, tetap utuh, sambil tetap memelihara mimpi tanpa kehilangan diri sendiri di dalamnya.

Leven in het land van de windmolens

Vanaf hier ziet alles er mooi uit. Ruim. Netjes. Indrukwekkend. Alsof alles klopt.

Maar de wind waait hier hard. En die wind is niet alleen maar wind. Het is druk. Snel tempo. Hoge verwachtingen. Altijd door blijven gaan.

Leven hier is als een molen die blijft draaien. Hij draait omdat er druk is.
Zonder energie stopt hij. Zonder mentale kracht houd je het niet vol.

Je moet tegen de kou kunnen. Tegen stilte. Tegen heimwee. Tegen fouten maken. En weer opstaan.

En eerlijk?
Nederland is niet voor iedereen. Niet omdat je zwak bent. Niet omdat je niet slim genoeg bent. Maar omdat niet elke motor gemaakt is om hier te draaien.

Sommige mensen groeien onder druk. Anderen hebben warmte nodig om te bloeien.

En als je halverwege merkt dat dit systeem niet bij je past, dan heb je niet gefaald, dan heb je iets belangrijks geleerd.

Blijven is niet altijd sterk zijn.
Soms is weggaan juist sterker.

Want uiteindelijk gaat het niet alleen om volhouden. Het gaat om weten waar jij echt kunt groeien in plaats van alleen maar overleven.

Filosofi Hidup di Negeri Kincir Angin

Dari atas sini, pemandangannya indah :
luas, tertata, megah. Semuanya terlihat menjanjikan.

Namun angin berhembus kencang. Angin di sini bukan sekadar angin, ia adalah tuntutan, ritme cepat, standar tinggi, disiplin yang tak memberi banyak ruang untuk lengah.

Hidup di sini seperti kincir yang terus berputar. Ia bergerak karena tekanan.
Tanpa tenaga, ia diam. Tanpa mental kuat, ia patah. Kau harus tahan dingin, tahan sepi, tahan rindu, tahan gagal berkali-kali.

Dan kenyataannya…
Belanda bukan untuk semua orang.
Bukan karena kau lemah.
Bukan karena kau tak cukup pintar.
Tapi karena tak semua mesin dirancang untuk berputar dalam sistem seperti ini.

Ada yang kuat di tekanan.
Ada yang kuat di kehangatan.

Jika di tengah jalan kau sadar mesinmu tak cocok memutar roda di sini, itu bukan kekalahan. Itu evaluasi.

Karena bertahan bukan selalu tentang kuat. Kadang tentang tepat.

Dan hidup yang realistis adalah berani mengakui di mana kita bisa tumbuh, dan di mana kita hanya bertahan.

Realita Hamil Besar dengan Batita


“Tangis, Pelukan, dan Hari yang Panjang”

Mama, yang sedang hamil 34 minggu, merasa lelah hingga hampir tak sanggup lagi. Anak balitanya yang berusia 2,5 tahun baru saja sembuh dari demam selama enam hari, tapi pagi ini si kecil bersikeras ingin pergi ke daycare. Mama meminta dia tetap di rumah, tapi anak itu menolak dan tetap ingin pergi. Rasa bersalah menyeruak dalam dada mama, karena kehamilannya yang besar membuatnya sering mengatakan, “Mama capek.”


Setelah kata-kata itu keluar, ada sesuatu yang hilang. Sebuah rasa ragu menyelinap di hati mama: apakah si batita bisa merasakan kelelahan mama? Apakah ia merasa sedih, tersisih, atau berpikir mama tidak mau lagi dekat dengannya? Mama takut kata sederhana yang terlontar tanpa sengaja meninggalkan jarak di antara mereka, padahal ia ingin selalu hadir dan dekat dengan anaknya.


Selama beberapa minggu terakhir, anak itu selalu menempel. Dia memeluk mama, menciumnya, membelainya, seolah takut mama tidak akan mau lagi dekat dengannya. Kemanapun mama pergi, bahkan ke toilet, dia selalu mengikutinya. Setiap pelukan dan ciuman terasa manis, sekaligus menambah beban di pundak mama, karena energi mama mulai menipis.


Di sisi lain, papa sangat sibuk dengan pekerjaannya, tapi tetap hadir dan bekerja bersama mama untuk mengurus rumah. Setelah kejadian tahun baru, tukang ledeng yang dipercayakan ternyata menipu, membuat rumah banjir dan lantai rusak. Mama dan papa harus sama-sama mengurus perbaikan lantai di minggu-minggu yang mepet dengan jadwal kelahiran, ditambah urusan asuransi, biaya, dan dana. Semua itu menumpuk di pikiran mama, membuat lelah dan frustrasi terasa semakin berat.


Hari ini, mama akhirnya menangis. Tangisnya campuran dari lelah, hormon, rasa bersalah, keraguan, dan tekanan pikiran yang menumpuk. Hamil besar sambil mengurus anak batita yang selalu menempel, menghadapi papa yang sibuk tapi tetap membantu, serta menyelesaikan urusan rumah tangga yang menuntut perhatian, terasa seperti perjuangan yang tiada habis.


Namun di balik air mata itu, ada sedikit lega. Mama membiarkan dirinya merasakan semuanya: lelah, bersalah, keraguan, kewalahan, frustrasi, dan khawatir. Ia menerima bahwa dirinya manusia, butuh istirahat, dan bahwa mencintai anaknya atau bekerja sama dengan papa tidak harus selalu memberi 100% energi. Cukup hadir, cukup jujur, cukup mencintai dengan apa yang tersisa di dalam dirinya. Dan di situlah cinta yang tulus tetap hidup, meski lelah dan kekhawatiran mencoba merenggutnya.

De Realiteit van Zwanger Zijn met een Peuter


“Tranen, Knuffels en Lange Dagen”


Mama, die 34 weken zwanger is, voelt zich zo moe dat ze bijna niet meer kan. Haar peuter van 2,5 jaar is net zes dagen ziek geweest, maar vanmorgen wilde hij per se naar de kinderopvang. Mama vroeg of hij thuis wilde blijven, maar hij schudde zijn hoofd en bleef aandringen om te gaan. Schuldgevoel overspoelde mama, omdat ze door haar grote buik vaak zei: “Mama is moe.”


Toen die woorden eenmaal uitgesproken waren, voelde mama dat er iets miste. Er kroop een onzeker gevoel haar hart binnen: voelt haar peuter dat mama moe is? Voelt hij zich verdrietig of buitengesloten, of denkt hij dat mama niet meer dichtbij wil zijn? Mama is bang dat een simpel woord dat ze zonder nadenken zei, afstand kan creëren tussen hen, terwijl ze juist altijd dichtbij wil zijn.


De afgelopen weken is haar peuter altijd aan haar blijven plakken. Hij knuffelt mama, kust haar, aait haar, alsof hij bang is dat mama niet meer dichtbij wil zijn. Waar mama ook heen gaat, zelfs naar de wc, hij volgt haar overal. Elke knuffel en kus voelt lief, maar tegelijkertijd drukt het zwaar op mama’s schouders, omdat haar energie steeds minder wordt.


Aan de andere kant is papa erg druk met zijn werk, maar hij helpt mama wel bij het huishouden. Na het incident tijdens nieuwjaar, waarbij de loodgieter hen had opgelicht en het huis onder water zette waardoor de vloer kapot ging, moeten mama en papa samen de reparatie regelen in de weken vlak voor de uitgerekende datum. Daarbij komen ook verzekeringen, geldzaken en kosten. Alles samen stapelt zich op in mama’s hoofd, waardoor haar moeheid en frustratie alleen maar zwaarder voelen.


Vandaag moest mama eindelijk huilen. Haar tranen waren een mix van moeheid, hormonen, schuldgevoel, twijfel en de druk van alles wat er op haar afkomt. Zwanger zijn met een peuter die altijd plakt, terwijl papa druk is maar wel helpt, en tegelijkertijd het huishouden regelen, voelt als een oneindige strijd.


Toch is er achter de tranen een beetje opluchting. Mama laat zichzelf alles voelen: moeheid, schuld, twijfel, overweldiging, frustratie en zorgen. Ze accepteert dat ze een mens is, dat ze rust nodig heeft, en dat liefhebben van haar kind of samenwerken met papa niet betekent dat ze altijd 100% energie moet geven. Gewoon aanwezig zijn, eerlijk zijn, genoeg liefde geven met wat er nog over is. En juist daar blijft de oprechte liefde bestaan, ook al proberen moeheid en zorgen haar weg te drukken.

Echt Hier

#01 Jalan Pulang

In 2014 ben ik naar Nederland verhuisd.

Niet om te studeren.
Niet vanwege werk.
Maar omdat ik ging trouwen.

Een nieuw begin dat zoveel beloofde: een stabiel land, een goed systeem, een toekomst die je kunt plannen.
Maar de werkelijkheid bleek anders.

Ik had moeite om werk te vinden – zelfs de simpelste banen – omdat mijn Nederlands nog niet goed genoeg was.
En diep van binnen was ik bang.
Bang om iemand te worden die volledig afhankelijk is van haar man.

We woonden bij de ouders van mijn man, in Deurne.

Ze waren ontzettend lief.
Ze ontvingen me als een deel van de familie en behandelden me warm, zodat ik me welkom voelde.
Maar toch was ik vaak in de war.

Ik wilde helpen, maar was bang iets verkeerd te doen.
Ik wilde praten, maar bang om dom over te komen.
Ik deed mijn best, maar het voelde alsof ik moest leren zwemmen in een onbekende zee – zonder te weten waarheen of hoe ik moest drijven om “erin te passen”.

Ik was niet gewend aan hun manier van leven.
Zelfs kleine dingen, zoals wat je eet bij het ontbijt of hoe je zegt dat je nog honger hebt, voelden ongemakkelijk.

Dus deed ik maar mee.
Ook al had ik nog trek.

Soms bleef ik gewoon op mijn kamer.
Deed alsof ik al vroeg ging slapen.
Ik kookte Indonesisch eten, hopend dat ze het lekker zouden vinden.

Ze zeiden “lekker”, maar ik wist: dat is niet altijd zo.
Soms is een compliment gewoon beleefdheid.
Niemand zegt iets, maar je voelt het wel.

Ik leerde dat afwijzing hier vaak niet uitgesproken wordt – je voelt het gewoon.

Hoe lief ze ook voor me waren, ik bleef me een buitenstaander voelen.

Toen zei ik tegen mijn man:
“Laten we een eigen huis zoeken. Dan kunnen we echt leren samenleven.”

We verhuisden naar een klein dorpje, Bakel, niet ver van Deurne.
Rustig, koel, mooi.

Maar… er was niets.
Stil.

Toch voelde het als vrijheid.

In ons kleine huurhuis leerden we stap voor stap om alles zelf te doen: papierwerk, boodschappen, geld, taal.
Langzaam, maar het voelde als mijn eerste echte ademhaling.

Elke keer als we langs mooie huizen reden, keek ik uit het raam: grote ramen, warme lampen, kleine tuinen.

“Zou ik ooit ook zo’n huis hebben?” dacht ik.
Toen leek het onmogelijk.

Maar beetje bij beetje vond ik werk.
Eerst met nul-urencontract, af en toe gebeld als ze iemand nodig hadden.
Later kreeg ik een vaste baan, met echte vaardigheden.

En daardoor konden we opnieuw verhuizen – naar ons eigen huis.
Niet in een grote stad, maar goed genoeg.
Tussen het dorp van mijn schoonouders en onze werkplek in.

Ons eigen huis.
Een droom die ik vroeger alleen durfde te bekijken vanachter het autoraam.

Maar vreemd genoeg… sinds ik hier woon, voel ik juist meer leegte.

Ik heb een vaste baan, een goed salaris, alles is netjes geregeld.
Maar ik voel me onzichtbaar.
Niemand kent echt wie ik ben.

Gesprekken met collega’s blijven oppervlakkig.
Kleine praatjes.
Grapjes die ik niet snap.
Altijd voorzichtig.

Ik voel me vaak een buitenstaander – zelfs op de plek die “thuis” zou moeten zijn.

Sommige mensen kijken misschien met wantrouwen.
Een Aziatische vrouw die met een Europese man trouwt – vast voor een verblijfsvergunning, denken ze.
Niemand zegt het hardop, maar ik voel het.

En ik word moe van steeds moeten bewijzen dat ik niet ben wat ze denken.

Misschien komt het ook omdat ik mezelf een beetje kwijt ben geraakt.
Geen tijd om stil te staan en te vragen:
“Wie ben ik eigenlijk nog?”

Het leven voelt als een eindeloze cyclus:
Werken → moe → weekend → geld op → weer werken.
Herhaal. Altijd.

Langzaam werd ik het zat om alleen een functionerende versie van mezelf te zijn.
Iemand die leeft om te overleven, niet om echt te voelen.

Ik probeerde me vaak aan te passen.
Naar feestjes gaan, met mensen praten.
Maar het bleef ongemakkelijk.

De humor is anders.
De gesprekken zijn anders.
Ik kom stilletjes, en als het kan, vertrek ik vroeg.

Wat het meest pijn doet, is niet anders zijn dan anderen.
Maar het moment dat je voelt dat je niet meer past in jezelf.

En soms vraag ik mezelf zachtjes af:

Is dit het leven dat ik echt heb gekozen?
Of het leven dat ik vasthoud, omdat ik bang ben om te vallen?

Misschien heb ik het antwoord nog niet gevonden.
Maar elke dag leer ik een beetje meer –
om echt aanwezig te zijn.

Niet alleen in dit land te wonen,
maar ook in mezelf.

01# Benar-benar Di Sini



Tahun 2014, aku pindah ke Belanda.

Bukan untuk kuliah. Bukan karena kerja. Tapi karena menikah.

Awal hidup baru yang menjanjikan: negara yang stabil, sistem yang tertata, masa depan yang bisa direncanakan. Tapi realitasnya berbeda. Aku kesulitan mencari pekerjaan bahkan yang paling sepele, karena bahasa Belandaku belum lancar. Dan jauh di dalam hati, aku takut. Takut menjadi seseorang yang sepenuhnya bergantung pada suami.

Kami tinggal bersama orang tua suamiku, di Deurne.

Mereka sangat baik. Menyambutku seperti keluarga sendiri, memperlakukanku dengan hangat agar aku merasa diterima. Tapi tetap saja, aku kebingungan. Aku ingin membantu, tapi takut salah. Ingin bicara, tapi takut terdengar bodoh. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi rasanya seperti belajar berenang di laut yang asing, aku tak tahu arah, tak tahu bagaimana caranya agar bisa “cocok”.

Aku tak terbiasa dengan budaya mereka. Bahkan hal-hal kecil seperti memilih sarapan atau menyampaikan bahwa aku masih lapar terasa canggung. Jadi aku ikut saja. Padahal perut belum kenyang.

Kadang aku hanya diam di kamar. Pura-pura tidur lebih cepat. Memasak makanan Indonesia, berharap mereka suka. Mereka bilang “lekker,” tapi aku tahu, tidak selalu begitu. Kadang, pujian hanya basa-basi. Tidak ada yang menambah atau mungkin memang begitu. Dan aku belajar bahwa penolakan tidak selalu dinyatakan secara langsung kadang hanya terasa saja.

Meski mereka menyayangiku seperti anak sendiri, aku tetap merasa asing.

Lalu aku bilang pada suamiku, “Ayo kita cari rumah sendiri. Supaya bisa belajar hidup sebagai pasangan.”

Kami pindah ke desa kecil bernama Bakel, tidak jauh dari Deurne. Sunyi, sejuk, dan cantik. Tapi… tidak ada apa-apa di sana. Sepi. Tapi itu awal kebebasan. Di rumah sewa kecil, kami mulai belajar mengurus segalanya sendiri: dokumen, pengeluaran, belanja, bahasa. Pelan-pelan, tapi terasa seperti nafas pertama yang utuh.

Setiap kali naik mobil dan melewati rumah-rumah indah, aku hanya bisa memandang: jendela besar, lampu hangat, taman kecil.

“Mungkinkah suatu hari nanti punya yang seperti itu?” pikirku. Waktu itu, rasanya mustahil.

Tapi perlahan, aku mulai bekerja. Dari pegawai nol-kontrak yang hanya dipanggil sesekali, sampai akhirnya jadi pegawai tetap dengan keahlian. Dan karena itu, kami bisa pindah lagi membeli rumah sendiri. Bukan kota besar, tapi cukup. Di tengah antara desa mertua dan tempat kami bekerja.

Rumah sendiri. Mimpi yang dulu hanya berani dibayangkan dari balik jendela mobil.

Tapi anehnya, sejak tinggal di sini… kekosongan justru makin terasa.

Aku bekerja dengan gaji yang cukup, dalam sistem yang rapi dan terjamin. Tapi aku merasa tak terlihat. Tak ada yang benar-benar mengenal siapa aku. Obrolan dengan rekan kerja hanya sampai permukaan. Basa-basi. Candaan yang tak nyambung, percakapan yang dangkal, penuh kehati-hatian. Aku selalu merasa seperti orang asing bahkan di tempat yang seharusnya jadi rumah.

Aku tahu ada yang mungkin menatap dengan curiga. Perempuan Asia yang menikah dengan pria Eropa, katanya demi status. Tak ada yang bilang langsung, tapi aku bisa merasakannya.

Dan aku lelah harus selalu membuktikan bahwa aku bukan seperti yang mereka pikirkan.

Mungkin karena aku sendiri mulai kehilangan siapa diriku. Tak ada waktu untuk berhenti, untuk bertanya kembali: “Aku ini siapa?”

Hidup seperti ini terasa seperti siklus yang tak pernah berhenti:
Kerja → lelah → akhir pekan → uang habis → kerja lagi.
Ulangi. Terus.

Lama-lama, aku muak menjadi versi diriku yang “berfungsi” tapi tak pernah merasa utuh. Yang hanya hidup untuk bertahan, bukan untuk merasakan.

Aku sering mencoba untuk menyesuaikan diri. Pergi ke pesta, kumpul bersama. Tapi tetap terasa asing. Budaya candanya lain. Topik obrolannya lain. Aku datang diam-diam, dan kalau bisa, pulang paling awal.

Yang paling menyakitkan bukan saat merasa berbeda dari orang lain.
Tapi saat mulai merasa tak cocok dengan diri sendiri.

Dan kadang aku bertanya dalam hati, pelan dan nyaris tanpa suara:

Apakah ini hidup yang benar-benar kupilih?
Atau hidup yang kupaksakan, karena aku terlalu takut untuk jatuh?

Mungkin jawabannya belum kutemukan.
Tapi setiap hari, aku belajar sedikit demi sedikit untuk benar-benar hadir di sini. Bukan hanya tinggal di negeri ini,
tapi tinggal di dalam diriku sendiri.

Overleven met 2jarige

Ik dacht dat ik tegen de dertig wel klaar zou zijn om moeder te zijn.
Maar eerlijk? Het is zwaar.
Alles lijkt klein, maar elke beslissing laat m’n hoofd duizelen.

Mijn kind is nu twee en zo koppig.
Groenten eten? Wat vroeger makkelijk was, is nu een strijd.
Ik zit met een mix van frustratie en vermoeidheid.
Op internet zeggen alle artikelen en social media: “Zo moet het!”
Maar thuis? Theorieën werken hier gewoon niet.

Mijn dagen voelen als een never-ending marathon.
Alles op schema – eten, slapen, spelen – maar tijd voor mezelf bijna niet.
Soms lig ik laat in bed, en word ik de volgende dag uitgeput wakker.
En toch… die knuffel, dat lieve “Mama” van hem… maakt alles een beetje lichter.

Soms denk ik terug aan mijn eigen dromen.
Het voelt alsof ik een deel daarvan moet parkeren voor later, zonder te weten of ik ze ooit weer oppak.
Ik mis mezelf, maar ik ben er voor hem. Want niks, echt niks, kan tippen aan de blijheid als ik hem zie.

Misschien is dat genoeg.
Misschien hoef je niet perfect te zijn om te mogen bestaan als moeder.
Aanwezig zijn is al meer dan genoeg.

Moeder zijn

Zwanger zijn verandert je leven op een manier die je nooit had verwacht. Vanaf het moment dat er een klein leven in de buik groeit, komen er zoveel gevoelens tegelijk. Blijdschap, onzekerheid, angst en hoop wisselen elkaar af. Het lichaam voelt soms zwaar, de emoties gaan op en neer, maar elke schopje in de buik geeft weer nieuwe kracht.

Elke dag is een nieuwe stap in het leren accepteren dat niets meer hetzelfde zal zijn. Het is niet altijd makkelijk, maar de gedachte dat er een klein mensje groeit, maakt alles de moeite waard.

De dag van de bevalling is zwaar en spannend. De pijn, de vermoeidheid, de angst — alles komt tegelijk. Maar op het moment dat het eerste huiltje klinkt, lijkt alles te verdwijnen. Dan is er alleen nog liefde. Een liefde die groter is dan ooit tevoren.

Wanneer dat kleine mensje voor het eerst vastgehouden wordt, voelt het alsof de wereld even stilstaat. Alles draait ineens om dit ene moment. Vanaf die seconde verandert alles. Het leven gaat niet meer alleen om jezelf, maar om zorgen voor dit kleine wonder.

Na de geboorte begint een nieuw hoofdstuk. Er zijn slapeloze nachten, tranen van vermoeidheid, en momenten van twijfel. Maar er zijn ook pure momenten van geluk. Een eerste lach, een handje dat je vinger vasthoudt, een rustige blik.

Moeder zijn betekent elke dag leren. Niet perfect zijn, maar je best doen met liefde. Soms moe, soms onzeker, maar altijd met een hart dat vol zit met zorg en warmte.

Het leven is anders geworden, maar mooier dan ooit. Omdat er nu iemand is voor wie alles de moeite waard is. Iemand die je met heel je hart liefhebt, zonder voorwaarden.

Altijd samen in geluk in verdriet

Wat is jouw definitie van romantiek?

Voor mij betekent romantiek niet alleen bloemen, kaarslicht of lieve woorden. Romantiek zit voor mij in iets veel diepers: in er zijn voor elkaar, elke dag opnieuw. In goede tijden, als alles mee zit en we samen kunnen lachen, maar vooral in de moeilijke momenten, wanneer het leven ons uitdaagt.

Romantiek betekent voor mij dat ik aan jouw zijde sta, wat er ook gebeurt. Dat ik jouw hand vasthoud als je het moeilijk hebt, en jouw geluk vier als je straalt. Het is samen sterk zijn als de wereld zwaar voelt, en samen genieten als het leven licht en mooi is.

Het gaat om kleine gebaren van liefde die laten zien: “je bent niet alleen.” Om luisteren zonder te oordelen, om steunen zonder iets terug te verwachten. Want echte romantiek is niet tijdelijk of oppervlakkig. Het is kiezen voor elkaar, elke dag weer, met heel je hart.

Geluk ღ

De drukte van het dagelijks leven laat ons soms vergeten om even stil te staan — om te reflecteren.
Op een dag miste ik opeens de oma van mijn man,
die een paar jaar geleden naar het huis van de Vader is teruggekeerd.
Haar liefde voelt nog steeds zo warm en dichtbij in mijn hart.
Ze gaf me zoveel vreugde en kracht.

Ze was een vrouw met een groot geloof, sterk, trouw, slim en wijs.
Ze had een lang en gelukkig leven,
en was echt gezegend —
zelfs toen ze naar het huis van de Vader terugging, was ze gewoon aan het slapen.
Een leven vol met Gods aanwezigheid. Ik ben er getuige van!

Omdat ik opeens aan haar moest denken, ben ik op zoek gegaan naar het cadeau dat ze mij ooit gaf.
Een mooi agenda-boekje, dat ik bijna nooit heb gebruikt —
het was gewoon té mooi om erin te schrijven.
Maar toen ik het opensloeg, vond ik iets dat ik ooit had geschreven:
mijn eigen definitie van geluk,
op 15-08-2019.
Het voelde alsof het eeuwen geleden was dat ik voor het laatst iets op papier had gekrabbeld.
Oma, ik mis je ♡

En dit was het —
mijn definitie van geluk,
iets wat ik de laatste jaren misschien een beetje heb verwaarloosd:

Dankbaar zijn : niet klagen, elke dag dankbaarheid voelen, positief blijven, vol energie.
Vertrouwen : volledig aan God overlaten, niet piekeren of onrustig zijn,
niet wantrouwen, maar geloven in het geloof zodat elk probleem opgelost kan worden.
Vergeven : geen wrok koesteren, vrede hebben met jezelf,
niet vol woede zijn, een zacht hart hebben en niet snel teleurgesteld raken.
Jezelf corrigeren en beter worden : het leven wordt kleurrijker, optimistischer en enthousiaster.

Geluk
Donderdag, 15 juni 2019 | Jakobus 1

Gelukkig zijn lijkt makkelijk als alles in het leven gaat zoals we hopen.
Maar het kan opeens heel moeilijk worden,
als de problemen van het leven voor de deur staan.

Toch, hoe moeilijk ook,
ik wil blijven proberen — gelukkig te zijn in elke situatie.
En als het even niet lukt,
wil ik bewust die nare gevoelens bestrijden
en kiezen om tóch gelukkig te zijn.

I don’t know about you,
maar ik wil dit proberen,
what ever it takes.

Bahagia ღ

Kesibukan-kesibukan dalam kehidupan sehari-hari terkadang membuat kita lupa untuk berhenti sejenak — merefleksi diri.
Suatu hari, aku tiba-tiba rindu pada nenek suamiku, yang beberapa tahun lalu telah berpulang ke rumah Bapa.
Rasa sayangnya begitu membekas, hangat di hatiku.
Sungguh, ia telah memberikan sukacita dan kekuatan tersendiri bagiku.

Dia perempuan yang sangat beriman, kuat, setia, pintar, bijaksana.
Umurnya panjang, hidupnya bahagia, dan sungguh beruntung —
sampai saat ia pulang ke rumah Bapa, ia hanya sedang tidur.
Hidupnya penuh dengan penyertaan Tuhan. Aku saksinya!

Karena tiba-tiba teringat akan dirinya, aku mencari-cari hadiah yang pernah ia berikan padaku.
Sebuah buku agenda, yang hampir tak pernah kusentuh —
karena bukunya terlalu bagus, rasanya sayang untuk dipakai.
Ternyata, di buku itu aku pernah menulis sesuatu tentang definisi bahagia,
pada tanggal 15-08-2019.
Sudah lama rasanya aku tidak mencoret-coret kertas.
Oma, aku kangen ♡

Dan ini dia —
definisi bahagia versiku,
yang beberapa tahun terakhir, mungkin, kurang aku usahakan:

Bersyukur : tidak mengeluh, tiap hari rasa terima kasih, positif, semangat.
Percaya : berserah penuh kepada Tuhan, tidak kuatir dan gelisah,
tidak curiga dan yakin di dalam iman sehingga setiap masalah dapat teratasi.
Memaafkan : tidak menyimpan dendam, berdamai dengan diri sendiri,
tidak penuh amarah, hati yang lembut dan tidak mudah kecewa.
Koreksi diri dan jadi lebih baik lagi : hidup akan lebih berwarna, optimis, dan antusias.

Bahagia
Donderdag, 15 Juni 2019 | Yakobus 1

Bahagia memang terasa mudah dilakukan ketika hidup berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Namun seketika bisa menjadi sangat sulit,
ketika kendala-kendala kehidupan datang mampir tanpa diundang.

Tapi, meskipun sulit,
aku ingin terus berusaha — mencoba bahagia dalam setiap keadaan.
Ketika gagal, aku ingin dengan sadar melawan perasaan tidak menyenangkan itu,
dan memilih untuk tetap berusaha bahagia.

I don’t know about you,
but aku mau coba ini,
whatever it takes.